
Malam telah melelapkan penduduk mayapada dalam tidur. Menghembuskan rasa kantuk yang hebat, membuaikan mimpi indah bagi pecinta mimpi....
Malam itu tidak ada bulan menggantung di langit kelam. Cuma taburan gemintang yang berhamburan di angkasa.
Mereka jumlahnya begitu banyak, namun sinarnya hanya sebatas redup, tidak mampu mengusir selimut kelam yang membungkus seantero mayapada.
Namun begitu bintang-bintang yang bersinar kerlip itu telah sukses menghias malam yang indah ini.
Dia atas atap sebuah bangunan layaknya menara, tampak Brian dan Ariesha tengah duduk di sebuah kursi panjang menikmati malam indah sambil berbincang-bincang.
"Kak, apakah Yang Mulia Ratu sudah jadian dengan Kanda Dhafin?" tanya Ariesha sambil menoleh pada Brian. Jelas nada pertanyaannya seperti penasaran dan ingin tahu.
"Bisa dibilang ya bisa dibilang tidak," sahut Brian tanpa menoleh, matanya terus saja menatap gemerlap bintang.
Ucapannya itu seperti berteka-teki yang membuat Ariesha berpikir keras untuk memahaminya.
"Maksudmu?" tanyanya tidak mau terlalu lama berpikir.
"Kamu bisa lihat sendiri," kata Brian masih menatap bintang, "kalau dibilang sudah jadian, kenapa Aurellia masih memanggil Pangeran Pusat dengan panggilan 'kakak', bukan 'kanda'?"
"Tapi kalau juga belum jadian," lanjutnya, "kenapa mereka tampaknya sudah seperti pasangan kekasih?"
"Mungkin mereka sudah jadian, Kak," kata Ariesha menganalisa. "Hanya saja Kanda Dhafin tidak mau dipanggil kanda, apalagi di depan umum."
"Yaah... mungkin saja ucapanmu itu benar," kata Brian seperti mendesah.
"Sudahlah! Daripada kamu memikirkan hubungan orang lain," kata Brian menggiring suasana pembicaraan ke masalah mereka, "lebih baik kamu memikirkan hubungan kita."
"Memangnya kenapa dengan hubungan kita?" tanya Ariesha seraya tersenyum menggoda sambil memandang Brian. "Bukankah hubungan kita baik-baik saja?"
Dia tidak lagi canggung jika bercanda dengan Brian atau mencandainya. Belakangan ini hubungan mereka tetap aman, bahkan terkesan lebih dari akrab.
Entah Ariesha sudah mulai memikirkan tentang asmara atau tidak, yang pasti belakangan ini kalau bersama dengan Brian, dia mulai merasakan kenyamanan.
Rasa nyaman itu menghasilkan getar-getar asmara di dalam hatinya. Dan mulai diusik oleh rindu ketika tidak bersama.
Apa yang dia rasakan sekarang-sekarang ini berbeda saat dia masih mengganggap Brian adalah temannya.
Perlahan Brian menoleh sedikit pada Ariesha dan meliriknya beberapa kejapan mata. Sedangkan gadis cantik itu masih tetap menatapnya sambil tersenyum seakan menantang.
Lalu Brian kembali memandang ke depan, memandang bintang-bintang yang berkelap-kelip.
Dia masih ingat gadis itu pernah mengucapkannya saat mereka berada di dekat jurang di Kampung Naraya. Saat itu ucapan itu sebagai sinyal kalau Ariesha belum menerima cintanya.
Apakah sekarang masih sama? Tapi dia merasa nada ucapan Ariesha agak berbeda dari tempo hari. Apakah hal itu sebuah sinyal baru?
"Apakah ucapanmu itu masih sebagai tanda kalau kamu belum menerima cintaku?" kata Brian langsung tanpa mau berputar-putar.
"Menurutmu?" kata Ariesha setelah menengok ke depan, juga memandang bintang-bintang di langit kelam. Tapi bibir merahnya masih menyunggingkan senyum.
Ucapannya itu seolah mengajak Brian untuk memikirkan sendiri jawaban dari pertanyaannya.
★☆★☆
Sementara itu, di tempat yang sama tapi di lokasi yang berbeda, tepatnya di atas bangunan mirip menara juga tapi di tempat yang berbeda dengan Brian dan Ariesha, tampak Aziel dan Jovita juga tengah menikmati malam sembari berbincang-bincang tentang hubungan mereka pula.
Perlu di ketahui, bahwa mereka saat ini berada di sebuah taman yang letaknya tidak jauh di belakang bangunan asrama pasukan Istana Centauri sebelah barat.
Taman yang indah itu terletak di dataran yang agak tinggi dan cukup luas. Di beberapa tempat di pinggiran taman terdapat bangunan melingkar bagai menara.
Sebelumnya sepasang muda-mudi itu sudah menyatakan saling suka antara mereka. Dan Aziel juga sudah memberi tahu tentang siapa dirinya sebenarnya kepada Jovita.
__ADS_1
Tadinya Jovita sempat mau mundur saat tahu kalau kekasihnya itu ternyata seorang pangeran, Pangeran Agung.
Namun Aziel berhasil meyakinkan dirinya kalau pemuda yang dijuluki Pangeran Dingin itu memang benar-benar mencintainya. Apapun latar belakang Jovita.
Dan Jovita memang sudah menyukai Aziel sejak kecil. Dia pun juga menerima cinta Aziel, tulus mencintainya. Bukan karena Aziel adalah seorang pangeran. Dia juga percaya kalau Aziel benar-benar mencintainya dengan tulus.
"Apakah kamu akan mencintaiku selamanya, Kanda Aziel?" tanya Jovita ingin meyakinkan dirinya, bukan karena ragu.
Duduknya amat rapat di samping Aziel sambil kepalanya bersandar di pundak kiri Aziel. Sedangkan tangan kanannya merangkul pinggang Aziel. Sementara tangan kiri Aziel merangkul pundak belakang Jovita.
"Ya, aku akan mencintaimu selamanya," kata Aziel dengan nada lembut meyakinkan. "Bahkan hanya kamu seorang."
"Jangan kamu berkata begitu, Kanda," kata Jovita seolah menegur. "Kamu mencintaiku selamanya saja itu sudah cukup bagiku."
"Kamu tidak ingin hanya kamu seorang yang aku cintai?" tanya Aziel sedikit heran.
"Tidak ada wanita yang tidak ingin dicintai selamanya oleh kekasihnya, Kanda," kata Jovita berfalsafah. "Sebaliknya, tidak ada seorang wanita pun yang ingin cintanya dibagi dengan wanita lain."
"Tapi aku harus sadar diri, mencintai seorang pangeran sepertimu aku tidak boleh egois," katanya lagi bernada bijak. "Mencintaimu selamanya dan hanya kamu yang aku cintai, itu adalah tekad dan janjiku."
"Kamu mencintaiku selamanya tanpa harus berpikir hanya aku yang kamu cintai bagiku itu sudah cukup...."
Aziel mempererat rangkulannya pada Jovita. Lalu mengecup dengan lembut penuh kasih sayang ujung kepala Jovita. Terus berkata.
"Kamu tidak perlu berpikir terlalu jauh dulu sekarang, Jovita. Yang penting kita jalani cinta kita hanya kita berdua saja, tanpa harus memikirkan hal-hal rumit lainnya."
Jovita mengangkat kepalanya, lalu menatap wajah tampan namun dingin di dekatnya sambil tersenyum manis. Lalu dia berkata bernada haru.
"Terima kasih, Kanda."
Aziel menoleh ke samping, balas menatap wajah kekasih cantiknya. Kemudian perlahan-lahan bibirnya bergerak membentuk senyum simpul. Ternyata si dingin itu bisa juga tersenyum.
Aziel ini adalah tipe orang yang hampir tidak pernah senyum. Wajahnya selalu saja datar dan dingin nyaris tak ada ekspresi.
★☆★☆
Sementara itu di tempat lain pula....
Masih di taman yang sama, tapi di tengah sebuah taman beraneka macam bunga duduklah Keenan di sebuah kursi panjang.
Tangan kirinya membelai lembut rambut Keysha yang berberbaring di pangkuannya dengan manja.
Perlu diketahui kalau mereka juga sudah resmi menjadi pasangan kekasih.
Memang kalau cinta sudah datang, tidak perlu berlama-lama menyambutkamya.
"Kanda, apa kamu benar-benar tidak mencintai Putri Cheryl?" kata Keysha ingin kepastian.
"Berapa kali aku sudah bilang kalau aku tidak pernah mencintai gadis itu, Keysha," kata Keenan meyakinkan.
"Kamu memang tidak mencintai Putri Cheryl, Kanda," kata Keysha memasang wajah cemberut manja. "Tapi bagaimana dengan dia?"
Perlu diketahui, Putri Cheryl adalah putri Raja Bastian Lamont. Sewaktu kecil dia dan Keenan sudah dijodohkan. Akan tetapi perjodohan itu cuma permainan belaka yang pada akhirnya direbutnya dengan paksa kerajaan milik ayahnya Keenan.
Kejadian itu Keenan sudah menceritakannya semuanya kepada Keysha. Makanya si cantik imut itu melontarkan ucapan seperti itu.
"Kamu tenang saja, Keysha," kata Keenan menenangkan. "Meskipun dia masih mencintaiku, tapi aku tetap tidak mencintainya dan tidak akan pernah mencintainya."
"Bagaimana aku bisa mencintainya, sedangkan ayahnya adalah musuh bebuyutanku?" kata Keenan selanjutnya sedikit mengeram suaranya.
"Baiklah, aku percaya kepadamu," kata Keysha sambil tersenyum.
__ADS_1
"Tapi awas kalau kamu berbohong," kata Keysha seolah mengancam sambil memencet hidung Keenan, "aku akan menyihirmu menjadi kodok...."
Dua pasangan muda-mudi terus saja berbincang-bincang tentang bagaimana hubungan mereka akan bertahan selamanya.
Kembali kepada Brian dan Ariesha....
"Aku harap kamu serius, Ariesha," kata Brian sedikit menekan nada suaranya, seolah memperingatkan, "karena aku bertanya serius."
"Kalau aku menolakmu bagaimana, Kak?" kata Ariesha berlagak serius, padahal cuma bercanda saja.
"Yaaah tidak mengapa," tanggap Brian seperti serius. "Setidaknya aku sudah mendapatkan kepastian."
"Serius...?" tanya Ariesha masih tersenyum menggoda.
"Boleh aku bertanya padamu satu hal?" tanya Brian tidak menggubris pertanyaan Ariesha.
"Mau bertanya apa?"
"Jika aku mati nanti apakah kamu merasa kehilangan?"
Bagai direnggut setan senyum Ariesha seketika lenyap. Wajah cantiknya langsung mengekspresikan rasa terkejut yang amat sangat.
Kalau orang biasa, kalimat yang diucapkan Brian tadi tentulah tidak membuat Ariesha terkejut.
Tapi kalimat itu diucapkan oleh seorang Brian yang memiliki firasat yang tinggi. Ucapan dalam bentuk pertanyaan itu bisa saja menjadi sebuah ramalan seorang peramal.
Bulu kuduknya langsung meremang. Rasa takut seketika menghantui perasaannya. Rasa takut akan kehilangan Brian.
Seketika dia langsung tersadar kalau dia memang benar-benar sudah mencintai Brian. Ketakutannya akan kehilangan pemuda yang dijuluki Pangeran Hitam itu telah membuktikan akan hal itu.
"Ke... kenapa kamu bertanya seperti itu, Kak?" tanya Ariesha sedikit bergetar suaranya karena merasa ngeri.
"Hari-hari ke depan kita akan melewati masa-masa perang yang cukup panjang," kata Brian seraya terus menatap langit berbintang.
"Kalau aku mati di medan perang, rasanya aku mati dengan sia-sia, karena tidak ada seorang kekasih yang merasa kehilangan akan kematianku."
"Kamu jangan berkata begitu, Kak," kata Ariesha bernada takut bercampur sedih. "Jelas aku merasa kehilangan. Aku tidak ingin kamu mati, Kak."
Tampak sepasang mata indahnya sudah berkaca-kaca sambil terus menatap wajah Pangeran Hitam.
"Kamu bukan kekasihku, kenapa harus merasa kehilangan?"
Ariesha langsung memeluk Brian dengan erat. Air mata yang tadi menggenang di kelopak matanya kini menggulir di pipi halus mulusnya.
"Bukankah kamu ingin menjadikan aku sebagai kekasihmu, Kak?"
"Aku mau, aku mau menjadi kekasihmu, Kak," kata Ariesha di tengah isak tangisnya.
"Tapi tolong jangan berkata tentang kematian di depanku," lanjutnya masih berderai air mata. "Karena aku tidak ingin kamu mati, karena aku tidak sanggup kehilangan dirimu...."
Perlahan Brian melepas pelukan Ariesha. Menyudut air mata sang bidadari. Lalu berkata bernada tanya sambil menatap Ariesha dengan lembut.
"Benarkah kamu ingin menjadi kekasihku?"
"Iya," sahut Ariesha sambil mengangguk pasti.
Seketika Brian tersenyum, tersenyum bahagia. Lalu perlahan dia mengecup kening Ariesha dengan lembut penuh kasih sayang. Lalu dia membawa gadis itu dalam pelukannya yang erat tapi lembut.
Sedangkan Ariesha membalas pelukan itu dengan penuh sukacita bercampur haru.
"Kamu tenang saja," kata Brian dengan nada lirih. "Aku tidak akan mati, karena mulai saat ini aku akan selalu ada untukmu dan menjagamu...."
__ADS_1
★☆★☆★