
Begitu debu telah sirna dan pandangan telah jelas, maka terlihatlah nasih anggota Gerombolan Pedang Tengkorak. Mereka semua telah terkapar jadi mayat dengan tubuh hangus bagai terbakar.
Sementara Waka Galen seluruh tubuhnya ditamengi sinar warna merah bening. Tampak lelaki berwajah sangar itu menyilangkan kedua tangannya di depan wajahnya dan kepalanya masih tertunduk.
Sedangkan kedua bawahannya juga tampak sekujur tubuh mereka ditamengi sinar merah bening. Namun kedua tangan mereka menyilang di atas kepala.
Selang beberapa saat kemudian, Waka Galen menurunkan kedua tangannya. Hampir bersamaan sinar merah bening yang menyelubungi seluruh tubuhnya seketika sirna. Perbuatannya itu diikuti oleh kedua bawahannya.
Sementara Dhafin masih berdiri diam di tempatnya, satu langkah di samping tabung mantra di mana Putri Lavina masih berada di dalamnya.
Tampak sepasang mata Dhafin tak pernah lepas menatap Waka Galen. Sedangkan telapak tangan kirinya menempel di dinding tabung.
Seketika dari telapak tangannya itu keluar sinar bening warna kuning. Lalu sinar kuning itu langsung menyebar cepat ke seluruh permukaan tabung. Hingga akhirnya tabung mantra itu diselubungi sinar kuning bening.
Sementara itu, begitu selesai menurunkan tangannya, Waka Galen memandang sejenak pada seluruh anak buahnya yang sudah jadi mayat.
Setelah itu dia menatap tajam pada Dhafin yang tak lagi menempelkan telapak tangannya di dinding tabung mantra. Lalu dia beralih menatap tabung mantra di mana Putri Lavina berada di dalamnya.
Setelah puas mengamati tabung mantra ciptaan Dhafin dan menatap Putri Lavina yang masih tampak tegang dalam tabung, dia kembali menatap Dhafin dengan tatapan dingin.
Dalam hati dia mengakui kehebatan Dhafin yang sungguh memukau itu. Sejak kecil anak itu sudah berbuat sesuatu yang luar biasa. Sudah dewasa seperti sekarang ini, tentu kehebatannya lebih luar biasa lagi.
"Kalau kamu sudah tahu kehebatanku," kata seolah tahu isi kepala Waka Galen, "kenapa kamu tidak cepat-cepat menyingkir dari sini?"
Ucapan Dhafin yang kalem dan tenang itu sukses membuat Waka Galen terkejut heran, tidak menyangka kalau Dhafin bisa mengetahui apa yang dipikirkan.
Sedangkan Putri Lavina cuma heran mendengar ucapan Dhafin itu tapi belum paham apa maksudnya. Karena sebelumnya belum ada pembicaraan antara Dhafin dengan Waka Galen, tapi tiba-tiba Dhafin berkata begitu.
Namun dia diam saja, tidak mau bertanya atau berkata ini itu dulu untuk sementara. Dia percaya Dhafin dapat mengatasi keadaan yang berbahaya ini.
"Baru menunjukkan ilmu rendahan seperti itu kamu sudah pongah, Pangeran Pusat," kecam Waka Galen berusaha menutupi rasa takjubnya.
"Tapi ilmu rendahan seperti itu sudah membuatmu takjub bukan?" kata Dhafin mulai memanas-manasi. "Lihat saja semua anak buahmu sudah mati semua dalam satu gebrakan saja."
"Ilmu rendahan mereka tidak bisa disamakan denganku," kata Waka Galen makin dingin nada suaranya.
"Kalau begitu aku ingin melihat kehebatanmu sampai di mana, Tuan Galen," kata Dhafin masih dalam mode tenang. Tapi dia sudah waspada kalau Waka Galen mengeroyoknya bersama 2 bawahannya itu.
Benar saja, setelah mendengus geram, Waka Galen memerintahkan kedua anak buahnya mengeroyok Dhafin. Sedangkan dia masih diam di tempatnya. Rupanya dia gengsi juga kalau ikut mengeroyok.
★☆★☆
Dua orang lelaki berwajah bengis itu melesat dengan amat cepat ke arah Dhafin. Pedang mereka yang sudah terhunus dengan amat cepat mengayun menebas dan menusuk tubuh Dhafin yang mematikan.
Namun Dhafin yang memang sudah siaga sejak tadi, seketika melenting cukup tinggi ke belakang. Sehingga 2 serangan mau itu luput darinya.
Sementara Putri Lavina, meski berada dalam tabung mantra, dia bergidik juga melihat serangan 2 lelaki bengis itu. Karena kejadiannya cukup dekat di depan matanya.
Tapi dia cukup lega karena 2 penyerang itu kembali menyerang Dhafin, seolah tidak menggubris keberadaan dirinya.
Tak lama kemudian, pertarungan antara Dhafin melawan 2 jawara Gerombolan Pedang Tengkorak sudah tergelar. Dan Dhafin meladeni kedua lawannya cuma menggunakan pedang rampasan, bukan pedangnya sendiri.
Sementara Waka Galen masih tetap berdiri di tempatnya mengawasi jalannya pertarungan. Dia sama sekali tidak ada niat untuk mengusik tabung mantra buatan Dhafin itu. Karena kalau berani mencoba-mencoba kekuatan ghaib itu, dia pasti akan menemui malapetaka.
Dia sudah lihat pemuda itu mengurung Putri Rayna dalam mantranya itu sewaktu terjadi pertempuran di halaman penjara bawah tanah di Kerajaan Amerta. Dan Putri Rayna tidak berkutik beberapa saat lamanya.
Waktu terus berjalan tampa henti. Tanpa terasa pertarungan sudah menghabiskan 5 jurus. Memasuki jurus keenam mulai tampak kalau kedua lelaki bengis itu sudah keteteran dalam menghadapi serang-serangan Dhafin yang ganas lagi mematikan.
Dari awal memasuki jurus ke 6 mereka lebih sering menghindari bentrok pedang dengan Dhafin. Tangan mereka sudah kesemutan setiap kali hal itu terjadi.
Namun sedapat mungkin mereka enggan bentrok pedang, tetap saja mereka tidak bisa menghindari bentrokan pedang dengan Dhafin. Mereka tetap harus menangkis kalau tidak mau nyawa mereka melayang cepat.
__ADS_1
Sehingga begitu pertarungan memasuki pertengahan jurus ke 6 mereka malah sudah terdesak.
Meski mereka belum terkena tebasan atau sabetan pedang, tapi gerakan mereka sudah seperti mati langkah. Tangan yang memegang pedang sudah terasa kaku, hampir tidak bisa digerakkan.
Disebabkan pertahanan mereka yang sudah kacau, maka sudah beberapa kali tendangan keras Dhafin bersarang di tubuh mereka.
Memasuki jurus ke 7 keadaan kedua lelaki bengis itu sudah kacau-balau. Tangan mereka yang memegang pedang sudah benar-benar kaku. Sedangkan pedang mereka sudah terlepas dari genggaman dan terlempar jauh.
Sementara aksi Dhafin tidak cukup sampai di situ. Dengan gerakan amat cepat kaki kiri Dhafin mendupak dada jawara berambut ikal, sedangkan kaki kanannya menendang wajah lelaki berkumis tebal.
Sehingga kedua lelaki bengis itu terjajar ke belakang beberapa langkah secara berlawanan.
Selagi kedua lelaki bengis itu terjajar ke belakang, Dhafin kembali beraksi yang lebih mengerikan lagi.
Pedang di tangan kanannya dengan cepat dilontarkan ke lelaki berkumis tebal. Demikian cepatnya luncuran pedang itu, tak ada kesempatan bagi lelaki malang itu untuk menghindar.
Sehingga ujung pedang itu menancap dadanya hingga tembus ke belakang, saking kuatnya tenaga lontaran yang dilakukan Dhafin.
Tentu saja lelaki itu menjerit sejadi-jadinya dengan keras. Tubuhnya kini bukan lagi terjajar, melainkan terlontar jatuh ke belakang.
Sedangkan telapak tangan kiri Dhafin yang sudah terbungkus sinar putih panas seketika didorong dengan kuat dan cepat ke lelaki rambut ikal.
Maka selarik sinar putih berhawa amat panas melesat dengan amat cepat dari telapak tangannya. Dan tanpa ampun langsung menghantam dada lelaki bengis itu dengan telak.
Kontan saja dia menjerit setinggi langit. Tubuhnya amat deras terlontar ke belakang. Tampak tubuhnya telah gosong bagai arang. Begitu menghantam pohon, tubuhnya langsung hancur berantakan bagai serpihan arang.
★☆★☆
Bukan main geramnya Waka Galen demi melihat 2 bawahannya yang terakhir telah terbunuh dengan cara mengenaskan.
Dengan tanpa berkata-kata dia langsung mencabut pedangnya yang ternyata bersinar merah berhawa panas. Dengan tanpa malu-malu dia langsung melesat, terus menyerang Dhafin dengan jurus-jurus mematikan.
Sementara Dhafin yang belum cukup beristirahat sehabis bertarung putaran pertama tadi dengan terpaksa meladeni serangan-serangan Waka Galen.
Tapi melangkah jurus ke 2 ke atas dia mulai beradaptasi dengan serangan-serangan Waka Galen. Gempuran lelaki berwajah seram itu dapat diatasi meski Dhafin belum menggunakan senjatanya.
Untuk sementara Dhafin tidak langsung melakukan balas menyerang. Dia hendak mempelajari dulu semua jurus yang dikerahkan Waka Galen. Mengamati setiap jurus yang dikerahkan, mencari kelemahannya.
Dalam hati dia mengagumi kehebatan Waka Galen ini. Ilmu beladiri pedangnya sudah mencapai tingkat tinggi. Tenaga dalamnya juga nyaris mencapai sempurna. Tentu juga kesaktiannya amat hebat.
Yang tidak kalah pentingnya pedangnya yang pancarkan sinar merah mengeluarkan hawa panas. Semakin pedang itu digerakkan, hawa panasnya semakin meningkat.
Lima jurus Dhafin masih bisa bertahan menghadapi Waka Galen tanpa menggunakan pedang. Dan saat memasuki jurus ke 6 nanti dia harus mengeluarkan pedangnya. Karena dia sudah mulai sesak napas merasakan hawa panas yang keluar dari pedang Waka Galen.
Pada satu kesempatan Dhafin mengibaskan tangan kanannya dari kiri ke kanan. Maka seketika menghempas gelombang angin panas yang cukup deras ke arah Waka Galen.
Setelah melakukan hal itu, Dhafin dengan cepat melenting ke belakang dengan cepat, agak menjaga jarak dengan Waka Galen.
Sementara lelaki berwajah seram itu, tadinya hendak menyerang Dhafin dengan pedang bercahaya merahnya, terpaksa melayani gelombang angin panas yang mengarah padanya.
Dengan cepat diangkat telapak tangan kirinya ke depan dengan jeriji terbuka. Bersamaan kaki kanan mundur 1 langkah ke belakang. Sedangkan lutut depan agak ditekuk sedikit.
Maka begitu gelombang angin panas itu menghantam telapak tangan Waka Galen, gelombang angin yang cukup dahsyat itu seketika terbelah menjadi 2 bagian. Dan terus saja meluncur ke belakang melalui samping kiri kanan Waka Galen.
Sedangkan Waka Galen sendiri terseret ke belakang 1 langkah karena menahan gelombang angin panas itu.
Begitu dia sudah selesai menetralkan dirinya, dia menatap Dhafin dengan seram. Dilihatnya pemuda itu kini sudah memegang pedangnya yang juga memancarkan cahaya putih berbalut biru langit yang cukup terang.
Namun sepertinya Waka Galen tidak mau berlama-lama memberi ruang bagi Dhafin untuk beristirahat. Dengan amat cepat dia melesat ke arah Dhafin sambil mengayunkan pedangnya.
Sedangkan Dhafin yang sudah siap bukan hanya menanti serangan, melainkan juga melesat menyongsong serangan Waka Galen.
__ADS_1
Sehingga tidak butuh waktu lama, pertarungan dua orang sakti kembali tergelar.
★☆★☆
Waktu terus bergulir tanpa terasa. Matahari semakin tinggi naik ke atas cakrawala. Sedangkan panasnya sudah mulai menyengat.
Namun Putri Lavina yang masih berada dalam tabung mantra, seperti tidak merasakan sengatan matahari. Malah dia sibuk menyaksikan pertarungan 2 orang sakti yang belum pernah disaksikan.
Peristiwa ini merupakan pengalaman yang amat mengerikan sekaligus menyenangkan yang pernah dia alami.
Mengerikan karena dia dan Dhafin dihadang oleh orang-orang menyeramkan yang tidak dia kenal. Untuk saja Dhafin dapat mengatasi mereka dengan kesaktiannya yang memukau.
Menyenangkan karena bisa menyaksikan kehebatan orang yang dia cintai. Rasanya hidupnya pasti akan selalu aman jika memiliki kekasih yang memiliki kesaktian yang begitu hebat seperti itu.
Dan dia yakin Dhafin pasti bisa mengalahkan Waka Galen.
Sementara itu pertarungan antara Pangeran Pusat melawan Waka Galen masih terus berlangsung. Dan jalannya pertarungan semakin seru dan semakin sengit.
Pertarungan sudah menghabiskan 6 jurus belum ada tanda-tanda siapa yang bakalan menang atau kalah. Posisi saat ini masih sama, kekuatan mereka masih berimbang.
Melangkah jurus ke 7 belum tampak kalau Waka Galen terdesak, namun dia sudah jarang menyerang. Menangkis serangan Dhafin lebih banyak meski belum ada tanda-tanda kalau dia kewalahan.
Memasuki jurus ke 8 masih sama. Tapi begitu sudah di penghujung jurus ke 8 Waka Galen tampak mulai terdesak.
Dan begitu memasuki jurus ke 9 semakin kentara kalau dia sudah mulai terdesak. Jurus-jurus yang dia kerahkan sudah mulai kacau. Hingga akhirnya mendekati ujung juga ke 9 dia sudah terdesak hebat.
Memasuki jurus ke 10 Waka Galen sudah mulai mati kutu. Tangannya sudah meringis mana kala setiap kali bentrok pedang dengan Dhafin.
Hingga suatu ketika Dhafin mengayunkan pedangnya 5x berturut-turut.
Empat ayunan pedang Waka Galen masih dapat menangkis meski sambil meringis-ringis. Begitu ayunan ke 5, ayunan yang paling kuat dan keras bertenaga dalam tinggi, Waka Galen masih bisa menangkis. Namun....
Traaang...!
Traaak! Traaak!
"Akh!"
Pedangnya langsung patah menjadi beberapa bagian dan langsung lepas terlempar dari tangannya. Membuatnya meringis kesakitan. Dan cahaya merah dari potongan pedangnya seketika hilang.
Sementara Dhafin tidak berhenti sampai di situ. Dengan cepat dia mengirimkan beberapa tendangan kiri kanan ke tubuh, kepala, dan wajah Waka Galen. Hingga Waka Galen terjajar cukup jauh ke belakang sambil mengaduh-aduh.
Selagi Waka Galen terjajar ke belakang, dengan cepat Dhafin menyabetkan pedangnya dari atas kiri ke bawah kanan.
Maka melesatlah sinar putih berbalut sinar biru berbentuk seperti bulan sabit ke arah Waka Galen.
Sedangkan Waka Galen tidak punya kesempatan lagi menghindari serangan berhawa panas itu. Keadaan dirinya masih kepayahan akibat tendangan Dhafin yang bertubi-tubi.
Sehingga tanpa ampun sinar biru-putih bulan sabit itu menghantam tubuhnya dengan telak. Dan seketika tubuhnya langsung hancur berantakan dan menyebar ke segala arah.
Bau hangus bakaran langsung tercium dari serpihan-serpihan daging yang berceceran di mana-mana. Sungguh mengerikan!
Sementara Dhafin, setelah membuka mantra pelindung yang tadi terpasang pada Putri Lavina, dia segera meninggalkan tempat itu bersama Putri Lavina.
Walau Putri Lavina tidak setuju, Dhafin tetap menggunakan teleportasi agar mereka meninggalkan tempat itu tanpa menghilangkan jejak.
Sepeninggal Dhafin dan Putri Lavina, sebentar saja tempat itu sudah diselubungi kesunyian.
Tak ada lagi suara terdengar kecuali desau halus hembusan angin. Tak tampak lagi ada yang bergerak kecuali tarian dedaunan yang dikendalikan angin.
Tampak tubuh-tubuh hitam hangus terbaring diam makin mewarnai suasana menjadi lebih menyeramkan.
__ADS_1
★☆★☆