Pangeran Yang Hilang

Pangeran Yang Hilang
BAB 41 KEMATIAN KONYOL JENDERAL RAINER


__ADS_3

Sementara itu, Jenderal Rainer dan 9 Pasukan Rahasia tampak berlari cepat menuju lokasi rumah Chafik. Mereka menuju target secara terpisa-pisah. Kalau diperhatikan mereka membentuk tiga kelompok.


Dari arah sebelah kanan empat orang, sebelah kiri empat orang. Sedangkan dari arah tengah Jenderal Rainer dan orang yang melapor hasil pengintaiannya dengan Prajurit Lais. Tapi jarak mereka tidak begitu berjauhan.


Rumah Chafik lumayan berjauahan dari pemukiman. Pula lokasi rumahnya sedikit masuk ke dalam hutan, hampir mencapai pertengahan hutan.


Jadi kalau mereka mengadakan penangkapan tidak bakal ada penduduk yang tahu. Meskipun dilakukan siang hari.


Untuk memudahkan pekerjaannya, kali ini Jenderal Rainer tidak membawa serta Putri Cheryl Aurora. Putri yang cantik tapi judes itu ditinggal di sebuah penginapan di luar kotaraja.


Jenderal Rainer dan seorang anggota Pasukan Rahasia itu tanpa terasa berlari sudah memasuki hutan. Begitu juga dua kelompok pasukan lainnya.


Begitu mereka sudah hampir mencapai pertengahan hutan, anggota Pasukan Rahasia itu tiba-tiba merandek. Mau tak mau Jenderal Rainer ikut merandek pula. Dan yang lain ikut berhenti pula.


"Ada apa, Prajurit Namir?" tanya Jenderal Rainer heran tiba-tiba rekannya berhenti.


"Seharusnya lokasi rumah dimana lima bocah itu mengadakan pertemuan ada di sekitar sini, Tuan Jenderal," kata prajurit yang ternyata bernama Namir itu memberitahu bernada heran bercampur bingung.


Dia memindai sekelilingnya. Berputar-putar beberapa kali, tapi rumah Chafik yang dicari tak terlihat juga. Sedangkan Jenderal Rainer ikut mengamati keadaan sekelilingnya.


"Mungkin kamu salah tempat, Prajurit Namir," kata Jenderal Rainer seakan mengingatkan. "Siapa tahu masih masuk lagi ke dalam hutan."


"Tidak mungkin saya salah tempat, Tuan Jenderal," kata Prajurit Namir kekeh. "Saya masih hapal betul tempat ini dan pohon-pohon yang tumbuh di sekitarnya."


Jenderal Rainer berpikir sejenak tentang apa yang diucapkan Prajurit Namir barusan. Dia yakin prajurit itu tidak berbohong. Tapi rumah pertemuan lima bocah sakti belum mereka temukan juga. Apa yang terjadi?


Jenderal Rainer segera teringat kalau salah satu dari bocah itu menguasai ilmu ghaib atau sihir. Setelah mencari keterangan di kotaraja, baru dia ketahui bocah itu bernama Dhafin, anak Pejabat Penyelidik Rahasia Istana.


Mengingat dia dan Putri Cheryl Aurora pernah merasakan ilmu sihirnya, bisa jadi tidak terlihatnya rumah pertemuan dimana Prajurit Namir meyakini berada di sekitar sini merupakan ulahnya.


Dengan kekuatan ghaibnya dia menghilangkan tempat pertemuan, sehingga dia dan 9 Pasukan Rahasia tidak dapat melihat.


Dugaan Jenderal Rainer hampir tepat. Rumah Chafik tidak terlihat memang karena kekuatan ghaib. Tapi yang membuat demikian bukan Dhafin meski dia juga bisa, melainkan Keenan.


Sementara itu, Dhafin dan keempat bocah sakti lainnya masih berada di rumah Chafik. Mereka sudah berembuk tentang apa yang akan dilakukan untuk mengatasi Jenderal Rainer dan 9 Pasukan Rahasia.


Prajurit Lais sudah tidak ada lagi di ruang depan rumah Chafik. Dengan ilmu sihirnya, Keenan menghilangkan prajurit yang sudah jadi mayat itu entah kemana.


Kini mereka semua sudah melihat Jenderal Rainer dan Prajurit Namir saat mereka mengintip keluar. Posisi Jenderal Rainer dan rekannya berada sekitar 5-6 tombak di depan rumah Chafik sebelah kanan.


★☆★☆


Tampak Keenan keluar melalui pintu depan, diikuti oleh Dhafin. Tapi mereka sampai di depan pintu saja sekitar dua langkah. Tidak melangkah jauh.


Saat sudah berada di luar, mereka dapat melihat dua kelompok lainnya yang kini sudah mendekat ke tempat Jenderal Rainer berada dengan berlari cepat.


Begitu 9 Pasukan Rahasia sudah berkumpul ke tempat Jenderal Rainer, maka Jenderal Rainer memerintahkan untuk menyusuri tempat di sekitar hutan ini.


Sedangkan Dhafin dan Keenan, begitu melihat 10 orang Lengkara semakin dekat dengan batas segel pelindung rumah Chafik mereka saling pandang. Seolah hal itu sebagai isyarat dimulainya tindakan mereka.


Keenan sudah memberitahukan kalau segel pelindung yang dia buat tidak dapat memasukkan apa pun dari luar kecuali udara. Dan tidak dapat mengeluarkan apa pun dari dalam kecuali udara dan ilmu sihir atau ilmu ghaib.


Tampak Dhafin mulai mengerahkan kekuatan ghaibnya yang sudah menyatu dengan energi batinnya. Dan kali ini dia sudah bisa mengerahkannya pada 4 objek jika dia melihat objeknya. Jika tidak, dia cuma mampu dua objek.


Sementara Keenan sudah mengerahkan ilmu sihirnya juga. Saat ini dia cuma mampu mengerahkannya pada 2 objek, baik dia lihat maupun dia tidak lihat objeknya.


Sasaran pertama Dhafin adalah Jenderal Rainer yang sudah membuatnya geram bukan main. Dia langsung menyasar 4 objek pada tubuh jenderal itu; dua lutut dan dua lengan.


Dan tanpa Jenderal Rainer menduga, seketika dua lutut dan dua lengannya terasa seperti ada tangan besar yang mencekalnya dengan kuat.


Begitu Dhafin mengepal kedua telapak tangannya dengan kuat, maka terdengar dua tulang lutut dan dua tulang lengan Jenderal Rainer remuk secara bersamaan.


"Aaaaaa...!!!"

__ADS_1


Tanpa ijin terlebih dahulu Jenderal Rainer seketika menjerit sekeras-kerasnya sambil membelalakkan mata. Hampir bersamaan tubuhnya langsung menggelosor jatuh ke tanah tanpa ada yang mencegahnya.


Terang saja 9 Pasukan Rahasia yang berada tak jauh darinya terkejut bukan main mendengar Jenderal Rainer menjerit kesakitan dan terjatuh tanpa tahu sebabnya.


Namun belum juga mereka dapat menyadari apa yang terjadi, dua di antara mereka menjerit tertahan, lalu suaranya tercekat seperti lehernya tercekik.


Rupanya leher dua prajurit yang menjerit itu terlilit sesuatu berbetuk tali dan bersinar biru.


Dan begitu Keenan merapatkan jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya, tali aneh itu mengencang membuat leher kedua prajurit itu langsung remuk.


Tanpa ampun dua prajurit itu seketika tersungkur jatuh dengan tanpa nyawa dan tanpa sempat menjerit.


Kejadian aneh yang mengerikan itu terus berlangsung hingga Pasukan Rahasia yang tersisa tumbang semua.


Enam di antara mereka sudah jadi mayat dengan leher remuk. Perbuatan itu hasil dari pekerjaan Keenan.


Empat lainnya kedua lutut dan kedua lengannya hancur, termasuk Jenderal Rainer. Perbuatan itu hasil dari pekerjaan Dhafin. Dan mereka masih hidup.


Sebenarnya 9 Pasukan Rahasia itu merupakan prajurit kelas atas yang mempunyai kehebatan yang tidak bisa dianggap remeh. Apalagi Jenderal Rainer yang bukan saja punya beladiri. Tapi juga mempunyai kesaktian.


Namun yang mereka lawan adalah kekuatan ghaib atau kekuatan sihir. Kehebatan yang mereka miliki belum bisa melawan kekuatan ghaib yang dimiliki kedua bocah itu. Akhirnya mereka binasa dengan konyol.


Terkhusus Jenderal Rainer sendiri. Dia yang paling hebat ilmunya di antara mereka. Tapi kehebatannya itu tak dapat membatunya menghindari kebinasaannya yang konyol ini.


Jelas setelah diinterogasi nanti, dia akan dibunuh juga oleh Aziel yang amat dendam pada orang-orang Lengkara.


★☆★☆


Setelah Keenan membuka segel pelindung pada rumah Chafik, Brian, Aziel dan Kelvin keluar dan langsung memeriksa kesembilan prajurit itu. Yang masih hidup mereka bunuh dengan pedang prajurit itu sendiri.


Masih kecil begini saja mereka sudah berani membunuh. Bagaimana sudah besar nanti?


Begitu Aziel sampai pada Jenderal Rainer yang terkapar tanpa daya dan hendak membunuh dengan pedang si jenderal, Brian langsung mencegahnya.


Lalu dia menyuruh Aziel dan Kelvin menyeret si jenderal ke dalam rumah. Dan mereka langsung mengerjakannya.


Sedangkan pada Dhafin dan Keenan disuruhnya menghilangkan mayat 9 prajurit Lengkara itu seperti temannya yang sudah dihilangkan tadi.


"Kemungkinan besar penduduk mendengar jeritan-jeritan kematian di sini," kata Brian menerangkan. "Kalau mereka sampai melihat mayat 9 prajurit ini, urusannya bisa panjang."


Dhafin dan Keenan memahami hal itu. Sementara Brian beranjak masuk ke dalam rumah, dua bocah seumuran itu mendekati mayat 9 prajurit Lengkara.


Sementara Keenan sudah melenyapkan satu mayat, sedangkan Dhafin masih terdiam memandang mayat yang akan dia hilangkan dengan kekuatan ghaibnya.


Sebenarnya dia sudah membayangkan kalau perjalanan hidupnya pasti akan menjumpai kejadian-kejadian mengerikan seperti ini. Dan besar kemungkinan di masa depannya tangannya akan banyak menumpahkan darah.


Hanya saja dia tidak menyangka di usianya yang masih tergolong kecil seperti ini dia sudah berhadapan dengan kejadian mengerikan seperti ini. Apa mau dikata!


"Takdir siapa yang tahu, Saudara Dhafin," kata Keenan dengan bijak. "Tidak perduli siapa pun dan berapa pun usianya, jika takdir langit sudah menentukan dia harus membunuh, maka itulah yang pasti akan terjadi."


"Kamu benar, Saudara Keenan," kata Dhafin sepakat.


Lalu dia berjongkok hendak menghilangkan mayat prajurit yang ada di dekat kakinya dengan mantra ghaibnya. Tapi belum juga dia merapal mantra, Keenan bertanya.


"Ke mana kamu akan melemparkan mayat yang kamu hilangkan?"


"Satu-satunya tempat yang aman yang pernah aku kunjungi adalah laut," sahut Dhafin. "Maka aku akan melemparkannya ke situ."


"Bagus juga," kata Keenan mendukung.


Lalu dengan kekuatan ghaib yang mereka kuasai, semua mayat Pasukan Rahasia Kerajaan Lengkara telah lenyap. Tidak ada lagi berserakan di sekitar situ.


Kemudian kedua bocah itu masuk ke dalam rumah. Lalu Keenan menguncinya. Karena dia yang terakhir masuk.

__ADS_1


Sementara itu, di pinggir hutan kurang lebih 150-an tombak dari rumah Chafik tampak belasan penduduk berkumpul di situ. Rupanya mereka sempat mendengar jeritan kematian prajurit Lengkara dan Jenderal Rainer.


Namun mereka cuma sampai di situ saja. Tidak ada yang berani masuk ke dalam hutan. Mereka cuma berani kasak kusuk di situ tentang peristiwa mengerikan yang terjadi tadi.


Mereka mengetahui kalau di dalam hutan itu ada rumah Chafik. Sebenarnya mereka khawatir juga jangan-jangan Chafik terjadi sesuatu dengannya.


Namun mereka cuma bisa kasak-kusuk di pinggir hutan tanpa bisa berbuat apa-apa. Karena mereka mengkhawatirkan diri mereka sendiri juga.


★☆★☆


Jenderal Rainer hingga saat ini masih belum mampus juga. Namun keadaannya sungguh amat mengenaskan. Dia kini sudah lumpuh total.


Kedua tulang lutut berikut pergelangannya sudah hancur. Jelas, kalau hidup pun dia akan lumpuh seumur hidup. Dan dengan demikian ilmu bela diri dan kesaktiannya tidak berguna lagi.


Kini wajahnya tampak datar dan kaku. Pandangan matanya kosong dan tampak redup. Jelas pikiran lelaki itu sudah terpengaruh oleh mantra ghaib. Kali ini yang mengerahkannya adalah Dhafin.


Sementara lima bocah sakti duduk bersandar di dinding papan mengitarinya. Sedangkan Chafik yang sudah disadarkan ikut nimbrung juga di ruang depan yang tidak terlalu luas itu.


Sorot mata bocah itu takut-takut ngeri menatap Jenderal Rainer yang terkapar tak berdaya di tengah ruangan. Dia melihat bercak darah membasahi pakaian bagian lutut dan lengan orang itu.


Dia belum tahu sebabnya apa, tapi masih takut untuk bertanya.


Sedangkan Brian dan yang lainnya mulai menginterogasi Jenderal Rainer. Dan dengan lancar mulutnya menjawab apa yang ditanyakan.


Hal pertama yang ditanyakan Brian mengenai keberadaan Hendry. Namun jujur Jenderal Rainer mengatakan kalau dia tidak tahu menahu tentang bocah itu.


Pihak kerajaan juga belum menangkap anak yang bernama Hendry. Mereka baru menangkap Jarvis sebagai teman bocah-bocah itu.


Ketika ditanya pula Jenderal Rainer mengaku kalau Jarvis lah yang memberitahukan semua tentang mereka setelah disihir oleh penyihir istana. Selain Dhafin tentunya. Karena Dhafin baru bergabung dengan tim Brian.


Setelah itu muntahlah dari mulut Jenderal Rainer semua keterangan-keterangan penting yang dia ketahui tentang keadaan Kerajaan Lengkara dan tentang rencana-rencana mengerikan di masa depannya.


Termasuk mereka tanyakan maksud Raja Bastian Lamont membentuk Pasukan Khusus. Dan dijawab dengan tanpa sungkan oleh Jenderal Rainer.


Satu berita penting yang mereka ketahui dari mulut Jenderal Rainer bahwa Gerombolan Pedang Tengkorak merupakan pasukan bawah tanah Raja Bastian.


Setelah puas bertanya, kelima bocah sakti itu terdiam memikirkan rencana-rencana besar Raja Bastian Lamont.


Mereka tidak habis pikir Raja Bastian begitu haus akan kekuasaan sampai dia ingin menghancurkan lalu menguasai Kerajaan Amerta dan Kerajaan Bentala.


Makanya dia sudah menyusun rencana-rencana gila yang mengerikan sejak dini.


"Tidak ada lagi yang mau ditanyakan pada jenderal itu, Pangeran?" tanya Aziel memecah kebisuan.


Semua anak yang ada di situ tahu maksud dari pertanyaan Aziel itu kecuali Chafik.


"Sepertinya sudah tidak ada lagi," sahut Brian santai. Dia tidak berniat mencegat maksud Aziel.


Dan yang lain pun tidak ada yang bersuara. Sepertinya mereka menyerahkan tugas eksekusi pada Aziel.


Sedangkan Chafik menatap heran dan bingung pada Aziel yang menghampiri Jenderal Rainer. Dia susah menebak maksud Aziel melakukan demikian, karena wajah Aziel selalu dingin, tanpa ada ekspresi apa pun.


Begitu matanya melihat Aziel mencabut pedang Jenderal Rainer yang masih di punggungnya, dia langsung terkejut.


"Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Chafik panik.


Mana mungkin Aziel menjawab. Kedua tangannya yang menggenggam pedang berkilat itu langsung menusuk leher Jenderal Rainer dengan kuat tanpa ragu.


Maka ujung pedang tajam itu menusuk leher Jenderal Rainer dengan tepat hingga tembus ke tengkuk. Sedangkan Jenderal Rainer hanya mampu mengeluarkan suara seperti sapi digorok.


Sementara Chafik seperti tidak mampu bersuara karena tenggorokannya seketika tercekat saking kagetnya melihat kejadian mengerikan di depan matanya sendiri. Matanya yang membulat besar menyorotkan kengerian yang amat sangat.


Sedangkan Dhafin berusaha meneguhkan hatinya saat menyaksikan peristiwa mengerikan seperti itu. Dia harus membiasakan diri. Karena kedepannya pasti dia lebih banyak lagi melihat peristiwa-peristiwa pembunuhan.

__ADS_1


★☆★☆★


__ADS_2