
Malam terus merangkak perlahan demi perlahan. Jubah kegelapan semakin pekat menyelimuti mayapada. Sementara kabut bertambah tebal membuat hawa dingin semakin menggila.
Delapan orang kependekaran itu telah selesai melakukan hajat utama mereka, yaitu membincangkan mengenai masalah penting yang terjadi di 3 kerajaan besar.
Ketua Baron, Ketua Gerombolan Pedang Tengkorak telah menghilang sejak tadi. Dia tentunya kembali ke markasnya untuk mengatur siasat dalam menghadapi pasukan pemberontak yang dipimpin oleh Selir Heliana.
Dari hasil pembicaraan mereka tadi, ada kemungkinan kalau pasukan-pasukan tangguh itu akan menyantroni markasnya.
Makanya dia berencana akan melakukan 'penyambutan khusus' kalau hal itu sampai terjadi.
Lelaki tua baju kuning yang dikenal berjuluk si Tapak Maut juga telah kembali ke perguruannya di luar batas wilayah sebelah barat daya Kerajaan Bentala.
Sesuai yang telah disepakati rencananya dia dan para muridnya akan bergabung dengan pasukan Selir Heliana. Lebih tepatnya dia dan beberapa muridnya akan menyusup ke dalam pasukan pemberontak tersebut.
Tidak lain tidak bukan tujuannya adalah untuk mengetahui kekuatan yang ada di dalam pasukan tersebut.
Namun rencana mereka itu sudah diketahui oleh Dhafin dan rekan-rekannya. Dan mereka juga akan menyusun rencana untuk menggagalkan rencana jahat itu.
Sementara Tuan Regulus dan Iblis Racun Betina sebenarnya hendak kembali ke Kerajaan Lengkara. Namun Mawar Kuning menahannya dan ingin mengajaknya kencan sekaligus menghangatkan badan malam ini.
Pikir Tuan Regulus, kucing mana yang tidak menolak ikan? Ada wanita cantik menawarkan diri untuk diajak bertarung di atas peraduan, jelas rugi kalau menolaknya.
Sedangkan Mawar Putih menahan Golok Hitam untuk buru-buru pulang di perguruannya, di luar batas wilayah sebelah barat Kerajaan Bentala.
Penahanan itu tidak lain tidak bukan sama dengan yang dilakukan Mawar Kuning terhadap Tuan Regulus. Tentu saja Golok Hitam dengan senang hati menerima penahanan yang akan membawa kenikmatan itu.
Sementara Iblis Racun Betina, teman seperjalanannya ditahan untuk dibuat kencan, dia juga tidak mau pulang sendiri.
Dia juga butuh menghangatkan badan malam ini dengan seleranya sendiri, sambil menunggu hajat mesum Tuan Regulus. Maka dia berencana untuk mencari perjaka muda di kampung ini.
Sedangkan apa yang direncanakan oleh Iblis Racun Betina sama juga apa yang direncanakan oleh penyair berpikiran kotor, si Penyair Putih. Dia juga hendak keluar mencari gadis muda untuk dijadikan penghangat badan malam yang amat dingin ini.
Akan tetapi, belum lama Tuan Regulus vs Mawar Kuning dan Golok Hitam vs Mawar Putih melakukan pemanasan, baru saja beberapa langkah Iblis Racun Betina dan Penyair Putih meninggalkan rumah itu....
"Kenapa jauh-jauh kalian mencari penghangat badan? Di tempat ini juga sebentar lagi akan ada...."
Seketika terdengar sebuah suara yang bernada kalem dan cukup pelan, namun sukses membuat terkejut Iblis Racun Betina dan Penyair Putih. Serta merta mereka langsung memandang ke atas atap dengan cepat.
Ternyata di situ, di atas bubungan rumah telah berdiri gagah 5 orang pemuda tampan. Mereka tidak lain adalah Dhafin yang berdiri paling tengah. Di samping kanannya Hendry dan Aziel, dan di samping kirinya Gibson dan Zafer.
Beberapa saat lamanya Penyair Putih maupun Iblis Racun Betina menatap 5 pemuda tampan itu. Tak lama kemudian Iblis Racun Betina tampak meleletkan lidahnya sambil tersenyum binal menatap pada kelima pemuda itu. Selera mesumnya seketika menggelora.
"Siapa kalian?" tanya Penyair Putih membentak cukup keras.
Suara bentakan itu tidak membawa pengaruh bagi kelima pemuda tampan itu. Buktinya mereka tetap tenang-tenang saja berdiri di atas bubungan rumah.
Yang merasa terganggu adalah 4 manusia bejat yang hendak berbuat mesum di kamar masing-masing. Naluri kepekaan akan bahaya segera terbetik di benak mereka.
Akhirnya masing-masing mereka merapikan kembali pakaiannya, lalu segera keluar rumah, meski Mawar Kuning maupun Mawar Putih sebalnya bukan main.
Sementara kelima pemuda tampan itu, dibentak demikian tidak ada yang menyahut. Malah Dhafin melenting turun seketika. Lalu diikuti oleh keempat pemuda lainnya. Kemudian tubuh mereka seketika lenyap bagai ditelan gelapnya malam.
★☆★☆
Beberapa kejap Penyair Putih dan Iblis Racun Betina terkejut melihat aksi kelima pemuda tampan itu. Namun kejap berikut secara bersamaan mereka langsung membalikkan badan ke belakang dengan cepat.
__ADS_1
Dan belum lama mereka menghadap ke belakang, kelima pemuda tampan tadi telah muncul dengan menakjubkan seperti kabut cahaya yang menyatu dengan cepat.
Kini 5 pemuda tampan itu telah berdiri gagah di hadapan Penyair Putih dan Iblis Racun Betina sekitar 5 tombak. Dan sepasang mata Iblis Racun Betina, makin berbinar mana kala melihat lebih dekat 5 pemuda itu.
Tidak lama kemudian 4 manusia bejat yang gagal memadu kemesuman di atas ranjang telah keluar.
"Ada apa kamu berteriak, Penyair Putih," omel Mawar Putih begitu sepasang kaki mulusnya telah keluar dari pintu, "mengganggu kese...."
Seketika omelannya terhenti bagai direnggut setan mana kala terpampang jelas tidak terlalu jauh di depan matanya 5 pemuda tampan. Tentu saja dia langsung terkesima.
Dan tentu saja Mawar Kuning yang sebenarnya kakaknya juga langsung terkesima melihat ketampanan kelima pemuda itu.
Tidak butuh waktu lama nafsu ingin bercinta langsung menggelora dalam pikiran mesum mereka.
Sementara Tuan Regulus dan Golok Hitam terus melangkah menghampiri Penyair Putih dan Iblis Racun Betina sembari menatap 5 pemuda yang masih diam di tempat berdiri mereka masing-masing.
Sedangkan Mawar Kuning dan Mawar Putih, begitu menyadari Tuan Regulus dan Golok Hitam meninggalkan mereka, buru-buru mereka melangkah cepat menghampiri rekan-rekannya yang lain.
Begitu sampai mereka langsung berdiri di samping Golok Hitam yang berdiri di ujung sebelah kiri.
"Apakah kamu orangnya yang bernama Pangeran Pusat?" tebak Golok Hitam bertanya kepada Dhafin.
"Rupanya pengetahuan Golok Hitam cukup luas juga," sahut Dhafin bernada kalem bersikap tenang sambil tersenyum.
"Apa kamu kenal mereka, Golok Hitam?" tanya Penyair Putih sambil tak lepas menatap Gibson. Sementara Gibson juga menatapnya dengan tajam.
"Apa kalian tidak tahu kalau Pangeran Pusat adalah salah satu jawara elit Selir Heliana?" kata Golok Hitam seakan mengingatkan dengan bertanya.
Tuan Regulus, Penyair Putih, dan Iblis Racun Betina tampak terkejut sebentar mendengar kalau Pangeran Pusat adalah jawara elit Selir Heliana. Tentu 4 pemuda lainnya juga jawara-jawara elit Selir Heliana.
Sedangkan baik Mawar Kuning maupun Mawar Putih masih saja berkhayal tingkat tinggi dingin bercinta dengan Pangeran Pusat. Karena mereka sudah kepincut akan ketampanannya.
Terang saja hati mereka langsung terkejut mendengar dugaan Penyair Putih itu. Kalau keberadaan 5 pemuda itu tidak mereka sadari, itu artinya ilmu kelima pemuda itu demikian tinggi.
"Itu artinya mereka telah mendengar semua yang kita bicarakan tadi," kata Tuan Regulus menebak.
"Tidak juga, Tuan Regulus," kata Dhafin seakan meralat. "Hanya saja rahasia-rahasia besar dan rencana-rencana penting yang kalian obrolkan tadi sudah kami dengar."
"Kalian cukup bernyali besar juga berani menguping pembicaraan kami," kata Tuan Regulus bernada dingin sambil tersenyum sinis.
"Kalau kami tidak bernyali besar mana mungkin kami berani berpatroli sampai di sini, Tuan Regulus," kata Dhafin yang sudah menjadi jubir di antara rekan-rekannya.
"Kalian mengadakan pertemuan terselubung di daerah kekuasaan kami," lanjut Dhafin. "Itu artinya kalian telah melanggar peraturan. Apakah kalian tahu hukuman apa yang akan kami jatuhkan kepada kalian?"
"Hahaha.... Pangeran Pusat, kamu terlalu terbuai oleh khayalanmu sendiri," kata Penyair Putih dengan retorika puitisnya. "Merasa sudah mengalahkan ribuan pasukan, merasa telah menaklukkan kerajaan besar...."
"Tapi kamu dan kawan-kawanmu cuma merasa dan berkhayal. Sementara kenyataannya kalian tiada ubahnya bagai kumpulan para pemimpi yang hendak menggapai kejayaan besar...."
Sambil mengucapkan kalimat-kalimat puitisnya itu Penyair Putih menyusupkan energi saktinya ke dalam gelombang suaranya untuk mempengaruhi pikiran kelima pemuda itu. Dengan harapan mereka akan gentar dan nyalinya langsung melempem.
Namun Gibson yang sudah mengerti tentang orang-orang yang menjadikan syairnya sebagai kesaktiannya, telah memberitahukan kepada rekan-rekannya cara menangkal ilmu yang dikerahkan Penyair Putih itu.
Maka ketika mengetahui Penyair Putih sudah menyerang melalui tenaga batin, Dhafin dan 3 rekannya langsung menerapkan metode yang diajarkan Gibson untuk menangkal ilmu itu.
Adapun Gibson sendiri langsung membalas serangan Penyair Putih dengan berkata bermode puitis sembari melambari gelombang suaranya dengan tenaga batinnya pula.
__ADS_1
"Wahai, Penyair hina, langit sudah menyaksikan laskar-laskar pemberani yang berjiwa mulia telah membasmi ribuan pasukan durjana...
Dan langit telah meramalkan kalau sebentar lagi mereka akan menaklukkan keangkara murkaan, kemudian akan meraih kejayaan yang besar...."
★☆★☆
Penyair Putih tidak bisa meyembunyikan keterkejutannya. Bukan saja tenaga batinnya dapat dipunahkan, malah dia hampir terpengaruh oleh kekuatan batin Gibson yang ternyata mengunggulinya.
Mau tidak mau dia harus mengakui kehebatan pemuda itu. Maka mulai saat itu dia harus berhati-hati dalam menghadapinya. Tidak boleh gegabah, tidak boleh meremehkan.
Sementara rekan-rekan Penyair Putih yang lain tahu kalau lelaki doyan daun muda itu sudah mulai menyerang. Dan mereka tahu juga kalau Gibson telah berhasil mematahkan serangan Penyair Putih.
Terbukti, dari serangan Gibson melalui tenaga batinnya barusan mampu membuat mereka sedikit merasa gentar terhadap kelima pemuda itu. Namun segera mereka menangkalnya.
"Bocah-bocah tampan," kata Iblis Racun Betina seolah membujuk secara halus, "daripada kita bersengketa yang tidak ada artinya, lebih baik salah seorang di antara kalian menemaniku menghangatkan badan di malam yang dingin ini...."
"Atau kalian semua menemaniku menghabiskan malam tidak mengapa, aku sanggup melayani kalian...," lanjut Iblis Racun Betina sambil terus tersenyum-senyum.
Rupanya Iblis Racun Betina melambari ucapannya juga dengan ilmu pemikat melalui gelombang suaranya. Semua orang merasakan hal itu, termasuk kelima pemuda itu.
Namun ilmu pemikat Iblis Racun Betina langsung buyar ketika Mawar Kuning mendampratnya dengan kasar dan keras. Dia juga mengerahkan tenaga batinnya sehingga ilmu pemikat Iblis Racun Betina punah.
"Nenek tua! Kalau kamu mau ambil 4 pemuda lainnya silakan saja. Tapi jangan kamu menggangu Pangeran Pusat. Itu jatah kami. Ingat itu, Nenek Tua!"
Didamprat demikian tentu saja Iblis Racun Betina langsung naik pitam. Hampir saja dia membalas hinaan itu kalau tidak cepat dilerai Tuan Regulus dengan berucap.
"Musuh masih di depan mata, jangan dulu kalian berebut jatah. Kita taklukkan dulu mereka, baru kalian boleh memilih sesuka hati."
"Kami sudah memilih Pangeran Pusat sebagai jatah kami," tandas Mawar Putih menegaskan. "Jangan ada yang merebutnya!"
"Apa kalian sanggup menghadapiku?" kata Dhafin masih dengan gaya kalem dan tenang sambil tersenyum kecil. "Atau malah kalian lebih cepat aku antar ke neraka?"
"Kalau begitu kita buktikan saja, Bocah Bagus," kata Mawar Kuning sambil tersenyum memikat.
"Baiklah."
Lalu Dhafin melenting ke suatu arah menjauh dari keempat kawannya. Hampir bersamaan Mawar Kuning dan Mawar Putih mengejar. Lalu tidak lama, mereka sudah terlibat dalam baku hantam yang sengit.
"Apa aku boleh menemanimu bermain-main, Iblis Racun Betina?" kata Hendry sambil tersenyum. Bukan tersenyum mesum, tapi tersenyum mengejek.
"Kamu meremehkan aku, Bocah Tampan?" kata Iblis Racun Betina sambil tersenyum nakal. "Kalau aku dapat menaklukkanmu, aku buat kamu tidak bisa tidur sehari semalam karena menemaniku di atas ranjang...."
"Hahaha..., buktikanlah, Nenek Tua," kata Hendry sambil tertawa mengejek.
Lalu dia melenting menjauhi rekan-rekannya. Sedangkan Iblis Racun Betina mengejarnya. Dan begitu mereka sudah bertemu, tanpa basa-basi mereka langsung saling menyerang dengan jurus-jurus dahsyat.
Sementara Zafer dan Aziel, tanpa ada yang komando mereka langsung mecari lawan masing-masing. Zafer menyerang Golok Hitam. Sedangkan Aziel menyerang Tuan Regulus.
Akan tetapi baik Golok Hitam maupun Tuan Regulus jelas tidak tinggal diam. Mereka segera berkelebat dengan cepat menyongsong lawan masing-masing.
Sedangkan Gibson yang memang sudah memilih Penyair Putih sebagai lawannya sejak awal, langsung menyerang lelaki tua itu dengan sengit.
Tapi jelas Penyair Putih tidak diam saja, bahkan dia langsung menyongsong serangan Gibson sebelum serangannya sampai.
Sehingga tidak butuh waktu lama mereka dan yang lainnya sudah terlibat dalam pertarungan di bawah gelapnya malam di ujung kampung sebelah timur wilayah Kerajaan Bentala.
__ADS_1
Sementara itu, di ujung kampung malam semakin pekat. Kabut makin tebal menebar aroma dingin yang amat sangat dingin...."
★☆★☆★