Pangeran Yang Hilang

Pangeran Yang Hilang
BAB 191 MEMBASMI 300 PASUKAN ELIT


__ADS_3

Pertempuran tidak dapat terhindarkan lagi. Pagi yang seharusnya dinikmati dengan damai, terpaksa berantakan dikarenakan pertempuran yang berkecamuk.


Tampak Putri Arcelia bertarung menggunakan pedang bermata tunggalnya. Pedang itu adalah pedang peninggalan bibi pelayannya yang sudah mati akibat terbunuh oleh orang Lengkara.


Dengan gerakan lincah dia memainkan pedangnya meladeni perlawanan lelaki baju hitam yang juga bersenjatakan pedang.


Sedangkan Putri Athalia, melihat lawan langsung mencabut pedang, dia tidak mau meremehkan. Dia juga langsung mencabut pedangnya dan terus meladeni serangan lelaki baju merah.


Sementara Pangeran Ghavin, dalam meladeni lelaki baju hijau belum menggunakan Pedang Akhirat-nya, meski lawan bertarung langsung menggunakan pedang.


Bukan berarti dia meremehkan lawannya. Tapi begitulah gaya dia bertarung di awal pertarungan. Dan merasa masih bisa meladeni lelaki baju hijau pupus itu meski belum menggunakan pedang.


Sementara itu pula sebagian besar ksatria elit sudah saling berhadapan satu lawan satu dengan pasukan elit milik Bunda Suri. Sedangkan sebagian lainnya masih berada di tempat sambil mengawasi pertempuran.


Pertempuran terus saja berlangsung seakan tak kenal henti. Semakin lama semakin sengit semakin seru.


Teriakan-teriakan pertempuran terus terdengar seakan hendak menggetarkan jantung. Ditingkahi suara denting senjata saling beradu di udara menimbulkan bunyi yang menggiriskan hati.


Perlu diketahui bahwa pasukan elit merupakan kumpulan murid-murid senior berbagai perguruan yang dipilih berdasarkan kriteria Bunda Suri. Dan rata-rata mereka memiliki ilmu kesaktian.


Jadi tidak heran kalau mereka memiliki kehebatan yang cukup mengagumkan. Namun apakah kehebatan mereka itu sudah cukup untuk mengalahkan para ksatria elit?


Tentu saja tidak cukup. Para ksatria elit rata-rata memiliki kehebatan yang sudah mecapai level tinggi.


Sudah cukup bagi pasukan elit itu meladeni para ksatria elit bermain-main jurus pedang dalam waktu sepenanakan nasi. Bahkan Brian serta para ksatria yang sekelas dengannya sudah menumbangkan lawan dengan tebasan pedang mereka.


Tidak lama kemudian, mulailah satu demi satu pasukan elit bertumbangan dengan bersimbah darah. Sehingga darah semalam yang tertumpah membasahi areal gerbang barat belum juga lama kering, kini kembali tertumpah membasahi tanah di tempat itu.


Bau anyir darah belum juga hilang, kini bertambah tebal lagi, menambah suasana semakin santer.


Sementara baik Putri Athalia maupun Putri Arcelia tampak sedikit demi sedikit sudah mulai mendesak lawan mereka masing-masing.


Dua pimpinan pasukan elit itu dapat didesak oleh dua putri cantik bukan berarti kehebatan mereka tidak tinggi. Akan tetapi kehebatan kedua pengawal cantik Dhafin itu lebih tinggi daripada mereka.


Pertarungan masih terus berlangsung. Putri Athalia maupun Putri Arcelia terus saja memainkan jurus-jurus pedang mereka berusaha menggempur pertahanan lawan mereka masing-masing.


Sementara Dhafin masih belum menggunakan pedangnya dalam bertarung. Akan tetapi hingga sekarang belum ada satu goresan pun ujung pedangnya menyentuh tubuh Pangeran Pusat itu.


Sebaliknya, sudah beberapa kali lelaki baju hijau menerima pukulan maupun tendangan Dhafin yang cukup keras. Seolah-olah pedang di tangan lelaki baju hijau tidak ada artinya bagi Dhafin.


Tentu saja membuat lelaki baju hijau itu makin penasaran. Sehingga semakin bernafsu untuk membunuh Dhafin.


★☆★☆


Pedang lelaki baju hijau terayun dengan ganas membabat Dhafin dari atas ke bawah dengan cepat. Namun Dhafin lebih cepat lagi menghindar ke samping kiri sambil menyerongkan badan.


Maka pedang itu luput dari sasaran yang tadinya hendak membelah pundak kanan Dhafin. Tapi siapa sangka telapak tangan kanan Dhafin ikut bergerak dengan amat cepat pula. Dan tahu-tahu telah menangkap pergelangan tangan lelaki baju hijau yang memegang pedang.


Tap!


"Ah!"


Tentu saja lelaki baju hijau terkejut bukan main. Namun belum juga dia dapat melakukan sesuatu, kepalan kanan Dhafin dengan telak, kuat, keras dan cepat langsung menghantam rusuk kanannya.


Bughk!


"Hugh!"


Demikian kerasnya hantaman itu membuat lelaki baju hijau mengeluh tertahan sambil merasakan sakit yang amat sangat. Tapi belum juga dia menikmati dengan lama rasa sakitnya, kaki kanan Dhafin terangkat dan langsung menyodok lambung si lelaki tanpa dapat dicegat.


Dan kali ini lelaki baju hijau itu seketika terjajar ke belakang cukup jauh sambil mengaduh kesakitan. Belum hilang rasa sakit di tulang rusuknya yang seperti patah itu, ditambah lagi rasa sakit pada lambung yang seperti diaduk-aduk dari dalam.

__ADS_1


Beberapa saat lamanya lelaki baju hijau menormalkan kondisi yang sempat kacau. Sedangkan Dhafin cuma diam saja di tempat berdirinya sambil menatap sang lawan.


Begitu lelaki baju hijau sudah bisa menguasai diri meski belum sepenuhnya, kembali dia menerjang Pangeran Pusat. Meski gerakannya setengah limbung dia paksakan juga menyerang Dhafin yang masih diam.


Pedang yang masih dalam genggamannya diayun hendak membelah pundak kiri Dhafin. Sedangkan Pangeran Pusat tetap tak bergeming di tempatnya dan juga tidak terlihat melakukan apa-apa.


Namun begitu pedang sang lawan sudah berada di atas pundak Dhafin, dengan gerakan amat cepat telapak tangan kiri Pangeran Ghavin terangkat dan dengan berani menangkap batang pedang sang lawan, lalu menggenggamnya dengan kuat.


Bukan main terkejutnya lelaki baju hijau menyaksikan pedangnya dapat ditangkap oleh pemuda itu. Tambah terperangah lagi mana kala pedangnya amat kuat terpegang oleh Dhafin, sehingga amat susah ditarik.


Selagi lelaki baju hijau berkutat menarik pedang, seketika Dhafin mengayunkan tangan kanannya yang ternyata sudah menggenggam Pedang Akhirat dari bawah ke atas dengan posisi sedikit menyilang dengan kuat dan cepat.


Sungguh lelaki baju hijau tidak pernah menyangka kalau Dhafin melakukan hal itu. Sehingga belum sempat dia melepaskan pedangnya dari genggamannya, badannya sudah terbelah dua dari pinggang kiri menyilang ke pundak kanan.


Dhafin seperti layaknya menebang batang pisang saja. Sungguh mengerikan!


Tidak ada yang bisa dia lakukan selain menjerit keras yang kedengarannya amat mengerikan. Lalu tak lama, tubuhnya seketika menggelosor jatuh dengan terpisah dua. Darah segar langsung membanjir menggenangi tanah.


Sementara itu pasukan elit terus saja bertumbangan dengan bersimbah darah seakan tidak mau berhenti. Sudah lebih dari separuh jumlah mereka yang terkapar jadi mayat di atas tanah dengan kematian yang mengerikan.


Sedangkan Putri Athalia maupun Putri Arcelia sepertinya sebentar lagi akan mengakhiri pertarungan mereka.


Tampak Putri Arcelia mengayunkan pedang bermata tunggalnya, menghantam secara beruntun pertahanan lelaki baju hitam. Namun sang lawan masih bisa menangkis gempuran Putri Arcelia meski dengan bersusah payah.


Tapi cuma 3x pedang lelaki baju hitam masih mampu menangkis laju pedang Putri Arcelia. Begitu tangkisan yang ke 4 pedangnya langsung patah menjadi dua. Membuatnya terkejut tidak percaya. Sedangkan telapak tangannya langsung kesemutan hebat.


★☆★☆


Sementara Putri Arcelia tidak berhenti sampai di situ. Selepas mematahkan pedang lawan, dengan cepat dia berputar sambil melayangkan tendangan kaki kiri yang langsung mengarah ke dada lelaki baju hitam yang memang sudah tanpa pertahanan.


Dughk!


Karena masih terpengaruh dengan tangannya yang kesemutan dan pedangnya yang patah, lagipula tendangan itu begitu cepat datangnya, sehingga enak saja tendangan Putri Arcelia menghujam dadanya.


Saking kuatnya tendangan itu membuatnya terjajar cukup jauh ke belakang sambil menjerit tertahan.


Sedangkan Putri Arcelia, selagi lawannya terjajar ria ke belakang, dengan amat cepat tubuhnya melesat mendahului lawannya. Dan berhenti di belakang lelaki baju hitam itu sebelum tubuhnya berhenti terjajar.


Dan tiba-tiba saja....


"Hagh!"


Seketika tubuh lelaki baju hitam berhenti terjajar. Bukan karena waktunya berhenti, melainkan pedang Putri Arcelia telah menusuk punggung kirinya hingga tembus ke dada. Itulah yang membuatnya berhenti.


Dia hanya bisa membelalakkan mata. Tapi tidak sempat melihat pembunuhnya untuk terakhir kali. Mulutnya yang memuntahkan darah segar menganga cukup lebar. Seperti hendak menjerit keras-keras tapi tidak bisa.


Belum lama Putri Arcelia mencabut pedangnya, tubuh lelaki baju hitam yang sudah tanpa nyawa langsung roboh ke samping kiri.


Pada waktu yang hampir bersamaan, Putri Athalia melenting ke udara cukup tinggi sambil mengayunkan pedangnya tinggi-tinggi.


Sementara lelaki baju merah yang tadi terkena tendangan maut masih terjajar ke belakang belum berhenti. Namun pandangannya yang nanar masih sempat melihat secara samar Putri Athalia meluncur ke arahnya dengan ayunan pedang yang siap membelah dua kepalanya.


Begitu pedang Putri Athalia sudah semakin dekat ke atas kepalanya, entah sadar atau tidak tangan kirinya yang masih bebas bergerak diangkat naik ke atas kepalanya, seolah hendak menangkis laju pedang sang putri.


Dan ketika pedang Putri Athalia sampai ke sasaran, maka terjadilah apa yang harus terjadi.


Craaasss! Praaasss!


"Ah!"


Pedang Putri Athalia terus saja meluncur tanpa penghambat. Menebas putus lengan lelaki baju merah, lalu membelah dua tubuh lelaki itu dari kepala hingga ************.

__ADS_1


Sungguh, aksi memukau sekaligus mengerikan semacam itu bukanlah pekerjaan yang mudah. Cuma orang-orang berilmu tinggi dan ahli yang bisa melakukannya.


Tidak lama berselang tubuh lelaki baju merah yang sudah jadi mayat seketika terpisah menjadi dua dan rebah ke samping kiri dan kanan.


Sementara itu pasukan elit tinggal 5 orang yang masih hidup. Itupun tinggal menghitung helaan napas saja mereka akan menyusul kawan-kawannya. Karena nyawa mereka saat ini sudah di ujung tanduk.


Tampak 2 orang ksatria elit menebas leher lawan mereka masing-masing. Seorang ksatria, ujung pedangnya merobek dengan besar dada dan perut lawannya.


Seorang ksatria membabat pinggang lawannya hingga putus. Ksatria terakhir menghantamkan kedua tinjunya ke dada lawannya hingga hancur remuk.


Sedangkan sang lawan terlempar deras ke belakang sambil menjerit. Mulutnya yang menganga memuntahkan darah segar menyiprat ke udara.


Dengan tewasnya pasukan elit terakhir itu maka tidak ada lagi pasukan elit yang masih berdiri tegak di atas tanah. Semua sudah terkapar menjadi mayat, menemani mayat-mayat penjaga gerbang yang sudah mati duluan.


Sehingga mayat yang bergelimpangan di sekitar gerbang setelah barat itu semakin banyak.


★☆★☆


"Apa langkah selanjutnya, Pangeran Pusat?" tanya Brian setelah mereka semua berkumpul di gardu jaga.


Di situ, selain Dhafin dan Brian, juga ada Gibson, Aziel, Keenan, Kelvin, Hendry, dan Zafer. Tak ketinggalan dua pengawal cantik Dhafin.


Sedangkan para ksatria yang lain bersiaga di luar gardu. Tapi tetap di atas tembok gerbang.


"Aku punya firasat, Selir Hellen pasti akan mengeluarkan pasukannya dalam jumlah banyak setelah mendengar laporan kalau pasukan elitnya baru saja kita habisi," kata Dhafin menduga.


"Menurutmu hari ini apa besok?" tanya Aziel.


"Hari ini," sahut Dhafin mantap.


Belum kering suara Dhafin berkata demikian, seketika mereka merasakan adanya getaran halus di sekitar mereka. Apa yang terjadi?


Selagi semua yang ada di situ tengah bertanya-tanya apa yang terjadi, salah seorang ksatria masuk ke gardu. Sejenak menjura kepada Dhafin, lalu melaporkan.


"Lapor, Pangeran, pasukan kerajaan tampak menuju ke gerbang barat ini."


Baru saja Dhafin mengemukakan firasatnya itu, pasukan kerajaan ternyata sudah menuju ke mari. Artinya apa yang difirasatkan oleh Dhafin ternyata benar adanya.


Tanpa menunggu lama mereka semua keluar dari gardu. Begitu sampai di luar mereka langsung melayangkan pandangan mereka pada nun jauh di sana.


Dan ternyata memang benar, puluhan ribu pasukan istana tengah berjalan dengan rapi menuju ke mari. Mereka terdiri dari pasukan berkuda, pasukan pemanah, dan pasukan pejalan kaki. Juga terdapat ribuan jawara elit.


Tampak berkuda paling depan adalah seorang lelaki berusia hampir mencapai 50 tahun. Dia berwajah dingin penuh sifat membunuh. Dialah komandan perangnya.


Di belakangnya mengikuti 10 orang yang juga berkuda. Mereka sepertinya 10 komandan pasukan yang ada di belakang mereka.


Setelah merasa pasti kalau puluhan ribu pasukan itu bakal menuju ke gerbang sebelah barat, Dhafin memerintahkan semua ksatria untuk kembali ke basecamp guna menyusun strategi baru. Termasuk dirinya juga kembali.


Sementara itu sekitar 50.000 lebih pasukan Bunda Suri masih terus bergerak menyusuri jalan perkotaan. Tampak pasukan itu membentuk barisan yang cukup panjang di sepanjang jalan.


Tidak ada yang menyaksikan arak-arakan pasukan itu selain debu jalanan yang berterbangan sedikit menghalangi pandangan. Namun sepertinya fenomena seperti itu sudah dianggap biasa bagi setiap pasukan.


Tidak lama kemudian, pasukan Bunda Suri yang paling depan telah sampai di gerbang kotaraja sebelah barat. Namun mereka terus saja bergerak keluar setelah pintu gerbang dibuka.


Karena mayat pasukan penjaga dan pasukan elit belum dipindahkan, terpaksa mereka berjalan melintasi mayat-mayat itu.


Begitu sudah sampai di luar, mereka langsung membentuk 10 kelompok di areal yang amat luas itu. Dan di pimpin oleh masing-masing 10 komandan pasukannya.


Sementara sekitar 6.000 jawara elit mengambil posisi di barisan paling depan, di belakang komandan perang.


★☆★☆★

__ADS_1


__ADS_2