Pangeran Yang Hilang

Pangeran Yang Hilang
BAB 69 BERDUA DI MALAM BULAN PURNAMA 1


__ADS_3

Sementara waktu Pangeran Revan tinggal di Kampung Naraya bersama pasukannya, untuk memastikan kampung itu benar-benar aman.


Jenderal Jessica sudah memberitahukan pesan dari Yang Mulia Ratu Agung kepada Pangeran Revan, yaitu undangan teruntuk Pangeran Nelson Adelard, di mana Komandan 1 Pasukan Jubah Merah itu diundang ke Istana Centauri.


Diundang dalam rangka apa Jenderal Jessica tidak memberi tahu. Karena memang pihak istana tidak memberi tahu Jenderal Jessica. Gadis cantik yang kini sudah berumur 19 tahun lebih itu hanya bertugas menyampaikan undangan.


Sementara Pangeran Revan juga tidak memaksa Jenderal Jessica untuk memberi tahu. Tapi dia bisa menduga kalau undangan itu besar kemungkinan untuk membicarakan apakah mereka sudah layak berperang melawan Raja Ghanim Altezza atau belum.


Dia sudah menyuruh Pangeran Brian, Wilson dan Kelvin yang selalu ikut kemana Brian pergi untuk kembali ke markas memberitahukan perihal undangan itu.


Kelvin ini adalah pemuda berbaju lengan pendek agak ketat warna hijau.


Juga berpesan agar melaporkan situasi yang terjadi di Kampung Naraya serta meminta dikirimkan 100 personil Pasukan Khusus ke sini untuk menjaga kampung ini dari serangan susulan oleh pihak istana.


Sedangkan 5 pemuda yang lainnya masih tetap bersama Pangeran Revan. Mereka antara lain: Gibson Kyler, Hendry, Orian, Dwayne, dan Gibran.


Sedikit untuk diketahui bahwa 8 pemuda tampan di atas merupakan sekian di antara pendekar-pendekar hebat yang ada di barisan Pasukan Jubah Merah.


Mereka bukan hanya memiliki beladiri yang handal dan tenaga dalam yang tinggi. Tapi juga memiliki kesaktian yang dahsyat. Bisa dikatakan mereka merupakan pasukan andalan Pasukan Jubah Merah.


Fakta menarik pula bahwa mereka semua adalah korban penculikan yang terjadi beberapa tahun silam. Dan Hendry, pemuda yang tak lain adalah teman Brian yang dikabarkan hilang, ternyata telah ditangkap duluan sebelum Brian dan yang lainnya.


Namun mereka ditangkap ternyata bukan dijadikan sebagai orang jahat atau perampok. Mereka ditangkap ternyata untuk dilatih agar bisa menjadi pasukan yang akan memberantas kezaliman.


Akhirnya mereka dengan sukarela menerima dan berlatih dengan sungguh-sungguh agar bisa menjadi pasukan besar demi kejayaan cita-cita Pasukan Jubah Merah.


Sementara Jenderal Jessica dan 12 rekanya juga masih berada di Kampung Naraya. Mereka sibuk membujuk para penduduk yang kehilangan keluarganya.


Sedangkan yang 2 orangnya Jenderal Jessica tugaskan untuk kembali ke Istana Centauri guna melaporkan peristiwa pembantaian penduduk di Kampung Naraya ini.


Perlu diketahui pula bahwa Pangeran Revan Abrisam adalah putra ke 2 mendiang Pangeran Ghazam Aldari, alias cucu mendiang Raja Neshfal Abraham. Ibunya bernama Zanitha Berenice.


Entah bagaimana ceritanya dia berhasil diketemukan oleh pamannya, Pangeran Nelson. Yang jelas dia sedari kecil selalu bersama saudara ayahnya itu. Hingga dia diajarkan KITAB NAGA LANGIT.


Begitu Pangeran Revan berhasil menguasai kitab itu, termasuk menguasai Jurus Pedang Naga Langit, dia diwariskan PEDANG NAGA.


★☆★☆


Malam sudah begelayut di Kampung Naraya....


Malam ini sepertinya begitu indah dan syahdu. Sang Dewi Malam bersinar begitu lembut, menyebarkan senyum hangatnya menjadikan suasana damai bagi para penduduk yang kini sudah tenang, tak ada lagi kegaduhan maupun suara ratap tangis.


Setelah 3 hari mereka dan Pasukan Jubah Merah sibuk menata kampung yang sebelumnya amburadul. Menguburkan mayat-mayat penduduk yang meninggal, korban tragedi berdarah 3 hari yang lalu.


Sedangkan mayat-mayat para prajurit dan pendekar bejat istana dikubur dalam 2 lubang yang amat besar cukup jauh dari Kampung Naraya.


Tindakan itu sudah merupakan perlakuan baik bagi penduduk ketimbang mereka dibuang ke jurang atau dijadikan santapan hewan buas.


Tidak lupa tiap malam Pangeran Revan menugaskan beberapa pasukannya untuk berjaga-jaga di batas kampung secara bergiliran.


Malam ini entah kenapa Pangeran Revan ingin berkeliling kampung memeriksa keamanan. Dia meminta Gibson Kyler untuk menemaninya.


"Sepertinya keadaan kampung ini sudah aman," kata pangeran yang berwajah dingin berpadu duka itu sambil terus berjalan berdampingan dengan Gibson. "Kamu boleh memulai tugasmu besok pagi, Gibson."


"Apakah kamu sudah merasa yakin kalau keadaan di sini sudah aman, Pangeran?" tanya Gibson ingin kepastian.


"Ya, untuk sementara waktu masih aman," sahut Pangeran Revan menduga. "Kalau ada pergerakan dari arah Kota Bahir, orang kita pasti cepat melaporkan ke sini."


Sementara 2 pemuda tampan itu asyik ngobrol sambil berjalan ringan, seketika Jenderal Jessica dan 2 orang temannya muncul di sebuah tikungan jalan kecil sebelah kiri sekitar 2 tombak di depan mereka.


Dan sepertinya ketiga gadis cantik itu juga tengah asyik ngobrol. Dan begitu menyadari bakal berpapasan dengan Pangeran Revan dan Gibson, mereka seketika berhenti melangkah di tikungan dan berhenti ngobrol.


Sedangkan Pangeran Revan, begitu 4 langkah lagi jaraknya dengan ketiga gadis cantik itu, lantas berhenti di depan mereka. Terpaksa Gibson ikut berhenti pula meski heran kenapa Pangeran Revan berhenti.


Sejenak Pangeran Revan memandang ke arah 3 gadis cantik itu, lebih tepatnya menatap Jenderal Jessica. Sedangkan si gadis, seakan ada satu kekuatan yang membuatnya berani, dia balas menatap Pangeran Revan.

__ADS_1


Entah kenapa setiap kali menatap wajah dingin Pangeran Revan, membuat Jenderal Jessica teringat akan tabib kecil yang pernah dia jumpai di kapal dulu.


Sedangkan Pangeran Revan, entah kenapa setiap kali bertatapan dengan gadis ini ada sesuatu yang lain terjadi padanya. Sesuatu yang belum pernah dia rasakan saat memandang seorang perempuan.


Cukup banyak gadis dari Istana Centauri berada di kampung ini, ditambah lagi 50 orang yang baru datang 3 malam yang lalu. Semuanya cantik-cantik.


Tapi kenapa cuma Jenderal Jessica yang membuatnya tertarik? Perasaan macam apa ini dia jadi bingung sendiri.


Sementara itu, Gibson cuma sebentar memandang 3 gadis itu. Setelah itu dia beralih menatap Pangeran Revan. Dan begitu menatap Pangeran Revan dia merasa ada sesuatu yang aneh terjadi pada pangeran satu itu.


Sedangkan 2 gadis teman Jenderal Jessica tidak berani memandang lama-lama pada Pangeran Revan. Malah gadis yang sebelah kiri Jenderal Jessica berani menatap Gibson. Sementara gadis sebelah kanan segera beralih memandang komandannya.


Begitu merasa ada sesuatu yang lain dari tatapan Jenderal Jessica, gadis itu tersenyum penuh arti.


★☆★☆


Namun suasana kekakuan ini tidak berlangsung lama. Karena gadis sebelah kanan Jessica seketika berkata kepada kawannya yang sebelah kiri sambil tersenyum menggoda.


"Freya, sebaiknya kita duluan saja. Takutnya mengganggu Nona Komandan kalau kita bersamanya terus."


Gadis yang dipanggil Freya paham maksud ucapan gadis itu. Maka segera dia membumbui ucapan itu untuk melengkapi dengan gayanya pula.


"Kamu benar, Daniela. Kalau kita terus bersamanya, takutnya apa yang ingin dia ungkapkan malah tidak jadi."


Freya segera meraih tangan Daniela, lalu mengajaknya pergi. Meninggalkan Jenderal Jessica yang seketika terheyak kaget bagai mendusin dari mimpi indahnya. Begitu tersadar 2 temannya sudah 2 tombak darinya.


"Freya, Daniela! Kenapa kalian meninggalkanku?" tegur Jessica seperti bingung tidak mengerti harus berbuat apa.


"Kamu tenang saja di situ bersama Tuan Pangeran," kata Freya sambil tersenyum menggoda.


"Nikmatilah malam indah di bawah sinar bulan purnama bersamanya, Jessica," sambung Daniela menimpali.


"Apa yang kalian ucapkan?"


Tapi hendak menyusul temannya tidak mungkin lagi. Di samping temannya sudah cukup jauh, takutnya akan menyinggung perasaan Pangeran Revan.


Dia berharap Gibson tidak ikut-ikutan merat dari Pangeran Revan. Biar suasana tidak menjadi canggung. Tapi baru saja pikiran itu melintas di benaknya, telinganya sudah mendengar ucapan Pangeran Revan yang seperti menegur Gibson.


"Kamu mau ke mana, Gibson? Apa kamu ikut-ikutan pergi juga?"


Dengan cepat Jessica menoleh ke arah Gibson yang ternyata sudah melangkah 2 tindak. Dan berhenti sejenak saat mendengar teguran Pangeran Revan.


"Aku tidak mau dikutuk sang Dewi Malam, Pangeran," kata Gibson seolah berkilah.


"Apa maksudmu?" kata Pangeran Revan mulai curiga dengan ucapan aneh Gibson itu.


"Tidakkah kamu melihat Dewi Malam menatap kesal kepadaku lantaran mengganggu sepasang insan yang hendak mengungkapkan rasa, Pangeran?" kata Gibson bergaya puitis sambil memandang rembulan.


Tanpa sadar Jessica ikut memandang rembulan yang bulat sempurna. Dan seakan tanpa sadar pula gadis cantik laksana bidadari itu mengulas senyum manisnya.


Sedangkan Pangeran Revan seperti mulai khawatir Gibson mengucapkan sesuatu yang dapat membuatnya malu di depan Jessica. Dia mulai paham arah ucapan Gibson meski bergaya puitis.


Tapi baru saja dia hendak berkata menegur Gibson, malah Gibson sudah berkata duluan dengan gaya puitisnya sambil terus menatap rembulan.


"Pangeran. Kamu memang tidak berkata kalau kamu menyukai, tapi sorot matamu sudah mengungkapkan apa yang ada di dalam sanubari...."


"Kamu...."


Terang saja Pangeran Revan terkejut mendengar ucapan Gibson yang meski bergaya puitis tapi sangat jelas itu. Ucapan itu jelas membuatnya malu di hadapan Jessica.


Dia memang diam-diam sudah mulai menyukai Jessica. Meski jarang bisa bersama gadis cantik itu, tapi setiap kali menatapnya ada semacam kesejukan dirasakan di dalam hatinya.


Tapi Gibson sudah mengungkapkan apa yang dirasakan itu dengan lisan. Terus pemuda itu berlalu begitu saja dengan cepat tanpa bertanggung jawab atas ucapannya. Membuat Pangeran Revan diserang berbagai perasaan.


"Apa maksud ucapan Tuan Gibson tadi, Pangeran?" tanya Jessica sambil memberanikan diri menatap Pangeran Revan.

__ADS_1


Dia sedikit paham akan ucapan Gibson tadi, tapi belum begitu jelas.


"Ah, tidak usah dianggap ucapan pemuda gila syair itu," kilah Pangeran Revan mengelak. "Dia memang kadang ngomong ngelantur kalau sedang berbicara."


"Apakah Tuan Gibson pandai bersyair?" tanya Jessica ingin tahu.


"Saya tidak ahli dalam menilai masalah itu, Nona," sahut Pangeran Revan jujur. "Hanya saja selain belajar beladiri di Markas Centaurus, dia juga sering membaca buku-buku sastra di perpustakaan kami."


Markas Centaurus adalah nama tempat di mana Pasukan Jubah Merah tinggal.


Jessica tidak bertanya lagi seperti tidak ingin panjang lebar membahas soal itu. Sedangkan Pangeran Revan tidak berkata juga, apalagi bertanya. Sehingga beberapa saat lamanya suasana terselimuti oleh kebisuan.


Maka kecanggungan langsung menjerat suasana di antara mereka. Tapi benak sibuk memikirkan apa yang bisa diobrolkan sehingga bisa melepas segel kecanggungan ini. Lagipula siapa yang akan memulai berbicara?


★☆★☆


"Maaf, Jenderal Jessica. Kalau boleh tahu Nona tadi dari mana?" tanya Pangeran Revan seakan tidak tahan dengan suasana canggung seperti ini.


Pertanyaan itu sekaligus memecah kebisuan di antara mereka yang cukup lama.


"Kami sebenarnya sehabis berkunjung ke rumah seorang nyonya yang ditinggal mati suaminya akibat tragedi tempo hari," sahut Jessica sambil menata suasana hatinya yang masih canggung dan gugup. Suaranya saja masih sedikit kagok.


"Sekarang Nona mau pulang?" tanya Pangeran Revan lagi. Tapi dia berharap Jessica tidak menjawab 'ya'.


"Pangeran sendiri mau ke mana?" Jessica malah balik bertanya dengan berani meski masih sedikit gugup.


"Saya dan Gibson sebenarnya hendak berkeliling kampung."


"Meronda?"


"Ya, bisa dikatakan begitu."


Sejenak Jessica terdiam. Tidak bertanya atau menanggapi ucapan Pangeran Revan. Masih agak canggung. Sikap sopan dan hormatnya tak pernah lepas.


"Gibson sudah pergi meninggalkan saya," kata Pangeran Revan seolah tidak ingin terlalu larut dalam kebisuan. "Apakah Nona mau menemani?"


"Apakah saya tidak dikatakan lancang menemani Tuan Pangeran?"


Pangeran Revan tidak bisa menebak apa maksud ucapan Jessica itu. Apakah sengaja berkilah ingin menghindari berdua dengannya? Atau memang sikap hormat dan sopan dari gadis itu terhadapnya?


"Apa yang membuat Nona merasa berbuat lancang kalau menemani saya, Jenderal Jessica?" tanya Pangeran Revan ingin tahu.


"Tuan adalah Pangeran Ke 2 dan cucu Yang Mulia Selir Heliana," sahut Jessica beralasan. "Sepertinya amat tidak sopan kalau saya yang cuma bangsawan biasa berdua saja dengan Tuan Pangeran."


"Apa yang Nona ketahui tentang saya hanyalah jejak masa lalu, Jenderal Jessica," kata Pangeran Revan bernada bijak. "Sekarang kedudukan kita adalah sama, Nona. Sama-sama menghamba kepada pemimpin yang satu, yaitu Yang Mulia Ratu Agung."


Apa yang dikatakan Pangeran Revan amat mengena di dalam hati Jessica. Ini salah satu poin penting mengenai karakter seorang Pangeran Revan. Betapa dia memiliki sifat rendah hati yang luhur meski dia seorang pangeran.


Dan pula sikap Pangeran Revan juga begitu sopan dan menghormatinya. Meski wajahnya tampak dingin, tapi tutur bahasanya begitu lembut dan sopan.


Melihat wajah tampan yang dingin itu, mengingatkannya lagi pada tabib kecil di masa kecilnya dulu.


Dia masih bingung mengenai karakter tabib kecil itu. Wajahnya begitu dingin serta terselip duka. Sama seperti wajah Pangeran Revan. Bentuk wajahnya juga mirip.


Apakah mereka merupakan orang yang satu, dia masih bingung. Mungkin pertemuan ini adalah kesempatan baginya untuk bertanya.


"Baiklah, kalau Tuan Pangeran mengijinkan saya akan menemani Tuan Pangeran berkeliling kampung malam ini," kata Jenderal Jessica akhirnya menyetujui.


"Oh, kalau begitu mari!" kata Pangeran Revan mempersilahkan.


"Mari, Pangeran."


Dengan langkah ringan sepasang muda-mudi itu melangkah berdampingan. Tapi tetap menjaga jarak. Mereka masih menyusuri jalan utama kampung di bawah sinar bulan purnama.


★☆★☆★

__ADS_1


__ADS_2