Pangeran Yang Hilang

Pangeran Yang Hilang
BAB 219 BELUM CUKUP UNTUK MENGALAHKAN MEREKA


__ADS_3

"Rupanya Tuan Pangeran memang benar-benar meremehkan kehebatan kami," dengus sang pemimpin makin geram. "Baiklah!"


"Serang!" perintah sang pemimpin sambil mengibaskan tangan kanannya ke depan.


Tanpa menunggu perintah 2x 9 pendekar istana dan 2 perwira istana yang memang sudah bersiaga perang sejak tadi langsung melesat maju setelah menghunus pedang masing-masing.


Sedangkan Tim Brian jelas tidak mau kalah. Setelah Brian mengibaskan tangannya ke depan, 10 orang personilnya langsung melesat maju menyongsong serangan 11 orang istana.


Sehingga tidak butuh waktu lama pertarungan di tengah hutan yang gelap itu dengan cepat langsung tergelar. Pertarungan antar para jawara yang memiliki kehebatan di atas rata-rata.


Sebentar saja sudah terdengar dentingan suara senjata logam yang saling beradu di atas udara. Ditingkahi oleh percikan-percikan bunga api yang sedikit menerangi keadaan sekitar.


Karena arena pertarungan di tengah hutan yang gelap nan sunyi, maka suara-suara logam yang saling beradu itu begitu jelas terdengar. Bahkan cukup keras dan mampu menggiriskan hati.


Lagi pula suara-suara itu begitu menyeramkan, membuat siapa saja yang melihat akan merasakan suasana horor.


Bersisa kedua pemimpin masing-masing kubu yang belum bertarung.


Tampak pemimpin pendekar istana sejenak mengamati jalannya pertarungan. Setelah itu kembali menatap Brian dengan tajam penuh permusuhan. Tidak ada lagi sikap hormat palsunya yang tadi ditunjukkan.


Sedangkan pemuda tampan yang selalu bercaping hitam itu cuma memandang santai pada sang pemimpin. Malah sikapnya begitu santai seakan belum siap bertarung. Malah kedua tangannya bersedekap di dadanya.


Benar-benar sikap yang meremehkan!


Belum cukup sampai di situ, Brian malah melontarkan kata-kata sindiran yang jelas mengandung ejekan yang cukup menyakitkan.


"Apa kamu menunggu satu persatu anak buahmu binasa, Tuan? Atau bertarung denganku untuk menyongsong kematianmu lebih cepat?"


Terang saja ucapan sarkas itu membuat sang pemimpin tak bisa lagi menahan amarahnya. Setelah mendengus keras, dia langsung melesat maju menyerang Brian.


Tak lupa senjatanya berupa golok cukup lebar dan panjang warna putih perak diayunkan dengan sebat. Kelebatan golok itu begitu mengerikan, menghantar hawa kematian, siap membelah tubuh Brian menjadi 2 bagian.


Demikian cepatnya gerakan sang pemimpin. Tahu-tahu dia sudah berada di hadapan Brian si Pangeran Hitam. Golok peraknya terayun amat cepat, begitu mengerikan, sebentar lagi akan membelah kepala Brian.


Apakah hal itu yang akan terjadi?


Tentu saja tidaklah. Secepat-cepatnya gerakan sang pemimpin, lebih cepat lagi gerakan Brian.


Entah kapan mencabutnya, tahu-tahu di tangannya sudah tergenggam pedang pusakanya, Pedang Sakura Hitam. Dengan gerakan amat cepat pedang itu diayunkan ke atas, menangkis laju golok sang pemimpin.


Traaang...!


Dua senjata logam saling beradu di udara, di depan atas kepala Brian, menimbulkan suara mendenting yang cukup keras. Pertanda masing-masing pemiliknya mengerahkan tenaga dalam cukup tinggi.


Kejap berikut sang pemimpin seketika terseret ke belakang 5 langkah akibat terkena imbas getaran tenaga dalam Brian. Hal itu menandakan tenaga dalam sang pemimpin masih berada di bawah Brian.


Namun sang pemimpin cepat bisa menguasai diri. Dan kembali menyerang Brian dengan ganas. Akan tetapi Brian dengan mudah mementahkan semua serangan sang pemimpin. Bahkan membalas serangan dengan lebih dahsyat lagi.


★☆★☆


Malam masih terus merambat semakin larut. Sementara pertarungan masih terus berlangsung.

__ADS_1


Akan tetapi belum juga pertarungan mencapai durasi 1 penanakan nasi, sudah menampakkan hasil siapa yang bakalan menang dan siapa yang bakalan kalah.


Apalagi Pedang Emas, baru sepeminum teh lebih dia bertarung, pedangnya yang berwarna keemasan sudah membunuh salah seorang pendekar istana.


Sang lawan langsung tumbang dengan bersimbah darah sambil menjerit keras. Dada dan perutnya tampak robek besar dan cukup panjang, mengeluarkan darah segar yang cukup deras.


Bersamaan dengan itu, Pedang Bulan milik Aziel juga berhasil menumbangkan salah seorang pendekar istana. Pedang berwarna kuning bulan itu telah menebas pundak kiri lawan tersebut hingga badannya hampir terpisah.


Bersamaan dengan itu pula, Keenan mengayunkan Pedang Naga Es-nya dengan cepat. Sedangkan sang lawan tidak bisa lagi menghindari. Maka ujung pedang Keenan merobek dadanya secara bersilang cukup dalam dan panjang.


Cuma sebentar dia mampu menjeritkan kematiannya. Setelah itu suaranya seketika hilang keburu sekujur tubuhnya sudah menjadi es batu. Begitu telah jatuh ke tanah berumput langsung hancur berantakan.


Tak berselang berapa lama, Wilson dan Jarrel juga telah menumbangkan lawan mereka hampir bersamaan. Wilson berhasil menebas leher lawannya. Sehingga kepalanya terpisah dari badan. Begitu jatuh bersama tubuhnya langsung menggelinding ke tanah.


Sedangkan lawan Jarrel, badannya hampir terpotong menjadi 2 bagian karena pedang Jarrel telah menebas pinggangnya.


Lalu lelaki itu jatuh tersungkur ke samping sambil menjerit setinggi langit. Begitu dia telah terkapar di tanah, jasadnya langsung diam selamanya.


Sementara itu, 3 ksatria elit yang berpakaian hitam menghadapi 2 perwira istana. Tapi tampaknya kedua perwira itu sudah didesak ketiga lawannya.


Hingga pertarungan sudah berdurasi 1 penanakan nasi, mereka sudah terdesak hebat. Kedua perwira istana itu hampir tidak bisa lagi melakukan serangan. Malah masing-masing mereka sibuk menangkis serangan.


Sehingga tidak lama kemudian, tahu-tahu mereka sudah tumbang dengan bersimbah darah. Jatuh terkapar di tanah dengan mendapat luka yang amat mengerikan. Belum lama mereka terjatuh seketika terdiam selamanya.


Sementara tidak jauh dari situ, pertarungan antara Brian melawan sang pemimpin juga sebentar lagi akan berakhir.


Setelah saling baku hantam senjata masing-masing beberapa kali, sang pemimpin terdorong 3 langkah ke belakangnya.


Belum juga sang pemimpin dapat berdiri dengan kokoh, Brian terus saja melancarkan serangan. Pedang Sakura Hitam yang memang berwarna hitam itu ditusukkan ke depan, siap menusuk leher sang pemimpin.


Apakah sang pemimpin sudah selamat?


Ternyata tidak. Rupanya tusukan pedang Brian disertai tenaga sakti cukup tinggi. Sehingga membuat badan golok sang pemimpin retak, lalu patah menjadi 2 bagian. Membuat sang pemimpin terkejut bukan main.


Kemudian setelah itu terjadilah peristiwa mengerikan yang sungguh tak disangka-sangka sang pemimpin.


Pedang Brian seketika memanjang dengan cepat. Dan ujungnya tanpa dapat dicegah lagi langsung menusuk leher sang pemimpin hingga tembus ke tengkuk.


Craaat!


Belum sempat sang pemimpin menjerit tertahan, Brian memutar batang pedangnya hingga bagian tajamnya mengarah ke atas. Lalu pedang itu disentak ke atas dengan cepat dan kuat yang menjadikan kepala lawan terbelah dua.


Setelah itu Brian mendupak dada sang pemimpin dengan keras hingga terlempar cukup jauh. Begitu jatuh ke tanah berumput, terguling beberapa kali, lalu terdiam. Entah sejak kapan nyawanya sudah terlepas.


★☆★☆


Belum lama sang pemimpin tumbang dengan kematian mengerikan, Kelvin juga telah menghabisi lawannya.


Pemuda konyol yang sejak awal bertarung tidak memanggil pedangnya, dengan berani menangkap batang pedang pendekar istana lawannya dengan tangan kiri.


Tentu saja pendekar istana itu terkejut melihat aksi mengerikan itu. Dan dia harus membayar dengan nyawanya akibat kelalaiannya itu.

__ADS_1


Dengan kuat Kelvin membetot tangan kirinya yang masih memegang batang pedang lawannya. Sehingga lelaki itu tertarik ke depan dengan kuat.


Belum juga dia sempat berbuat sesuatu, telapak tangan kanan Kelvin yang sudah memancarkan sinar panas warna biru bertabur putih bergerak dengan cepat. Dan dengan telak dan kuat menghantam dada lawannya.


Sehingga tulang dada lawannya remuk dan isi dalamnya hancur. Sedangkan pendekar istana itu terlempar deras ke belakang cukup jauh sambil menjerit keras.


Tak lama berselang, 3 pendekar istana yang tersisa juga tidak tahan segera menyusul rekan-rekannya.


Keadaan mereka memang benar-benar mengenaskan. Kawan dan pemimpin mereka sudah mati semua, bagaimana nyali tidak ciut? Apalagi mereka sudah dikepung.


Sedangkan konsentrasi dalam sudah kacau. Sehingga tidak butuh waktu lama mereka telah tumbang dengan bersimbah darah segar.


Kondisi kematian mereka tidak jauh beda dengan 9 rekan yang lainnya. Kalau bukan leher putus, dada remuk, badan hampir terpisah dua, dada robek besar, perut membusai. Sungguh mengerikan!


Dari hasil pertarungan ini timbul satu pertanyaan, apakah orang-orang istana itu memang memiliki kehebatan yang tidak becus? Sehingga dengan cukup mudahnya mereka dapat dikalahkan oleh Tim Brian?


Sebenarnya bukan kehebatan orang-orang istana yang tidak becus. Mereka adalah orang-orang pilihan Putri Rayna, rata-rata memiliki kehebatan yang tinggi.


Akan tetapi yang mereka lawan adalah para ksatria elit, yang kehebatan mereka sudah tidak diragukan lagi. Apalagi mereka adalah orang-orang pilihan.


Terkhusus bagi 6 ksatria elit Ketua Anthoniel. Mereka semua dipilih oleh Brian. Dan Pangeran Hitam itu merasa yakin akan pilihannya.


Jadi, kehebatan dan jumlah orang-orang istana yang ada itu belum cukup untuk mengalahkan kehebatan para ksatria elit yang rata-rata memiliki tenaga sakti.


Butuh setidaknya sekitar 50-an orang pendekar istana baru bisa menyamai kehebatan 11 ksatria elit itu.


Sehingga tidak heran kalau orang-orang istana itu dengan cukup mudah dapat dikalahkan.


Sementara itu Tim Brian sudah berkumpul di satu tempat tak jauh dari 12 mayat yang mengalami luka yang amat mengerikan itu. Tampak mereka sudah asyik terlibat dalam perundingan di bawah gelap malam.


"Apa ada kemungkinan pasukan istana disebar untuk mencari keberadaan kita di daerah ini?" tanya Jarrel ingin tahu.


"Itulah yang kita harapkan," kata Brian seperti menemukan suatu gagasan. "Dengan tersebarnya mereka mencari kita, lebih mudah bagi kita untuk membasmi mereka."


"Aku rasa perwira tinggi istana yang ada di Kota Pendar itu tidak tinggal diam," komentar salah seorang ksatria elit yang menyusup tadi yang sependapat dengan Brian.


"Setelah dia mengetahui kalau kami telah melakukan aksi penyusupan di kediaman Pejabat Kota," lanjutnya, "besar kemungkinan dia akan mengerahkan pasukan istana untuk menggeledah seluruh pelosok mencari kita."


Analisa yang dikemukakan Brian dan ksatria elit itu tampaknya seperti apa yang dipikirkan oleh rekan-rekan yang lain. Besar kemungkinan perwira tinggi istana akan mengerahkan pasukannya untuk mencari mereka.


Maka dirundingkanlah strategi yang jitu dan tepat untuk menghadapi pasukan istana tersebut.


Kalaupun perwira tinggi istana ataupun Pejabat Kota tidak melakukan tindakan apa-apa, mereka tetap pada rencana yang sudah dirancang, melakukan aksi peneroran di lingkungan pemerintahan di Kota Pendar.


Cukup lama juga Tim Brian mengadakan perundingan di tengah hutan di bawah gelap malam itu. Tapi akhirnya mereka berhasil juga merancang tentang aksi-aksi yang akan mereka lakukan di Kota Pendar.


Setelah merasa cukup melakukan perundingan, tak lama kemudian Tim Brian meninggalkan tempat itu.


Tinggallah tempat itu menjadi sunyi kembali.


Namun belum lama hal itu berlangsung, kembali suasana menjadi bising. Bukan karena pertarungan atau pertempuran. Melainkan hewan-hewan buas yang telah berdatangan di tempat itu. Lalu mereka langsung berpesta menyantap 12 mayat orang-orang istana.

__ADS_1


Mengerikan!!!


★☆★☆★


__ADS_2