Pangeran Yang Hilang

Pangeran Yang Hilang
BAB 144 PERTARUNGAN KUBU PANGERAN REVAN MELAWAN KUBU PANGERAN MARVIN


__ADS_3

Putri Eveline belum hilang keterkejutannya mana kala mengetahui kalau yang bersembunyi di belakangnya ternyata adalah kakak kandungnya.


Sampai pun Pangeran Marvin sudah berdiri di dekatnya, tepatnya di samping Zelyne, masih juga dia terkejut.


Dia tidak menyangka kakaknya itu telah mengetahui keberadaannya di daerah ini. Lebih tidak menyangka lagi Pangeran Marvin dan pengawalnya beserta 30-an jawara elit istana bisa mengetahuinya di tempat seperti ini.


Pasalnya, selama berkeliaran mencari informasi di mana keberadaan Dhafin, dia maupun Zelyne tidak melihat Pangeran Marvin dan pengawalnya yang kerap mengikutinya itu.


Bahkan tanda-tanda keberadaan mereka pun dia dan Zelyne tidak mengetahui atau menyadari.


Namun dia berpikir lagi bahwa kakaknya bisa tahu kalau dia dan Zelyne bisa ada di daerah ini tentu diberi tahu oleh mata-mata istana.


Itu artinya Pangeran Marvin sudah mengetahui mengenai pertempuran yang terjadi tidak jauh dari batas Kota Nehan sebelah timur.


Sedangkan yang terjadi pada Zelyne lain lagi.


Dia seolah tidak menghiraukan siapa yang datang barusan, meskipun yang datang adalah Pangeran Marvin. Fokus pikiran dan matanya berpusat pada Zafer, si Tudung Hitam yang berada di depannya itu.


Terbayang kembali masa-masa indah dan bahagia bersama Zafer sewaktu mereka masih kecil dulu.


Zafer adalah teman terbaiknya. Bahkan dia sudah bertekad ingin selalu bersama Zafer selamanya.


Namun nasib buruk menimpa lelaki yang disukainya sejak lama itu. Dia mendapat kabar bahwa ada sekelompok orang menganiaya Zafer waktu kecil dulu hingga sekarat.


Setelah itu dia mendapat kabar kalau orang-orang jubah merah telah menculiknya. Setelah itu dia tidak mendengar lagi kabar tentang Zafer.


Sementara Zafer, si Tudung Hitam bersikap seolah tidak menggubris keberadaan Zelyne sama sekali. Sebelum kemunculan Pangeran Marvin beserta orang-orangnya, dia memandang Zelyne tidak lama.


Begitu Pangeran Marvin telah muncul dari persembunyian dan telah berdiri di depannya, Zafer fokus pada pemuda tampan tapi licik itu.


Sepasang matanya berbinar, memancarkan sinar dendam berkarat kepada pangeran berhati jahat yang bersembunyi di balik sikap elegannya.


Namun Zafer masih bisa menahan gejolak dendamnya itu. Dia menunggu dulu kedatangan junjungannya untuk menentukan tindakan.


Lain halnya kalau Pangeran Marvin beserta orang-orangnya sudah beraksi duluan.


"Oh, ternyata yang berhasil kamu pancing ke mari adalah Pangeran Marvin, Zafer," kata pemuda berbaju biru di samping kiri Zafer bernada senang. Dia bernama Rizhan.


Perlu diketahui, Zafer, Veron dan Rizhan termasuk jajaran jawara kelas elit Markas Centaurus. Mereka merupakan Petugas Rahasia Istana Centauri dari Markas Centaurus, selain Gibson dan Hendry serta beberapa orang lainnya.


Mereka bertiga ditugaskan mengawasi wilayah bagian barat Kerajaan Bentala dan sekitarnya.


"Tentu Tuan Besar kita senang sekali akan hasil pancingan Zafer ini, Rizhan," sambung Veron seraya tersenyum.


Yang dimaksud Veron Tuan Besar tidak lain adalah Pangeran Revan, Komandan 2 Markas Centaurus.


Mendengar perkataan Rizhan tadi kalau ternyata dia dan orang-orangnya sengaja dipancing ke tempat ini, sempat membuat Pangeran Marvin terkejut. Tidak terkecuali Pengawal Pribadi-nya.


Namun Pangeran Marvin pandai menyembunyikan keterkejutannya di balik sikap elegan dan santunnya.


Sedangkan Putri Eveline sempat terkejut pula. Tapi dia berusaha berbesar hati untuk tidak merasa gentar, karena jumlah mereka lebih banyak.


Kehebatan kakaknya sudah tidak diragukan lagi. Apalagi pengawalnya itu. Ditambah lagi jawara elit yang memiliki kehebatan di atas rata-rata.


Cuma melawan 3 orang mana mungkin mereka kalah menurut perhitungannya.


★☆★☆


"Sungguh amat disayangkan kalau ternyata hari ini merupakan akhir dari riwayat Pangeran Marvin," kata Rizhan jelas menyindir.


"Sungguh amat disayangkan...," sambung Veron.


Mendengar sindiran itu Pangeran Marvin sebenarnya sudah mulai geram. Tapi dia masih bisa menahan. Dia menduga sindiran itu hanya untuk memancing agar mereka bertindak ceroboh.

__ADS_1


Yang hampir tidak sabaran adalah pengawalnya dan para jawara yang ada di belakang. Kalau tidak ditahan oleh Pangeran Marvin mungkin mereka sudah menyerang.


"Kalian lihat tikus-tikus got itu," kata Veron sambil tersenyum bagai melihat sesuatu yang lucu. "Mereka sepertinya tidak sabaran untuk mati."


"Keparat!" maki sang Pengawal Pribadi tidak bisa lagi menahan amarahnya.


Dia tidak hiraukan lagi peringatan Pangeran Marvin. Dengan amat cepat dia melesat ke arah Veron sambil menghunus pedangnya.


Pengawal itu begitu cepat melesat, tahu-tahu dia sudah 4 langkah di depan Veron. Terus menggerakkan pedangnya ke belakang siap menebas Veron.


Namun seketika muncul 2 telapak tangan yang terbungkus sinar redup berwarna putih perak di depan sang pengawal.


Tentu saja dia terkejut. Tapi tidak sempat berbuat sesuatu karena kedua telapak tangan yang tiba-tiba muncul itu langsung menghantam dadanya yang terbuka dengan telak, keras, kuat.


Bughk!


"Aaa...!"


Kontan saja pengawal itu terlempar dengan deras ke belakang sambil menjerit setinggi langit. Tapi selagi masih berada di udara seketika sekujur tubuhnya membeku bagai patung dan berwarna putih perak.


Beberapa kejap berikut, belum sempat jatuh ke tanah, tubuhnya langsung hancur menjadi tepung. Lalu terhempas diterbangkan angin.


Kejadian aneh sekaligus mengerikan itu sungguh sulit dicerna oleh akal dengan cepat. Tapi sukses membuat Pangeran Marvin terkejut bukan main.


Terlebih lagi orang-orang yang bersamanya. Termasuk Zelyne yang seolah baru bangkit dari mimpi buruk.


Namun peristiwa itu sudah terjadi dan kejadiannya berlangsung cukup cepat. Pengawal malang tadi tiba-tiba terhantam 2 telapak tangan.


Lalu terlempar terus berubah beku, kemudian hancur menjadi tepung. Lalu diterbangkan oleh angin dan hilang selamanya. Tanpa sempat melakukan penyerangan yang berarti. Sungguh malang!


Begitu Pangeran Marvin dan yang lainnya memandang ke tempat kejadian tadi mereka kembali terkejut. Karena di situ, entah dari mana datangnya tahu-tahu sudah berdiri Pangeran Revan.


Belum hilang keterkejutan mereka, tiba-tiba muncul secara ajaib yang diawali besitan cahaya beberapa orang. Baik di kiri kanan Pangeran Revan, maupun di dekat Zafer dan 2 temannya.


"Dhafin...," desis Putri Eveline menatap tajam pada Dhafin.


Kalau saja Dhafin cuma seorang diri, tentu tanpa sungkan dia langsung menyerangnya. Karena dia memang ingin menjajal kehebatan Dhafin.


Tapi melihat situasi yang tidak sesuai dengan perkirannya ini, terpaksa dia tangguhkan dulu hasratnya.


Asumsi kalau dia dan kakaknya serta orang-orangnya dapat mengalahkan Zafer dan kawan-kawannya langsung hangus dengan kemunculan Dhafin dan Brian serta seorang pangeran yang dia belum tahu kalau itu adalah Pangeran Revan, sepupunya.


Sedangkan Dhafin cuma memandang sebentar pada Putri Eveline. Lalu beralih menatap Pangeran Marvin.


Sementara Pangeran Marvin tidak mau terlalu lama terkejut. Situasi sekarang mengharuskan dia berpikir dengan cermat bagaimana harus mengambil tindakan yang tepat.


★☆★☆


"Apa kamu sudah siap untuk mati hari ini, Pangeran Marvin?" tanya Pangeran Revan bernada dingin.


Kalau menuruti amarah ingin diterjang pemuda berpakaian merah itu. Tapi Pangeran Revan-lah yang membunuh dengan mudahnya pengawalnya tadi.


Maka dia harus bersikap hati-hati terhadap orang ini dan jangan terpancing oleh perkataannya.


"Maaf, dengan siapakah saya berhadapan ini?" tanyanya menampakkan sopan seraya tersenyum ramah yang dibuat-buat.


"Pertanyaan yang bagus," sahut Pangeran Revan masih bernada dingin. "Aku harap kamu mempersiapkan pendengaranmu dengan baik. Aku harap juga kamu tidak terkejut."


"Jawab saja pertanyaan kandaku," kata Putri Eveline bernada ketus bercampur sinis. "Tidak usah bertele-tele."


"Rupanya adikmu tidak sabaran, Pangeran Marvin," kata Pangeran Revan masih dingin. "Baik dengarkan dengan baik...."


"Aku adalah Pangeran Revan, putra kedua Ayahanda Pangeran Ghazam, cucu Yang Mulia Kakenda Neshfal Abraham.... Sudah jelas?"

__ADS_1


Tentu saja Pangeran Marvin dan Putri Eveline terkejut bukan main sampai mereka tidak bisa berkata-kata.


Mereka tidak menyangka kalau di depan mereka itu ternyata termasuk saudara mereka, tepatnya saudara sepupu.


Yang mereka tahu cerita dari keluarga istana kalau semua anak Pangeran Ghazam telah meninggal.


Tahu-tahu muncul secara tidak terduga begitu tentu saja membuat mereka setengah percaya setengah tidak.


"Tuan jangan mengada-ada," kata Pangeran Marvin seolah tidak percaya. "Semua keluarga Pamanda Pangeran Ghazam sudah terbunuh."


"Sekarang Tuan mengaku-aku sebagai keturunan Kakenda Raja Neshfal," sambungnya. "Masih terlalu siang untuk bermimpi, Tuan."


"Aku tidak perduli kamu percaya atau tidak," kata Pangeran Revan masih bernada dingin. "Yang jelas hari-hari kedepannya merupakan hari-hari kehancuran bagi manusia busuk yang bernama Ghanim Altezza berserta keluarganya."


"Apa kesalahan ayahandaku kepada pemberontak hina seperti kalian?" tanya Putri Eveline masih ketus-sinis.


"Pemberontak hina dan busuk yang sebenarnya adalah ayah kalian beserta keluarganya, bukan kami. Kami hanya ingin merebut kembali kekuasaan yang dirampas oleh Selir Hellen."


"Apa kesalahan ayahandaku kamu belum jawab, Pangeran Revan?" dengus Putri Eveline bernada gusar.


"Kesalahannya adalah dia telah membunuh kakaknya sendiri, Ayahanda Ghazam, ayahandaku...."


"Belum puas dia melakukan dosa," lanjutnya, "dia juga telah membunuh bundaku dan bunda kandaku, Pangeran Ghavin."


Tentu saja penjelasan Pangeran Revan itu membuat Pangeran Marvin dan Putri Eveline serta Zelyne terkejut.


Apa yang dijelaskan Pangeran Revan tidak mereka dapatkan di lingkungan keluarga istana.


Mereka cuma tahu kalau Raja Neshfal telah menyimpang dan nanti akan menyerahkan tahta kepada anaknya yang tidak berhak. Cerita itu yang mereka tahu dari lingkungan keluarga istana.


Makanya itu Bunda Suri Hellen dan orang-orangnya merebut kerajaan itu dan menggulingkan kekuasaan Raja Neshfal yang katanya telah menyimpang.


"Apakah kalian sudah tidak ada pertanyaan lagi sebelum kami membunuh kalian semua?" tanya Pangeran Revan setelah agak lama terdiam.


"Dari tadi aku mendengar sesumbaranmu, Pangeran Revan," kata Pangeran Marvin bernada sinis. Mulai muncul aslinya. "Seolah-olah kamu dan orang-orangmu adalah yang paling hebat."


"Kalau begitu silahkan kamu mencoba kehebatan kami, Pangeran Marvin," kata Pangeran Revan membuka tantangan.


Pangeran Marvin menatap sejenak pada Pangeran Revan dan orang-orangnya. Lalu berkata kepada adiknya dan Zelyne.


"Kalian mundur di belakang! Jangan ikut dalam pertempuran."


"Aku tidak takut kepada pemberontak hina seperti mereka, Kanda," kata Putri Eveline jelas menolak.


"Nona Zelyne. Tolong bawa junjunganmu ke belakang sebelum pertempuran dimulai," kata Pangeran Marvin kepada Zelyne, tidak menggubris ucapan adiknya.


Zelyne segera melaksanakan perintah. Dia menarik Putri Eveline hendak dibawa ke belakang. Tentu saja sang putri awalnya menolak. Tapi setelah dibujuk, akhirnya dia menepi di sebuah tempat mengikuti pengawalnya.


Begitu adiknya sudah berada di tempat aman, Pangeran Marvin kembali fokus pada Pangeran Revan. Terus berkata.


"Baiklah kalau itu keinginanmu."


"Serang...!"


Tanpa menunggu perintah 2x semua jawara elit itu menyerang Pangeran Revan dan orang-orangnya setelah menghunus pedang.


Sedangkan Zafer yang sudah meminta kepada Pangeran Revan kalau dia akan melawan Pangeran Marvin, langsung menerjang pangeran tersebut.


Sementara Pangeran Marvin tidak tinggal diam. Tidak mau kalah dia balas dia menyongsong serangan Zafer. Sehingga tidak butuh waktu lama keduanya sudah terlibat dalam pertarungan yang sungguh hebat.


Sementara Pangeran Revan dan yang lainnya meladeni serangan para jawara istana. Sehingga sebentar saja tempat di tengah hutan itu sudah menjadi ajang pertempuran.


★☆★☆★

__ADS_1


__ADS_2