Pangeran Yang Hilang

Pangeran Yang Hilang
BAB 50 TURNAMEN BELADIRI ANAK BANGSAWAN Part.3: PANGERAN YANG TAK DIPERHITUNGKAN


__ADS_3

Dalam jajaran 10 besar anak bangsawan terhebat di kotaraja, Brian tidak terhitung. Tepatnya tidak dihitung. Yang masuk dalam 10 besar cuma Pangeran Adrian dan Putri Raisha Arabelle di kalangan keluarga istana.


Kenapa Pangeran Brian tidak dihitung? Karena anak urakan itu tidak mengekspos tentang dirinya di kotaraja. Dia berguru dengan siapa tidak ada yang tahu.


Dan juga dia tidak bisa dikategorikan murid Pendeta Noman, karena cuma belajar dasar-dasar ilmu beladiri kepada orang tua itu. Itupun cuma sebentar.


Padahal Pendeta Noman, di samping menjabat sebagai Pejabat Penasehat Istana, juga sebagai guru beladiri keluarga istana. Di samping itu juga punya perguruan beladiri di kotaraja ini.


Sedangkan di kalangan keluarga istana, mereka cuma tahu Brian punya beladiri dan sedikit tenaga dalam. Adapun dia dikategorikan hebat, keluarga istana tidak ada yang mengakui. Karena memang tidak tahu.


Cuma sahabat dekatnya yang tahu siapa dia sebenarnya, termasuk Dhafin. Sedangkan Putri Aurellia baru tahu kalau Brian mempunyai kesaktian.


Orang lain yang menyaksikan kehebatan Brian baru Kapten Chris dan 10 anak buahnya. Itupun mereka sekarang sudah jadi mayat.


Jadi kalau mau tanya kehebatan Brian kepada mereka, harus masuk ke kuburannya dulu. Itupun kalau bisa jawab.


Begitu sepasang kaki Brian mendarat ringan di atas arena, dia melangkah untuk lebih dekat ke tengah arena.


Sebelum gong tanda dimulainya pertandingan dipukul, dia menoleh ke arena 1, di mana salah seorang anak yang masuk dalam 10 besar anak bangsawan terhebat kotaraja juga akan bertarung melawan tim dari kota lain.


Saat dia menoleh ternyata anak itu sudah menatapnya dengan tajam. Namun tidak terlalu lama. Setelah mendengus kecil, anak itu segera balikkan badan menghadap ke lawannya.


Sedangkan Brian juga segera balikkan badan menghadap ke lawannya. Tak lama kemudian gong terdengar dipukul pertanda pertandingan segera dimulai.


Namun sang lawan belum bergeming. Dia malah menatap Dhafin dengan tatapan meremehkan.


Melihat lawan belum bergerak Brian tidak mau juga mendahului. Sepertinya dia menanti lawan bergerak duluan.


"Kenapa Pangeran belum menyerang?" tanya anak muda berumur 12 tahun itu bernada seakan mengejek.


"Aku menunggumu menyerang duluan," kata Brian tidak mau kalah mental.


Brian tahu lawannya yang sebagai ketua tim ini adalah anak bangsawan kotaraja yang juga diperhitungkan kehebatannya, meski tidak masuk dalam 10 besar. Dan semua anggota timnya juga dari kalangan anak bangsawan kotaraja.


"Apa anggota tim Pangeran tidak salah memilih Pangeran sebagai ketua tim?" tanya si lawan jelas mengandung sarkas.


"Apa tujuanmu naik ke arena hanya untuk mengajakku ngobrol, Deon?" kata Brian bernada sinis.


"Kalau tujuanmu itu," lanjutnya, "sebaiknya kamu mengaku kalah saja. Apalagi 4 anggotamu sudah kalah semua."


"Meskipun tim hamba kalah, tapi setidaknya hamba dapat mengalahkan ketua timnya," balas Deon optimis.


"Kamu percaya diri sekali, Deon. Kalau begitu berapa jurus yang kamu butuhkan untuk menumbangkanku?"


"Hamba hanya butuh 3 jurus untuk membuat Pangeran terlempar dari atas arena," kata Deon sarat akan peremehan.


"Oh, sungguh aku terkejut akan kehebatanmu, Deon," kata Brian dengan mimik terkejut. Namun dia cuma mengejek.


"Aku tidak sehebat itu. Aku hanya sanggup menumbangkanmu 5 jurus."


Deon mendengus geram mendengar ejekan Brian. Lalu dia melesat ke depan dengan cepat. Saking cepatnya gerakan Deon, tahu-tahu dia sudah ada di depan Brian. Bersamaan dengan kaki kanannya melayang ke arah wajah.


Sang bunda, Selir Agung Cassiopea, melihat gerakan lawan putranya amat cepat seketika menahan napas. Dan begitu melihat tendangan lawan mengarah ke wajah putranya dengan cepat, dia langsung membekap mulutnya saking terkejut ngeri.


Benaknya langsung membayangkan tendangan itu mengenai wajah Brian, lalu membuat Brian terlempar jatuh.


Apakah itu yang terjadi?


★☆★☆


Namun ternyata tidak. Secepat tendangan itu datang, lebih cepat lagi gerakan Brian.


Dengan cepat kaki kirinya digeser 1 langkah ke belakang. Bersamaan tangan kanannya bergerak naik dengan cepat, menangkap tendangan itu dengan berani dan mantap.


Tap!

__ADS_1


Beberapa orang peserta yang sempat menyaksikan aksi berani Brian itu sempat dibuat terkejut. Mereka tidak menyangka Brian bisa berbuat begitu terhadap serangan lawan.


Sebagian penonton bertepuk tangan, termasuk pendukung Tim Brian Darel.


Sedangkan Yang Mulia, yang tidak mengetahui sampai di mana kehebatan anaknya juga dibuat terkejut atas aksi berani Brian. Tindakan itu hanya bisa dilakukan oleh orang yang mempunyai kehebatan di atas rata-rata.


Semetara itu, Brian yang tahu gelagat Deon hendak menyerang lagi dengan kaki kirinya, langsung memelintir telapak kaki kanan Deon dengan kuat sambil mendorong ke depan dengan kuat pula.


Tidak mau kakinya terpelintir, akhirnya Deon memutar tubuhnya searah pelintiran kakinya. Kemudian dia melakukan gerakan sedemikian rupa, lalu berputar ke belakang dengan jungkir balik.


Namun belum juga kedua kakinya berpijak dengan sempurna, Brian melesat dengan amat cepat sambil melayangkan tendangan kaki kanan yang menghujam ke dadanya dengan cepat pula.


Tidak ada waktu bagi Deon untuk menangkis. Serangan itu amat cepat datangnya. Apalagi posisi kuda-kudanya belum mantap. Maka dia berusaha membuang tubuhnya ke kiri.


Tapi tak urung tendangan Brian mengenai tubuhnya juga. Meski cuma pundak lengan, tapi membuat tubuhnya tambah tidak terkontrol terbuang ke kiri. Dan akhirnya dia jatuh dengan sedikit terputar.


Namun dengan cepat dia bangkit dengan gerakan meliukkan badan dengan indah dan cepat. Kemudian menyerang Brian yang juga balas menyerang.


Deon tidak mau kecolongan lagi. Tadi baru 2 gebrakan pertarungan berlangsung dia sudah kena hajar. Tadinya dia terlalu meremehkan Brian karena pikirnya kehebatan Brian berada di bawahnya.


Ternyata perkiraannya salah. Bahkan Brian menunjukkan kehebatan yang membuat penonton terpukau.


Tidak butuh waktu lama Pangeran Ke 2 dan anak bangsawan itu sudah terlibat dalam pertarungan yang sengit. Gerakan jurus yang mereka mainkan begitu lihai dan cepat.


Sementara itu, di arena 8 Putri Raisha Arabelle juga tengah bertarung melawan salah satu tim dari kotaraja juga. Dan lawannya itu adalah ketuanya, sama dengan dirinya. Lawannya bukan anak perempuan, tapi anak lelaki.


Sedangkan tadi 4 anggotanya sudah memenangkan 4 pertandingan. Dan lawan mereka semuanya anak lelaki. Benar-benar tim yang hebat.


Pertarungan yang berlangsung di arena 8 memang cukup seru dan membuat penonton terpukau. Namun Yang Mulia lebih tertarik menyaksikan pertarungan di arena 2. Dia makin penasaran akan kehebatan putranya itu.


Menurut keterangan Pejabat Militer Kerajaan, lawan Brian itu masuk dalam daftar anak bangsawan yang hebat di kotaraja, meski tidak masuk dalam 10 besar. Sedangkan Brian tidak masuk dalam daftar.


★☆★☆


Brian tidak masuk dalam daftar?


Anak-anak yang masuk dalam daftar itu adalah anak-anak yang sudah mendapat rekomendasi dari gurunya atau dari perguruan mereka. Artinya mereka jelas siapa gurunya dan dari perguruan mana.


Sedangkan Brian, siapa gurunya, belajar di mana tidak jelas. Sampai Yang Mulia pun tidak tahu. Apalagi Pendeta Noman yang cuma sebentar Brian belajar padanya.


Sementara Selir Agung Cassiopea lebih-lebih tidak tahu tentang riwayat pendidikan beladiri anak pertamanya itu. Dia hanya tahu anaknya itu punya beladiri, tapi tidak dianggap.


Dia cukup tahu bahwa di Turnamen Beladiri Anak Bangsawan ini merupakan ajang bertemunya anak-anak yang hebat dari berbagai kota di Kerajaan Amerta.


Saat mengetahui anaknya yang urakan itu termasuk peserta dalam turnamen ini, dia khawatir bukan main. Apalagi menyadari kalau putranya itu harus bersaing dengan 3 saudaranya yang masuk dalam daftar terhebat di kotaraja.


Namun hari ini dia melihat anaknya mampu mengimbangi anak bangsawan kotaraja yang masuk dalam daftar anak bangsawan yang terhebat. Tapi entah apakah dia dapat mengalahkannya atau dia yang kalah.


Sementara itu, di arena 2 pertarungan antara Brian dan Deon semakin seru, semakin sengit. Jurus demi jurus terlewati. Jurus pertama lewat, jurus ke dua telah berakhir.


Di penghujung jurus ke 3 Deon makin mempercepat gerakannya dalam memainkan jurus. Namun Brian dapat mengimbangi gerakannya. Hingga suatu ketika telapak tangan kanan mereka bertemu pada satu titik tengah.


Plaaak!


Akibat dari bertemunya kedua telapak tangan yang berisi tenaga dalam tinggi itu, membuat kedua anak itu terseret ke belakang 3 langkah. Membuat Selir Agung memekik terkejut.


"Tenang saja, Selir Agung, Ananda Pangeran Brian pasti menang," kata Permaisuri Chalinda.


Ucapan itu bukan bermaksud menghibur. Permaisuri Chalinda berbicara sesuai fakta. Sedangkan Selir Agung, entah menggubris ucapan rivalnya itu atau tidak dia diam saja. Namun mata indahnya tak lepas menatap Brian.


Sementara pertarungan Brian melawan Deon terhenti sejenak. Lalu terdengar ucapan Brian yang bernada ejekan sambil tersenyum.


"Sudah habis 3 jurus, Deon. Janjimu mau menumbangkan aku hanya 3 jurus kamu tidak tepati. Kalau begitu kamu pendusta, Deon."


Deon hanya mendengus kesal mendengar ucapan Brian yang jelas mengejeknya.

__ADS_1


"Sekarang aku akan buktikan ucapanku," kata Brian sambil masih tersenyum. "Dua jurus lagi kamu akan tumbang.


Belum lenyap gema ucapannya, tubuhnya sudah bergerak dengan amat cepat laksana lenyap. Tahu-tahu sudah berada di depan Deon. Lalu dengan tidak kalah cepat dia melancarkan serangan secara beruntun.


Pada pertarungan kali ini Brian merubah jurusnya. Pola dan strategi serangan juga dirubah.


Mulanya Deon masih dapat mengimbangi semua serangan Brian. Bahkan sesekali balas menyerang. Namun ketika sudah di pertengahan jurus ke 4 ini Deon lebih banyak menangkis serangan.


Begitu di ujung jurus ke 4 dia mulai kelabakan. Dan masuk jurus ke 5 Deon sudah terdesak hebat. Serangan-serangan Brian makin gencar mengincarnya. Beberapa pukulan dan tendangan Brian nyaris bersarang di tubuhnya.


Begitu sudah di pertengahan jurus ke 5 Deon hampir tak bisa lagi menangkis serang-serangan Brian yang semakin cepat. Sudah beberapa kali pukulan maupun tendangan Brian bersarang di tubuhnya.


★☆★☆


Tampak tendangan kaki kanan Brian menyabet ke kepala sebelah kiri Deon. Namun Deon meski dengan sudah payah dia menaikkan tangan kiri bermaksud menangkis tendangan itu.


Namum apa lacur? Brian dengan seketika menghentikan tendangannya di udara. Lalu meliukkan kakinya itu ke bawah, dan langsung nyosor ke dada Deon.


Deon yang sudah kacau akan keadaannya jelas tidak bisa menangkis lagi tendangan itu. Dan telak saja menusuk dadanya.


Dughk!


"Aaakh...!"


Deon langsung terjajar ke belakang 4 langkah dengan limbung sambil mengeluh tertahan. Dadanya cukup terasa sakit dan napasnya agak sesak. Pandangannya agak nanar.


Sedangkan Brian tidak mau memberi hati. Dia segera mengejar Deon. Begitu sudah dalam jangkauan serangan, dengan cepat kepalan kanannya melayang dan langsung menghantam rahang kiri Deon dengan kontan dengan kuat, keras dan telak.


Desss!


"Ughk...!"


Kembali terdengar Deon mengeluh tertahan. Wajahnya terhempas ke kanan sambil tubuhnya pula limbung ke kanan. Tampak dari mulutnya yang setengah terbuka mencelat 3 benda kecil bercampur darah dan langsung jatuh ke lantai arena.


Namun tubuhnya masih juga belum jatuh. Tapi kondisinya sudah cukup kepayahan. Maka Brian dengan gerakan cepat melenting ke udara. Lalu mengirimkan tendangan terbang pada Deon, dan lagi-lagi mengenai dadanya.


Dughk!


"Aaa...."


Tubuh Deon hanya pasrah terlempar deras ke belakang sambil menjerit tertahan. Karena posisinya dekat dengan pinggir panggung, maka tidak tanggung-tanggung tubuhnya langsung kecebur ke bawah panggung.


Namun karena di bawah petugas sudah siap sedia, maka mereka dengan cepat menangkap tubuh Deon. Sehingga Deon tidak sampai jatuh ke tanah. Tapi kondisinya bertambah memprihatinkan meski tak sampai pingsan.


Brian anak yang ke 4 yang menjatuhkan lawan ke bawah panggung untuk pertandingan hari ini.


Kebetulan posisi jatuh Deon di pinggir arena sebelah barat. Sehingga saat dia melangkah menuju pinggir panggung hendak menengok Deon, tanpa sengaja dia memandang Yang Mulia yang juga tengah menatapnya.


Dan ternyata semua keluarganya tengah memandangnya. Sorot mata mereka membinarkan keterkejutan sekaligus keterkesimaan.


Pangeran yang ilmu beladirinya tidak dianggap di keluarga istana ternyata mampu mengalahkan anak yang masuk dalam daftar terhebat. Bukankah itu suatu hal yang mengherankan? Sehebat itukah Pangeran Brian?


Namun Brian hanya memandang mereka dengan datar. Tanpa ada ekspresi apapun.


Selesai hakim wasit menyatakan dia sebagai pemenang, dia membalikkan badan hendak turun dari arena. Namun terdengar ada yang memanggil namanya dengan diawali kanda dari panggung Yang Mulia.


Begitu dia melihat ternyata adik perempuannya yang berumur 5 tahun. Brian hanya melambaikan tangan. Lalu membalikkan badan turun dari panggung. Tanpa menghiraukan keluarga istana yang masih menatapnya dengan penasaran.


Tidak lama kemudian, Tim Brian Darel sudah bersiap-siap untuk meninggalkan areal turnamen. Namun Putri Raisha cepat-cepat menghampiri ke camp tim itu bersama 4 anggota timnya yang semuanya gadis kecil yang cantik.


Tim Brian Darel beserta Putri Aurellia dan 4 gadis yang bersamanya yang hendak beranjak meninggalkan lokasi terpaksa urungkan niat.


"Mau apa kamu datang ke sini, Raisha?" tanya Brian bernada tidak senang.


Putri Raisha tidak menjawab pertanyaan itu. Dia malah menatap Putri Aurellia dengan penasaran. Sedangkan Putri Aurellia balas menatap. Tanpa ada rasa senang atau gembira di pancaran matanya. Namun bukan pula tatapan permusuhan atau kebencian.

__ADS_1


Putri Aurellia menatap Putri Raisha seolah melihat orang asing.


★☆★☆★


__ADS_2