
Sementara itu, sekitar setengah mil di depan pasukan Bunda Suri ternyata juga sudah bersiaga tempur Pasukan Gabungan Istana Centauri.
Mereka juga tampak sudah membentuk barisan pasukan beberapa kelompok yang dipimpin oleh kepala pasukan masing-masing. Salah satu kepala pasukan itu adalah Chafik. Dia memimpin sekitar 5.000 Pasukan Khusus dari Markas Centaurus.
Juga Jenderal Abiela dan Jenderal Danita; 2 gadis cantik itu sudah bersiaga memimpin pasukan masing-masing.
Sementara jajaran pasukan paling depan diisi oleh ribuan ksatria dan jawara elit. Paling depan lagi sedikit telah berdiri berjajar Pangeran Ghavin dan Pangeran Revan berdiri berjajar Kelvin, Hendry
Di samping kanan Dhafin berdiri berjajar Gibson, Aziel, dan Zafer. Sedangkan di samping kiri Pangeran Revan berdiri berjajar Brian, Kelvin, Hendry dan Keenan.
Terdapat juga di dalam jajaran para ksatria yaitu Jessica, Fariza Luna, Kaluna, dan Malinka. Sementara anggota pasukan Jessica maupun Fariza dilebur jadi satu yang dipimpin oleh Komandan 1 Penyelidik Rahasia yang berasal dari pasukan senior Istana Centauri.
Para ksatria dan jawara itu berposisi sekitar 8-9 tombak dari kelompok pasukan lainnya yang berbaris rapi di belakang.
Di manakah posisi Ratu Aurellia?
Ternyata gadis cantik itu berada di tengah-tengah pasukan yang membentuk kelompok-kelompok itu. Gadis cantik itu sudah diitari oleh 4 pengawal cantiknya, Putri Kayshila, Putri Athalia, Putri Arceria, Putri Raisha dan Zelyne.
Di belakang Yang Mulia Ratu sudah bersiaga 100 Pengawal Khusus-nya yang terdiri dari 50 pasukan senior dan 50 pasukan junior.
Tampak gadis-gadis cantik itu sedang berbincang-bincang seolah mengisi kegaringan suasana menjelang perang. Juga Pangeran Revan tengah berbincang-bincang dengan rekan-rekan yang lain.
"Sepertinya Pejabat Choman tidak ada dalam pasukan itu," gumam Pangeran sambil mengamati keadaan pasukan Bunda Suri Hellen.
Memang tidak ada Pejabat Choman dalam barisan pasukan yang akan berperang itu. Juga tidak ada para putra Raja Ghanim. Yang ada beberapa orang Guru Besar perguruan beladiri. Termasuk Guru Grayson.
"Lelaki pengecut itu mana mungkin ikut dalam perang seperti ini," celetuk Kelvin seolah asal bicara saja. "Dia pasti masih bersembunyi di balik ketiak Bunda Suri."
"Sepertinya ini merupakan strategi mereka, Pangeran," kata Dhafin berpendapat, seolah tidak menghirau celotehan Kelvin. "Mereka menyimpan pasukan inti di istana...."
"Kalau kita mau masuk ke istana, berarti kita harus menumbangkan dulu pasukan itu," kata Brian seolah menjelaskan ucapan Dhafin. "Begitu 'kan?"
"Benar," kata Dhafin. "Kita harus mengalahkan mereka dulu baru kita bisa masuk ke istana."
Sementara itu pula Ratu Aurellia bertanya kepada Zelyne.
"Nona Zelyne, apa kamu tahu siapa komandan perang mereka itu?"
"Dulu mereka sebenarnya ada 5 orang, Yang Mulia," sahut Zelyne menjelaskan secara singkat. "Tapi sekarang tinggal dia sendiri, karena yang empatnya sudah dibunuh oleh Pangeran Ghavin."
"O, rupanya dia yang hampir membunuh kanda sehingga jatuh ke dalam jurang," gumam Putri Kayshila seolah bicara sendiri.
"Benar, Tuan Putri," kata Zelyne. "Dia dan 4 temannya waktu itu diutus ke Kampung Naraya untuk membunuh Tuan Pangeran Ghavin...."
"Namun mereka cuma berhasil membunuh pelayan Tuan Pangeran waktu itu. Sedangkan Tuan Pangeran mereka sangka sudah mati karena jatuh ke dalam jurang. Tak tahunya masih hidup...."
"Apa kamu tahu kehebatan orang itu sampai di mana, Nona Zelyne?" tanya Ratu Aurellia ingin tahu.
"Tentu kehebatannya sekarang ini sudah berada di atas Pejabat Choman...."
★☆★☆
Sementara itu pula Komandan Perang Pasukan Bunda Suri tengah berbincang-bincang dengan beberapa Guru Besar yang mensejajarkan kuda mereka dengannya.
"Guru Grayson, aku melihat mereka tidak mempunyai pasukan panah," kata Komandan Perang sambil tak lepas mengamati pasukan lawan. "Apa mereka meremehkan kita?"
"Saya rasa tidak, Tuan Komandan," sahut Guru Grayson menduga. "Saya menduga mereka tengah menyembunyikan sesuatu. Sebaiknya Tuan Komandan berhati-hati dalam bertindak."
__ADS_1
"Apa kalian tahu siapa orang-orang yang berada di barisan paling depan itu?" tanya Komandan Perang.
Para Guru Besar yang berada di samping kiri kanan sang komandan seperti bersepakat menduga kalau mereka adalah para ksatria elit Istana Centauri.
Dan Guru Grayson menambahkan kalau itu memang strategi lawan dalam setiap pertempuran mereka.
Setelah berpikir agak lama, Komandan Perang memerintahkan pasukan panah untuk bersiap-siap. Sedangkan para Guru Besar tidak ada yang berani mencegah perintah Komandan Perang itu.
Guru Grayson hanya menasihatkan agar berhati-hati.
Tak lama kemudian, pasukan panah yang berjumlah sekitar 10.000 personil sudah bersiap memanah. Anak panah sudah terpasang di busur. Dan sang busur sudah di arahkan ke pasukan lawan. Lebih tepatnya di arahkan ke pasukan jawara yang paling depan.
Sementara Ratu Aurellia, melihat lawan sudah bersiap-siap menyerang dengan panah, dia tersenyum kecil. Setelah itu dia memerintahkan semua pasukannya untuk bersiap menyerang.
Kemudian dia melakukan gerakan kedua telapak tangan di depan dada. Setelah itu telapak tangan kanan ditegakkan di depan dada, sedangkan telapak tangan kiri direntangkan lurus ke depan.
Tidak lama kemudian, tangan kiri Ratu Aurellia sudah menggenggam busur panah bercahaya bening warna biru. Itulah Panah Cakra Langit!
Rupanya pasukannya mengandalkan dirinya untuk menggempur lawan dari jarak jauh. Dan sang ratu akan menggunakan Panah Cakra Langit. Hal ini sesuai yang sudah mereka sepakati bersama.
Tampak Putri Athalia, Putri Arcelia, dan Zelyne serta beberapa orang lainnya juga memandang takjub mana kala melihat panah berkekuatan magis itu.
Tapi mereka tidak bisa lama-lama mengagumi panah cahaya biru itu, karena Ratu Aurellia sudah memerintahkan mereka untuk bersiaga lagi. Sedangkan sang ratu sudah bersiap-siap membidikkan panahnya ke arah pasukan Bunda Suri Hellen.
Sementara itu Komandan Perang pasukan Bunda Suri sudah mengangkat tangan kanannya ke samping. Begitu tangan kanannya itu diturunkan ke depan dengan cepat, maka kepala pasukan panah langsung berteriak.
"Panaaahhhh....!"
Tanpa menunggu perintah 2x pasukan panah langsung melepas anak panah yang sudah terpasang. Maka meluncurlah bagai hujan yang mematikan ribuan anak panah ke arah para jawara, bagian terdepan pasukan Ratu Aurellia.
Siapa saja yang melihat luncuran ribuan hujan anak panah itu, tentu akan bergidik ngeri. Akan tetapi para jawara sepertinya tidak panik menghadapi serangan itu.
Lalu kejap berikut terbentuklah semacam perisai dari cahaya bening di atas kepala mereka, dan perisai bening itu saling menyatu antara satu sama lain, sehingga membentuk perisai memanjang.
Tak lama kemudian, ribuan anak panah itu jatuh di atas kepala mereka tanpa dapat dicegah. Lebih tepatnya jatuh di atas bentangan perisai yang melingkupi seluruh jawara yang ada di bawahnya.
Ribuan anak panah itu cuma menancap saja di bentangan perisai bening itu. Tanpa ada satu anak panah pun yang berhasil menembus perisai magis itu.
★☆★☆
Melihat kejadian menakjubkan itu, bukan main kagetnya Komandan Perang itu. Sampai dia terperangah untuk beberapa saat lamanya.
Sedangkan Guru Grayson dan beberapa Guru Besar lainnya, meski sudah menduga kalau peristiwa itu bakal terjadi, tapi tak urung mereka sedikit terkejut juga. Hal itu menunjukkan betapa hebatnya kesaktian para ksatria itu.
Sementara Ratu Aurellia, begitu melihat ribuan panah lawan tak ada yang melukai sedikitpun pasukannya, dia langsung melepas Panah Cakra Langit ke atas langit di mana para pasukan panah lawan berada di bawahnya.
Tiga kali Ratu Aurellia melakukan pelepasan anak panah. Maka melesatlah dengan cepat 3 anak panah bercahaya biru ke arah langit.
Begitu 3 anak panah bercahaya bening warna biru itu sudah mencapai ketinggian tertentu, lalu dengan cepat ujung anak panah biru itu berbalik mengarah ke bawah.
Kemudian tanpa menunggu lama-lama, 3 anak panah itu langsung meluncur dengan cepat ke bawah di mana pasukan panah Bunda Suri berada.
Namun baru saja meluncur turun, seketika 3 anak panah itu membelah menjadi banyak sekali. Kira-kira mencapai ribuan anak panah bercahaya biru.
Maka meluncurlah bagai hujan dengan cepat ribuan anak panah dan langsung menghantam sekitar 10.000 pasukan panah tanpa mereka bisa berbuat apa-apa.
Masalahnya Panah Cakra Langit itu, begitu menghantam sasarannya langsung menciptakan daya ledak yang cukup dahsyat. Sehingga semua pasukan panah langsung terlontar ke udara cukup tinggi.
__ADS_1
Sementara sebagian pasukan berkuda dan pasukan pejalan kaki yang berada di dekat pasukan panah ikut terkena ledakan Panah Cakra Langit. Sehingga sebagian mereka ikut binasa bersama pasukan panah.
Sedangkan sebagian besar pasukan berkuda berlari ke samping menyelamatkan diri. Sedangkan sebagian besar pasukan pejalan kaki lari mundur ke belakang.
Sementara para jawara istana dan Komandan Perang serta beberapa Guru Besar perguruan langsung berlari ke depan menyelamatkan diri.
Sehingga dalam waktu singkat, cuma 1x serangan saja, Ratu Aurellia sudah dapat membuat barisan pasukan lawan berantakan.
Melihat situasi yang menguntungkan itu, Ratu Aurellia tidak membuang-buang waktu. Seketika dia berteriak keras dengan suara yang menggelegar, memerintahkan semua pasukannya untuk menyerang.
"Seraaang...!"
"Seraaang...!"
"Seraaang...!"
Maka serta merta seluruh komandan pasukan dan kepala pasukan langsung memerintahkan pasukannya untuk menyerang.
Tampak Chafik dan dua kepala pasukan memimpin pasukannya menggempur pasukan berkuda yang berlari ke sebelah kanan. Sedang Abiela, Danita dan 2 kepala pasukan memimpin pasukannya untuk menyerang pasukan berkuda yang berlari ke sebelah kiri.
Sedangkan seluruh ksatria dan jawara Istana Centauri langsung menggempur para jawara berikut para pimpinannya yang masih kocar-kacir menghindari ledakan Panah Cakra Langit.
Tampak Pangeran Revan melesat dengan cepat. Namun seketika tubuhnya lenyap. Dia diikuti oleh Dhafin, Brian, Gibson, Aziel, Kelvin, Keenan, Zafer serta sekian ksatria elit lainnya.
Akan tetapi tak lama, tahu-tahu mereka langsung muncul di depan lawan yang sudah menjadi target mereka.
Dhafin yang masih melayang di udara, seketika muncul di depan kuda Komandan Perang yang sibuk mengendalikan kudanya yang sempat liar akibat ledakan.
Telapak tangan Dhafin yang telah berisi tenaga dalam tinggi langsung menghantam kepala tunggangan sang Komandan Perang hingga rengkah.
Kuda itu langsung terlempar ke belakang sambil meringkik mengerikan. Sedangkan sang Komandan Perang segera melenting ke udara. Sehingga dia tidak ikut terlempar ke belakang bersama kudanya. Namun cukup membuatnya terkejut akan serangan itu.
Selepas melenting ke udara, Komandan Perang langsung mendarat ringan dan manis di atas tanah. Ketika sepasang kaki kokohnya menyentuh tanah, nyaris tidak terdengar. Menandakan ilmunya sudah mencapai tingkat yang tinggi.
Sejenak dia menatap Dhafin dengan tajam. Sedangkan Dhafin cuma berdiri diam di tempatnya seraya tersenyum kecil.
"Apa kamu sudah siap menyusul 4 orang kawanmu, Tuan Komandan?" kata Dhafin bernada kalem dan bersikap tenang. Senyum tipisnya masih terkembang di bibirnya.
Mendengar ucapan itu sang komandan segera paham kalau pemuda di depannya ini yang telah membunuh 4 kawannya yang menjadi pengawal Pejabat Choman.
"Huh! Jangan kira kamu telah membunuh 4 kawanku, lantas kamu begitu mudah mengalahkanku?" balas Komandan Pasukan mendengus sinis. "Jangan terlalu pongah, Anak Muda!"
"Kamu kira aku tidak bisa membunuhmu dengan mudah, Komandan?" kata Dhafin tetap kalem dan tenang.
"Lima orang lelaki keparat yang telah membunuh bibiku tinggal kamu. Jadi, sebelum aku membunuhmu, berdoalah agar Penguasa Langit mengampuni atas segala dosa yang kamu perbuat...."
Komandan Perang itu terkejut mendengar ucapan Dhafin barusan. Ingatannya segera kembali pada 15 tahun lebih yang lalu, di mana dia dan 4 rekannya telah membunuh seorang wanita dan menyebabkan seorang bocah 5 tahunan jatuh ke dalam jurang.
Dan begitu dia memandang secara seksama wajah Dhafin, maka dia menemukan pada diri Dhafin sama dengan bocah yang jatuh ke dalam jurang waktu itu. Tentu saja hal itu membuatnya tambah terkejut. Karena tidak menyangka bocah yang dikira sudah mati bisa muncul di depannya sekarang ini.
"Kamu terkejut mengetahui kalau aku masih hidup, Tuan Komandan?"
"Phuih!" Komandan Perang segera menepis keterkejutannya dengan meludah dengan geram ke tanah. "Tikus busuk sepertimu tidak ada artinya di mataku. Jadi, jangan besar kepala dulu...."
"Sepertinya Penguasa Langit masih berpihak padamu sehingga tidak sampai membunuhmu waktu itu. Namun sekarang kamu akan benar-benar mati...."
"Hiyaaat....!"
__ADS_1
Dengan gerakan amat cepat sang komandan langsung menerjang Dhafin tanpa kenal ampun. Pada gebrakan pertama dia langsung menggunakan salah satu jurus andalannya. Dengan harapan dapat membunuh Dhafin dengan segera.
★☆★☆