Pangeran Yang Hilang

Pangeran Yang Hilang
BAB 198 RUNTUHNYA KEKUASAAN SELIR HELLEN GRETHA


__ADS_3

Kini pasukan elit kerajaan semuanya telah terkapar menjadi mayat. Tidak ada lagi yang tersisa, termasuk pasukan penjaga tandu dan para pemikul peti.


Sementara itu, Dhafin dan kedua adiknya serta beberapa ksatria elit andalan sudah berada di dekat 3 tandu yang tanpa penjagaan lagi. Tepatnya di samping sebelah kanan berjarak hampir 2 tombak.


Sedangkan 6 orang pelayan yang masih pingsang sudah sejak tadi di bawa ke basecamp.


Sudah beberapa kalau baik Dhafin maupun Pangeran Revan memanggil atau menyapa penghuni tandu. Namun tidak seorang pun dari 3 penghuni yang merespon sapaan mereka, apalagi keluar dari tandu.


Maka Dhafin maju mendekati tandu paling depan. Begitu sudah berjarak 2 langkah di depan tandu, Dhafin tidak langsung membuka pintu tandu, melainkan mencoba menyapa lagi penghuninya.


Tapi tetap saja tidak ada respon dari dalam. Hingga akhirnya Dhafin memberanikan diri membuka pintu tandu.


Namun baru saja dia membuka pintu tandu lebar-lebar, seketika saja Dhafin langsung terkejut bukan main. Betapa tidak? Permaisuri Berliana Calosa yang menempati tandu paling depan itu telah tergeletak diam di lantai tandu.


Tampak dada sebelah kirinya tertancapi pisau belati. Dan darah yang masih segar tergenang di lantai tandu di sekitar tubuh sang permaisuri.


Demi melihat ekspresi Dhafin yang terkejut, Pangeran Revan dan Putri Kayshila serta beberapa orang lainnya ikut terkejut pula sambil benak bertanya-tanya apa yang terjadi pada Permaisuri Berliana?


"Ada apa, Kanda?" tanya Kayshila bernada heran.


"Coba kalian perikasa kedua tandu lainnya!" perintah Dhafin kepada kedua adiknya tanpa menjawab pertanyaan Kayshila. Setelah itu dia masuk ke dalam tandu yang cukup besar itu.


Tanpa menunggu lama, Pangeran Revan segera memeriksa tandu ke 2. Sedangkan Putri Kayshila bergegas memeriksa tandu ke 3. Dan betapa terkejutnya mereka setelah membuka pintu tandu masing-masing.


Selir Riana Mesha yang menempati tandu ke 2 tampak tergeletak diam di lantai tandu. Ulu hatinya tertancapi sebuah belati cukup dalam. Darah segar menggenang di lantai tandu di sekitar tubuh sang selir.


Tanpa ragu Pangeran Revan segera masuk ke dalam tandu untuk memeriksa.


Sedangkan Putri Kayshila melihat Putri Ardella yang juga tergeletak diam. Lalu gadis cantik itu segera masuk ke dalam tandu, terus memeriksa sepupunya itu.


Tidak ada tanda-tanda di tubuh Putri Ardella kalau dia terluka. Juga tidak ada tanda-tanda kalau dia terkena atau meminum racun.


Putri Kayshila menduga kuat kalau dia cuma pingsan saja. Entah karena tak kuasa menahan rasa ngeri atau semisalnya.


Sementara Permaisuri Berliana dan Selir Riana sudah meninggal. Menurut dugaan Dhafin dan Pangeran Revan yang telah memeriksa kedua istri Raja Ghanim itu, kalau mereka mati disebabkan bunuh diri.


Kejadian itu jelas amat disayangkan baik oleh Dhafin maupun Pangeran Revan. Mereka sudah bersepakat kalau akan menyelamatkan istri-istri Raja Ghanim.


Namun ternyata Permaisuri Berliana dan Selir Riana memilih untuk bunuh diri. Sungguh sayang!


Beruntungnya Putri Ardella cuma pingsan saja. Jadi bisa diselamatkan bersama Putri Ilona yang sudah dibawa ke basecamp.


Tidak lama kemudian, Dhafin dan seluruh pasukannya meninggalkan tempat itu, membawa mayat kedua istri Raja Ghanim dan mayat Pangeran Cullen. Tidak lupa juga membawa Putri Ardella yang masih dibiarkan pingsan.


Ketiga mayat itu akan dibawa ke basecamp dulu. Melaporkan hasil tugas mereka kepada Ratu Aurellia. Setelah itu, ketiga mayat itu dibawa ke Istana Centauri beserta Putri Ardella dan Putri Ilona serta 8 pelayan.


★☆★☆


Sudah puluhan tahun menguasai Kerajaan Bentala, tidak pernah terbetik dalam benak Bunda Suri Hellen Gretha kalau hari-hari belakangan ini akan mendapatkan malapetaka yang begitu menyakitkan.


Dia dibutakan oleh kesombongan akan banyaknya pasukan yang dimiliki. Diperdaya oleh sikap otoriternya. Digiurkan oleh berbagai kesenangan dunia yang amat mudah dia peroleh.


Sungguh dia tidak pernah mengira kalau Selir Heliana memiliki pasukan yang cukup banyak dan mempunyai kehebatan di atas rata-rata.


Kekalahan demi kekalahan dia peroleh akibat perlawanan yang dilakukan oleh pasukan Selir Heliana. Sebagian besar pasukannya telah binasa. Orang-orang andalannya telah tewas semua.


Ditambah lagi dia mendapat kabar kalau Penasehat Choman, adiknya telah tewas. Keesokan harinya dia mendapat kabar tidak kalah menyakitkan.


Semua pasukan elit yang mengawal keluarga istana telah dibinasakan oleh pasukan Selir Heliana. Kedua cucu laki-lakinya tewas, kedua cucu perempuannya ditangkap. Sedangkan kedua menantunya telah tewas pula.


Sungguh, kenapa semua malapetaka itu begitu beruntun berdatangan menimpanya? Apakah hal ini merupakan suatu kutukan dari Penguasa Langit akibat dosanya mengangkangi tahta mendiang suaminya, Raja Neshfal Abraham? Bahkan dia telah membunuh suaminya itu.

__ADS_1


Dan peristiwa yang lebih menyakitkan lagi menimpanya adalah di hari ini, di istana yang telah memanjakannya dengan segala kekejamannya selama 20 tahun lebih.


Pasukan Istana Centauri yang dipimpin oleh Ratu Aurellia menyerang istana. Meski cuma 10.000 lebih yang masuk menyerang, tapi semuanya adalah pasukan pilihan.


Apalagi jumlah pasukan Bunda Suri Hellen yang bertahan di istana tidak ada 10.000. Dan orang-orang andalannya cuma segelintir saja.


Itupun orang-orang andalannya itu berhadapan dengan Ratu Aurellia, Dhafin dan para ksatria elit andalan lainnya.


Adapun anaknya, Raja Ghanim telah berhadapan dengan saudara tirinya, Pangeran Nelson Adelard.


Sementara 2 Pengawal Pribadi-nya, 2 orang andalannya yang paling tangguh sekarang berhadapan dengan Putri Clarabelle dan Putri Richelle. Sedangkan dia sendiri berhadapan langsung dengan Selir Heliana.


Perlu diketahui, pertempuran kali ini merupakan pertempuran terakhir antara pihak Selir Hellen melawan pihak Istana Centauri.


Dan pada pertempuran puncak ini sudah bisa diramalkan siapa yang bakalan menang.


Apalagi sekarang pasukan Selir Hellen sudah mulai bertumbangan satu demi satu.


Jelas mereka tidak sanggup menghadapi Pasukan Istana Centauri yang rata-rata pilih tanding itu. Sudah kehebatan mereka tak seimbang dengan kehebatan Pasukan Istana Centauri, pula secara jumlah mereka kalah.


Sehingga pasukan Selir Hellen terus saja bertumbangan seakan tidak mau berhenti. Terkapar menjadi mayat di pelataran istana. Darah segar kembali membasahi pelataran istana Kerajaan Bentala.


Sementara itu Ratu Aurellia dan sang kekasih serta beberapa ksatria handal lainnya sudah berhasil menumbangkan semua jawara andalan Selir Hellen, tanpa ada yang tersisa.


Dan Putri Clarabelle maupun Putri Richelle juga sudah menewaskan 2 pengawal Selir Hellen. Setelah itu 2 wanita yang masih cantik itu membantu Ratu Aurellia dan pasukannya membasmi pasukan Selir Hellen.


Kecuali Dhafin.


Pemuda tampan itu tidak lagi ikut berperang. Saat ini dia menyaksikan pertarungan antara kedua pamannya; Raja Ghanim melawan Pangeran Nelson.


Sementara itu, pertarungan antara kedua selir mendiang Raja Neshfal Abraham masih terus berlangsung sengit. Sampai pertarungan yang entah sudah berapa jurus itu belum ada di antara mereka siapa yang bakalan menang.


★☆★☆


Kini masih bersisa pertarungan antara kedua selir dan kedua putra mendiang Raja Neshfal. Namun tampak Raja Ghanim saat ini sudah terdesak hebat.


Sudah tak terhitung lagi pukulan dan tendangan Pangeran Nelson bersarang di tubuhnya hingga membuatnya jatuh bangun. Sementara sayatan pedang Pangeran Nelson sudah beberapa menggores cukup lebar di beberapa bagian tubuhnya.


Namun hebatnya pedang masih tergenggam di kedua tangan raja yang malang itu. Sehingga meski sudah kepayahan dia masih saja terus bertarung.


Sementara itu, pertarungan antara kedua selir masih terus berlangsung, bahkan semakin sengit. Hingga suatu ketika pedang mereka saling beradu di udara dengan amat kuat dan keras.


Traaang...!


Blaaarrr...!


Karena hantaman masing-masing kedua pedang itu diisi oleh tenaga sakti yang tinggi, sehingga menimbulkan ledakan yang cukup dahsyat.


Sehingga akibatnya masing-masing kedua selir itu terlempar ke belakang sejauh hampir 3 tombak. Namun karena mereka sama-sama orang hebat, mereka bisa mengendalikan tubuh mereka. Sehingga kedua kaki mereka mendarat di tanah dengan mulus.


Sejenak kedua nenek cantik itu berhenti bertarung. Tampak mengembalikan kondisi seraya mengatur napas yang sedikit tersenggal. Setelah itu mereka saling tatap dengan tajam penuh dendam.


Tak lama, Selir Hellen melepas pedangnya begitu saja dari genggaman tangannya, lalu pedang itu lenyap. Setelah itu dia menggerak-gerakkan kedua telapak tangannya dengan gemulai namun tampak aneh di dadanya.


Sedangkan Selir Heliana yang tahu kalau Selir Hellen ingin mengadu kesaktian tidak tinggal diam. Setelah melepas pedangnya dari genggamannya yang juga langsung lenyap, dia lalu menggerak-gerakkan kedua telapak tangannya dengan gerakan tertentu di depan dada.


Tak lama kedua telapak tangannya sebatas siku telah terbungkus sinar kuning. Bersamaan dengan kedua telapak tangan Selir Hellen sebatas siku terbungkus sinar berwarna biru kehitaman.


Setelah itu kedua selir itu langsung melesat ke depan dengan amat cepat. Saking cepatnya, tahu-tahu mereka sudah saling berdekatan berjarak 2 langkah.


Kemudian dengan cepat kedua telapak tangan mereka didorong ke depan secara bersamaan, hingga kedua telapak tangan mereka saling beradu di udara pada satu titik tengah. Maka akibatnya....

__ADS_1


Blaaarrr...!


Terdengar ledakan yang dahsyat hingga mengguncangkan alam sekitarnya. Membuat kedua selir itu terlempar ke belakang. Namun Selir Heliana cuma terkapar 2 tombak. Setelah itu dia dapat mengendalikan dirinya, lalu mendarat di tanah dengan sedikit limbung.


Cepat-cepat dia duduk bersila mengobati dirinya dengan energi sakti. Karena sepertinya dia mengalami luka dalam. Terbukti darah segar menetes di sudut bibir merahnya.


Sedangkan Selir Hellen terlempar cukup jauh ke belakang. Mulutnya yang menjerit tinggi memuntahkan banyak darah yang menyiprat ke udara.


Lalu tubuhnya jatuh bergedebuk cukup keras di atas tanah pelataran istana. Setelah terseret beberapa langkah, lalu diam tak bergerak. Entah mati entah pingsan.


Putri Clarabelle, Putri Richelle, Ratu Aurellia dan keempat pengawalnya serta Putri Kayshila, melihat Selir Heliana terlempar, mereka refleks memekik kaget.


Lalu tanpa ada yang suruh mereka segera menghampiri Selir Heliana yang sudah duduk bersemedi. Begitu sampai, Putri Clarabelle dan Putri Richelle langsung duduk di belakang sang selir.


Lalu masing-masing mereka meletakkan telapak tangan di punggung belakang Selir Heliana, membantu mengobati luka dalam sang nenek cantik.


Sedangkan Ratu Aurellia dan Putri Kayshila, setelah memastikan kalau Selir Heliana bisa disembuhkan dari luka dalam, mereka segera menghampiri Selir Hellen yang masih terkapar diam.


Begitu kedua gadis cantik laksana bidadari itu sampai dekat Selir Hellen, bersamaan selir itu seperti siuman. Namun dia hanya mampu membuka setengah matanya.


Sedangkan mulutnya yang belepotan banyak darah sedikit terbuka, kedua bibir merahnya tampak bergerak-gerak lemah, seperti hendak berbicara.


Sementara sekujur tubuhnya tidak ada yang bergerak seakan lumpuh. Kecuali dadanya yang bergerak sendiri turun naik. Namun amat lemah sekali. Sepertinya Selir Hellen tidak ada harapan lagi bakalan masih hidup.


"Lihatlah dirimu sekarang, Selir Hellen!" kata Putri Kayshila yang telah berjongkok di samping kiri sang selir bernada dingin penuh tekanan. "Kejayaanmu sekarang sudah runtuh bersama kesombonganmu!"


"Kamu tidak punya kekuasaan lagi di kerajaan ini!"


Selir Hellen tidak bisa lagi menggerakkan kepalanya. Cuma sepasang bola matanya yang bisa bergerak sedikit, mengerling ke arah Putri Kayshila.


Tak ada lagi aura keangkuhan dan kejahatan di wajahnya. Yang tampak kini hanyalah kesedihan dan penyesalan. Entah sadar atau tidak tampak air matanya keluar.


"Apa-kah... kamu... putri... Selir.. Khandra... Fidelya...?" tanya Selir Hellen bernada lirih dengan susah payah.


"Ya, aku adalah putri Selir Khandra Fidelya," sahut Putri Kayshila masih bernada dingin mengandung amarah dan dendam, "seorang wanita yang malang yang mati terbunuh akibat kejahatanmu!"


"Yah..., aku... memang... yang menyebabkan... semua keluarga... mati...," ucapnya lirih penuh penyesalan dengan napas yang sudah tersenggal-senggal, "aku... yang menyebabkan... mereka sengsara...."


"Cucuku...."


"Jangan sebut aku cucumu, Selir Jahat!" sergah Kayshila dengan berang. "Aku...."


"Kayshila, biarkan Selir Hellen bicara dulu!" tegur Ratu Aurellia yang telah duduk melutut di sisi kanan sang selir dengan nada lembut.


"Aku tahu... dosaku memang amat besar...," kata Selir Hellen makin pedih meski masih terbarah-batah, "dan... tidak pantas... dimaafkan...."


"Tapi... aku mohon pada kalian untuk menjaga cucuku yang sudah ada... pada kalian.... Mereka tidak bersalah.... Yang punya kesalahan besar... hanyalah aku...."


Kayshila hanya diam saja mendengar celotehan Selir Hellen setelah ditegur oleh sang ratu.


"Cucuku..., aku tahu... kamu pasti tidak akan... memaafkan aku.... Tapi... aku tetap... minta... maaf pada... kalian semua...."


Setelah berkata yang terakhir itu, Selir Hellen meregang nyawa sebentar, lalu diam selamanya. Mati! Raut wajahnya tidak berubah, sedih penuh penyesalan.


Sementara Kayshila, begitu Selir Hellen sudah mati, dia berdiri perlahan-lahan sambil sepasang matanya yang sudah basah terus menatap sang selir. Tak lama air mata gadis cantik itu jatuh juga, menggulir di pipi halusnya.


Ratu Aurellia yang melihat Putri Kayshila menangis, dia segera beringsut ke samping gadis itu, terus memeluknya.


Kini Selir Hellen Gretha telah mati. Bersamaan dengan itu kekuasaannya di Kerajaan Bentala yang pernah dirampas dari mendiang Raja Neshfal Abraham.


Meski kejahatannya tak tertakar lagi, namun sebelum dia mati dia masih sempat minta maaf dan menyesali semua perbuatannya.

__ADS_1


Sungguh menyedihkan akhir hidupnya....


★☆★☆★


__ADS_2