Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)

Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)
Gilang demam


__ADS_3

''Om muslimkan ?'' tanya Lana


Dduuuaaaarrrr..


Bagai disambar petir. Gilang tersentak kaget saat mendengarnya. Ia diam terpaku memandang Lana yang juga memandangnya.


''Apa Om selama ini nggak pernah sholat, puasa, dan juga yang lainnya ??''


Gilang menggeleng.


''Apa Om sekolah umum ?? Biasanya walaupun umum tetap ada agamanya. Dan terus apakah dirumah Mak nya Om nggak pernah ngajarin Om? Om juga nggak bisa ngaji ?'' cecar Lana.


Skakmat !! Gilang mati kutu didepan anak kecil yang masih SD , Gilang hanya mengangguk kan kepalanya pasrah.


Lana menarik nafasnya yang terasa sangat berat. Ia kira Gilang paham tentang agama seperti dirinya, ternyata nggak bisa sama sekali.


Padahal dari pertama bertemu, Lana sudah menyukai Gilang. Hanya saja Ia tidak menunjukkannya karena takut akan Alisa marah.


''Ya sudah, Abang yang akan ngajarin Om ya? Ayo ikut Abang! Nanti Om perhatikan sambil dipraktekkan ya? Ikutin aja gerakan Abang!''


'' Ya...'' sahutnya.


Hanya itu yang bisa Gilang ucapkan. Untuk sekarang bibirnya terasa Kelu berbicara pada Lana.


Mereka menuju ke kamar mandi untuk berwudhu, Lana mengambil wudhu dengan berdoa terlebih dahulu Gilang mengikutinya walaupun Ia tak tau apa doanya yang penting ikut saja dulu begitu, pikirnya.


Lana mencuci tangan, Gilang ikut mencuci tangan hingga sampai akhir Gilang mengikuti Lana.


Mereka sholat berjamaah dengan Lana sebagai imamnya untuk Gilang sedang Alisa dan Ira sudah selesai.


Gilang terus mengikuti Lana sampai salam barulah Ia bersuara. Membuat mereka yang disana termangu mendengarnya salah satunya Alisa. Ia terdiam mencerna setiap ucapan Gilang.


''Terimakasih Bang, udah mau ngajarin Om tentang sholat. Selama ini jangan kan sholat, berwudhu saja baru kali ini apalagi mengaji seperti yang Abang bilang, Om nggak bisa.. udah terlalu lama Om, meninggalkan nya..'' lirih Gilang dengan mata berkaca-kaca.


''Pernah sih terakhir kali saat Om masih SD, yaitu ketika Oma nya Om masih ada. Beliau lah yang selalu mengajarkan Om tentang sholat dan juga mengaji. Setelah beliau tiada nggak ada lagi yang ngajarin Om..''


Gilang menarik nafasnya yang terasa berat.


''Bukan maunya Om seperti ini Bang.. tapi keadaan lah yang membuat Om melupakan segalanya. Mama dan Papa, mereka berdua selalu sibuk nggak pernah sama sekali Om, ditanya apakah sudah sholat atau belum? Mereka tak pernah bertanya, apakah Om sudah sampai mana ngajinya seperti yang dilakukan Oma, Om. Nggak ada Bang.. mereka hanya bertanya, apakah sekolah Om baik baik saja? Atau uang jajan Om habis?? Hanya itu.. pergi pagi pulang malam! Bahkan ketika hari libur pun mereka nggak pernah ngajakin Om liburan! Om sedih pada waktu itu karena mereka berbeda dari Oma yang selalu perhatian, dan ketika Oma meninggal Om hancur.. Om terpuruk.. hingga pada akhirnya Om bangkit sendiri tapi apa yang telah diajarkan oleh Oma, Om tidak mengerjakannya! walaupun Om tau, meninggalkan sholat itu dosa! Om tetap melakukannya! Om tepaksa Bang..'' lirih Gilang sambil menangis.


Alisa yang mendengarnya tertegun sesaat. Lana yang mendengar pun ikut menangis. Mereka sedih dengan nasib Gilang.


''Selama ini Om kesepian, makanya Om berbuat sesuka hati. Om tau itu salah tapi Om tetap melakukannya. Karena tak tau harus melampiaskan kepada siapa rasa sakit dihati ini.. Dan saat pertama kali Om melihat Mak Abang yang begitu tegas ketika anaknya dipukul, Om terharu. Ternyata masih ada seorang ibu yang sayang pada anaknya, berbeda dengan Om! Mak Abang sangat mirip dengan Omanya Om. Bukannya membandingkan tapi inilah kenyataan hidup yang Om jalani. Terpaksa Om menjadi nakal, berandalan, tak tau aturan bahkan sering melawan Mama Om. Om hanya mencari tempat dimana mereka menyayangi Om seperti Oma itu saja. Mama Om orangnya baik kok. Hanya saja beliau jarang ada dirumah, oleh karena kesibukannya itu Ia melupakan fitrahnya sebagai seorang Ibu..'' ucap Gilang dengan wajah yang penuh dengan air mata.


Ya Allah... sesak sekali dadaku ternyata dibalik sifatnya yang berandalan tersimpan jiwa yang murni. Hatinya lembut hanya saja kekurangan kasih sayang... Batin Alisa.


Alisa menitikkan air matanya.


Gilang melanjutkan lagi ucapannya. ''Apakah Om salah Bang? Om harus apa bang?'' tanya nya dengan terisak.


''Om tenang aja! Hiks.. Abang yang akan ngajarin Om! Nanti kita pergi ke mesjid sholat berjamaah ya biar Om bisa dan untuk panduannya Abang ada kok bukunya. Dengan senang hati Abang akan mengajari Om.. hiks..''


Alisa menjadi terharu mendengar ucapan Lana, padahal ia masih kecil tapi ia mau menolong orang lain.

__ADS_1


''Ngomong ngomong Om belum nyebutin loh.. nama Om siapa? Masa' kami panggil Om doang? Jika nanti kita berpapasan kan jadi enak manggilnya..''


Gilang tersenyum haru.


''Hehehe.. iya Om lupa ngenalin diri Om. Nama Om Gilang Bhaskara, umur Om 19 tahun bulan depan. Om tinggal di komplek perumahan Griya M, Om anak tunggal nggak punya saudara kayak Abang Sama Kakak.. makanya Om kesepian..''


''Wuihhh sama nih kayak Mak Abang.. Mak juga anak tunggal Om!''


''Iyakah ?? Om kira Mak Abang banyak saudara nya ternyata sama toh..''


''Om orang Medan asli atau perantauan??'' tanya Lana


Gilang tersenyum.


''Om bukan orang Medan tapi Jakarta. Tempat tinggal Om sebenarnya disana nggak tau mengapa Opa Om dulu memindahkan kantor pusat perusahaan Papa Om kesini. Om juga nggak tau. Pernah Om bertanya sama Oma, Oma bilang Om akan mendapatkan sesuatu yang tak pernah disangka nanti disini gitu katanya..''


''Ohh.. Jadi Om orang Jakarta ya? Berarti kapan kapan bisa dong Om ajak Abang kesana?''


''Ya suatu saat nanti Om pasti bawa Abang kesana..''


''Asiiik.. KE Jakarta euuuyyy..'' Gilang tersenyum.


Hujan diluar masih mengguyur bumi dengan derasnya. Belum ada tanda-tanda untuk berhenti tapi Gilang harus pulang. Ia sudah mendapat ultimatum dari Alisa, Ia disana hanya sampai isya saja.


Sebelum pulang Gilang masih sempat minum teh jahe buatan Alisa yang terasa hangat di tubuhnya. Setelah habis, Gilang mengucapkan terimakasih dan pamit meninggalkan rumah Alisa.


Alisa yang melihat Gilang pamit hanya diam saja. Jauh di lubuk hatinya Ia sangat kasihan dengan Gilang.


Gilang ...


Derasnya hujan tak menyurutkan langkah Gilang untuk kembali kerumahnya. Ia merasa lega setelah mencurahkan isi hatinya kepada keluarga Alisa. IA terus saja tersenyum sepanjang jalan. Ia bersenandung dengan gembira.


Baru kali ini dirinya merasa sesenang ini.


Gilang selama ini hanya bisa menyimpan sendiri rasa sakit hatinya hingga berubah haluan menjadi berandalan. Padahal dirinya baik.


Ia hanya ingin melampiaskan rasa sakit dihatinya itu saja dan itupun terpaksa Ia lakukan.


Gilang terus saja menunggangi kuda besinya dalam hujan deras hingga basah kuyup. Ia tak peduli yang penting sekarang hatinya lega.


Satu jam kemudian sampai lah dirumahnya.


Ia memarkirkan motornya di garasi, kemudian masuk kedalam dari pintu samping garasi.


Kebetulan sekali Mama Dewi ada disana sedang membuat wedang jahe.


Gilang terkejut namun Ia berpura pura saja tidak tahu. Mama Dewi yang melihat Gilang hanya menggelengkan kepalanya.


Sudah biasa baginya pemandangan seperti itu pulang dari sekolah bukan kerumah tapi malah kelayapan.


Dan sekarang dalam keadaan hujan pastilah Gilang akan demam nantinya.


Dan tepat seperti perkiraan nya. Gilang demam hingga menggigil, dirinya mengigau menyebut nama Oma Diana.

__ADS_1


Pastilah begini jika Ia sudah demam. Mama Dewi yang melihatnya menjadi sedih. Ia tau dirinya bersalah kepada Gilang tapi apalah daya Gilang sudah tidak bisa tersentuh lagi olehnya.


Mama Dewi berharap akan ada seseorang yang bisa merubah kebiasaan buruknya itu. Mama Dewi mengompres dahi Gilang hingga tertidur disampingnya.


Paginya Gilang terbangun dengan kepala pusing dan sakit di sekujur tubuhnya. Saat Ia menoleh ke kiri Ia melihat Mama Dewi tertidur dengan bersandar di kursi belajarnya.


Gilang memandangnya sedih.


Andai waktu bisa kembali .. aku ingin Mama selalu memperhatikan ku.. menyayangi ku sepenuh hati.. bukan hanya sekedar bertanya saja..


Aku rindu Oma... Aku ingin Oma disini.. aku ingin ikut Oma saja.. Batin Gilang.


Gilang terisak membuat Mama Dewi terbangun dan kaget melihat Gilang yang sedang menangis.


''Kamu kenapa Nak?? Ada yang sakit?? Mana? bilang sama Mama!'


''Gilang mau Oma...''


Mama Dewi terdiam.


Disaat dulu Gilang demam hanya Oma yang merawat sampai Gilang sembuh sedang dirinya sibuk dengan bekerja.


''Maafkan Mama Nak...'' Mama Dewi menangis.


Tok.. Tok.. Tok..


Pintu kamar Gilang ada yang mengetuk dari luar. Mama Dewi yang mendengarnya menyuruh masuk. Ternyata Bik Inah yang datang membawa nampan sarapan untuk Gilang.


Gilang yang melihat pun jadi tak berselera. Untuk saat ini Ia sangat ingin masakan yang dibuat oleh Alisa.


''Gilang nggak mau bubur Ma.. Gilang mau telur balado..'' Ucapnya masih dengan wajah pucat Ia memandang Mama Dewi.


Mama Dewi mengernyitkan dahinya bingung. Biasanya kalau demam Gilang menginginkan bubur buatan Oma. Sekarang kok malah jadi telur balado?? Walaupun begitu, Mama Dewi tetap menyuruh Bik Inah untuk membuatnya.


Tak lama kemudian telur balado nya sudah siap. Bik Inah membawanya ke kamar Gilang. Gilang yang melihatnya jadi sumringah. Lagi, Mama Dewi memandang aneh Gilang.


Gilang mencobanya sedikit. Ia merasakannya apakah sama atau tidak. Hingga Ia menolaknya.


''Gilang nggak mau telur balado buatan Bik Inah.. Gilang mau buatannya Mbak Alisa..''


Mama Dewi terkejut mendengar nama seorang perempuan yang sangat asing ditelinganya.


Gilang yang tak berselera makan akhirnya tidur dengan membelakangi Mama Dewi.


Siapa perempuan ini?


Ada apa dengan Gilang?


Alisa.


Siapa dia?


💕

__ADS_1


TBC


__ADS_2