
Sebenarnya perjalanan yang ditempuh Dhafin untuk pergi ke tempat Nona Athalia terbilang jauh. Tempat itu berada agak jauh di luar batas wilayah Kerajaan Bentala sebelah timur. Kalau dihitung dari kotaraja kira-kira memakan waktu 2 pekan perjalanan berkuda dengan jalan normal.
Apalagi mereka memulai perjalanan dari Kota Nehan yang tentu lebih jauh lagi. Kira-kira memakan waktu hampir sebulan perjalanan berkuda baru bisa sampai.
Akan tetapi mereka adalah orang-orang hebat di kalangan kependekaran. Cukup dengan menggunakan ilmu teleportasi mereka langsung sampai ke tujuan dalam waktu yang amat singkat.
Adapun tempat yang dimaksud Nona Athalia yang merupakan tempatnya ternyata berada di wilayah Kerajaan Lengkara sebelah barat.
Karena memang perlu diketahui bahwa Nona Athalia dan kedua teman cantiknya itu berasal dari Kerajaan Lengkara.
Tempat atau lebih tepatnya markas Nona Athalia bersama ribuan pasukannya ternyata berada di balik sebuah bukit cukup besar yang bernama Bukit Tolucan. Bukit yang menjadi benteng raksasa yang menghalangi terlacaknya markas mereka dari dunia luar.
Saat ini Dhafin sudah berada di markas Nona Athalia, sebuah tempat yang layaknya sebuah perkampungan besar yang membentang di atas dataran tinggi.
Dan baru saja dia sampai di kampung besar itu, dia langsung dikejutkan oleh perlakuan para penduduk kampung.
Seorang pendeta, perempuan tua, 8 tetua kampung, serta sekian banyak penduduk langsung menyambutnya.
Kalau cuma menyambut biasa Dhafin tidak terlalu kaget. Malah mereka menyambutnya dengan berlutut menyembah hormat layaknya menyembah seorang penguasa. Tentu saja Dhafin terkejut bukan main.
Lebih terkejut lagi saat pendeta yang sepertinya pimpinan penyambutan yang berlebihan itu mengucapkan salam hormat dengan menyebut nama aslinya.
"Keselamatan dan kesejahteraan terlimpah kepada Yang Mulia Pangeran Ghavin Aldebaran. Terimalah sembah hormat kami."
Untuk beberapa saat lamanya Dhafin hanya bisa terkejut tercengang. Rasanya dia baru mendatangi perkampungan ini. Dan semua orang yang dia lihat itu baru kali ini dia jumpai. Yang artinya dia tidak mengenalnya.
Lalu dari mana mereka mengenal dirinya? Kalau mereka mengenal dirinya, bisa jadi mereka juga mengetahui keluarganya.
Kemudian dia memandang pada Nona Athalia seakan meminta jawaban akan sebab keterkejutannya.
Namun sepertinya nona bercadar itu tidak bisa menjawab. Karena tampak dia juga terkejut orang-orangnya langsung menyembah hormat kepada Dhafin. Apalagi menyebut sebuah nama yang bukan nama Dhafin.
Sementara Kaluna dan Malinka, begitu penduduk kampung menyembah hormat kepada Dhafin, mereka juga langsung berlutut menyembah hormat.
Akan tetapi tidak lama kemudian, Nona Athalia kembali terkejut saat menyadari sesuatu. Terus dia bertanya kepada pendeta kampung dan wanita tua itu.
"Pendeta Desmon, Nenek Kaira, apakah pemuda ini calon penguasa 3 negeri yang kalian maksud?"
"Benar, Tuan Putri," sahut kedua orang itu hampir bersamaan.
Mendengar jawaban itu, Nona Athalia yang ternyata seorang putri raja langsung berlutut menyembah hormat dengan segera. Lalu berkata dengan penuh sikap takzim serta sikap segan.
"Keselamatan dan kesejahteraan semoga terlimpah kepada Yang Mulia Pangeran. Terimalah sembah hormat hamba. Ampun beribu ampun atas kekhilafan dan kelancangan hamba yang tidak tahu adat."
Jelas saja Dhafin makin terkejut dan makin tidak mengerti melihat perbuatan Nona Athalia yang ikut-ikutan turut menyembah hormat juga. Padahal dia pimpinan tertinggi di Kampung Tolucan ini.
Setelah Dhafin menyuruh mereka semua berdiri, lalu dia bertanya kepada mereka tentang perbuatan mereka yang menyembah hormat kepadanya seperti seorang penguasa. Dari mana mereka tahu tentang dirinya?
"Ampun, Yang Mulia," kata Putri Athalia penuh sikap takzim. "Mungkin ada baiknya hal ini dibicarakan di kediaman hamba."
"Baiklah."
Dhafin hanya bisa menuruti anjuran Putri Athalia di tengah ketidak mengertiannya tentang keadaan ini.
★☆★☆
__ADS_1
Pendeta Desmon maupun Nenek Kaira menjelaskan pada Dhafin kalau mereka mengetahui semua keturunan Raja Neshfal Abraham, termasuk dirinya yang masih menutup tentang jati dirinya. Tapi hebatnya orang-orang di ruangan pertemuan di kediaman Putri Athalia.
Terkhusus Pendeta Desmon yang ternyata dulu semasa Raja Neshfal masih hidup dia sebagai Pejabat Penasihat Istana di Kerajaan Bentala. Pantas saja dia tahu keturunan Raja Neshfal.
Tapi keheranan Dhafin belum juga sembuh. Karena dia heran kenapa mereka menganggap dirinya sebagai calon penguasa 3 negeri.
Maka Nenek Kaira, wanita peramal dan penyihir baik menjelaskan bahwa hal itu memang sudah menjadi takdir langit. Suka atau tidak suka Dhafin harus menerimanya, menerima sebagai raja yang akan memimpin 3 negeri.
Sementara hatinya tidak ingin jadi penguasa. Sebab dia tetap menyembunyikan jati dirinya kepada sebagian keluarganya dikarenakan menghindari hal itu.
Akan tetapi ternyata dia tidak bisa menghindari takdir langit. Dia akan tetap menjadi penguasa nanti sesuai yang diramalkan oleh Nenek Kaira.
Dan Nenek Kaira menjelaskan bahwa Dhafin tidak sembarangan dipilih oleh Penguasa Langit sebagai Raja 3 Negeri. Dia punya tanda keluhuran sebagai penguasa. Yaitu sebentuk bintang segi lima berwarna biru menyala di pertengahan keningnya.
Cuma orang-orang tertentu saja yang bisa melihat tanda keluhuran itu, termasuk Pendeta Desmon dan Nenek Kaira.
Lalu Nenek Kaira memperlihatkan tanda keluhuran itu dengan merapalkan sebuah mantra. Lalu mengusap kening Dhafin sekali.
Maka muncullah sebentuk bintang kecil warna biru menyala di pertengahan kening. Dan semua orang melihatnya. Tapi itu cuma beberapa helaan napas saja. Setelah itu tanda keluhuran itu hilang lagi.
Hal yang mencengangkan lagi bahwa ternyata wanita peramal itu mengetahui hubungan asmaranya dengan Ratu Aurellia yang kandas disebabkan sebuah ramalan.
Nenek Kaira menegaskan bahwa ramalan itu benar. Dia tidak boleh menikah dengan Ratu Aurellia begitu saja. Kecuali....
"Kecuali apa, Nenek Kaira?" tanya Dhafin antusias.
"Kecuali Yang Mulia sudah mengumpulkan 2 wanita lainnya yang juga sama-sama mencintai Yang Mulia," ungkap Nenek Kaira, "sama seperti Yang Mulia Ratu mencintai Yang Mulia."
Dhafin terdiam sejenak memikirkan penuturan wanita peramal itu. Tentu saja hal itu amat berat dia lakukan. Itu artinya dia harus mentigakan cinta Ratu Aurellia baru bisa memiliki sang ratu seutuhnya.
Kenapa lika-liku cintanya begitu rumit? Dia harus memiliki 3 wanita sekaligus untuk mendapatkan cinta sejatinya. Apakah dia harus senang? Atau dia harus bagaimana?
"Memang tidak mudah bagi Yang Mulia menerima untuk kenyataan," kata Pendeta Desmon seolah mengingatkan. "Namun semua itu sudah menjadi takdir langit yang Yang Mulia harus jalankan jika Yang Mulia ingin memperoleh cinta sejati Yang Mulia."
"Bagaimana ciri-ciri 2 wanita lainnya yang saya harus miliki itu?" tanya Dhafin jelas ingin tahu.
"Dua wanita itu sama dengan Yang Mulia Ratu," sahut Nenek Kaira, "yaitu wanita pilihan; terlahir dari pasangan raja dan permaisuri dan merupakan anak pertama, yang sejak lahir memiliki lebih dari 3 energi sakti, yang sama-sama memiliki tanda keluhuran seperti Yang Mulia."
★☆★☆
"Berarti Ratu Aurellia memiliki tanda keluhuran?" tanya Dhafin ingin meyakinkan.
"Benar, Yang Mulia," sahut Nenek Kaira. "Dan tanda keluhuran Yang Mulia Ratu berupa bulan sabit berwarna kuning keemasan, juga berada di pertengahan kening, dan posisinya melengkung ke bawah."
"Bagaimana dengan tanda keluhuran kedua wanita yang lain?" tanya Dhafin lagi.
"Tanda keluhuran mereka juga sama dengan tanda keluhuran Yang Mulia Ratu, Yang Mulia. Hanya saja wanita yang satu posisi bulan sabitnya melengkung ke kanan. Sedangkan yang satunya melengkung ke kiri."
"Kalau begitu di mana saya harus mencari mereka berdua?"
"Yang Mulia tidak perlu mencarinya," ucap Nenek Kaira seperti menegaskan. "Yang Mulia hanya perlu menemui mereka. Karena mereka berdua sudah menetap di satu tempat yang hamba sudah mengetahuinya."
"Di mana saya harus menemui mereka?" kejar Dhafin.
"Wanita yang satu berada di Kerajaan Lengkara, tepatnya berada di Kampung Tolucan ini. Sedangkan wanita yang satunya berada di Kerajaan Bentala, tepatnya di wilayah bagian timur."
__ADS_1
"Siapa wanita yang mempunyai tanda keluhuran di kampung ini?"
Nenek Kaira maupun Pendeta Desmon tidak menjawab pertanyaan Dhafin. Mereka saling berpandangan sejenak. Lalu sama-sama beralih memandang Putri Athalia yang duduk di depan sebelah kanan Dhafin.
Lantas Dhafin ikut-ikutan memandang Putri Athalia juga.
Tentu saja Putri Athalia terkejut bukan main dipandang demikian. Dia tahu arti pandangan Pendeta Desmon dan Nenek Kaira. Dia tidak mengira kalau salah satu wanita yang akan menjadi milik Dhafin adalah dirinya.
Dia memang menyukai Dhafin, bahkan sekarang sudah mencintainya. Dan berkeinginan ingin dimilki oleh Dhafin. Namun dalam keadaan dia buruk rupa dan kulit seperti sekarang ini, apakah Dhafin akan memiliki dirinya?
Putri Athalia tidak bisa berkata-kata untuk saat ini. Karena perasaannya saat ini tengah berkecamuk. Dia lebih memilih diam, malah menundukkan kepala.
Dia memang gadis yang terkenal pemalu semenjak dia mengidap penyakit kulit dan wajah.
"Apakah Putri Athalia juga memiliki tanda keluhuran?" tanya Dhafin ingin meyakinkan dirinya.
"Benar, Yang Mulia," sahut Nenek Kaira. "Hanya saja hamba belum bisa memperkirakan bagaimana letak posisi tanda keluhuran Tuan Putri, karena terhalang oleh penyakit yang beliau idap."
"Penyakit?" Dhafin malah keheranan mendengar kalau Putri Athalia ternyata terkena penyakit yang dia bisa perkirakan terkena penyakit kulit.
Hanya saja terus terang dia tidak tahu kalau Putri Athalia terkena penyakit kulit. Hampir seluruh tubuhnya rapat kecuali matanya.
Dan Dhafin juga seperti merasa kalau Putri Athalia ini terbungkus semacam mantra ghaib. Bukan Dhafin tidak bisa menyingkap mantra itu, tapi dia mau lancang membuka sesuatu jelas-jelas hal itu aib bagi orang tersebut.
Sedangkan Putri Athalia juga tidak berterus terang kalau pasien yang akan diobati oleh Dhafin adalah dirinya. Hal ini dikarenakan rasa malunya yang mendalam.
"Apakah Tuan Putri tidak memberi tahu kepada Yang Mulia kalau pasien yang Yang Mulia akan obati adalah Tuan Putri?" tanya Pendeta Desmon tidak mengerti.
"Tidak," sahut tanpa merasa kecewa.
"Tapi sudahlah," kata Dhafin selanjutnya. "Saya tahu kenapa dia tidak mau berterus terang."
"Apakah Yang Mulia tidak bisa mengetahui kalau Tuan Putri tengah kenapa-napa?" tanya Nenek Kaira seolah mengukur tingkat keilmuan Dhafin.
"Sebenarnya saya mengetahui kalau sekujur tubuh Putri Athalia telah terbungkus mantra ghaib," kata Dhafin menerangkan.
"Tapi saya tidak mau lancang untuk membukanya," lanjutnya, "karena saya tahu hal itu pasti merupakan aib bagi Putri Athalia kalau saya coba-coba membuka mantra ghaib di tubuhnya."
Putri Athalia amat tersentuh mendengar ucapan Dhafin yang mengungkapkan sifat pengertiannya. Tapi dia masih tetap diam saja. Sebentar dia menatap Dhafin dengan sejuta rasa di hatinya. Setelah itu menunduk lagi.
"Kalau begitu sekarang saja saya akan mengobatinya, Nenek Kaira," kata Dhafin selanjutnya. "Bagaimana?"
"Di sini?" kata Putri Athalia terkejut hingga menatap Dhafin dengan sejuta rasa malu yang dirasakan.
"Tidak di sini, Tuan Putri," kata Nenek Kaira seolah meluruskan ucapan Dhafin, "tapi di kamar pribadi Tuan Putri."
"Oh, maafkan hamba, Yang Mulia, yang sudah salah menduga," kata Putri Athalia penuh sikap takzim.
"Kapan Tuan Putri mau diobati?" Dhafin malah bertanya sambil tersenyum ramah.
"Ter...terserah, Yang Mulia," kata Putri Athalia seperti ragu-ragu.
Masalahnya dia masih malu kepada Dhafin. Tentu dia akan melihat kulitnya yang rusak, wajahnya yang buruk. Kalau sudah begitu tentu Dhafin akan....
"Tidak usah berpikiran yang macam-macam, Tuan Putri," mata Dhafin seolah menegur sambil tetap tersenyum. "Karena apa yang kamu pikirkan itu tidak terjadi."
__ADS_1
Putri Athalia langsung tercekat. Dhafin ternyata mengetahui apa yang dia pikirkan. Membuatnya makin merasa malu....
★☆★☆★