Pangeran Yang Hilang

Pangeran Yang Hilang
BAB 71 PERTEMUAN DENGAN EMPAT KEPALA KAMPUNG 1


__ADS_3

Di ujung Kota Bahir sebelah utara terdapat 4 kampung yang bisa dikatakan berjauhan dengan perkampungan yang berdekatan dengan kota.


Kampung yang terdekat jaraknya bisa 1 hari 1 malam perjalanan berkuda dengan kampung yang berdekatan dengan kota. Atau 2 hari perjalanan siang hari.


Dan yang tidak kalah uniknya juga keempat kampung itu saling berjauhan antara satu dengan yang lain. Dan yang lebih jauh dengan ketiga kampung lainnya adalah Kampung Naraya.


Di samping kampung itu berjauhan dengan 3 kampung yang lain, letaknya juga berada di dataran tinggi. Dan sekitar 2 setengah mil dari kampung itu terdapat jurang maha dalam.


Kini penduduk Kampung Naraya tinggal sedikit, tidak ada lagi separuhnya dari jumlah awal. Akibat tragedi berdarah beberapa hari yang lalu, banyak dari mereka yang mati.


Jadi, sekarang banyak rumah penduduk yang ditinggal mati oleh pemiliknya. Meski ada beberapa yang rusak, tapi sudah diperbaiki. Di rumah-rumah penduduk yang kosong itulah untuk sementara Pasukan Jubah Merah tinggal.


Sedangkan Pasukan Istana Centauri untuk sementara kembali dulu ke Negeri Tabir Ghaib. Untuk datang kembali ke daerah ini mudah bagi mereka. Tinggal lewat melalui Gerbang Cahaya mereka sudah sampai dengan cepat.


Yang belum kembali ke istana cuma Jenderal Jessica, Freya dan Daniela, 2 gadis cantik andalannya dari Pasukan Divisi Penyelidik.


Tapi mereka tidak ada lagi di Kampung Naraya. Mereka sudah pergi ke Kota Bahir untuk menyelidiki pergerakan pasukan istana sekaligus keadaan kota itu.


Sedangkan Pangeran Revan tidak bisa berbuat apa-apa. Dia tidak bisa menahan gadis cantik yang sudah menaruh ruang di hatinya itu. Tak ada hak baginya untuk mengatur tugas Jenderal Jessica.


Dia dan Jenderal Jessica posisinya sama, sama-sama di bawah kepemimpinan Ratu Agung Aurellia.


Lagi pula dia masih di bawah kepemimpinan Komandan 1 Pasukan Jubah Merah, Pangeran Nelson, pamannya sendiri.


Kembali ke pembahasan Kampung Naraya....


Tetua Darius, Kepala Kampung Naraya yang baru beberapa hari yang lalu diangkat, menuturkan bahwa sekitar hampir 20 tahun yang lalu ada seorang nyonya muda datang ke kampung ini dengan membawa bayi laki-laki yang baru berumur hampir setengah tahun.


Nyonya muda itu mengaku korban dari tragedi berdarah yang terjadi di kotaraja. Yaitu tragedi penggulingan kekuasaan Raja Neshfal Abraham yang dilakukan oleh selirnya sendiri, Selir Agung Helen Gretha.


Nyonya muda itu mengaku bahwa seluruh keluarganya terbunuh akibat peristiwa itu. Cuma dia dan bayi yang dia mengaku sebagai keponakannya yang selamat.


Akhirnya para penduduk menerima kehadiran nyonya muda itu dan membuatkan rumah untuk wanita itu dan bayi laki-lakinya.


Kurang lebih 5 tahun nyonya muda itu dan keponakannya tinggal di Kampung Naraya, terjadi peristiwa berdarah di kampung ini.


Di kampung ini tiba-tiba didatangi 5 orang prajurit istana. Dan tanpa diketahui sebabnya apa mereka langsung menyerang nyonya muda itu dan keponakannya.


Kalau sudah berurusan dengan prajurit istana, penduduk kampung tidak bisa berbuat apa-apa. Sampai pun Kepala Kampung Naraya sendiri. Karena kalau mencampuri urusan orang-orang istana akan berujung pada kematian.


Jadi, tidak ada seorang pun dari mereka yang berani menolong nyonya muda itu melawan 5 prajurit istana. Hingga akhirnya nyonya muda itu terbunuh dalam peristiwa itu.


Sedangkan anak laki-laki yang waktu itu sudah berumur 5 tahun awalnya dapat meloloskan diri dari kejaran 5 prajurit istana. Tapi meski bocah itu lolos dari kejaran prajurit, akhirnya dia mati juga karena jatuh ke dalam jurang.


★☆★☆


Setelah selesai melaksanakan tugas berdarahnya, 5 prajurit istana itu mendatangi Kepala Kampung waktu itu dan meminta pertanggung jawabannya atas tuduhan kampungnya telah menyembunyikan sekaligus melindungi keturunan Raja Neshfal Abraham.


Karena seperti telah diketahui oleh seluruh penduduk Kerajaan Bentala bahwa Selir Agung Helen Gretha bertekad akan melenyapkan seluruh keturunan Raja Neshfal Abraham.


Hanya dari keturunannya yang boleh hidup dan berkuasa di bumi Kerajaan Bentala. Meskipun sebenarnya keturunan Selir Agung Helen Gretha berasal dari nutfah mendiang Raja Neshfal Abraham juga.

__ADS_1


Sang Kepala Kampung tidak bisa berbuat apa-apa. Akhirnya dia merelakan nyawanya sebagai penebus atas perbuatan yang dianggap suatu kesalahan besar oleh pihak istana.


Kalau dia tidak bertanggung jawab atas perbuatannya itu, maka seluruh penduduk Kampung Naraya akan dibantai oleh prajurit istana. Sungguh kejam dan sadis!


Terus terang, baik Kepala Kampung maupun penduduknya sama sekali tidak mengetahui kalau bocah yang mereka tolong itu merupakan salah satu dari keturunan mendiang Raja Neshfal Abraham.


Karena memang waktu itu nyonya muda mengaburkan identitas bocah lelaki yang dibawanya. Tidak tahunya anak yang dibawanya itu ke kampung ini ternyata termasuk keturunan Raja Neshfal Abraham.


Pantas saja nyonya muda itu melindungi sang bocah mati-matian sampai mengorbankan nyawanya.


Dan sejak saat itu hingga sekarang Kampung Naraya, bahkan seluruh kampung yang ada di ujung utara Kota Bahir senantiasa menjadi pantauan pihak istana.


Beberapa hari yang lalu ±100 prajurit istana dan belasan pendekar istana membantai sebagian besar penduduk kampung ini dengan dalih bahwa ada laporan kalau di sini merupakan sarang pemberontak.


Sejak peristiwa 14 tahun yang lalu hingga sekarang tidak ada lagi orang asing masuk ke kampung ini karena Kepala Kampung yang berikutnya melarangnya. Dan tidak ada kegiatan apapun yang mengacu pada pemberontakan.


Hari-hari penduduk Kampung Naraya hanya diisi dengan berladang, berternak, dan berdagang di kota. Terkadang berburu di hutan. Sama seperti kegiatan ketiga kampung yang lainnya.


Kalau toh juga kampung ini tetap dituduh sebagai sarang pemberontak, mereka bisa berbuat apa. Meskipun kenyataannya memang kampung ini bukan sarang pemberontak, tapi mereka sudah memiliki catatan buruk di mata orang-orang istana.


Kampung Naraya dituduh menyembunyikan keturunan Raja Neshfal Abraham yang ternyata sudah dicap sebagai pemberontak.


Padahal kenyataannya Selir Agung Helen Gretha merebut kekuasaan yang sah dengan jalur pemberontakan. Begitu mengetahui masih ada keturunan Raja Neshfal Abraham yang masih hidup, maka dia balik menuduh kalau seluruh keturunan Raja Neshfal adalah pemberontak.


Kalau begitu, siapakah pemberontak yang sesungguhnya?


Sebenarnya di satu sisi seluruh penduduk Kampung Naraya merasa senang mendapat bantuan dari Pasukan Jubah Merah. Karena berkat mereka Kampung Naraya tidak sampai musnah sama sekali akibat tragedi itu.


Bahkan tidak ada satu pun prajurit istana disisakan untuk kembali ke istana.


Akan tetapi Pangeran Revan meyakinkan Tuan Darius kalau dia dan pasukannya tetap akan melindungi kampung ini jika hal itu terjadi. Dan akan tetap di sini sampai kampung ini benar-benar aman.


★☆★☆


Pangeran Revan mengumpulkan 4 Kepala Kampung yang ada di ujung daerah utara ini di kediamannya di Kampung Naraya. Pangeran Revan cuma ditemani Pangeran Brian yang ternyata sudah bergabung kembali.


Sebelumnya Brian, yang ikut mendampingi Pangeran Nelson menghadap ke Istana Centauri, melaporkan hasil kesepakan rapat kepada Pangeran Revan.


Yaitu Yang Mulia Ratu Agung telah menetapkan dan mengesahkan dimulainya rencana penggulingan kekuasaan tidak sah Raja Ghanim Altezza.


Yang Mulia Ratu Agung memerintahkan seluruh elemen, baik yang ada di Istana Centauri maupun yang ada di Markas Centaurus untuk berkonsentrasi mewujudkan rencana tersebut.


Dan Pangeran Revan ditugaskan langsung dari pusat untuk menangani kasus yang terjadi di daerah utara ini, terkhusus pembantaian yang terjadi di Kampung Naraya.


Makanya, Pangeran Revan mengumpulkan 4 kepala kampung untuk membicarakan mengenai permasalahan tersebut.


Sebelumnya dia telah memperoleh informasi dari hasil pemeriksaan orang-orangnya dan juga informasi dari Jenderal Jessica bahwa terdapat cukup banyak penduduk di 2 kampung yang menguasai ilmu beladiri. Kedua kampung itu adalah Kampung Adya dan Kampung Urdha.


Secara sepintas atau ketika berbaur dengan penduduk lainnya, para penduduk yang menguasai ilmu beladiri itu tidak nampak jelas. Nampak jelas kalau benar-benar diteliti. Dan orang-orang yang mengerti ilmu beladiri saja yang bisa mengetahuinya.


Sebelum memulai pembicaraan mereka saling memperkenalkan nama masing-masing terlebih dahulu. Dan Pangeran Revan tidak menyebutkan kalau dirinya seorang pangeran.

__ADS_1


Sebelumnya juga Brian diwanti-wanti jangan sampai memanggilnya pangeran di hadapan para Kepala Kampung itu. Meskipun dia sudah terbiasa memanggil nama saja pada Pangeran Revan.


Dan hingga sekarang pula Tetua Darius belum mengetahui kalau Pangeran Revan adalah seorang pangeran.


"Sebelumnya saya minta maaf...."


"Langsung saja, Tuan Revan," kata Kepala Kampung Adya bernada datar, memotong ucapan Pangeran Revan. "Tidak usah bertele-tele segala."


"Sebenarnya Tuan mengumpulkan kami di sini untuk apa?" tanya Kepala Kampung Urdha dengan nada sinis.


Menyaksikan sikap tidak bersahabat sekiligus tidak sopan dari 2 kepala Kampung itu membuat Pangeran Revan dan Brian saling bertatapan sejenak, lalu bersamaan menatap terkejut pada 2 orang tua itu.


Dua kepala Kampung itu sejak awal datang memang sudah menunjukkan sikap antipati. Jelas menunjukkan rasa tidak senang mereka akan pertemuan ini.


Sebenarnya mereka tidak mau datang ke pertemuan ini. Tapi mereka datang juga karena ingin tahu Pangeran Revan maunya apa mengadakan pertemuan seperti ini.


Sedangkan Kepala Kampung Naraya jelas merasa senang sekali dan mengapresiasi positif akan pertemuan ini. Sementara Kepala Kampung Caraya bersikap dingin saja. Ekspresinya tidak menunjukkan antipati ataupun senang.


"Baiklah, langsung saja kalau begitu," kata Pangeran Revan berusaha tetap tenang dan bersikap santun. "Maksud pertemuan ini tak lain untuk membicarakan masalah penyerangan prajurit istana satu pekan yang lalu."


"Masalah penyerangan prajurit istana bukan urusan Kampung Urdha, Tuan Revan," kata Tetua Simon, Kepala Kampung Urdha bernada datar dan sinis. "Itu masalah Kampung Naraya sendiri."


"Lagi pula penduduk Kampung Naraya," kata Tetua Carlos, Kepala Kampung Adya menyambung dengan nada sinis pula, "sudah bermasalah dengan orang istana sejak lama. Jadi wajar kalau mereka dituduh sebagai pemberontak karena pernah melindungi pemberontak."


Makin lama ucapan kedua Kepala Kampung itu makin mengundang emosi. Namun baik Pangeran Revan maupun Brian masih berusaha tetap tenang.


Sedangkan Tetua Darius diam saja, tidak berusaha menanggapi ucapan yang menyakitkan itu. Sejak lama Kampung Naraya memang tidak begitu akur dengan 3 kampung lainnya. Terutama pada 2 kampung itu.


Jadi wajar saja kalau mereka tidak berempati saat tragedi berdarah menimpa penduduknya.


"Seharusnya Tuan Revan tidak perlu ikut campur dalam masalah ini," kata Tetua Witton, Kepala Kampung Caraya mendukung kedua Kepala Kampung itu. "Peristiwa penyerangan itu memang sudah menjadi resiko yang harus diterima oleh penduduk Kampung Naraya."


"Seharusnya Tuan Revan biarkan saja seluruh penduduk Kampung Naraya terbantai," kata Tetua Simon menimpali. "Dengan begitu masalah akan selesai."


"Pasti tidak akan ada lagi penyerangan berikutnya," kata Tetua Carlos menyambung.


"Apakah Tuan-tuan yakin, setelah menyerang kampung ini, prajurit istana tidak akan menyerang kampung Tuan semua?" tanya Pangeran Revan seolah mengingatkan dengan nada datar.


"Pihak istana hanya punya masalah dengan penduduk Kampung Naraya," kata Tetua Simon masih bernada sinis. "Mana mungkin prajurit istana akan menyerang kami yang tidak punya masalah."


"Aku pikir kalian ini orang tua ubanan yang pikirannya juga sudah ubanan," tiba-tiba Brian menyeletuk bernada sarkas dengan gaya santainya. "Tak tahunya pikiran kalian itu tiada bedanya dengan pikiran bocah ingusan."


"Jaga bicaramu, Tuan Brian!" bentak Tetua Carlos bernada agak keras. "Tuan telah menghina kami!"


"Siapa yang menghina kalian?" kata Brian masih bersikap santai. "Bukankah yang menghina kalian adalah diri kalian sendiri?"


"Berpikir itu pakai otak, bukan pakai dengkul," lanjutnya benar-benar bernada sarkas.


Bukan main geramnya ketiga kepala Kampung itu dihina sedemikian rupa oleh orang yang jauh lebih muda dari mereka. Hal itu jelas-jelas menjatuhkan martabat mereka sebagai Kepala Kampung.


Saking geramnya ketiga Kepala Kampung itu, sampai-sampai mereka tidak bisa berkata-kata hingga beberapa saat lamanya.

__ADS_1


★☆★☆★


__ADS_2