
Dikarenakan jumlah kubu Pangeran Revan lebih sedikit dari jumlah kubu Pangeran Marvin, maka mengharuskan Pangeran Revan dan rekan-rekannya bertempur dengan lebih dari 1 lawan.
Akan tetap karena mereka memiliki kehebatan yang tinggi, hal seperti itu tidak menjadi kendala bagi mereka, tidak membuat mereka menjadi gentar. Mereka sudah memiliki tekad baja menghadapi musuh keroyokan.
Sementara itu, Putri Eveline masih bisa menahan untuk tidak ikut dalam pertempuran. Tapi dia tidak pernah lepas mengamati Dhafin yang bertarung melawan 6 orang.
Sampai sejauh ini dilihatnya Dhafin belum menggunakan senjata dalam bertarung. Sedangkan 6 lawannya sejak awal bertarung sudah menggunakan pedang.
Sedangkan Zelyne yang hampir tidak pernah lepas memandang Zafer, terus saja mengamati pertarungan Zafer melawan Pangeran Marvin tanpa berkedip.
Dia masih penasaran terhadap Zafer si Tudung Hitam. Dia hampir yakin kalau pemuda itu adalah teman masa kecilnya dulu yang terpisah selama 8 tahun lebih.
Mungkin kalau melihat wajahnya Zelyne baru bisa yakin apakah pemuda itu Zafer-nya yang dulu atau bukan.
Sementara itu, pertarungan antara Zafer dengan Pangeran Marvin masih terus berlangsung sengit. Namun hingga saat ini belum ada di antara mereka yang menggunakan senjata.
Hingga suatu ketika kedua telapak tangan mereka saling bertemu pada satu titik tengah. Maka ledakan agak keras langsung terdengar yang membuat Zelyne dan Putri Eveline terkejut.
Akibat dari kejadian itu baik Pangeran Marvin maupun Zafer sama-sama terseret kakinya ke belakang setengah tombak, lalu terjajar 3 langkah.
Zelyne tampak jelas mengkhawatirkan Zafer, sedangkan Putri Eveline mengamati kondisi kandanya baik-baik. Tapi mereka lihat kedua pemuda itu tampak baik-baik saja.
Setelah kejadian itu Zafer dan Pangeran Marvin tidak langsung kembali bertarung. Sehingga pertarungan terhenti sementara. Namun sepasang mata mereka saling menatap tajam penuh kemarahan.
"Tentu kamu masih ingat peristiwa di tengah hutan di ujung selatan kotaraja pada 8 tahun lebih yang lalu, Pangeran Marvin," kata Zafer bernada dingin mengungkap sebuah peristiwa.
Pangeran Marvin berusaha tidak tampakkan keterkejutan mendengar penuturan Zafer barusan. Tapi dia berusaha mengingat apa yang diungkapkan Zafer itu. Waktu itu....
"Waktu itu 5 orang suruhanmu menganiaya seorang bocah 13 tahun yang sudah yatim piatu hingga sekarat," lanjut Zafer mengungkap kejadian itu, "hingga kaki kiri dan tangan kanannya patah."
"...Sementara kamu menontonnya sambil tertawa kegirangan bagai menonton pertunjukkan yang lucu...."
Ya, peristiwa itu masih lekang dalam ingatan Pangeran Marvin seolah baru terjadi kemarin. Dia tidak menyesali akan perbuatannya itu.
Namun hatinya jelas terkejut dan mulai gelisah, jangan-jangan bocah 13 tahun itu adalah Zafer yang berdiri di depannya saat ini. Maka kini dia penasaran akan wajah pemuda yang tertutup kain itu.
Sementara Zelyne mencerna baik-baik ucapan Zafer itu. Dan menghubungkan dengan peristiwa penganiayaan terhadap Zafer-nya pada waktu yang sama.
"Tidak cukup kamu menyiksa bocah itu, bahkan kamu merusak wajahnya sekalian...," lanjut Zafer.
"Kalau begitu kamu adalah bocah yang waktu itu yang bernama Zafer?" tanya Pangeran tidak bisa lagi menahan keterkejutannya dan rasa penasarannya.
"Tepat! Bocah yang orang-orangmu siksa dan kamu rusak wajahnya waktu itu memanglah aku, yang kini berdiri di hadapanmu untuk balas dendam," sahut Zafer bernada dingin mengerikan.
Lalu tangan kanannya menarik turun kain hitam yang menutup separuh wajahnya. Maka tampaklah sebentuk wajah tampan yang dingin berbalut duka.
★☆★☆
Pangeran Marvin tidak bisa menahan keterkejutannya melihat wajah tampan Zafer yang mulus. Dia masih mengingat kalau yang di depannya itu adalah Zafer.
Dulu dia merusak wajah itu hingga tidak bisa dikenali lagi. Tapi sekarang kenapa malah tampak mulus?
Sedangkan Zelyne tidak bisa menahan keterkejutannya hingga dia menjerit kecil. Sepasang mata indah nan bulatnya membesar mana kala menatap wajah Zafer.
Tentu saja dia masih mengingat wajah tampan itu yang tidak terlalu banyak mengalami perubahan. Wajah yang selalu diingatnya hampir setiap desah napasnya.
Dan sudah berjanji kepada pemilik wajah itu akan selalu bersamanya selamanya.
Hampir saja gadis cantik itu menghambur ke tempat Zafer kalau tidak cepat ditahan oleh Putri Eveline.
"Kamu mau ke mana, Kak Zelyne?" tanya Putri Eveline seraya mendelikkan mata indahnya.
"Aku ingin menemui Kak Zafer-ku, Tuan Putri," kata Zelyne bernada memelas. Wajahnya sudah mewek, sedangkan mata indahnya sudah berkaca-kaca.
"Aku ingin minta maaf padanya," lanjutnya.
"Tidak bisakah kamu menahan perasaanmu itu barang sebentar?" tegur Putri Eveline. "Apa kamu tidak lihat kalau dia masih dalam mode bertarung dengan kandaku?"
__ADS_1
Meski ditahan oleh Putri Eveline, tapi Zelyne tidak putus akal agar supaya Zafer menoleh kepadanya.
"Kak Zafer!" serunya setengah berteriak.
Namun Zafer, jangankan menanggapi panggilan Zelyne terhadapnya, menoleh pun tidak. Dia masih fokus menatap tajam pada Pangeran Marvin.
Yang menangapi adalah Pangeran Marvin. Bahkan sempat menoleh sebentar. Setelah menetralkan perasaannya yang sempat tercengang, dia berkata sinis melecehkan.
"Nona Zelyne. Tidak pantas kamu bergaul dengan pemuda rendahan seperti dia. Kamu adalah nona bangsawan terhormat, sedangkan dia cuma pemuda miskin yang hina."
"Pangeran Marvin, aku tidak menyangka kamu setega itu terhadap Kak Zafer," kata Zelyne bernada ketus menegur. "Apa kesalahan yang dia perbuat terhadapmu sehingga kamu tega menganiayanya?"
"Kesalahannya karena dia berani lancang bergaul dengan nona bangsawan sepertimu," kata Pangeran Marvin bernada sengit. Jelas terselip kecemburuan dari sikap dan bicaranya.
Jelas dia cemburu terhadap Zafer karena Zelyne lebih memilih pemuda miskin itu ketimbang dirinya yang seorang pangeran.
Dia yang sejak lama sudah menyukai Zelyne, namun gadis itu sama sekali tidak melirik padanya. Sampai pun Zafer sudah dia singkirkan, berharap Zelyne melupakan Zafer, tetap juga hati gadis itu melirik padanya.
Bahkan ternyata Zelyne masih mengingat Zafer hingga sekarang. Bertapa geramnya hatinya.
"Tidak ada hak bagi pangeran mengatur dengan siapa aku bergaul," kata Zelyne bernada ketus dan tajam serta berani.
Pelipis dan rahang Pangeran Marvin bergerak-gerak pertanda menahan amarah. Keangkuhannya segera mendominasi wajah tampannya saat menatap kembali pada Zafer.
"Menyesal dulu kenapa aku tidak membunuhmu sekalian," kata Pangeran Marvin bernada dingin bercampur angkuh.
"Kalau begitu sekarang kamu hendak membunuhku?" kata Zafer bernada dingin seolah menantang.
"Keparat kamu, Manusia Rendah!"
Segera dia cabut pedangnya yang tersampir di sabuk sebelah kirinya. Lalu tanpa sungkan menyerang Zafer dengan ganas.
Sedangkan Zafer yang sudah menggenggam pedang di tangan kanannya tidak mau tinggal diam. Segera dia menyongsong serangan Pangeran Marvin.
Sehingga tidak butuh waktu lama mereka kembali terlibat dalam pertarungan yang kali ini menggunakan pedang.
Sedangkan Putri Eveline, setelah merasa yakin Zelyne tidak akan bertingkah bodoh lagi, kembali menyaksikan pertarungan Dhafin melawan para jawara elit.
★☆★☆
Pertarungan terus berlangsung semakin seru antara kubu Pangeran Revan dengan Pangeran Marvin....
Harus diakui kehebatan yang dimiliki para jawara istana. Kelincahan dalam memainkan jurus-jurus tangan kosong maupun bersenjata. Tenaga dalam yang tinggi yang dikerahkan pada setiap jurus yang mereka mainkan.
Akan tetapi yang mereka lawan adalah para pendekar Istana Centauri yang bukan saja memiliki tenaga dalam yang tinggi, bahkan juga memiliki energi sakti yang rata-rata sudah mencapai tingkat sempurna.
Walaupun dikeroyok mereka tetap bisa mengimbangi semua serangan lawan-lawan mereka. Bahkan sebagian sudah mendominasi pertarungan.
Sehingga belum lama setelah pertarungan antara Zafer melawan Pangeran Marvin kembali berlangsung, beberapa jawara istana sudah ada yang bertumbangan dengan bersimbah darah.
Tampak Aziel mengayunkan Sepasang Pedang Bulan-nya depan cepat dan keras, menghantam semua senjata 4 lawannya hingga ada yang terlempar, bahkan ada yang patah-patah.
Lalu kembali Aziel bergerak dengan amat cepat. Hampir tidak terlihat ayunan sepasang pedangnya. Tahu-tahu 4 lawannya sudah terkena tebasan pedangnya.
Dua orang dada dan perutnya robek besar, seorang lehernya nyaris petugas. Bahkan seorang lehernya putus.
Sedangkan Dhafin yang masih belum bersenjata melawan 6 jawara yang mengeroyoknya seketika tangan kanannya menangkap pedang salah seorang lawannya dengan sigap.
Lalu pedang itu ditarik dengan kuat hingga terlepas. Terus telapak tangan kirinya yang sudah terbungkus hawa dingin langsung menggedor dada lawan hingga terlempar jauh.
Belum juga jatuh ke tanah, tubuh sang lawan sudah berubah menjadi es batu. Begitu jatuh ke tanah langsung hancur berantakan.
Sementara Dhafin terus bergerak memainkan pedang rampasannya dengan lincah, cepat, kuat. Sehingga ayunan pedang itu tidak terlihat. Tahu-tahu semua lawannya sudah menjerit setinggi langit.
Setelah itu mereka tumbang dengan luka yang parah dan mengerikan. Kembali darah-darah segar mengalir keluar.
Setelah itu susul menyusul Pangeran Revan, Kelvin dan Keenan menebas habis lawan-lawannya yang mengeroyok mereka hingga semuanya tewas.
__ADS_1
Menyusul Brian, Gibson, serta 3 jawara Istana Centauri menumbangkan lawan mereka satu per satu.
Hampir bersamaan 3 orang jawara lainnya juga menumbangkan lawan masing-masing.
Sehingga hari masih sore semua jawara elit istana sudah terkapar di tanah berumput dengan bersimbah darah.
Sementara Putri Eveline yang melihat Dhafin sudah tidak punya lawan lagi, tanpa ada rasa takut dia segera menyerang Dhafin setelah menghunus pedangnya.
Tubuh rampingnya melesat dengan cepat, tahu-tahu dia sudah di depan Dhafin. Pedangnya diayunkan dengan sebat, hendak menebas leher Dhafin.
Namum dengan sigap Dhafin menangkis serangan maut itu dengan menggunakan pedang rampasan. Sehingga serangan pertama Putri Eveline gagal.
Tapi dia tidak kehabisan jurus. Segera dia lancarkan serang-serangan mematikan. Gerakannya begitu lincah dan cepat.
Sehingga tidak lama kemudian pertarungan antara Dhafin melawan Putri Eveline segera tercipta.
Perlu diketahui, kehebatan Putri Eveline melebihi para jawara istana. Sehingga melawan gadis itu Dhafin cukup dibuat kerepotan juga. Untung saja dia menggunakan pedang melawan gadis itu.
★☆★☆
Sementara Zelyne kini menjadi bingung di tengah rasa sedihnya. Dia tidak bisa menentukan, apakah membantu Putri Eveline melawan Dhafin atau terus menjaga kalau-kalau Zafer kenapa-kenapa.
Namun begitu dia melihat Zafer bisa mendominasi pertarungan melawan Pangeran Marvin, dia tidak terlalu khawatir lagi. Kini dia fokus menyaksikan pertarungan Putri Eveline melawan Dhafin.
Begitu dia melihat Putri Eveline seperti kesulitan dalam menumbangkan Dhafin, mau tidak mau meski terpaksa dia membantu junjungannya mengeroyok Dhafin.
Akan tetapi meskipun ketambahan tenaga bantuan, tetap saja Dhafin tetap susah ditumbangkan. Bahkan sekarang Dhafin tidak bermain-main lagi.
Hingga suatu ketika Dhafin berhasil membuat pedang kedua gadis itu lepas dan terlempar dari genggaman. Lalu Dhafin dengan cepat menotok kedua gadis itu hingga tidak bisa berdaya.
Karena tubuh mereka telah lemas akibat tertotok, akhirnya mereka menggelosor jatuh ke tanah berumput.
Keputusan Dhafin cuma melumpuhkan mereka tanpa membunuh, tentu dengan pertimbangan.
Zelyne tidak dibunuh karena selama bertarung dia tidak penuh mengerahkan kemampuannya. Pula dia adalah teman kecil Zafer. Bisa saja Zafer masih menyukainya. Biarlah keputusannya ditentukan sendiri oleh Zafer.
Sedangkan Putri Eveline jelas masih saudaranya, saudara sepupu. Dia masih mengharapkan agar Putri Eveline bisa menyadari keadaan dan tidak ikut-ikutan menjadi pembangkang seperti ayahnya dan neneknya.
Sementara itu pertarungan antara Zafer dengan Pangeran Marvin sudah hampir mencapai *******. Dan Zafer sedikit demi sedikit mulai mendesak Pangeran Marvin.
Pangeran Marvin boleh bangga sebagai pangeran. Boleh membanggakan kehebatannya terhadap pemuda bangsawan dan para pendekar kota raja.
Namun yang dia hadapi adalah Zafer. Seorang perwira Istana Centauri yang ditempa dengan keras di Markas Centaurus. Orang yang memiliki tenaga sakti yang sempurna.
Waktu sudah di ambang senja Zafer sudah mendesak hebat Pangeran Marvin. Pukulan dan tendangan Zafer sudah tak terhitung bersarang di tubuh Pangeran Marvin.
Bahkan ujung pedang Zafer telah menyayat di beberapa tempat di tubuh Pangeran Marvin. Sehingga membuat Pangeran Marvin meringis-ringis kesakitan.
Pedang Zafer terayun 3x berturut-turut. Dua kali masih dapat ditangkis oleh Pangeran Marvin meski tangannya nyaris kaku.
Begitu hantaman ke 3 dia tidak bisa lagi mempertahankan pedangnya di tangannya. Sehingga pedang itu terlepas dan terlempar jauh.
Sedangkan Zafer kembali mengayunkan pedangnya menyayat-nyayat hampir di sekujur tubuh sang pangeran hingga dia menjerit-jerit kesakitan.
Tidak hanya itu saja aksi Zafer. Dengan lincah dia ayunkan pedangnya menyayat-nyayat wajah tampan Pangeran Marvin. Hingga dia kembali menjerit-jerit seperti orang gila.
Setelah puas menyiksa Pangeran Marvin, Zafer melepas pedangnya begitu saja. Kejap berikut pedang itu lenyap bagai disedot setan.
Kemudian telapak tangan kanannya yang sudah terbungkus sinar kuning langsung menghantam dengan kuat dan telak dada Pangeran Marvin.
Bughk!
"Aaa...!"
Keras sekali hantaman telapak tangan itu sehingga membuat Pangeran Marvin terlontar deras ke belakang sambil menjerit setinggi langit. Mulutnya yang menganga lebar memucratkan darah segar menjiprat ke udara.
Luncuran tubuh terhenti karena menghantam pohon hingga pohon itu bergetar hebat menggugurkan sebagian daun. Lalu tubuh Pangeran Marvin menggelosor jatuh ke tanah bagai nangka busuk.
__ADS_1
★☆★☆★