
Dhafin dan kawan-kawannya terus melangkah menuju pintu keluar. Dan mereka baru berhenti melangkah sekitar 2 tombak di depan pintu penjara.
Sejenak masing-masing mereka mengamati keadaan halaman depan penjara. Di situ sudah mengepung ribuan pasukan istana. Di tengah-tengah pasukan itu berdiri angkuh Raja Adrian. Di samping kirinya berdiri anggun dan elegan Putri Rayna.
Begitu Raja Adrian melihat Dhafin, salah satu musuh besarnya, sepasang mata angkuhnya melotot garang seolah hendak melahap hidup-hidup pemuda itu.
Dia belum tahu kalau pemuda bercamping hitam itu adalah Brian. Karena memang wajah Brian tersamar oleh campingnya itu.
Kalau seandainya dia tahu, tentu dendam kesumatnya makin membakar kebenciannya kepada adiknya itu. Brian juga adalah salah satu musuh besarnya.
Sedangkan Putri Rayna, melihat kawan-kawan Dhafin yang tidak sesuai jumlahnya dengan yang dilihatnya dalam cermin ajaibnya, seketika membuatnya terkejut heran.
Waktu dilihatnya dalam cermin paling tidak jumlah pasukan yang dibawa Dhafin sekitan 300-an. Dan ada pasukan perempuan, bahkan tidak sedikit.
Sekarang pasukan itu cuma ada 11 orang dan semuanya laki-laki. Kemana yang lain? Apa masih ada di dalam penjara?
Seketika dia mengerahkan ilmu pelacak detak jantung untuk mengetahui apakah di dalam penjara masih ada orang selain yang ada di depan pintu penjara.
Dhafin yang tidak lepas mengamati Putri Rayna tahu apa yang sedang dilakukan wanita cantik itu. Lantas dia tersenyum karena mendapat cela untuk menyapanya dengan menyindir secara halus.
"Siapa yang kamu cari, Tuan Putri Rayna Cathrine?" tanya Dhafin bernada kalem seraya tersenyum. "Apa orang-orang yang sudah tidak ada di tempat ini yang Tuan Putri cari?"
Ucapan itu memang diucapkan dengan sopan dan kalem. Namun jelas mengandung sindiran.
Putri Rayna tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya mendengar sindiran Dhafin barusan. Lebih terkejut lagi ternyata sudah tidak ada lagi detak jantung yang terdengar di dalam penjara.
Itu artinya Raja Darian serta 4 orang kepercayaannya sudah tidak ada lagi dalam penjara. Itu artinya sebagian besar pasukan yang dibawa Dhafin telah meninggalkan tempat ini.
"Tidak mungkin!" bantahnya dalam hati. "Sukar dipercaya mereka bisa lolos dari Segel Jaring Langit."
Sedangkan Raja Adrian tidak terkejut mendengar ucapan Dhafin, tapi keheranan. Lebih heran lagi ketika melihat ekspresi terkejut bibinya. Ini pasti ada apa-apanya pikirnya.
"Tuan Putri sepertinya tidak percaya kalau kami bisa lolos dari Segel Jaring Langit," sambung Dhafin masih bergaya kalem dan tenang. "Tapi kenyataannya begitu. Bahkan kami berhasil menyelamatkan Yang Mulia Raja."
Sekarang ganti Raja Adrian yang terkejut. Dia tidak menyangka kalau Dhafin dan pasukannya dapat dengan mudah menyelamatkan Raja Darian. Itu artinya Segel Jaring Langit tidak ada apa-apa bagi mereka.
"Bibi, kenapa bisa terjadi begitu?" tanya Raja Adrian menuntut pertanggung jawaban. "Kenapa mereka bisa lolos dari Segel Jaring Langit?"
"Kamu diam saja, tidak usah bicara dulu!" sentak Putri Rayna sudah mulai murka.
Apa yang telah dilakukan Dhafin itu benar-benar sudah menjatuhkan harga dirinya sekaligus meremehkan kesaktiannya.
"Apakah hal itu berarti Dhafin lebih hebat darimu, Bibi?" tanya Raja Adrian bernada sinis, tidak menggubris bentakan Putri Rayna.
"Diam kataku!" bentak Putri Rayna lebih keras lagi. "Tidak ada yang lebih hebat dariku! Tahu kamu!"
"Kamu katakan tidak ada yang lebih hebat darimu," leceh Raja Adrian makin berani. "Tapi nyatanya lelaki keparat itu dan teman-temannya bisa meretas Segel Jaring Langit milikmu, bahkan bisa lolos darinya."
Raja Adrian sudah tidak bisa meredam kekesalan hatinya lagi. Kalau saja bibinya mengikuti sarannya untuk membunuh semua tahanan dengan cepat, tentu tidak akan begini jadinya.
Dengan berani pula dia menatap tajam pada Putri Rayna yang menatapnya dengan murka.
"Keparat!" Putri Rayna sudah tidak bisa lagi menahan murkanya. "Kamu sudah berani berlaku lancang kepadaku, Anak Sialan!"
Putri Rayna menggerakkan kedua tangannya hendak melakukan sesuatu. Maksudnya hendak menyerang Raja Adrian dengan kesaktian sihirnya. Namun salah seorang pengawal Raja Adrian langsung menangkap kedua tangan wanita itu.
"Guru, tolong jangan menuruti perasaan," ucapnya memelas. "Yang Mulia hanya sedang kesal saja. Tolong Jangan diambil hati. Musuh masih ada di depan, Guru."
Pengawal Pribadi Raja Adrian yang satunya membujuk raja angkuh keras kepalanya itu dengan lemah lembut sembari mengelus-elus tangannya.
"Yang Mulia, jangan membuat Guru makin marah. Situasi seperti ini tidak baik bertengkar dengan Guru. Musuh masih ada di depan. Tahanlah dulu kekesalan Yang Mulia."
__ADS_1
Mendengar ucapan pengawal cantik yang ternyata salah satu muridnya itu seketika Putri Rayna tersadar kalau ada masalah besar yang harus diselesaikan ketimbang bertengkar dengan keponakan sekaligus muridnya.
"Siapkan saja pasukanmu untuk menangkap Dhafin dan kawan-kawannya itu!" kata Putri Rayna bernada ketus bercampur dingin. "Jangan coba-coba berlaku lancang kepadaku!"
Setelah itu dia melangkah menuju depan pasukan yang diikuti oleh kedua Pengawal Pribadi-nya. Sedangkan Raja Adrian hanya mendengus kecil saja. Namun kembali pengawal cantiknya membujuknya agar tenang.
★☆★☆
Cuma Dhafin yang memandang Putri Rayna yang kini sudah berdiri anggun penuh elegan di depan pasukan istana. Sedangkan yang lainnya tidak ada yang berani menatap mata wanita penyihir itu.
Sementara Keenan tidak pernah lepas mengamati gerak-gerik Raja Adrian. Dia ditugaskan menyegel gerakan raja angkuh itu kalau saatnya tiba.
Dia sudah bisa mengukur sampai di mana kehebatan Raja Adrian. Dan berapa kadar tingkatan penyegelannya, dia sudah tahu.
Sedangkan Putri Rayna juga menatap Dhafin penuh kemesraan sambil tersenyum manis. Seolah menebar pesona kecantikannya kepada Dhafin. Rupanya dia sudah mulai menerapkan ilmu pemikatnya.
Dia penasaran sekali dengan karakter Dhafin ini. Wajahnya begitu tampan, sifatnya begitu santun, pembawaannya begitu tenang. Dia sudah mengkhayalkan bagaimana merasakan kelelakian pemuda seperti Dhafin.
"Hati-hati, Tuan Putri," kata Dhafin masih tenang dan kalem disertai senyum menawan, "nanti ilmu sihirmu itu akan berbalik pada Tuan Putri."
Mendengar ucapan itu Putri Rayna langsung terkejut. Tak disangka kalau Dhafin mengetahui dia mengerahkan ilmu pemikatnya. Membuatnya hilang kewaspadaan 5 helaan napas.
Sedangkan Dhafin benar-benar memanfaatkan waktu yang amat singkat itu untuk melancarkan kekuatan ghaibnya yang dipadu oleh kekuatan batinnya.
Dengan cepat kedua tangannya diangkat setengah merentang ke depan. Kedua telapak tangannya yang terbuka lebar menguarkan hawa bening.
Sementara di sekitar tempat Putri Rayna berdiri seketika muncul semacam hawa padat tak berwujud dan langsung bergulung-gulung di sekeliling tubuh Putri Rayna.
Bukan saja Putri Rayna yang terkejut. Kedua pengawalnya yang tak pernah jauh darinya bahkan amat terkejut hingga mereka terlonjak 2 langkah ke belakang.
Awalnya Putri Rayna terkejut lagi. Tapi dia segera tersadar kalau Dhafin sudah mulai mengajaknya bertarung dengan mengadu kekuatan ghaib.
Kini dia berhasil memagari dirinya dengan kekuatan ghaibnya. Akan tetapi dia terlambat sedikit saja.
Hawa tak berwujud sudah terlanjur bergulung-gulung di sekeliling tubuhnya. Meski tidak sampai melilit sekujur tubuhnya, namun dia sudah terkurung oleh kekuatan ghaib Dhafin.
Sehingga hawa tak berwujud itu terus saja berputar-putar mengurung sekeliling tubuhnya.
Hampir bersamaan kejadian aneh juga terjadi pada Raja Adrian dan 2 pengawal cantiknya yang berdiri amat dekat dengannya. Hal itu diakibatkan oleh Keenan yang mengerahkan mantra penyegelnya.
Seketika di dekat kaki mereka keluar sebentuk benda bening warna kuning dari dalam tanah berbentuk segi 4. Kontan saja mereka terkejut bukan main.
Belum sempat mereka menyadari apa yang terjadi, dengan cepat benda aneh itu naik ke atas dan dengan cepat pula benda bening bagai kaca itu seketika membentuk kotak setinggi 5 hasta.
Hingga tak lama, Raja Adrian dan kedua pengawalnya terpenjara dalam mantra ghaib Keenan yang berbentuk kubus warma kuning bening.
Namun mereka tidak mau larut dalam keterkejutan. Dengan mengerahkan kesaktiannya Raja Adrian menghantam dengan kuat kubus itu. Kedua pengawal cantiknya juga ikut-ikutan.
Namun benda itu jangankan hancur, retak pun tidak. Mereka layaknya menghantam benda alot yang amat susah dihancurkan.
Sementara pada Putri Rayna juga terjadi keanehan selanjutnya. Hawa tak berwujud yang bergulung-gulung di sekeliling tubuhnya tiba-tiba langsung berubah menjadi tabung bening bagai kristal kaca.
Sehingga kini Putri Rayna terkurung dalam tabung silinder yang tingginya sekitar 5 hasta pula. Itulah wujud dari mantra ghaib Dhafin.
Hingga akhirnya kini kedua orang penting Kerajaan Amerta itu terkunci dalam segel mantra ghaib Dhafin dan Keenan.
Namun Putri Rayna terus saja mengerahkan kesaktiannya untuk menghancurkan tabung silinder aneh itu.
Sedangkan Raja Adrian dan 2 pengawalnya masih memukul-mukul kubus itu meski belum juga kunjung hancur. Tapi karena sudah capek dan kesal, akhirnya Raja berhenti dan menyuruh kedua pengawalnya juga berhenti.
Selagi dia dan kedua pengawalnya beristirahat, terdengar Dhafin berkata yang jelas menyindir.
__ADS_1
"Apa kamu dan kedua pengawalmu itu sudah mengerahkan seluruh kekuatan untuk menghancurkan segel itu, Raja Adrian?"
Dengan cepat Raja Adrian menatap garang pada Dhafin. Hampir saja dia melesat hendak membunuh Dhafin kalau tidak ingat dia dalam penjara mantra.
★☆★☆
Sejenak dia memandang seluruh pasukannya yang berada di kiri kanan halaman penjara yang sudah menghunus pedang. Lalu memandang sekitar 2000 pasukan panah yang ada di belakangnya.
Sejurus lamanya dia ragu, apakah suaranya bisa keluar atau tidak dari dalam segel ini. Masalahnya dia hendak memerintahkan pasukannya untuk menyerang.
"Tenang saja, Raja Adrian, suaramu bisa keluar," kata Keenan seolah tahu kebingungan Raja Adrian. "Silahkan kamu perintahkan pasukanmu yang mana yang kamu ingin cepat mati."
"Keparat!" dampratnya tak bisa lagi menahan amarah. "Pasukana panah, panah mereka!"
Benar saja, perintahnya dapat didengar oleh kepala regu panah. Maka dengan cepat dia perintahkan sekitar 2000 pasukan pemanah untuk memanah Dhafin dan kawan-kawannya yang masih berdiri di depan penjara.
Tak butuh waktu lama sekitar 2000 anak panah langsung meluncur ke arah pintu penjara dengan cepat bagai derai hujan lebat.
Sementara sebelas pemuda di depan pintu penjara itu seketika membentuk barisan berjajar dengan cepat. Lalu mereka menggerak-gerakkan kedua telapak tangan masing-masing dengan gerakan tertentu.
Lalu secara bersamaan seakan ada yang mengomando mereka mendorong kedua telapak tangan mereka perlahan-lahan ke depan. Maka setelah itu terbentuklah semacam perisai bening 3 langkah di depan mereka.
Sementara 2000 anak panah terus meluncur dengan deras bagai air hujan ke arah 11 pemuda itu. Hingga akhirnya seluruh anak panah itu menancap di perisai yang ada di depan mereka.
Namun belum juga lama 2000 anak panah itu menacap, seakan ada yang mengomando, kesebelas pemuda tampan itu seketika dengan cepat dan kuat mendorong kedua telapak tangan mereka ke depan.
Maka seluruh anak panah itu langsung berbalik kembali ke asalnya dengan lebih cepat dan lebih ganas dari datangnya tadi. Sehingga pasukan pemanah belum sempat menghindar mereka sudah tertancap anak panahnya sendiri.
Tidak butuh waktu lama terdengar jeritan-jeritan kematian yang ditingkahi bertumbangnya separuh lebih pasukan pemanah. Sedangkan yang masih hidup kurang dari 500 personel.
Tidak ada yang bisa dilakukan oleh Raja Adrian selain hanya terkejut. Dalam waktu singkat 1000 lebih pasukan pemanahnya terbunuh dengan mudah.
Sedangkan Putri Rayna, seolah tidak perduli apa yang sedang terjadi, dia terus saja mengerahkan kesaktiannya untuk menghancurkan mantra penyegel milik Dhafin.
Sementara itu, Brian mencabut pedangnya dan terus mengangkat pedang itu di depan atas kepala dengan gagang berada di atas sedangkan ujung pedang menghadap ke bawah.
Lalu Brian melepas pedangnya begitu saja hingga pedang itu jatuh ke bawah. Terus dengan ajaib pedang itu amblas masuk ke dalam tanah begitu ujungnya mencapai lantai halaman depan penjara.
Sementara Raja Adrian yang sudah murka setengah hidup langsung memerintahkan seluruh pasukannya yang berjumlah ribuan itu untuk menyerang 11 pemuda itu.
Namun belum hilang gema teriakan Raja Adrian, Brian seketika melenting ke depan dengan cepat. Lalu hinggap di lantai halaman penjara dengan ringan.
Kemudian kedua tangannya merentang ke samping dengan jeriji terkembang. Lalu seketika kedua telapak tangannya disentak ke atas dengan cepat dan kuat. Maka keanehan segera terjadi.
Seketika sekumpulan kelopak bunga bercahaya warna merah yang amat banyak keluar dari dalam tanah dan langsung terapung di udara.
Begitu Brian meyentak kedua telapak tangannya ke samping, maka sekitar 1000 kelopak bunga bercahaya itu langsung menyerang dengan cepat para pasukan yang sedang berlari maju untuk meyerang.
Karena tidak menyangka ada serangan aneh seperti itu,
maka dengan mudah saja kelopak-kelopak bercahaya itu menghantam para pasukan itu dengan telak.
Kembali jeritan-jeritan kematian terdengar. Ditingkahi bertumbangnya ratusan pasukan dengan bersimbah darah. Tampak di tubuh-tubuh mereka menancap dengan amblas kelopak bunga bercahaya.
Sekali lagi Brian menyentak kedua telapak tangannya. Maka 1000 kelopak bunga bercahaya kembali menghantam sebagian jawara dan ratusan pasukan yang menyerang.
Sebagian jawara dapat menghindari atau menghalau dengan senjata mereka sekumpulan kelopak bunga itu.
Sedangkan yang lainnya bersama ratusan pasukan istana tidak dapat menghindar. Sehingga mereka tertancap kelopak bunga itu tanpa ampun.
★☆★☆★
__ADS_1