Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)

Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)
Suami sah vs mantan suami


__ADS_3

''Wanita itu banyak macam tipenya. Salah satunya setia. Jika ia sudah memilih setia dengan pasangan nya, maka jangan lukai hatinya. Tapi Jika ia sudah terluka dan memilih pergi, maka ia tidak akan pernah kembali lagi! Itu yang sekarang pada Mak Alisa. Mak kami bertiga. Mantan istri ayah. Dan istri Papi!'' jelas Ira dengan menatap kedua orang tuanya itu bergantian.


''Allahu Akbar...'' ucap Emil dan Gilang bersamaan.


Azizah mengulum senyum. Sedangkan Lana, terkekeh kecil melihat tingkah ayah dan Papinya itu.


Mereka berdua saling pandang, kemudian melengos. Sama-sama buang muka. Lalu berdehem bersamaan.


Lana yang sedari tadi tertawa, malah bertambah tertawa.


''Hahaha... Papi dan ayah jadi kompak gara-gara Mak! Hahaha..'' Azizah yang sedari tadi mengulum senyum, tertawa terbahak.


Begitu juga dengan Ira. Gadis cantik yang tertutup niqob itu semakin geli hatinya saat melihat ayah Emil dan Papi Gilang sama-sama salah tingkah.


Ia tertawa sampai kepala nya mendongak ke atas.


''Ehm, bang Emil!''


''Ehm, Gilang!''


Ucap mereka lagi secara bersamaan. Lagi, ketiga orang itu semakin tertawa melihat tingkah kedua orang tuanya itu.


''Hahaha... kompak euuuyyy!!'' celutuk Lana semakin membuat dua orang beda usia itu salah tingkah tak karuan.


''Ehm, Abang aja dulu!''


''Kamu aja dulu!''


Lagi, ketiga orang itu tertawa terbahak. Seluruh pelanggan restoran itu menjadi terkekeh melihat tingkah absurd Lana yang semakin tertawa terbahak Sampai kepala mendongak ke atas.


Sementara Alisa yang masih berdiri di luar restoran itu dan bersembunyi, ia pun ikut tertawa.


Namun tawanya itu terbungkam karena ia menutup mulut nya. Namun, ada yang aneh dari tawa Alisa.


Mulut tertawa, namun tubuh berguncang hebat. Air mata pun ikut mengalir deras. Jika ada yang melihat nya, pastilah Alisa di kira gila.

__ADS_1


Tapi ia tak peduli. Yang penting bisa melihat kejadian itu saja sudah cukup membuat nya tenang.


Alisa sengaja memarahi kedua orang itu, agar mereka berdua sadar. Tidak seharusnya membuka masa lalu, sementara mereka saja sudah bahagia dengan kehidupan masing-masing.


Tidak perlu kembali lagi ke masa lalu. Jika masa depan kita sudah bahagia. Itu menurut Alisa.


Entah bagaimana dengan dua orang yang sudah ia marahi tadi. Semoga saja, mereka berdua tidak salah paham dengan perkataan nya tadi.


Alisa mengusap kasar air matanya saat ini. Mulut tertawa tapi hati menangis. Inilah yang terjadi pada dirinya saat ini.


Ia tetap menatap kedua orang yang dulu dan sekarang ada di hidupnya.


''Ehm, yang tua aja dulu.'' ucap Gilang dengan sedikit kekehan di bibirnya.


Emil mendelik tak suka. ''Ishh.. mentang-mentang masih muda, sok banget kamu!'' ketus ayah Emil.


Gilang terkekeh. ''Lah.. kan bener adanya bang. Saya memang lebih muda dari Abang! Bahkan ketika saya duda saja, umur saya masih dua puluh tahun?'' sombong Gilang.


Emil memutar bola mata nya malas. ''Hilih, sok muda dan sok kegantengan!'' ketus ayah Emil lagi.


Gilang tertawa hingga mendongak kan kepalanya ke atas. ''Hahaha.. Abang kalah saing sama aku! Hot Papi!!'' seru Gilang jumawa.


Gilang semakin tertawa. ''Nggak lima tahun Abang. Anak kamu udah bisa aku luluhin baru pertama kali bertemu! Ya kan Bang?'' tanya Gilang pada Lana dan Ira sembari menggerakkan alisnya naik turun.


Lagi, mulut Emil mencebik. Lana mengangguk pasti. Sementara Ira terkikik geli melihat tingkah ayah dan Papi nya.


Azizah semakin tertawa melihat tingkah dua orang yang sudah terikat dengan Alisa itu.


''Iya cepat luluhin anaknya! Lah, Mak nya? Butuh Lima tahun kan untuk bisa meluluhkan hatinya yang sudah beku itu?'' tanya ayah Emil lagi.


Gilang, Lana dan Ira terdiam. Begitu juga dengan Azizah. Gilang tersenyum melihat ayah Emil.


''Nggak lima tahun, Bang. Jauh sebelum itu kami sudah terikat satu sama lain. Kami sudah dijodohkan sedari kecil. Kedua kakek dan nenek kami pernah memiliki hubungan di masa lalu dan itu mengharuskan kami untuk menuruti permintaan mereka. Yaitu dengan memenuhi janji mereka yang tertunda akibat, papa Alisa dan Papa Angga sama-sama lelaki. Jadi untuk meneruskan wasiat masa lalu itu, kami berdua lah yang harus menurutinya.''


''Kami berdua sudah ditakdirkan sedari dulu. Hanya saja... untuk kami berdua bisa bertemu, kami harus menjalani hidup masing-masing sebelum kami di pertemukan. Kami berdua di bimbing untuk menjadi pantas. Kami berdua di bimbing untuk saling mendukung dalam setiap masalah yang akan kami hadapi ke depannya, dengan cara kami memilki pasangan terlebih dahulu.''

__ADS_1


''Menjalani pahitnya hidup pernikahan dan didalam berumah tangga. Alisa dengan kehidupan nya sedangkan aku dengan kehidupan ku! Kami di pertemukan pada saat yang tepat, Bang. Tak ada yang salah dengan pertemuan itu. Memang sudah menjadi takdir kami berdua seperti itu.''


''Contohnya Abang saat ini. Abang sekarang sudah bahagia bukan dengan Azizah? Adik kandung dari asisten ku. Andi Prajaditya? Awal mula pertemuan kalian itu tidaklah salah. Itu memang sudah menjadi goresan takdir kalian berdua. Alisa berbahagia bersamaku. Dan kamu berbahagia dengan istrimu.'' jelas Gilang panjang lebar membuat Emil lagi dan lagi tertegun dengan rentetan perkataan nya.


Ayah Emil menatap datar pada Gilang. Ada rasa cemburu Dan iri dihatinya saat melihat pemuda yang juga mirip dengan nya itu lebih bijak darinya.


''Ya, aku tau itu. Tapi.. jika sampai suatu saat kamu mengecewakan Alisa lagi, maka aku akan bertindak! Aku akan merebut Alisa kembali darimu! Aku menyesal karena telah melepaskan Alisa begitu saja! Tapi tidak kali ini. Jika sampai itu terjadi lagi, aku sendiri yang akan menghajar mu!'' tegas ayah Emil.


Lana dan Ira terkesiap mendengar ucapan ayah Emil yang begitu berani di depan Gilang. Papi mereka.


Gilang tersenyum, ''Tak akan Bang. Sekali aku mendapatkan Alisa, aku tidak akan pernah melepaskan nya lagi seperti yang telah kau lakukan! Aku bukan dirimu, yang suka mendengar pendapat orang lain, kemudian kamu memarahi dan menghukumnya dengan alasan yang tidak jelas! Aku tidak seperti itu, Bang! Sekali aku mencintai, maka sampai matipun aku tidak akan melepaskan nya!'' balas Papi Gilang tak kalah tegas dari ayah Emil.


Ayah Emil mencibir. ''Kau baru berapa hari ini menikah, jadi belum ada ujian dalam kehidupan rumah tanggamu! Tunggu satu bulan ke depan! Kau akan lihat, ujian apa yang akan menimpamu! Di saat itu terjadi, aku ingin lihat sampai dimana kau sanggup bertahan!'' ejek ayah Emil dengan senyum sinis nya.


''Jangan samakan aku dengan mu bang Emil! Kau bisa melakukan hal seperti itu pada istrimu, tapi tidak denganku! Aku berbeda denganmu! Aku tidak akan memarahi istriku tanpa alasan yang jelas! Sebelum aku menuduhnya, aku cari dulu bukti yang memberatkan nya. Jika memang ia bersalah, maka aku akan menegur nya! Bukan menghukum nya!''


Deg!


Deg!


Berdenyut hati Emil mendengar ucapan Gilang yang begitu menyindir nya tentang kejadian dulu.


Ayah Emil mengepalkan tangannya dengan erat. Suasana menjadi tegang seketika. Lana dan Ira saling pandang.


Lana berbisik pada Ira. '' Kak! Ini sih adu mulut antara Suami sah vs mantan suami ini! Ayo, kita taruhan. Siapa yang menang, uang jajan seminggu kita sedekahkan!'' bisik Lana di telinga Ira.


Ira melototkan matanya, ''Kamu ih! itu kedua orang tua kita loh.. masa iya taruhan? Mana uang taruhan itu disedekahkan lagi?! Itu dosa Abang!! Isshh..'' gerutu Ira masih dengan berbisik.


Azizah menatap datar pada kedua orang yang pernah hadir di kehidupan Alisa. ''Kamu sangat beruntung mbak Alisa. Suami sah dan mantan suami mu, sama-sama tegas ingin mempertahankan mu! Sedangkan aku? Jangankan dipertahankan! Di inginkan pun tidak! Kamu beruntung mbak Alisa! Sangat beruntung!'' ucap Azizah dan semua itu masih terdengar boleh kedua orang itu.


Ayah Emil terkejut mendengar sang istri berbicara seperti itu. ''Zi...''


''Aku pulang, Bang.. semoga kau bahagia dengan pilihan mu!''


Deg!

__ADS_1


💕💕💕💕


Weleh, salah paham tuh Mam Zizi??


__ADS_2