
''Ibarat kata, jika Emil adalah penghubung untuk kalian berdua bertemu. Emil penyambung dan penghubung untukmu dan Alisa. Papa sengaja membiarkan Alisa, ia bawa ke Medan. Tempat dimana ada seseorang yang sedang menunggu nya. Jodohnya.'' jelas Papa Yoga.
Ia tersenyum lembut melihat Gilang. Begitu juga dengan Mama Alina. ''Ternyata.. kalian berdua bertemu disaat yang tepat, Nak! Inilah takdir kalian berdua! Maaf jika Papa kemarin menampar mu! Papa ingin menguji mu, Nak. Apakah kamu bertahan dengan lelaki seperti Papa yang menuduhmu sebagai Emil.''
''Lelaki penghubung untukmu dan putri Papa. Papa salut padamu. Alisa tidak salah memilihmu untuk menjadi suaminya. Papa tidak marah jika kamu sudah mencatatkan pernikahan kalian di KUA. Justru itu lebih bagus. Berarti kamu sudah mengikat Alisa dengan perbuatan mu itu.'' imbuh Papa Yoga, membuat mata Gilang berkaca-kaca.
Tes.
Tes.
Buliran bening itu mengalir di pipi mulus Gilang. Ia bangkit dan duduk bersimpuh di hadapan Papa Yoga dan Mama Alina.
Kedua paruh baya itu terkejut. ''Apa yang kamu lakukan Nak? Bangun!'' titah Papa Yoga.
Gilang menggeleng. Ia menenggelamkan wajahnya di pangkuan Papa Yoga. Ia terisak disana. Bahunya berguncang.
''Terimakasih Papa... karena Papa menerima Gilang apa adanya.. Gilang sangat yakin jika yang kemarin itu hanya salah paham saja. Gilang sudah banyak mendengar cerita Papa dari Alisa. Dia lah yang mengajarkan Gilang tentang berbaik sangka kepada orang tua. Selama Gilang mengenal Alisa, ia adalah wanita terbaik dan tulus yang pernah Gilang temui. Terimakasih Papa.. hiks..'' tubuh Gilang berguncang hebat seiring dengan air mata nya yang terus bercucuran.
Papa Yoga dalam Mama Alina tersenyum. ''Ternyata bukan hanya wajah kalian saja yang mirip, namun sifat kalian berdua juga begitu mirip! Kamu tau, Nak? Pertama kali Papa melihat Emil, Papa pikir itu kamu. Wajah kalian begitu mirip. Tapi tampan kamu lagi sih. Hanya yang membedakan kulit Emil itu kecoklatan. Sedangkan kamu seputih susu. Apakah ketika ke sawah kemarin kulitmu tidak apa-apa, Nak??''
Gilang menggeleng. Namun tidak menyahuti ucapan Papa Yoga. Papa Yoga menepuk lembut bahu Gilang.
''Bangun, Nak.. jangan menangis. Kamu seperti Lana saja kalau Papa perhatikan. Tingkah mu dan Lana begitu mirip. Jangan nangis ah! Lelaki itu harus kuat, jangan cengeng! Jika kamu lemah, maka anggota mu pun ikut lemah nantinya. Ya.. walaupun Papa tau, kamu memiliki hati yang begitu lembut. Sama seperti Alisa. Bangun Nak..'' titah Papa Yoga.
Namun Gilang tetap kekeuh ingin bersimpuh dipangkuan Papa Yoga. Papa Yoga menghela nafas. Ia memberi kode pada Mama Alina untuk membujuk Gilang agar mau bangkit dulu.
__ADS_1
Melihat kode dari Papa Yoga, Mama Alina terkekeh kecil. Mama Alina bangkit dan merangkul Gilang dan membawa ke dalam pelukan nya.
Tiba di pelukan Mama Alina, ia merasakan pelukan itu seperti pelukan Oma Diana. Gilang semakin menangis.
''Menangislah. Jika dengan kamu menangis membuat hati mu lega. Asal jangan berlebihan ya?'' ucap Mama Alina, dengan mengusap kepala Gilang dengan sayang.
Andi dan Pak Kosim terharu melihat Gilang bersama kedua orang tua Alisa. ''Sudah. Ayo bangun!'' tegas Mama Alina dengan segera mengurai pelukannya dari tubuh Gilang.
Gilang menurut. Mama Alina tersenyum. Begitu pun dengan Papa Yoga. Gilang tersenyum dengan wajah sembab.
''Kalian berdua sudah dijodohkan sedari dulu sayang.. tapi hanya takdir saja belum berpihak pada kalian berdua. Takdir kalian memang sekarang ini. Kalian disatukan saat kalian berdua memang sudah pantas untuk satu sama lain. Pernikahan itu bukan hanya sekedar cinta mencintai saja. Tapi pernikahan itu penyatuan dua jiwa yang berbeda dan bertolak belakang di gabung menjadi satu. Kelebihan dan kekurangan menjadi salah satu yang harus di satukan. Juga, pernikahan adalah salah satu bentuk ladang pahala bagi sepasang suami istri.''
''Mama pernah memberikan nasihat ini kepada Alisa. Segala bentuk kekurangan suami jadikan semangat dalam kita berubah menjadi lebih baik untuk menutupinya. Bukankah seorang istri tugasnya menutupi segala kekurangan suami melalui kelebihan nya?''
Gilang mengangguk, ''Ya,'' jawabnya.
''Jika ia salah, maka tegur lah! Dan jika ia meminta maaf, maka maafkan lah. Kira sebagai manusia hanya bisa menegur, bukan penghukum! Yang berhak menghukum itu hanya Allah SWT. Maka jika suatu saat istri atau suami melakukan kesalahan maka janganlah menghukum nya.''
''Tegurlah dia dengan lembut. Nasehati dia. Jangan sakiti hatinya, jangan lukai fisiknya. Jika sampai itu terjadi, maka azabksh yang akan datang menimpa nya. Satu air mata yang menetes karena disakiti oleh sang suami, maka celaka lah suaminya. Ingat Nak, tugasmu menegur bukan menghukum.'' jelas Mama Alina panjang lebar.
Gilang mengangguk patuh. ''Tentu, Ma. Akan selalu Gilang ingat!''
''Assalamualaikum..''
''Waalaikum salam..''
__ADS_1
Gilang berbalik dan tersenyum.
''Loh? Kamu disini? Kamu Gilang bukan??''
💕💕💕💕
Hayo.. siapa itu?
Jangan lupa mampir ya di ceritanya Abang Lana.
Sang Abang yang super kocak udah nongol tuh! Yuk mampir dan ramaikan disana.
Othor tunggu ye!
Ha.. ini dia bang Lana super kocak!
Like dan komen selalu othor tunggu!
Hadiah juga boleh. Vote? Apalagi! 😄😄
Hehehe..
Kalau nggak nyangkut lagi ya. Tadi malam udah othor update bab ini. Tapi kayaknya nyangkut di pohon NT deh! 🤔🤔
__ADS_1
Hihihi..
Love you all.. 😘😘