
"Tuan Muda Gibson," kata Pendeta Noman lagi bernada arif bijaksana, "segala apa yang terjadi di dunia ini telah ditakdirkan oleh Sang Penguasa Langit. Saya pikir kamu telah memahami hal itu...."
"Pasangan suami istri yang kamu sudah anggap sebagai orang tua, mereka memanglah termasuk orang-orang yang berhati mulia. Dan tentunya amat bangga memiliki anak sepertimu...."
"Akan tetapi, saya rasa mereka akan lebih merasa bangga kalau kamu mampu bersikap bijaksana dalam hal ini...."
Maksud Pendeta Noman kalau Gibson bisa mengakui Nyonya Brianna sebagai ibunya meski telah melakukan kesalahan besar menurut Gibson.
Ya, Gibson belum mau mengakui Nyonya Brianna sebagai ibunya, karena dia menganggap wanita itu telah melakukan kesalahan besar terhadapnya.
"Anakku, Gibson," kata Selir Heliana menambahkan. "Kamu boleh menyalahkan ibumu atas apa yang telah dia perbuat padamu. Tapi dia tetaplah ibumu, ibu kandungmu. Janganlah kamu terus menyiksanya lantaran kamu tidak mau mengakuinya...."
"Hamba telah memahami apa yang semua hadirin nasehatkan kepada hamba dan hamba menerimanya," kata Gibson berusaha menguasai perasaannya sehingga dia bisa berkata dengan baik.
"Akan tetapi bukannya hamba tidak mengakui keberadaan Nyonya Brianna dalam diri hamba, Yang Mulia," lanjutnya. "Namun hamba sudah terlanjur mengganggap wanita mulia yang merawat hamba dulu sebagai ibu yang sesungguhnya."
"Amat sulit bagi hamba untuk melakukan sesuatu yang belum pernah hamba pikirkan...."
Maksudnya, sulit bagi Gibson menganggap Nyonya Brianna sebagai ibunya secara sukarela, karena dia tidak pernah memikirkannya.
Selama ini dalam pikiran Gibson menyalahkan tindakan ibunya yang membuang dirinya ke orang lain, tanpa mau menanggung segala resiko dalam merawatnya.
Yang pada akhirnya pasangan suami istri yang dititipkan untuk merawatnya itu, merekalah yang dianggap sebagai orang tua yang sesungguhnya. Bukan Penyair Putih ataupun Nyonya Brianna yang telah menelantarkannya.
Maka, bagaimana mungkin dia bisa menganggap Nyonya Brianna sebagai ibunya kalau begitu?
Selir Heliana terdiam tak bisa lagi menyanggah ucapan Gibson barusan. Pendeta Noman pun seakan tidak bisa lagi memberikan nasehat yang dapat menggugah pendirian Gibson.
Sementara Nyonya Brianna semakin terbenam dalam perasaan bersalahnya. Seolah sekarang dia tidak mau lagi mengatakan apapun untuk mempengaruhi Gibson agar mengakuinya sebagai ibu.
Sedangkan Ratu Aurellia masih terbawa perasaan akan suasana haru. Mau berkata apa dia belum bisa memikirkan. Dia hanya mampu menatap Gibson dengan penuh keharuan.
Di tengah kebisuan yang menyergap, di tengah keheningan yang menyelimuti, Dhafin melangkah menuju depan panggung di mana Gibson berada dengan langkah ringan.
Sementara semua hadirin memandangnya dengan penuh keheranan serta benak bertanya-tanya.
Begitu sampai di depan panggung Dhafin menyembah hormat sebagaimana layaknya. Minta izin untuk berbicara dengan Gibson dan diizinkan. Lalu menoleh menghadap Gibson yang tertunduk sedih.
Sejenak pemuda yang selalu bersikap tenang itu menatap sahabatnya itu. Sikapnya bukan seperti orang yang hendak menghakimi, melainkan sikap seorang sahabat yang penuh kearifan. Lalu bertanya dengan nada penuh persahabatan.
"Apakah kamu membenci Nyonya Brianna, Pendekar Penyair?"
Pendekar Penyair tidak lantas menjawab pertanyaan mendasar itu. Sejenak dia balas menatap pemuda yang selalu bersikap tenang itu.
Tapi baru satu helaan napas dia memandang wajah yang memendarkan kebijaksanaan dan perbawa seorang penguasa, Gibson terkejut bukan main.
Buru-buru dia jatuh melutut menyembah penuh hormat. Seolah baru disadari kalau orang yang berdiri di dekatnya adalah junjungannya yang harus dia hormati.
★☆★☆
__ADS_1
Tentu saja sebagian besar hadirin terkejut heran melihat perbuatan Gibson. Sikap yang ditunjukkan Gibson terhadap Dhafin layaknya sikap seorang hamba kepada seorang raja.
Apalagi melihat Dhafin yang begitu tenang penuh kearifan. Wajahnya memancarkan perbawa seorang penguasa.
Cuma Ratu Aurellia, Putri Kayshila dan Kaluna yang memahami persis kenapa Gibson melakukan penghormatan. Terutama Kaluna yang mengetahui bahwa Dhafin merupakan calon penguasa 3 negeri.
"Aku tidak membutuhkan penghormatan darimu, Pendekar Penyair," kata Gibson bernada tenang penuh kearifan. "Aku membutuhkan jawabanmu."
"Ampun, Yang Mulia," kata Gibson masih menyembah penuh hormat. "Hamba berusaha untuk tidak membenci siapapun."
"Berusaha untuk tidak membenci siapapun katamu. Termasuk Nyonya Brianna, begitu?"
"Benar, Yang Mulia...."
Ini kali pertama Jenderal Felix maupun Nyonya Carissa melihat putra mereka menampakkan sikap layaknya seorang raja.
Mereka jadi berpikir, jangan-jangan putra mereka ini memanglah Pangeran Agung, pewaris asli tahta Kerajaan Bentala. Putra Mahkota!
Apa yang dipikirkan pasangan suami istri itu sama juga yang dipikirkan oleh Raja Darian, Pendeta Noman, ketiga jenderal dan Selir Grizelle.
Sedangkan baik Selir Heliana maupun Pangeran Nelson sudah hampir yakin kalau Dhafin adan Putra Mahkota.
Sikap yang ditunjukkan Gibson terhadap Dhafin, dan perbawa seorang penguasa yang terpancar dari wajah Dhafin sudah cukup membuktikannya.
Sementara Pangeran Revan sebenarnya sudah yakin kalau Dhafin adalah kakaknya. Hanya saja dia tidak mau memaksa Dhafin untuk mengakuinya. Dia menunggu Dhafin sendiri yang mengatakannya secara terus terang.
"Kamu mengatakan tidak membenci Nyonya Brianna, tapi kenapa kamu menunjukkan sikap seolah membencinya?"
Terus terang dalam hati Gibson sebenarnya telah mengakui Nyonya Brianna adalah ibunya, sebagaimana kalimat tersirat yang diucapkannya tadi.
Akan tetapi pendirian Nyonya Brianna yang tidak tegar dalam mempertahankannya, malah lebih memilih membuangnya dengan dalih demi menyelamatkannya, membuat Gibson belum bisa menerimanya.
Itulah makanya sebenarnya dia membenci ibu kandungnya itu, meski dia mengatakan berusaha untuk tidak membencinya.
"Aku tahu kamu menyalahkan atas sikapnya yang tidak berani mengambil resiko dalam mempertahankanmu di sisinya," lanjut Dhafin, "malah memilih membiarkanmu dirawat orang lain."
"Atas dasar itulah kamu membencinya. Benar begitu 'kan?"
Gibson tidak menjawab, baik dengan anggukan maupun dengan mulutnya mengiyakan. Tapi hatinya mengakui kebenarannya. Dan Dhafin telah tahu akan isyarat itu.
"Di sisi lain sebenarnya hatimu sudah mengakui kalau Nyonya Brianna adalah ibumu. Tapi karena kebencianmu yang begitu besar menahan mulutmu untuk mengakuinya."
"Jangan bilang tebakanku ini salah, Pendekar Penyair!"
Semua hadirin yang ada di situ terperangah diam menyaksikan kejeniusan Dhafin dalam berucap. Semua yang diucapkannya benar-benar valid, tak bisa dibantah.
Apalagi ucapannya juga dilandasi dengan firasat yang tajam.
"Tapi siapa yang bisa mendengar pengakuan yang tersembunyi di dalam hatimu itu, Pendekar Penyair? Orang-orang malah melihat kebencianmu terhadap Nyonya Brianna...."
__ADS_1
"Dan kamu sebenarnya menyadari hal itu...."
"Ampun, Yang Mulia," kata Gibson bernada hormat penuh ketundukan lahir batin. "Hamba telah bersalah dan siap menerima hukuman."
"Aku tidak sedang menghakimimu, kenapa kamu malah merasa bersalah?"
"Hamba mengakui kebenaran semua ucapan Yang Mulia," kata Gibson. "Oleh karena itu, hamba mengakui kesalahan hamba dan siap menerima hukuman."
"Pendekar Penyair," kata Dhafin lagi masih dengan gaya bahasa dan sikap yang tenang penuh kearifan. "Kamu dan aku sebenarnya sama-sama telah saling mengetahui akan semua apa yang aku ucapkan tadi. Jadi kamu tidak usah merasa bersalah...."
"Aku di sini hanyalah sebagai orang yang menyuarakan apa yang sebenarnya kamu ingin ucapkan...."
Mendengar ucapan Dhafin barusan, barulah para hadirin mengerti akan sikap yang ditunjukkan Gibson tadi.
Pantasan saja semua nasehat orang-orang besar yang ada si sini seakan tidak dapat menggoyahkan pendiriannya. Ternyata sejak awal dia, sejak belum dimulainya pertemuan ini, dia sudah mengakui Nyonya Brianna sebagai ibunya.
Namun karena kebenciannya terhadap wanita itu, pengakuannya itu tidak tampak.
★☆★☆
Tampak Dhafin memandang adiknya, Ariesha, lalu menganggukkan kepala sekali. Terus memandang adiknya yang satu, Putri Kayshila, lalu menganggukkan kepala juga.
Ariesha maupun Putri Kayshila termasuk gadis yang cerdas. Anggukan kepala Dhafin itu sebagai isyarat memanggil mereka. Lebih tepatnya memanggil Grania dan Kaluna, tapi diantar oleh kedua adiknya itu.
Tanpa banyak pikir Ariesha dan Putri Kayshila membawa Grania dan Kaluna ke depan panggung. Meski para hadirin maupun Grania dan Kaluna merasa heran.
Tapi hadirin sepertinya lebih senang diam, tidak ingin bertanya ini itu. Mereka lebih senang apa yang akan dilakukan Dhafin selanjutnya.
"Bangun, Pendekar Penyair, dan lihatlah kedua adikmu ini!"
"Hamba telah melakukan kesalahan yang besar, Yang Mulia. Hamba pantas menerima hukuman."
Sebenarnya Nyonya Brianna keheranan melihat sikap Gibson yang begitu hormat kepada Dhafin seperti layaknya menghormati seorang penguasa.
Namun mendengar ucapan Gibson yang menunjukkan kalau putranya itu telah mengakuinya, malah telah merasa bersalah karena membencinya, rasa herannya itu terlingkupi dengan rasa senangnya yang amat sangat.
Akhirnya anaknya mau mengakuinya. Dia tinggal tunggu momen di mana Gibson mengungkapkan dalam ucapan.
"Aku sudah bilang tadi, aku tidak sedang menghakimimu. Kalaupun kamu merasa bersalah, bukan aku yang berhak menghukummu...."
"Bangun dan lihat kedua adikmu ini!"
Perlahan Gibson bangkit berdiri tegak. Lalu memandang kedua adiknya yang juga menatapnya penuh sukacita bercampur keharuan.
Dan Grania, tanpa banyak bicara langsung menghambur ke Gibson dan memeluknya dengan erat penuh kasih seorang adik terhadap kakaknya.
Grania tidak bisa berkata-kata lagi untuk meluapkan kegembiraan dan keharuannya. Dia hanya bisa menangis, kembali menumpahkan air matanya. Air mata penuh bahagia begitu tahu kalau Gibson adalah kakaknya.
Orang yang dia cintai ternyata kakaknya, kakak seibunya. Dia malah lebih senang seperti itu, lebih senang Gibson sebagai kakaknya, ketimbang sebagai kekasih yang dia harus berebut cinta dengan gadis-gadis lain.
__ADS_1
"Kanda, lebih baik kamu adalah kakakku 'kan?" kata Grania sambil tersenyum di tengah derai air matanya. "Bukankah itu yang kamu maukan?"
★☆★☆★