Pangeran Yang Hilang

Pangeran Yang Hilang
BAB 59 PUTRI AGUNG AURELLIA BERTEMU YANG MULIA


__ADS_3

Sementara di panggung Yang Mulia, Selir Agung Cassiopeia juga bertepuk tangan sambil tersenyum girang menyambut kemenangan tim putranya. Prestasi ini sebagai kebanggaan baginya di hadapan Yang Mulia dari para istri Yang Mulia lainnya.


Sedangkan Putri Faniza tak usah ditanya lagi. Kemenangan tim Dhafin, sang idola membuatnya amat gembira bukan main.


Hingga ekspresi kegembiraannya yang begitu kentara tak dapat ditahan. Sampai-sampai bundanya dan Nyonya Carissa dibuat geleng-geleng kepala sambil tersenyum penuh arti.


Sementara Raisha yang sudah duduk di kursi panggung Yang Mulia, cuma menunjukkan ekspresi yang biasa. Cuma sekedar tepuk tangan. Hatinya masih sedikit kecewa karena tidak lolos sampai ke final.


Sebenarnya dia merasa heran juga mengenai pertarungan di final ini. Sebelumnya kedua finalis itu mengalahkan lawan-lawannya dengan kekalahan yang telak.


Kalau bukan lawannya terlempar ke bawah arena, setidaknya lawannya terkapar tak berdaya di lantai panggung.


Namun pertarungan kali ini, jangankan lawan yang kalah jatuh terkapar di lantai, terkena serangan telak pun tidak. Bahkan kemenangan pada pertarungan terakhir cuma kemenangan dramatis.


Akan tetapi keheranannya itu di simpannya sendiri dulu. Setelah penyerahan hadiah bagi pemenang juara 1 dan 2, dia akan bertanya kepada Pendeta Noman.


Singkat waktu, Yang Mulia memberikan hadiah berupa medali emas kepada para personil Tim Brian Darel dan medali perak kepada Tim Fariza Luna. Ditambah dengan sejumlah uang bagi masing-masing kedua tim itu.


Saat Yang Mulia selesai mengenakan medali ke leher Brian, Yang Mulia segera merangkul putra ke duanya itu dengan erat.


Dan ternyata pada turnamen kali ini, pemberian hadiah bukan cuma pemenang turnamen. Melainkan diberikan pula kepada peserta terbaik.


Kriteria menjadi peserta terbaik bukan cuma banyak memenangkan pertarungan atau tidak pernah kalah. Melainkan peserta tersebut tidak melanggar peraturan pertandingan.


Dan juga peserta tidak brutal dalam memainkan jurusnya dan dalam mengalahkan lawan. Serta tak kalah penting bahwa hakim juri menilai peserta tersebut telah ahli dalam ilmu beladiri.


Semua kriteria di atas cuma dicapai oleh 2 peserta. Dan memang cuma 2 peserta yang terpilih sebagai peserta terbaik. Kedua peserta itu yaitu peserta terbaik ke 2 jatuh pada pilihan peserta yang bernama Gibson Kyler.


Meskipun tim bocah ini tidak sampai ke babak final, tapi dia tidak pernah kalah selama bertarung dan juga tidak pernah seri. Penampilannya bagus selama bertarung dan tidak pernah melanggar peraturan.


Dia mendapat hadiah berupa piala berbentuk patung orang berukuran kecil yang sedang memperagakan salah satu gerakan beladiri yang terbuat dari logam berlapiskan perak. Juga berikut hadiah sejumlah uang.


Dan peserta terbaik pertama jatuh pada pilihan peserta yang bernama Dhafin. Semua orang tentu tidak akan meragukan performa bocah itu. Dia dinobatkan sebagai peserta terbaik adalah pilihan tepat.


Dia mendapat piala yang serupa dengan piala Gibson Kyler. Namun pialanya dari logam berlapiskan emas. Berikut sejumlah uang yang lebih banyak dari Gibson.


Sorakan yang membahana beserta tepuk tangan yang begitu meriah meyambut kedua peserta terbaik Turnamen Beladiri Anak Bangsawan itu.


Dengan selesainya acara pemberian hadiah kepada tim yang menang dan peserta terbaik, maka selesai pula turnamen beladiri periode ini.


Adapun periode berikutnya menunggu pengumuman dari pihak istana. Karena tahun depan belum dipastikan kalau turnamen ini akan diadakan lagi. Mengingat peristiwa luar biasa terjadi belakangan ini. Artinya masih banyak PR kerajaan yang harus dikerjakan terlebih dahulu.


Salah satunya mengurus kembali status Putri Aurellia, atau lebih tepatnya membersihkan nama baiknya di dalam keluarga istana dan mengembalikannya ke lingkungan istana.


★☆★☆


Tampak kedua tim itu saling memberikan ucapan selamat di antara mereka begitu sudah turun dari panggung. Termasuk Gibson Kyler, juga memberikan ucapan selamat kepada kedua tim. Sebaliknya, mereka juga memberikan ucapqn selamat kepadanya.


Sedangkan Nona Faniza Elvina cuma melihat saja sang idola dari jauh. Sebenarnya dia juga ingin memberikan ucapan selamat. Namun rasa malu masih mendominasi dirinya. Akhirnya dia cuma bisa mengucapkan dalam hati.


Tak lama dia meninggalkan area turnamen mengikuti bundanya bersama yang lain.


Sementara Nona Fariza sebenarnya ingin mengucapkan selamat secara khusus kepada Gibson. Namun menyadari dirinya adalah seorang putri bangsawan yang harus tetap menjaga keanggunan, terpaksa dia urungkan. Dia hanya memberi ucapan selamat semisal yang lainnya.


Tampak Tim Pangeran Nevan, Tim Ervin Devian, dan Tim Orian Louise, serta beberapa tim lainnya datang, terus langsung memberikan ucapan selamat kepada kedua tim juara 1 dan 2 itu.


Setelah itu mereka segera meninggalkan area turnamen, kecuali Gibson Kyler. Begitu rekan timnya sudah pergi, dia mengeluarkan kain cadar milik Nona Fariza, dan terus memberikan kepada si empunya.


Namun Nona Fariza masih menolak untuk menerimanya. Alasannya suasana hatinya masih belum membaik menerima cadarnya kembali.

__ADS_1


Dengan benak yang diliputi keheranan Gibson memasukkan kembali cadar itu ke balik bajunya. Menatap Nona Fariza yang juga menatapnya sejenak. Terus tinggalkan tempat itu dengan benaknya yang masih diliputi keheranan.


Tak lama Tim Fariza Luna menyusul pula meninggalkan Tim Brian Darel setelah berbasa-basi dan mengucapkan selamat tinggal kepada mereka.


Setelah anak-anak yang memberikan ucapan selamat tadi sudah pada pergi semua, barulah Putri Aurellia, Ariesha, Namira, Grania dan Naifa memberi ucapan selamat kepada 5 bocah sakti itu.


Tidak ketinggalan pula teman-teman Brian dari kalangan anak penduduk biasa yang berjumlah 10 anak memberikan ucapan selamat. Setelah itu sebenarnya mereka hendak pulang.


Namun Putri Aurellia mengundang mereka ke Istana Kejora untuk mengadakan pesta merayakan kemenangan Tim Brian Darel.


Awalnya mereka merasa sungkan untuk hadir di perta itu. Namun Brian memberitahukan kalau Putri Aurellia sudah menganggap mereka sebagai teman. Jadi tidak perlu merasa sungkan. Akhirnya 10 anak biasa itu mau hadir.


Singkat waktu, mereka semua meninggalkan area turnamen. Tinggallah para petugas yang membongkar panggung. Karena memang acara sudah selesai semuanya.


★☆★☆


Tanpa terasa setahun telah berlalu....


Putri Aurellia masih terus berlatih beladiri bersama 2 sahabatnya, Namira dan Naifa. Dan masih terus bersemedi agar energi sakti yang mengalir di dalam tubuh mereka bisa dikendalikan dan bisa digunakan.


Dan pembimbing mereka kini adalah 5 bocah sakti sekaligus.


Sedangkan Ariesha dan Grania masih bersekolah di akademi militer dan tinggal di asramanya. Mereka baru diperbolehkan pulang setengah tahun sekali. Dan kedua gadis ini juga tetap terus bersemedi. Karena mereka juga memiliki energi sakti seperti ketiga gadis tadi.


Sementara Nyonya Carissa sudah melahirkan, bahkan melahirkan 2 anaknya sekaligus dengan jenis kelamin yang berbeda, laki-laki dan perempuan.


Tentu saja keluarga Jenderal Felix amat senang bukan main. Dan sepasang suami istri itu tidak bosan-bosannya mengucapkan terima kasih kepada Dhafin. Karena berkat anak angkat mereka itu, mereka bisa memperoleh keturunan lagi.


Kini kedua anak kembar yang diberi nama Farrel Damian dan Adellia Clarissa sebentar lagi genap berumur 6 bulan. Namun karena Ariesha belum libur sekolah, jadi dia tidak menyaksikan adik kembarnya lahir dan belum melihat kedua adiknya itu hingga kini.


Tapi dia sudah berpesan, kalau adiknya yang lahir perempuan, maka bundanya harus memberinya nama Adellia Clarissa. Dan bundanya setuju. Sedangkan Jenderal Felix setuju juga.


Sementara itu pula, status Putri Aurellia sudah kembali menjadi keluarga istana. Yang Mulia sudah membersihkan namanya dari tuduhan sebagai pembunuh Permaisuri Michella, permaisuri yang dulu.


Sekaligus pula mencabut pernyataan Yang Mulia yang pernah menuduh Putri Aurellia terkena kutukan. Pernyataan pencabutan tuduhan ini diumumkan ke seluruh penduduk kotaraja.


Dan yang tak kalah hebat dari itu Yang Mulia menobatkan Putri Aurellia sebagai Putri Agung. Dan penobatan itu diumumkan di seluruh Kerajaan Amerta, bukan hanya di kotaraja.


Namun alih-alih Putri Aurellia merasa senang dengan 2 keputusan resmi itu, dia malah makin kecewa dengan Yang Mulia.


Bahkan dia tidak senang atau bangga dinobatkan sebagai Putri Agung. Sebenarnya hampir saja dia menolak penobatan itu. Namun Dhafin membujuknya agar tetap menerimanya. Dan akhirnya dia terima penobatan itu meskipun terpaksa.


Dia lebih senang dengan kehidupan yang sudah dia jalani. Dia lebih senang tidak dianggap sebagai keluarga istana. Dengan begitu tidak ada yang merecoki hidupnya yang sudah dijalani kemarin selama 3 tahun.


Sekarang seluruh penduduk kotaraja sudah mengetahui kalau dia adalah seorang putri raja, bahkan sudah dinobatkan sebagai Putri Agung. Seharusnya dia senang, malah membuatnya tidak nyaman dan merasa terbatasi gerakannya.


Setelah penobatannya sebagai Putri Agung di istana, Putri Aurellia tidak pernah dan tidak mau lagi ke istana. Dia lebih senang tinggal di istananya sendiri, Istana Kejora. Memperdalam ilmu beladirinya dan terus mengasah energi saktinya agar bisa digunakan.


Perlu diketahui, Putri Agung Aurellia sudah 2x dipanggil untuk tinggal di istana. Namun dia tetap menolak. Pada kali yang ke 3 dia dipanggil lagi, tapi kali ini dipanggil untuk menghadap raja.


Mulanya dia menolak. Tapi akhirnya dia mau juga setelah dinasehati oleh 5 bocah sakti dan Namira. Namun selain Brian yang mendampinginya, dia mau Dhafin juga ikut menemaninya ke istana. Dan Dhafin setuju saja.


Dan begitu dia sudah duduk di hadapan Yang Mulia, penguasa Kerajaan Amerta langsung bertanya.


"Kenapa kamu tidak mau tinggal di istana?"


Sebelumnya Putri Aurellia mentakzim Yang Mulia dengan penuh rasa hormat.


"Hamba sudah merasa nyaman dan tentram tinggal di istana hamba yang sekarang, Yang Mulia," sahut Putri Aurellia bernada datar dan tegas.

__ADS_1


"Di sini adalah tempat tinggalmu yang sesungguhnya, Putri Aurellia," kata Yang Mulia bernada lembut dan santun tapi tegas. "Bukan Istana Kejora yang hanya tempat tinggal sementara."


"Kalau di sini tempat tinggal hamba yang sesungguhnya," kata Putri Aurellia masih datar, "lalu kenapa hamba dikeluarkan dari sini?"


★☆★☆


Yang Mulia terkejut mendengar pertanyaan sindiran itu. Dan permaisuri serta 3 selir lainnya juga tampak kaget. Kenapa Putri Aurellia mengungkit lagi masalah itu? Bukankah masalah itu sudah beres?


"Ayahanda harap kamu tidak usah lagi menyinggung masalah itu, Putri Aurellia," kata Yang Mulia tetap santun. "Karena semuanya sudah beres...."


"...Ayahanda sudah mengembalikan statusmu sebagai bagian dari keluarga istana," lanjutnya. "Ayahanda sudah membersihkan namamu atas tuduhan pembunuhan terhadap bundamu. Sekaligus mencabut pernyataan ayahanda yang pernah menuduhmu terkena kutukan."


"Bahkan ayahanda sudah menobatkanmu sebagai Putri Agung."


"Maaf, Yang Mulia," kata Putri Aurellia tetap tegas dan mantap, "semua tindakan Yang Mulia itu tidak merubah keadaan...."


"Hamba sudah terlanjur sakit hati dan kecewa atas perbuatan ketidak adilan Yang Mulia terhadap hamba 5 tahun yang lalu...."


"...Jadi kalau Yang Mulia memaksa hamba untuk tetap tinggal di sini, hamba akan terus menderita."


Tanpa sadar badan Yang Mulia langsung terhempas di sandaran kursi indahnya. Sungguh dia tidak menyangka kalau penderitaan putrinya sudah sedemikian rupa.


Sungguh dia tidak menyangka kalau semua tindakannya selama ini terhadap Putri Aurellia telah membawa luka yang dalam di hati putrinya itu.


Selagi suasana ditawan sunyi, tiba-tiba Putri Raisha berkata bernada menegur kepada Putri Aurellia.


"Kenapa kamu masih mengenakan cadar di hadapan kami, Aurellia?"


Sebenarnya Yang Mulia serta 4 istrinya telah menyadari kalau Putri Aurellia sejak memasuki Istana Kristal Jingga masih mengenakan cadar.


Hanya saja Yang Mulia belum mempersoalkan. Permaisuri Chalinda tidak merasa terganggu. Sedangkan Selir Agung sebenarnya ingin menegur, tapi tidak berani.


Sementara Selir Caitline tidak perduli. Sedangkan Selir Grizelle bersikap sama seperti Permaisuri Chalinda. Tapi begitu mendengar putrinya berbicara tanpa disuruh, dia langsung menegurnya dengan tajam.


"Kamu tidak usah berbicara kalau tidak disuruh, Putri Raisha! Apalagi sampai menegur Putri Agung dengan tidak sopan."


"Tapi, Bunda...."


"Diam!"


Putri Raisha langsung bungkam, tapi hatinya masih mendongkol. Baginya tindakan Putri Aurellia memakai cadar di hadapan keluarga adalah tidak sopan, meskipun dia seorang Putri Agung.


Sedangkan putra-putri raja yang lain selain Pangeran Adrian tetap diam saja, tidak ada yang berani bersuara jika mereka berada di hadapan Yang Mulia.


Rupanya cuma Pangeran Adrian yang tidak hadir di Istana Kristal Jingga ini. Ada banyak kemungkinan dia tidak hadir. Salah satunya mungkin ditakutkan akan bikin rusuh. Apalagi ada rival beratnya, Dhafin, hadir juga di situ.


Sedangkan Putri Aurellia tidak menjawab pertanyaan menegur Putri Raisha. Dia menganggap itu tidak penting.


Sementara Yang Mulia masih terdiam, Permaisuri Chalinda memberanikan diri berbicara kepada Putri Aurellia.


"Apakah kamu sudah memikirkan masak-masak keputusanmu untuk tetap tidak mau tinggal di rumahmu sendiri ini, putriku? Mengingat... usiamu masih sangat muda... untuk cepat mengambil keputusan."


"Apakah Yang Mulia Permaisuri meragukan keputusan hamba?" tanya Putri Aurellia.


"Usiamu masih sangat muda, putriku," sang permaisuri masih mencoba membujuk. "Bunda khawatir kamu hanya dipermainkan oleh perasaan."


"Maaf, Yang Mulia Permaisuri, keputusan hamba sudah bulat," kata Putri Aurellia tetap tegar. "Terlepas kalian meremehkan keputusan hamba hanya lantaran hamba seorang anak kecil."


Permaisuri Chalinda tidak bisa berkata lagi untuk membujuk Putri Agung. Sedangkan Yang Mulia masih diam saja seolah tak bisa lagi berkata-kata.

__ADS_1


★☆★☆★


__ADS_2