Pangeran Yang Hilang

Pangeran Yang Hilang
BAB 125 DHAFIN BERTEMU DENGAN WAKIL KETUA GALEN


__ADS_3

Berjalan berdua dengan orang yang dicintai senangnya bukan main. Hati selalu bahagia setiap saat dan di manapun berada. Itulah yang dirasakan oleh Putri Lavina saat ini.


Tidak perduli Dhafin belum menjawab cintanya, tidak perduli Dhafin bersikap datar padanya. Yang terpenting baginya dia menikmati perjalanannya dengan damai.


Sedangkan Dhafin juga, meski bersikap datar tapi bukan berarti tidak perhatian kepadanya, bukan berarti tidak perduli akan keadaannya.


Selama perjalanan Putri Lavina berusaha bersikap baik. Bersabar akan sikap datar Dhafin. Terutama sikap angkuhnya dia tendang jauh-jauh.


Dhafin sebenarnya mengajukan untuk menggunakan teleportasi agar mereka cepat sampai ke kotaraja. Namun Putri Lavina tidak setuju.


Putri Lavina lebih memilih menempuh jalan normal saja dengan berkuda. Dia berterus terang kepada Dhafin kalau dia ingin menikmati perjalanannya bersama Dhafin.


Perlu diketahui bahwa Dhafin sama sekali tidak mengetahui rute menuju kotaraja kalau menempuh jalur normal. Jadi, selama perjalanan dia cuma manut ke mana Putri Lavina mengajaknya.


Jadi, Dhafin tidak menyadari kalau ternyata Putri Lavina mengajaknya ke wilayah barat terlebih dahulu. Maksud sang putri sudah jelas, ingin berlama-lama melakukan perjalanan bersama Dhafin.


"Sebenarnya berapa lama menempuh perjalanan berkuda untuk sampai ke kotaraja, Tuan Putri?" tanya Dhafin seperti curiga.


"Aku tidak tahu," kilah Putri Lavina. "Setiap aku bepergian, aku tidak menghitung berapa lama aku sampai ke tempat yang aku tuju. Begitu pula aku kembali ke kotaraja."


"Terus terang saya tidak tahu ke arah mana jalur kotaraja," kata Dhafin mengemukakan kecurigaannya. "Tapi kenapa saya merasa Tuan Putri melenceng dari jalur sebenarnya?"


Menyadari kalau Dhafin sebenarnya tidak bisa dibohongi, Putri Lavina langsung berterus terang saja.


"Tidak bisakah aku menikmati perjalanan lebih lama bersama orang yang aku cintai?"


Keterus terangan Putri Lavina membuat hati Dhafin menjadi gelisah. Kenapa sepupunya ini ikut-ikutan mencintai dirinya juga?


Lama-lama dia menjadi muak bertemu dengan wanita. Kenapa mereka lebih mudah jatuh cinta hanya karena melihat sesuatu yang disukai dari seorang pria?


Melihat Dhafin tampak dia saja, Putri Lavina melanjutkan ucapannya. Menumpahkan semua unek-uneknya bersama air matanya.


"Aku tidak menuntut agar kamu membalas cintaku, karena aku tahu amat sukar bagimu untuk mencintai gadis seperti aku; sombong, angkuh, judes, berhati jahat...."


"Gadis baik-baik seperti Jessica saja kamu menolak cintanya, apalagi gadis seperti aku. Aku cukup tahu diri. Tapi asal kamu tahu kalau aku mencintaimu semenjak dahulu kita berjumpa...."


"Makanya aku mohon padamu untuk mengerti aku yang mencintaimu barang sebentar saja. Aku ingin menikmati perjalanan bersamamu yang cuma sebentar ini...."


"Karena aku yakin setelah kamu menyembuhkan bundaku, kamu pasti meninggalkanku...."


Dhafin merasa kasihan juga melihat kesungguhan Putri Lavina yang mencintainya.


Gadis itu benar-benar menelanjangi perasaannya di hadapan orang yang dicintainya. Tanpa rasa malu dia mengakui secara terang-terangan kalau dia mencintai Dhafin.


Tapi seperti perkataan Putri Lavina kalau dia amat sukar mencintainya. Di samping karena Putri Lavina adalah sepupunya, juga hatinya sama sekali tidak tergerak untuk mencintai atau membalas cinta sang putri.


Sementara itu, mereka terus saja berjalan dengan mengendarai kuda. Sedangkan laju lari kuda tidak terlalu kencang.


Mereka melakukan perjalanan cuma siang hari. Ketika hari menjelang malam mereka menginap di penginapan yang merangkap kedai. Jadi sebelum istirahat malam mereka tidak perlu repot mencari pengisi perut.


Selama bersama Putri Lavina Dhafin berusaha untuk bersikap baik kepada sang putri. Tidak lagi bersikap datar padanya. Karena dia merasa tidak ada gunanya memusuhi sepupunya itu.


Putri Lavina tidak tahu apa-apa tentang perbuatan kotor ayahnya pada masa silam. Jadi, Dhafin memutuskan untuk bersikap baik kepada gadis yang kecantikannya bagai bidadari judes itu.


Menyayanginya sebagaimana layaknya seorang kakak kepada adiknya. Karena memang Putri Lavina tergolong adiknya.


Sikap baik Dhafin terhadap dirinya dimanfaatkan oleh Putri Lavina dengan sebaik-baiknya. Benar-benar dinikmati kasih sayang yang diberikan Dhafin kepadanya. Padahal Dhafin menyayangi Putri Lavina cuma sebagai adik.


★☆★☆


Ketika itu waktu masih tergolong pagi di hutan yang sunyi itu. Matahari masih bersinar lembut. Kira-kira waktu itu sudah pukul 8 lewat.

__ADS_1


Tampak Dhafin dan Putri Lavina berkuda menyusuri jalan berdebu yang di kiri kanannya ditumbuhi pepohonan yang cukup lebat.


Namun selagi asyik-asyiknya mereka melajukan kudanya, seketika 2 buah belati melesat dengan amat cepat ke arah kuda mereka.


Satu belati mengarak ke leher kuda Dhafin dari sebelah kanan dan satunya mengarah ke leher kuda Putri Lavina sebelah kanan.


Dhafin sudah menyadari adanya serangan gelap itu. Tapi dia tidak menghiraukan 2 belati yang mengancam nyawa kuda mereka. Dia lebih mengutamakan keselamatan Putri Lavina daripada kuda mereka.


Dengan cepat dia melesat dan menyambar tubuh Putri Lavina. Lalu membawanya melenting cukup tinggi ke udara.


Terang saja kejadian yang tiba-tiba itu membuat Putri Lavina terkejut bukan main. Belum hilang keterkejutannya sedangkan dia masih berada di atas udara, seketika dia mendengar ringkikan kuda mereka yang menjerit kesakitan.


Tampak kedua kuda itu melejang liar di sekitar situ. Tak lama kedua kuda itu langsung jatuh bergedebuk. Menggelepar-gelepar sebentar, lalu mati.


Kedua kuda itu cepat mati karena belati yang menancap di leher keduanya beracun. Sepertinya jenis racun itu adalah racun yang amat ganas dan bereaksi begitu cepat.


Sementara Dhafin dan Putri Lavina sudah kembali berpijak di tanah. Mereka tidak menghiraukan lagi nasib kedua kuda yang malang itu. Mereka segera mengedarkan pandangan ke sekeliling.


Dhafin dapat mengetahui kalau 2 penyerang gelap itu ada di balik pepohonan dan semak-semak di kiri kanan jalan.


Dhafin meyakini kalau jumlah yang bersembunyi di balik pepohonan dan semak belukar buka cuma 2 orang, tapi lebih bahkan banyak.


Mengetahui akan hal itu, Dhafin langsung waspada penuh. Putri Lavina tidak dibiarkan jauh jaraknya dengannya.


"Jangan jauh-jauh dari saya, Tuan Putri!" kata Dhafin bernada pelan memperingatkan.


"Ya," kata Putri Lavina agak tercekat dan singkat.


Dia tidak bisa berkata banyak saat ini. Wajah cantiknya seketika berubah tegang meski tidak terlalu takut. Kewaspadaannya juga dipasang secara penuh.


Belum lama Putri Lavina merasakan suasana tegang, seketika berkelebat sosok-sosok serba hitam dari balik pepohonan dan semak belukar yang ada di sekitarnya.


Dhafin segera tahu kalau orang-orang serba hitam itu adalah Gerombolan Pedang Tengkorak.


Dia yang sudah terbiasa dikepung oleh bahaya tidak kaget lagi. Namun kewaspadaannya tidak pernah lalai walau sedikit.


Sedangkan Putri Lavina kini mulai ketakutan melihat orang-orang yang tidak dikenalnya mengepung dia dan Dhafin dengan rapat.


Apalagi tampang-tampang mereka begitu menyeramkan dengan pedang-pedang bergagang tengkorak yang sudah terhunus.


Putri Lavina nyaris tidak pernah menghadapi bahaya seperti ini. Hidupnya terlalu dimanjakan oleh prajurit istana dan pengawalnya yang menjaganya.


Sehingga menghadapi bahaya yang menyeramkan seperti ini dia malah ketakutan. Padahal dia memiliki beladiri yang cukup hebat dan kesaktian yang cukup tinggi.


Putri Lavina makin merapatkan dirinya pada Dhafin. Kegugupan tampak dari wajah cantiknya yang tegang Tapi meski begitu dia tetap memasang kuda-kuda.


"Saat menghadapi bahaya seperti ini, bukan ketakutan yang ditingkatkan, Tuan Putri," kata Dhafin berbisik seolah menasehati, "tapi ketenangan dan waspada yang harus ditingkatkan."


Entah dengar atau tidak, Putri Lavina diam saja. Pikirannya masih dipengaruhi oleh ketegangan dan ketakutannya.


Tapi meski dikuasai ketegangan dan ketakutan dia masih tetap waspada penuh.


★☆★☆


Di antara pengepung itu ada 5 orang yang tidak memakai topeng. Mereka berdiri di depan orang-orang bertopeng hitam. Dan mereka tepat berdiri di depan Dhafin dan Putri Lavina berjarak 4-5 tombak.


Salah seorang dari kelima orang yang tak bertopeng itu yang berdiri paling tengah agak ke depan Dhafin masih kenal. Dialah Wakil Ketua Galen, salah satu Waka Gerombolan Pedang Tengkorak.


Waka Galen menatap Dhafin dan Putri Lavina dengan tajam menyeramkan. Sorot matanya membinarkan kemarahan dan dendam.


"Anak Muda! Sebelum aku membunuhmu, sebutkan siapa namamu?" kata Waka Galen setengah membentak.

__ADS_1


"Kamu cukup memanggilku dengan Pangeran Pusat, Tuan Galen," kata Dhafin bernada kalem dan tenang.


Sejenak Waka Galen terkejut mendengar Dhafin telah mengetahuinya. Tidak menyangka pemuda yang menjadi musuh Gerombolan Pedang Tengkorak sejak dia masih kecil cukup luas pengetahuannya.


Tapi keterkejutannya cuma sebentar. Dia kembali menatap Dhafin dengan tajam penuh amarah.


"Apakah kamu orangnya yang sejak kecil sudah menentang Gerombolan Pedang Tengkorak, Pangeran Pusat?" tanya Waka Galen bernada tajam penuh selidik.


"Benar," sahut Dhafin masih tenang. "Dan aku sudah berjanji sedari kecil akan menghancurkan gerombolan pengacau itu hingga ke akar-akarnya."


"Nyalimu cukup besar juga, Pangeran Pusat," kata Waka Galen bernada dingin. "Tapi sayang nyawamu cuma sampai di sini saja."


Dhafin tidak mengomentari dulu ucapan Waka Galen yang bernada ancaman itu. Dengan cepat dia merapalkan mantra ghaibnya. Tak lama kemudian, Putri Lavina sudah berada dalam tabung bening.


Bukan saja Putri Lavina yang terkejut begitu menyadari tahu-tahu dia berada dalam tabung seperti terkurung. Waka Galen dan 4 bawahannya juga ikut terkejut.


Seketika mereka segera tersadar kalau pemuda itu jangan dianggap remeh.


"Kak Dhafin, kenapa aku tiba-tiba berada dalam kurungan begini?" tanya Putri Lavina panik.


"Tenang saja, Tuan Putri," Dhafin mencoba menerangkan, "itu bukan kurungan, melainkan mantra pelindung. Tuan Putri aman di dalam situ."


Mendengar keterangan itu Putri Lavina menjadi lega. Dia mengerti apa yang dikatakan Dhafin itu. Dan rasa takutnya sedikit berkurang meski masih tegang.


Sementara Dhafin sudah bersiap-siap melakukan kejutan berikutnya. Karena dia sudah melihat gelagat Waka Galen akan memerintahkan anak buahnya untuk mengeroyoknya.


"Sepertinya aku tidak boleh meremehkanmu, Pangeran Pusat," kata Waka Galen makin dingin. "Serang...!"


Namun belum juga anggota Gerombolan Pedang Tengkorak bergerak menyerang, Dhafin sudah mengangkat kedua telapak tangannya yang sudah dilingkupi oleh lidah-lidah anak petir ke atas dengan cepat.


Begitu kedua tangannya disentak turun ke bawah depan cepat dan kuat, maka ratusan anak-anak petir seketika jatuh begitu saja dari atas seolah muncul dari langit.


Duaaarrr...! Blaaarrr...! Duaaarrr...!


Blaaarrr...! Blaaarrr...! Duaaarrr...!


"Aaa...!"


"Aaakh...!"


"Aaa...!"


Seketika terdengar ledakan-ledakan cukup dahsyat yang memekakkan telinga ketika ratusan petir itu menghantam apa saja yang ada di bawahnya.


Di tengah-tengah ledakan itu terdengar jeritan-jeritan kematian yang begitu memilukan. Ditingkahi oleh tumbangnya tubuh-tubuh gosong para anggota Gerombolan Pedang Tengkorak yang terkena petir.


Sementara Waka Galen dapat membuat tameng terhadap dirinya dengan kesaktiannya sehingga dia tidak terkena anak-anak petir yang nyasar padanya.


Sedangkan keempat orang bawahannya melakukan hal yang sama. Namun cuma 2 orang yang tamengnya mampu menahan beberapa petir yang nyasar kepada mereka.


Sementara 2 orang lainnya kesaktian mereka tidak mampu menahan gempuran petir-petir itu. Sehingga tameng mereka hancur dan petir-petir itu langsung menghantam tubuh mereka tanpa ampun.


Sedangkan puluhan Gerombolan Pedang Tengkorak yang lainnya tidak ada yang mampu bertahan dari gempuran petir-petir ciptaan Dhafin barang seorang pun. Sehingga mereka tumbang semuanya tanpa ada sisa.


Sementara Putri Lavina tampak membelalakkan sepasang mata indahnya melihat fenomena mengerikan itu. Tidak menyangka seorang Dhafin dapat menciptakan suatu kekuatan yang begitu dahsyat seperti itu.


Sementara itu, suara-suara ledakan tidak terdengar lagi dan anak-anak petir hasil dari kesaktian Dhafin sudah tidak ada lagi. Sehingga tempat itu seketika saja diselubungi kesunyian.


Tampak debu cukup tebal beterbangan ke udara mengitari tempat itu. Sehingga beberapa saat lamanya debu tebal mengotori udara di sekitar situ.


★☆★☆★

__ADS_1


__ADS_2