Pangeran Yang Hilang

Pangeran Yang Hilang
BAB 67 KISAH TRAGIS PANGERAN GHAVIN ALDEBARAN


__ADS_3

Dhafin mulai menuturkan siapa dia sebenarnya kepada Kayshila tanpa ragu. Karena dia yakin Kayshila bisa menjaga rahasia tentang dirinya yang sebenarnya.


Dhafin mengungkapkan bahwa nama sebenarnya adalah Ghavin Aldebaran. Dia menyamarkan namanya agar tidak diketahui oleh prajurit-prajurit Kerajaan Bentala.


Dia sebenarnya adalah cucu seorang raja dan permaisuri dari Kerajaan Bentala yang bernama Raja Neshfal Abraham dan Permaisuri Rosaline Olivia. Sedangkan ayah ibunya bernama Pangeran Ghazam Aldari dan Cassandra Berdine.


Pada sebuah tragedi pemberontakan terhadap kerajaan kakeknya, sebagian besar keluarganya terbunuh dalam peristiwa kelam itu. Yaitu kakek dan neneknya serta ayah ibunya.


Ikut pula terbunuh dalam tragedi berdarah itu selir ke 3 kakeknya dan istri kedua ayahnya. Adapun istri ke 3 ayahnya terbunuh pada 3 tahun kemudian.


Yang lebih sadis dalam tragedi itu bahwa ternyata yang mendalangi pemberontakan itu adalah Selir Agung Helen Gretha, selir pertama kakeknya dan dibantu oleh adik selir tersebut yang bernama Choman Gerald dan putra sang selir yang bernama Ghanim Altezza.


Dan yang lebih tragis lagi bahwa Ghanim Altezza inilah yang membunuh ayahnya, saudara seayahnya sendiri. Bahkan ibunya serta istri ke 2 ayahnya ikut dibunuh oleh manusia berhati iblis itu.


Banyak pejabat-pejabat penting kakeknya dan orang-orang yang setia kepada kakeknya terbunuh dalam tragedi berdarah itu.


Akan tetapi ternyata ada juga keluarganya yang selamat selain dirinya. Yaitu selir ke 2 kakeknya, putri selir tersebut, adik perempuan ayahnya, putra selir ke 3, serta putra ke 2 Selir Agung Hellen yang bernama Killian Ansel.


Dan yang selamat pula adalah saudara seayahnya yang waktu itu berumur belum genap setahun, sama dengan dirinya. Mereka berdua diselamatkan oleh 2 orang pelayan. Namun pada akhirnya kedua pelayan itu terbunuh juga.


Hingga saat ini dia belum tahu di mana beradanya selir ke 2 kakeknya yang masih terhitung neneknya itu. Juga kedua bibi dan pamannya serta saudara seayahnya.


Sedangkan gurunya, Siluman Kalyan yang memberikan semua informasi ini kepadanya tidak bisa melacak di mana mereka berada. Gurunya merasa kesulitan untuk melacak, karena seperti ada tabir ghaib yang menghalangi.


Namun dia bertekad akan mencari mereka semua setelah keluar dari jurang ini. Dan juga akan membuat perhitungan kepada Selir Agung Helen dan semua orang yang menyertai perempuan berhati jahat itu.


Ada satu fakta yang tidak kalah penting yang baru Dhafin yang ternyata bernama asli Ghavin ketahui dari gurunya sewaktu bertemu di sini. Yaitu ternyata bahwa istri ke 3 ayahnya sewaktu diselamatkan tengah mengandung.


Sebelum istri ke 3 ayahnya itu meninggal masih sempat melahirkan anaknya, atau lebih tepatnya putrinya. Dan lagi-lagi gurunya tidak bisa melacak di mana saudari seayahnya itu karena terhalang tabir ghaib.


Namun gurunya memberi tahu untuk menemui seseorang di suatu tempat. Mana tahu seseorang itu bisa memberi petunjuk di mana adik perempuannya berada.


Setelah Dhafin alias Ghavin bercerita panjang lebar, lalu berhenti sejenak, tiba-tiba Kayshila bangun dari pangkuan Dhafin. Terus duduk dengan menjaga jarak dari Dhafin.


★☆★☆


Dhafin yang melihat tingkah Kayshila yang aneh langsung curiga. Lantas segera bertanya.


"Kamu kenapa?"


"Ternyata kamu adalah seorang pangeran, Kanda," kata Kayshila dengan nada sedih. "Sedangkan aku hanyalah seorang gadis biasa. Ditambah lagi tidak jelas ayah ibunya siapa."


Sewaktu berucap Kayshila tidak memandang pada Dhafin, melainkan sedikit mendongakkan kepala menatap langit yang bertabur gemintang. Wajah cantiknya yang tadi ceria, kini berubah menjadi mendung.


Dhafin segera mendekat merapat pada Kayshila. Lalu merangkul pinggangnya, membawanya dalam pelukan mesranya dengan penuh kelembutan. Mengecup atas kepala sang gadis. Lalu berkata dengan lemah lembut.


"Bukankah kamu sudah berjanji padaku untuk tidak merubah sikap setelah tahu jati diriku?"


"Aku cuma gadis biasa yang belum jelas asal usulnya, Kanda," kata Kayshila masih sedih. "Aku harus tahu diri."


"Berarti janjimu tadi tidak sungguhan kalau begitu. Jangan membuatku kecewa, Kayshila."


"Aku tetap percaya bahwa kamu tulus mencintaiku meski pun aku cuma gadis biasa. Dan aku pun juga akan selalu mencintaimu selamanya. Akan tetapi...."


"Akan tetapi apa, Kayshila?" kejar Dhafin.


"Akan tetapi begitu kamu sudah menemukan semua keluargamu yang hilang dan mengetahui hubungan kita, pastilah mereka menentang dan tidak merestui hubungan kita. Kamu harus memikirkan hal itu, Kanda."


"Kamu terlalu jauh berpikir, Kayshila."


"Tidak dipikirkan pun pasti itu yang akan terjadi, Kanda."


"Kalau begitu aku tidak perlu mencari keluargaku yang hilang kalau hal itu membuatmu khawatir," kata Dhafin bersungguh-sungguh.

__ADS_1


"Tidak juga begitu, Kanda," kata Kayshila tidak setuju dengan niat Dhafin itu. "Kamu harus tetap mencari keluargamu, dan aku akan membantumu. Hanya saja...."


"Hanya saja apa? Jangan membuatku penasaran!"


Kayshila tidak lantas menjawab. Dia menolehkan wajah cantiknya pada wajah tampan Ghavin alias Dhafin yang cukup dekat dengannya.


Lalu kembali menatap langit sambil meresapi dekapan Ghavin yang begitu hangat.


Dalam hati kecilnya akan selalu mencintai Ghavin. Tapi suatu saat dia harus rela berpisah kalau ternyata keluarga Ghavin menentang hubungan mereka.


"Dengarkan aku, Kayshila," kata Ghavin seakan tahu yang dipikirkan Kayshila. "Siapa pun orangnya di dunia ini tidak ada hak mencampuri urusan cinta kita dan tidak ada hak untuk memisahkan kita, meskipun keluargaku sendiri...."


"...Dan andaikata statusku sebagai pangeran menjadi penghalang cinta kita, aku rela menanggalkan statusku dan menjadi orang biasa sepertimu, agar tidak ada lagi penghalang cinta kita."


"Kenapa kamu harus melontarkan kalimat berbahaya seperti itu, Kanda?" kata Kayshila menyayangkan sambil menatap Ghavin dengan lekat.


"Agar kamu semakin yakin kalau aku benar-benar serius mempertahankan cinta kita," kata Ghavin dengan mantap.


"Dan aku mohon juga padamu," lanjutnya, "bahwa apapun yang terjadi nanti, kamu akan tetap mempertahankan cinta kita. Berjanjilah padaku, Kayshila!"


Kayshila lantas tersenyum bahagia bercampur haru mendengar ucapan yang sungguh-sungguh itu. Begitu tulusnya Ghavin mencintainya, sehingga rela melepas statusnya sebagai pangeran.


Sambil mengangguk pasti Kayshila berkata.


"Ya, aku berjanji, aku berjanji apapun yang akan terjadi aku akan tetap mempertahankan cinta kita."


Ghavin lantas tersenyum senang melihat Kayshila kembali ceria. Itu artinya suasana hatinya kembali tenang, tidak bersedih dan masygul lagi.


"Kisahku tadi masih berlanjut loh," kata Ghavin seakan mengingatkan. "Apa kamu masih mau mendengarnya?"


"Ya masih lah. 'Kan aku yang minta."


"Baiklah. Sekarang kamu dengarkan!"


★☆★☆


Setelah 5 tahu dirawat oleh pelayan wanita yang dia sudah anggap sebagai bibi, ternyata para prajurit kerajaan yang sudah dipimpin oleh Ghanim Altezza berhasil menemukan tempat persembunyiannya dengan bibinya.


Awalnya mereka masih sempat melarikan diri. Namun para prapurit tetap saja menemukan mereka. Akhirnya sang bibi menyuruh Ghavin terus melarikan diri, sedangkan sang bibi menghadang para prajurit.


Jelas Ghavin tidak setuju awalnya. Dia ingin tetap bersama bibinya apapun yang terjadi. Tapi bibinya tetap memaksa Ghavin melarikan diri.


Akhirnya dengan sangat terpaksa, dengan mengandalkan sepasang kaki mungilnya Ghavin terus melanjutkan melarikan diri. Sedangkan sang bibi menghadang para prajurit yang hendak mengejar Ghavin.


Kebetulan sang bibi sedikit mengerti ilmu beladiri. Jadi lumayan bisa membuat repot para prajurit itu. Tapi hal itu tidak berlangsung lama. Pada akhirnya sang bibi kalah dan sekalian dibantai di tempat.


Sedangkan Ghavin yang melihat kematian bibinya dengan sadis dari kejauhan tidak sanggup menahan air matanya. Bibinya yang selama ini merawatnya harus mati tanpa dia bisa berbuat apa-apa.


"Tenanglah, Bibi!" desis Ghavin lirih di sela suara tangisnya. "Kelak aku akan membalas mereka semua. Biar kematianmu tidak sia-sia."


Setelah berkata seolah bersumpah, dia kembali berlari dengan sekencang yang dia bisa, dengan sekuat kemampuannya.


Ghavin terus berlari tak tentu arah, tanpa tujuan yang pasti. Yang ada dalam benaknya yang penting dia selamat dari kejaran prajurit istana.


Akan tetapi karena tidak mengetahui keadaan alam dan sama sekali belum pernah ke tempat yang dia tempuh sekarang, tanpa sadar dia berlari menuju jurang.


Namun beruntung dia cepat menyadari sehingga tidak sampai terperosok ke dalamnya.


Tapi ternyata situasi amat cepat berubah. Entah kapan kejadiannya tahu-tahu 5 orang prajurit yang mengejarnya sudah merangsek ke arahnya dan terus mengepungnya.


Sekarang mau berbuat apa Ghavin jadi bingung sendiri. Sedangkan di belakangnya jurang yang amat dalam sudah menantinya.


Tampak 5 prajurit itu berjalan perlahan semakin dekat ke arahnya sambil terkekeh-kekeh. Pedang di tangan mereka tampak berkilat bagai mengisyaratkan kematian.

__ADS_1


Sementara Ghavin, entah sadar atau tidak, dia terus beringsut mundur. Dan mulut jurang semakin dekat dengan kedua kaki mungilnya.


Begitu salah seorang prajurit berkelebat hendak menangkapnya, Ghavin terkejut dan spontan dia melompat ke belakang.


Si prajurit memang tak berhasil menangkapnya, namun jurang yang menganga lebarlah yang berhadil melahap habis sekujur tubuh mungilnya.


Terang saja dia menjerit sekeras-kerasnya. Namun tetap saja tubuh mungilnya terus meluncur ke dalam jurang tanpa kendali.


Jurang itu memang begitu maha dalamnya. Cukup lama juga dia melayang-layang di udara. Tapi dia sudah tidak menjerit lagi. Dia pasrah saja apa yang akan terjadi dengan dirinya.


Namun begitu sebentar lagi tubuh mungilnya sampai di dasar jurang, seketika sesosok serba putih melesat naik bagai terbang dan langsung menangkap tubuhnya.


Sesosok tubuh yang ternyata seorang tua berpakaian panjang warna putih melayang turun dengan tenang ke tanah. Sedangkan di kedua tangannya menggendong Ghavin yang terus melihatnya dengan heran.


Begitu orang tua berambut panjang warna putih itu sampai di tanah dan menurunkan Ghavin, dia memperkenalkan dirinya yang bernama Siluman Kalyan.


Awalnya Ghavin sedikit takut begitu tahu kalau orang tua itu dari kalangan makhluk ghaib. Akan tetapi begitu mengenal pribadinya sebagai siluman baik, maka Ghavin tidak takut lagi, malah merasa senang kepadanya.


Akhirnya Ghavin tinggal bersama Siluman Kalyan di tempatnya di sebuah gua di dasar jurang itu.


Siluman Kalyan mengajarkan semua ilmu yang dipunyai kepada Ghavin. Salah satu di antaranya mengajarkan KITAB 7 PETALA LANGIT.


Namun sebelum mempelajari kitab itu, Siluman Kalyan memasukkan dulu 2 energi sakti ke dalam tubuh Ghavin. Yaitu Energi Inti Panas dan Energi Inti Dingin.


Tidak hanya itu saja yang diajarkan. Siluman Kalyan juga mengajarkan kitab ilmu ketabiban dan KITAB 1000 RACUN DAN 1000 PENAWAR.


Juga sebelum mempelajari kitab itu, Siluman Kalyan terlebih dahulu memasukkan lagi 1 energi sakti ke dalam tubuh Ghavin, yaitu Energi Inti Penyembuh.


Tiga energi sakti itu memang sebagai syarat agar bisa mempelajari semua ilmu yang diajarkan Siluman Kalyan.


Di samping itu juga Ghavin harus senantiasa bersemedi agar bisa mengendalikan tenaga batin dan tenaga ghaib.


Lima tahun Ghavin tinggal bersama Siluman Kalyan di jurang itu. Selama itu peran Siluman Kalyan bukan hanya sebagai guru bagi Ghavin.


Melainkan juga sebagai teman yang selalu menghibur Ghavin di kala bersedih akibat memikirkan bibinya dan seluruh keluarganya yang terbantai.


Akhirnya setelah berusia 10 tahun Ghavin meninggalkan gua tempat gurunya itu untuk mengembara mengamalkan ilmu pengobatan yang hampir dikuasainya kala itu. Dan sambil berjalan dia terus berlatih menyempurnakan semua ilmu yang diajarkan Siluman Kalyan.


★☆★☆


Setelah 7 tahun Kayshila dan Ghavin tinggal di dasar jurang, mereka masih ingin tinggal setahun lagi.


Kayshila masih ingin lebih menyempurnakan semua ilmu yang dipelajarinya dari Kitab Mawar Sutra Merah. Terutama ilmu kesaktian dan Jurus Pedang Mawar.


Di samping itu juga Kayshila masih membutuhkan tempat yang lebih tenang dan aman untuk bersemedi. Tenaga batinnya belum begitu sempurna dia kuasai. Dia masih butuh setahun lagi agar bisa fokus menguasai tenaga batin di dalam tubuhnya.


Maka tempat yang terpencil seperti ini sangat cocok untuk bersemedi. Agar dia bisa konsentrasi dalam mengolah tenaga batinnya.


Dan tentu pula selalu dalam bimbingan Ghavin, sang kekasih tercinta.


Lagi pula dia masih ingin bersama Ghavin di tempat sunyi seperti ini. Cuma berdua.


Dia tidak tahu takdir kelak apakah dia masih akan tetap bersama Ghavin atau tidak. Tapi toh jika suatu saat dia tidak bisa lagi bersama Ghavin, dia harus siap.


Dia amat mengerti sekali kalau Ghavin amat mencintainya. Tapi dia tidak boleh egois.


Ghavin adalah seorang pangeran, bahkan Pangeran Agung, pangeran yang memiliki hati yang baik dan mulia. Maka, amatlah sayang kalau pangeran yang bersifat seperti itu harus menanggalkan statusnya demi seorang Kayshila yang cuma gadis biasa.


Oleh karena itu, jika keluarga Ghavin menolak hubungan mereka kelak, dia harus tahu diri dan harus mengalah.


Makanya itu dia mengharuskan dirinya agar bisa mengendalikan tenaga batinnya, agar dia bisa mengendalikan perasaan kecewanya kelak.


★☆★☆

__ADS_1


__ADS_2