Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)

Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)
Istri sah secara hukum


__ADS_3

''Kamu lah istriku! kamulah hidupku! Aku sangat, sangat menyayangi mu istriku! sangat menyayangi mu!'' ulang nya lagi.


Deg.


Deg.


''Istri???'' sahut Alisa dengan jantung yang tiba-tiba berdebar-debar kencang.


Rasanya jantung itu akan keluar dari tempatnya saat itu juga. Alisa masih mematung dengan ucapan Gilang barusan.


''Ya, istriku! kamu istriku!'' sahut Gilang dari sebalik pintu. ucapan yang begitu tegas ditelinga Alisa.


Alisa mengerjab. ''Kapan aku menjadi istrimu?? Sedangkan kamu saja belum menikahiku!''


Gilang tersenyum. ''Tak perlu ijab Qabul untuk mengikat mu sayang!''


''Maksudnya gimana sih?!''


''Kamu memang sudah sah menjadi istriku! namun bukan secara agama, tapi sah secara hukum!''


Deg.


''Apa?!? Ka-kapan kamu mendaftarkan nya?!'' pekik Alisa dari sebalik pintu.


Membuat Gilang meringis mendengar suara Alisa yang begitu melengking. Setelah nya Gilang terkekeh.


Ia tau, jika pasti akan seperti itu reaksi Alisa. Gilang sangat ingin melihat wajah terkejut pujaan hatinya itu.


Tapi... Gilang menghela nafasnya.


''Jawab Gi!!'' sentak Alisa


Lagi dan lagi Gilang meringis. ''Ishh... tenang Napa sih sayang?! Suara mu itu loh.. buat telinga ku jadi pengang tau!'' gerutu Gilang.


Ia mengusap telinga nya berulang kali karena mendengar suara Alisa yang begitu kuat. Walau sebenarnya ia tau jika mereka berdua di sebalik pintu, tapi Gilang merasakan jika saat ini Gilang sedang berhadapan dengan pujaan hatinya itu.


Nafas Alisa naik turun. Dirasa tenang, Alisa berdehem. Dan itu membuat Gilang tertawa. Alisa memanyunkan bibirnya.


''Aku sudah lama mendaftarkan pernikahan kita. Maaf jika aku tidak memberi tahu mu sebelumnya. Aku takut, jika kamu tahu, kamu pasti menolaknya! Maka dari itu, aku sengaja menyuruh Pak Kosim meminta data mu, saat rumah beserta tanah ini dibeli.'' sahut Gilang dengan menaikkan turunkan alisnya.

__ADS_1


Dan itu sukses membuat Alisa menghela nafas panjang dengan begitu kesal. ''Dasar! harusnya tuh ya! kamu ngomong dulu! jadi aku kan nggak terkejut kayak gini?? Ishh...'' gerutu Alisa dan itu membuat Gilang tertawa.


''Sengaja, biar itu menjadi kejutan untuk mu!'' sahut nya, dan itu membuat Alisa melototkan matanya.


''Kamu!''


''Iya sayangku, cintaku, kekasih hatiku, hidupku, nyawaku! Apalagi??''


Alisa yang mendengar nya terkekeh geli. Gilang tau jika ia sukses membuat pujaan hatinya itu tertawa.


''Hei! kamu kok tertawa sendiri sih?! nggak asik ah!''


Lagi, Alisa tertawa. Gilang tersenyum. ''Usahaku tidak sia-sia untuk bisa membuat mu tertawa!'' celutuk nya dengan sedikit terkekeh kecil disana.


''Ishhh... Papi!!!'' rengek Alisa.


Gilang tertawa. Sungguh, inilah yang ia inginkan. Ia ingin selalu bisa menggoda Alisa. Istrinya. Istri sah secara hukum, tapi belum secara agama.


Jika papa Angga dan Mama Dewi tau, entah apa yang akan terjadi nanti. Tapi sebelum itu terjadi, Gilang sudah menutup akses untuk kedua orang tuanya, agar mereka tidak bisa mengetahui yang mana istri pertama Gilang ini.


Selesai dengan perdebatan mereka, kini Alisa baru sadar jika Annisa tidak ada di dekatnya.


''Aduhh.. kemana si Andi membawa putri ku?! Awas kau Andi! Lebih baik sekarang aku mencari Andi. Untuk pindah kesini, aku tunggu Abang aja deh. Pasti putra ku itu senang bukan main, jika tau rumah buatan Papi nya sudah selesai.'' imbuhnya dengan sedikit senyum manis namun terselip sendu di dalam nya.


Gilang yang melihat Alisa melalui sambungan ponsel nya tersenyum, namun senyum itu surut saat melihat Alisa menyeka air bening yang mengalir tanpa di pinta.


''Sabar sayang... aku pasti akan menepati janjiku! Begitu juga dengan janji Mama! Walaupun aku harus korban perasaan, tapi aku ikhlas. Karena inilah jalan takdir ku, barang kali dengan aku menikahi Vita, Aku akan mendapat seorang putra darinya?? Eh? Apaan sih?! Bagaimana mungkin akan dapat putra, kalau aku nggak nyentuh Vita??'' ucapnya dengan sedikit terkekeh.


''Tapi... jika suatu saat itu terjadi padaku, maka aku akan menjadikan Alisa sebagai ibunya. Ibu yang akan mengenal kan nya tentang baik dan buruk. Segala sesuatu nya, aku hanya mau Alisa. Allah.. kalau boleh aku meminta... aku ingin jika suatu saat aku mendapatkan seorang putra dari Vita, maka Alisa lah yang akan merawatnya sejak ia dilahirkan. Aku hanya mau Alisa yang menjadi ibu dari anak-anakku kelak. Kabulkan lah permintaan ku ya Allah...'' pinta Gilang begitu berharap.


Ia menengadah ke atas berharap jika sang maha pencipta mendengarkan doa nya. Semoga saja apa yang di inginkan olehnya terkabul. Amin...


Setelah mendengar Alisa berlalu dan menuruni tangga dengan tergesa-gesa, Gilang keluar dari sebalik kamar itu.


''Ini kamar Kakak! Semoga kamu suka ya, Nak.. Papi sengaja mendesain khusus untukmu anak gadis ku! Dan untuk Abang pun, Papi udah siapkan! Tinggal kalian menempati nya saja. Nanti sore kalian sudah mulai bisa pindah kerumah ini. Akan ku serahkan segala keperluannya nanti pada Andi. Aku harus pergi sekarang!'' imbuhnya, kemudian keluar dari kamar itu dan keluar dari rumah nya itu.


Sebelum keluar, ia melihat sekali lagi rumahnya itu. Ia tersenyum manis, walau terselip sendu.


''Aku akan kesini lagi saat waktu yang ditentukan telah tiba. Untuk itu bersabarlah sayang! Jangan pernah lelah untuk menunggu ku! Karena sampai kapan pun, hanya kaulah yang ku mau. Kaulah tujuan hidupku, Di mana tempat terakhir aku melabuhkan hatiku. Semoga kita bersama sayang, selamanya. Kuharap kau mengerti dengan keputusan ku ini.'' imbuhnya lagi dengan menatap bangunan megah yang selama dua Minggu ini ia garap hingga menghabiskan dana sebanyak satu milyar untuk perbaikan renovasi dan pembelian isi perabotan rumah itu.

__ADS_1


Gilang terkekeh geli saat membayangkan jika Alisa tau berapa nominal renovasi rumah serta isi perabot di dalam rumah mereka.


Gilang terkekeh. ''Semoga kamu betah sayang.. Selamat tinggal, kita akan berjumpa lima tahun lagi. Seharusnya tiga setengah tahun sih.. tapi aku ingin mendalami ilmu agama, seperti yang kamu mau. Waktu satu setengah tahun itu cukup bagiku untuk menghafal ayat-ayat Allah dan membenah diri menjadi lebih baik lagi. Tunggu aku sayang! Aku akan kembali padamu setelah tugas ku selesai. Untuk itu, bersabarlah. Aku pergi sayang ku.. Assalamualaikum..'' ucap Gilang, setelahnya ia berjalan tergesa-gesa karena panggilan telpon dari Mama Dewi sedang berlangsung.


Gilang mengangkat telpon itu, dengan berlari. Setelah masuk ke mobil, Gilang bernafas lega.


''Jalan Pak! Kita pulang ke rumah.''


''Baik Den..'' sahut Pak Kosim.


Sedangkan seorang anak kecil disana menatap nanar pada mobil yang sudah berlalu meninggalkan nya.


''Papi....'' lirihnya dengan bibir bergetar. Matanya berkaca-kaca saat melihat Gilang kembali walau dalam keadaan berlari.


Tapi ia sangat tau jika itu adalah Gilang. Papi nya.


''Abang! dicariin malah udah kemari aja!''


''Abang lihat Papi, Mak...''


''Hah?''


💕


Tuntas ya?? 😁😁


Nanti kalau othor sanggup, bakalan nyusul satu lagi.


Tapi jangan di tungguin juga ya? 😄😄


Like dan komen nya sangat othor harap kan! othor pingin tau, gimana sih menurut kalian cerita othor ini?


Sudah sesuai kah?? atau??


Apakah kalian menyukai cerita recehan othor ini??


Othor tunggu di kolom komentar ya! 😁😁


Hihihi.. ngarep banget othor ya?? 😁😁

__ADS_1


TBC


__ADS_2