
Traaang...! Traaang...!
Terdengar bunyi suara benda logam saling beradu cukup memekakkan telinga ketika sepasang pedang Hendry menghantam tongkat besi milik Iblis Racun Betina.
Hantaman sepasang pedang Hendry itu bukan hantaman biasa. Melainkan teraliri oleh tenaga dalam yang tinggi. Dan juga bukan kali itu saja, tapi sudah berkali-kali.
Sedangkan kedua tangan Iblis Racun Betina mulai terasa kesemutan. Pertanda tenaga dalamnya mulai terkalahkan oleh tenaga dalam Hendry.
Ditambah lagi sekarang sudah mulai jarang menyerang, bahkan paling banyak dia menangkis serangan Hendry. Hingga tanpa terasa nenek cantik itu mulai terdesak.
Sementara itu pula, Zafer mulai mendesak ruang gerak Golok Hitam sedikit demi sedikit. Jurus-jurus pedangnya makin lincah dan sebat, gerakannya makin cepat.
Sehingga Golok Hitam harus mengikuti irama permainan pedang si Tudung Hitam. Kalau tidak nyawanya akan cepat melayang. Itupun pedang Zafer sudah beberapa kali nyaris membelai tubuhnya atau menyapa lehernya.
Sedangkan Tuan Regulus benar-benar terdesak saat ini. Ruang geraknya sudah terkurung oleh lingkaran jurus pedang Aziel yang makin cepat dan sebat terayun.
Serangannya sudah mati sejak tadi. Yang bisa dilakukan sekarang hanyalah menangkis dan terus menangkis. Itupun harus dilakukan dengan cepat. Kalau tidak nyawanya sudah sejak tadi melayang.
Akan tetapi beberapa tendangan dan pukulan keras Aziel yang bersarang di tubuhnya tidak bisa dihindari. Seperti saat ini, pedang melengkung Aziel mengayun dengan sebat. Tapi masih dapat ditangkis olehnya. Akibatnya golok berikut tangannya terhempas ke samping kanan.
Sedangkan gerakan Aziel tidak berhenti sampai di situ. Dengan cepat telapak tangan kirinya nyelonong ke dada Tuan Regulus.
Tapi Tuan Regulus masih berusaha untuk menangkis dengan mengangkat tangan kirinya menyilang di depan dadanya.
Namun apa lacur, tangan kiri Tuan Regulus cuma menangkis angin. Karena Aziel cepat-cepat menarik telapak tangannya ke belakang. Sedangkan pedangnya yang masih di udara meluncur dengan cepat menebas putus tangan kiri Tuan Regulus.
Craaasss!
"Akh...!"
Kontan saja Tuan Regulus menjerit tertahan. Darah segar langsung mengucur dari kutungan tangannya. Sedangkan potongan tangannya langsung jatuh ke bawah.
Ternyata Aziel tidak berhenti menyerang. Selepas menebas putus tangan Tuan Regulus, kaki kirinya langsung naik dengan cepat mendupak dengan keras dada Tuan Regulus.
Sehingga membuat Tuan Regulus terjajar ke belakang beberapa langkah sambil kembali menjerit tertahan.
Sementara Aziel, selagi Tuan Regulus terjajar ke belakang, seketika dia melenting sambil mengayunkan pedangnya ke atas tinggi-tinggi.
Begitu sudah berada dalam jangkauan serangan, pedang itu di ayun turun dengan cepat hendak membelah kepada atas Tuan Regulus.
Tapi rupanya Tuan Regulus tidak berpasrah begitu saja. Sambil memiringkan kepala ke kiri, diangkat goloknya ke atas kepala, menangkis laju ayunan pedang Aziel dengan mengerahkan seluruh sisa-sisa tenaga dalamnya.
Traaang!
Trak!
"Akh!"
Demikian kuat hantaman pedang Aziel, membuat golok besar Tuan Regulus patah jadi dua. Sedangkan pedang itu terus meluncur turun dan membelah pundak kiri Tuan Regulus, hingga pedang Aziel amblas masuk ke dalam tubuh Tuan Regulus.
Membuat Tuan Regulus kejap berikut seketika kaku berdiri diam sambil membelalakkan kedua matanya. Sedangkan potongan golok yang masih tergenggam di tangannya langsung terlepas begitu saja bersama tangan kanannya terkulai turun.
Beberapa kejap berikut Aziel seketika menarik pedangnya dengan kuat sambil menekan turun. Akibatnya ujung pedangnya merobek panjang dadanya hingga ke lambung.
Lalu mendupak dengan keras dada lelaki tua itu hingga terlempar ke belakang cukup jauh. Begitu tubuh tanpa nyawanya jatuh ke tanah berumput, terguling beberapa kali, lalu terdiam selamanya.
★☆★☆
Sementara Zafer sepertinya sebentar lagi menuntaskan pertarungannya melawan Golok Hitam. Karena Golok Hitam saat ini sudah terdesak hebat oleh Zafer.
Lelaki tua berkumis dan berjanggut tebal itu sudah beberapa kali menerima tendangan dan pukulan dari si Tudung Hitam itu.
Sementara di tubuhnya sudah terdapat 5 luka sayatan dan goresan pedang Zafer yang cukup parah. Sehingga membuat gerakan tubuhnya tidak gesit lagi dalam menangkis ataupun mengindari setiap serangan Zafer.
Hingga suatu ketika pedang Zafer mengayun kuat dan cepat menebas leher Golok Hitam dari sebelah kiri.
Tapi meski dengan susah payah Golok Hitam masih berusaha mengangkat goloknya menangkis serangan maut itu. Sedangkan tubuh dan kepalannya di doyongkan ke belakang.
__ADS_1
Prasss!
Saking kuat dan kerasnya hantaman pedang Zafer hingga membuat golok Golok Hitam terputus jadi dua bagian. Sedangkan laju pedang Zafer tidak berhenti, terus mengayun hingga ujung pedangnya menggores sedikit kerongkongan Golok Hitam.
Dan Zafer terus saja berputar dengan cepat bagai kitiran sambil mengayunkan pedangnya. Sehingga kali ini leher Golok Hitam bukan hanya tergores, tapi benar-benar tertebas putus.
Craaasss!
"Ah!"
Golok Hitam cuma bisa mendesah pendek sebagai salam perpisahan dengan kemewahan dan kesenangan dunia yang dia tinggalkan. Setelah itu dia langsung diam mematung.
Namun tak lama tubuhnya langsung menggelosor jatuh. Sedangkan kepalanya menggelinding tak jauh dari jasadnya. Darah segar segera mengucur deras dari kutungan lehernya.
Sementara agak jauh dari pertarungan Zafer melawan Golok Hitam, pertarungan antara Hendry melawan Iblis Racun Betina masih terus berlangsung.
Iblis Racun Betina memang tampak terdesak. Tidak banyak lagi dia melakukan serangan. Sebaliknya lebih banyak bertahan.
Namun Hendry cukup susah untuk mengalahkan Iblis Racun Betina. Soalnya nenek cantik itu memiliki serangan berbahaya yang kalau Hendry tidak berhati-hati, dia pasti akan binasa.
Serangan itu berupa uap asap warna ungu yang keluar dari mulut patung kepala serigala yang ada di ujung tongkat si Iblis Racun Betina. Jelas uap itu adalah gas beracun yang amat berbahaya.
Ditambah lagi telapak tangan kiri Iblis Racun Betina yang memang beracun. Sedikit saja telapak tangan wanita tua itu terkena Hendry, pasti akan berakibat buruk.
Sementara setiap kali Hendry hendak menebas tangan kiri sang nenek cantik, selalu saja dilindungi dengan tongkat kepala serigalanya. Setelah itu dia ancam akan mengeluarkan racunnya di dalam tongkatnya itu.
Sungguh pertarungan yang menjengkelkan! Sudah mendesak lawan, tapi belum bisa membunuhnya.
Akan tetapi Hendry tidak berputus asa terus mencari akal bagaimana cara mengalahkan nenek cantik itu tanpa terkena racun mematikannya.
Hingga suatu ketika Hendry bertarung cuma menggunakan 1 pedang, yaitu pedang panjangnya yang dimainkan di tangan kirinya. Juga jurus dan metode bertarungnya dirubah.
Tentu saja Iblis Racun Betina bertanya-tanya dalam hati, apa maksud bocah bagus itu bertarung menggunakan 1 pedang?
Pedang Hendry terayun kuat menghantam tongkat besi Iblis Racun Betina. Hampir bersamaan dengan itu telapak tangan kanannya yang sudah dilambari tenaga sakti mendobrak ke dada Iblis Racun Betina yang terbuka.
Maka begitu telapak tangan Hendry sudah setengah bergerak, dengan cepat telapak tangan kirinya menyongsong telapak tangan kanan Hendry seraya tersenyum penuh kemenangan.
★☆★☆
Akan tetapi Iblis Racun Betina harus menelan racun kekecewaan yang amat pahit. Dia termakan oleh perangkap Hendry.
Karena tidak nenek cantik itu menduga Hendry dengan amat cepat menarik serangannya. Nyaris bersamaan pedangnya seketika mengayun turun dengan kuat, cepat, sebat. Hingga akhirnya....
Craaasss!
"Aaakh!"
Iblis Racun Betina langsung menjerit tertahan karena sakit, karena kecewa, karena kesal, karena geram. Sungguh dia tertipu oleh pemuda tampan yang sudah dia khayalkan untuk berkencan.
Tapi dia tidak kehilangan kewaspadaan. Dengan cepat dia menyodorkan kepala tongkatnya dengan maksud hendak menyemburkan gas beracunnya ke wajah Hendry.
Namun Hendry yang sudah membaca serangan itu segera mengayunkan pedangnya lagi menangkis tongkat Iblis Racun Betina dengan kuat dan cepat. Sehingga tongkat itu miring ke kiri dan gas beracunnya cuma mengenai udara. Setelah itu sirna.
Sementara Hendry, setelah menangkis tongkat Iblis Racun Betina, dia memutar ke belakang nenek cantik itu dengan cepat sambil mengayunkan tangan kanannya.
Entah kapan mengambilnya tahu-tahu di tangannya itu sudah tergenggam pedang pendeknya dengan posisi terbalik. Dan pedang itu terus bergerak hingga ujungnya menusuk punggung kiri Iblis Racun Betina hingga tembus ke dadanya.
Sehingga kali ini Iblis Racun Betina benar-benar tak bisa berkutik lagi. Seketika dia berdiri diam bagai patung sambil melototkan matanya.
Sedangkan Hendry, setelah mencabut pedangnya dari punggung Iblis Racun Betina, kaki kirinya dengan kuat menyodok tengkuk nenek malang itu hingga tulangnya patah.
Sedangkan sang nenek terlontar ke depannya dengan deras tanpa jeritan tanpa nyawa. Dan jatuh ke tanah dengan posisi tengkurap.
"Phuih! Akhirnya mati juga kamu, nenek cabul!" dengus Hendry sambil menyembur ludahnya. "Hampir saja racunmu merusak wajah tampanku!"
Hampir bersamaan pertarungan antara Hendry melawan Iblis Racun Betina berakhir, pertarungan antara Pendekar Penyair melawan Penyair Putih juga sebentar lagi akan berakhir.
__ADS_1
Tidak terlalu sulit bagi Gibson dalam menghadapi Penyair Putih. Karena dia sudah pernah berhadapan dengan muridnya yang sudah dia kirim ke alam baka itu.
Memang ada tambahan pada jurus-jurus lelaki bejat itu yang tidak ada pada Penyair Pemetik Bunga. Namun masih dapat dia atasi dengan mudah olehnya.
Kini Penyair Putih sudah terdesak hebat. Sudah tidak terhitung lagi luka sayatan dan goresan pedang Gibson di tubuhnya. Bajunya sekarang tidak putih lagi, melainkan sudah kotor oleh darahnya sendiri.
Sementara gerakannya sudah tidak gesit dan cepat lagi. Sedangkan ujung pedang Gibson terus saja menambah luka sayatan dan goresan di tubuhnya.
Hal ini sepertinya Gibson sengaja menyayat-nyayat tubuh ayah biologisnya itu untuk menyiksanya. Tentu saja Penyair Putih semakin tersiksa dibuatnya. Membuatnya semakin ketakutan akan kematian.
"Putraku, putraku, hentikan!" kata Penyair Putih dengan suara lemah bernada memelas. "Ampunilah ayahmu yang hina ini! Aku berjanji padamu akan memperbaiki kesalahanku dan akan berbuat baik padamu seumur hidupku."
Di ambang kematiannya masih juga dia merayu Pendekar Penyair dengan sandiwaranya itu. Namun Gibson yang sudah dibaluti dendam berkarat mana mau mengampuni orang tua itu?
"Hahaha...! Kenapa sudah di ambang kematian kamu baru minta ampun, Orang Tua?" kata Gibson seraya tertawa penuh kemarahan dan dendam. "Ke mana saja kamu selama ini?"
"Ketahuilah! Walaupun kamu minta ampun sampai muntah darah sekalipun, aku tidak akan mengampuni!"
★☆★☆
Setelah itu Gibson mengayunkan pedangnya hendak menyabet dada Penyair Putih. Namun Penyair Putih masih dapat menangkisnya meski dengan susah payah. Akibatnya pedangnya langsung terhempas ke samping. Lalu terlepas dari genggaman dan terlempar.
Sedangkan Gibson terus mengayunkan pedangnya, menusuk belikat kanan dan kiri orang tua itu. Lalu pedang itu bergerak turun memutus urat lutut kiri kanan Penyair Putih.
Membuat penyair bejat itu menjerit kesakitan sambil jatuh menggelosor ke tanah berumput. Lalu dia terkapar tanpa daya, tanpa bisa melakukan apa-apa selain hanya bisa membayangkan kematiannya.
Gibson melepas pedangnya begitu saja. Kajap berikut pedang bercahaya kuning itu seketika lenyap. Lalu pemuda tampan itu menatap sejenak pada Penyair Putih. Kemudian berkata bernada dingin.
"Sekarang kamu telah lumpuh, Penyair Putih. Tidak bisa lagi melakukan apa-apa. Semoga dengan begitu kamu bisa merenungi dosamu dan minta ampun kepada Penguasa Langit...."
"Aku akan mengantarmu kepada wanita bangsawan yang pernah kamu nodai," lanjutnya. "Nasibmu tergantung pada kemurahan hati wanita itu...."
"Mulai dari sekarang berdoalah terus agar wanita malang itu mengampunimu."
Penyair Putih tidak bisa berkata apa-apa seakan-akan dia bisu mendadak. Tidak bisa berbuat apa-apa karena selain seluruh tubuhnya terasa sakit, juga tidak bisa digerakkan.
Dia hanya bisa menatap Gibson dengan sorotan aneh.
Tidak lama kemudian, Dhafin, Aziel dan Zafer serta Hendry datang menghampiri Gibson.
"Hei, kenapa kamu belum membunuhnya?" tanya Hendry seolah menegur.
"Aku akan membawanya menghadap seseorang," sahut Gibson berusaha tenang. Sementara kepedihan hatinya masih mengaung.
"Sekarang bagaimana, Pangeran Pusat?" tanya Zafer meminta keputusan.
"Kita kembali dulu ke istana," kata Dhafin memutuskan. "Kita laporkan dulu apa yang dibicarakan orang-orang sakti tadi kepada Yang Mulia dan orang-orang istana."
"Setelah itu kita menyusun rencana untuk menyerang Perguruan Golok Hitam dan Perguruan Tapak Sakti," lanjutnya.
"Tapi sebelumnya kita selesaikan dulu urusan keluarga Gibson."
"Urusan keluarga apa?" tanya Hendry tidak mengerti.
"Kalian tidak perlu repot-repot membantuku," kata Gibson menolak secara halus. "Aku masih bisa mengurusnya sendiri. Lagipula aku tidak lama, cuma menyerahkan durjana itu kepada seseorang."
"Kamu jangan berkata begitu, Pendekar Penyair," kata Dhafin. "Kami ini sudah seperti saudaramu. Masalahmu adalah masalah kami juga."
"Tuan Muda...."
"Sudahlah, tidak usah banyak berpikir," kata Dhafin cepat memotong ucapan Gibson. "Sekarang bawalah Penyair Putih itu! Baru kita tinggalkan tempat ini."
Setelah Gibson menyimpan Penyair Putih dalam dimensi kesaktiannya, lalu kelima pemuda tampan itu meninggalkan tempat itu.
Sementara malam sebentar lagi akan berakhir. Waktu sudah berada di ambang subuh.
★☆★☆★
__ADS_1