
Setelah mendapat kan firasat buruk, dua hari ini Alisa terus memikirkan Ira dan Raga. Tidak tau kenapa, tapi firasatnya ini membuatnya gelisah.
Saat sedang menatap ponsel pintarnya, Alisa terlonjak kaget saat ada panggilan masuk dari sekolah.
Alisa berdebar, ada apa pikirnya. Setelah mengucap istighfar berulang kali, dan menglhela nafas puluhan kali, kini Alisa mencoba untuk berbicara dengan kepala sekolah.
''Ehm, assalamualaikum Pak Samsul? Ada apa ya Pak??'' tanya Alisa dengan sedikit berdebar.
Entah mengapa, ia merasakan firasat buruk terhadap putrinya dan menantunya.
'' Wa'alaikum salam. Begini ibu Alisa, putri anda sedang dalam masalah besar sekarang, tolong anda datang ke sekolah, karena anak anda serta temannya sedang di sidang di sekolah. Mohon ibu Alisa cepat datang ya? Agar masalah ini cepat selesai. Kami tunggu ibu!'' ucap kepala sekolah Ira dan juga Raga.
Alisa menghela nafasnya. ''Baik! saya akan segera kesana. Assalamualaikum!''
''Waalaikum salam Bu..'' sahut pak kepala sekolah.
Masalah besar apa?? Pikir Alisa.
Setelah sambungan ponsel terputus Alisa bergegas ke sekolah. Dengan menggendong Annisa, ia berjalan tergesa.
Hanya butuh waktu sepuluh menit saja, Alisa sudah tiba di sekolah Ira. Setibanya disana, ia juga melihat Hani dan Hendra yang sedang berbicara serius dengan pak Madan.
''Assalamualaikum.. Hani, Hendra, Pak Madan!'' seru Alisa.
Ia berjalan terburu-buru hampir saja jatuh jika tidak di pegang oleh Hendra dan Pak Madan. ''Hati-hati!!'' seru mereka berdua.
Wajah Alisa begitu pucat. Hani yang melihat nya, langsung memeluk Alisa dengan erat. ''Tenang sayang... pikirkan putri kita..'' bisik ummi Hani.
Alisa menghela nafasnya berulang kali. Ia menatap ummi Hani, Abi Hendra dan juga Pak Madan.
''Ada apa?? Mengapa kepala sekolah memanggil kita kesini??'' tanya Alisa masih berusaha menghilangkan rasa terkejutnya.
''Kamu lihat ke dalam!'' titah Pak Madan.
Alisa berjalan ke arah pintu dan melihat apa yang ada di dalam ruangan itu. Tubuh nya mematung melihat Ira sedang berpelukan dengan Raga.
Ira menangis sedangkan Raga juga ikut menangis. Raga mengusap kepala Ira dengan sayang, sesekali mengelus kepalanya yang tertutup hijab.
''Ayo ceritakan Ira! sebenarnya ada apa dengan kalian berdua?! Kenapa sedari pulang dari camping kamu terus bertingkah aneh seperti ini?!'' sentak pak Yunus.
Ia begitu kesal melihat tingkah Ira seperti di buat-buat. Sudah berulang kali ia menanyakan nya tapi Ira tetap memeluk Raga dan memilih diam dan terisak.
''Jawab Ira Sarasvati!!!'' sentak pak Yunus lagi.
Membuat tubuh Ira tersentak begitu juga dengan Raga. Tubuh Ira bergetar, melihat itu Raga semakin panik.
Saking paniknya, Raga kebingungan harus berbuat apa, selain hanya bisa berbisik di telinga Ira.
Setelah dirasa tenang, Raga menoleh pak Yunus dengan tatapan datarnya. Begitu datar, hingga terkesan begitu dingin.
Pak Yunus yang melihatnya terkejut. ''Apakah anda tidak bisa melihat, bagaimana kondisi tunangan saya?! Dia ketakutan setengah mati! Apakah anda tau? Jika kami berdua tersesat selama dua hari di dalam hutan tanpa ada yang tau! Tanpa ada yang menyusul kami kedalam hutan! Sedangkan tunangan saya hampir saja mati karena ketakutan berada didalam hutan sendiri an! Tega-teganya anda menyentak nya?! Saya mati-matian berusaha menenangkan kan nya, tapi anda malah memperkeruh suasana! Jika anda tidak bisa menjadi guru, tidak bisa sabar, lebih baik anda mengundurkan diri saja!'' ketus Raga, begitu menohok hati pak Yunus.
Alisa dan ummi Hani begitu terkejut mendengar penjelasan Raga. Begitu juga dengan Pak Madan.
Ia tak menyangka jika mereka benar-benar tersesat di dalam hutan. Tapi mengapa tadi ketika di tempat kemah mereka lebih memilih bungkam? Apakah karena Ira sedang ketakutan? Makanya Raga lebih memilih diam??
Alisa melangkah masuk. Ia mendengar Ira terus menggumam. ''Jangan pergi Kak... aku takut... jangan pergi.. kita pulang.. aku mau tidur.. kita pulang Kak...'' gumam Ira dan masih terdengar oleh pak Yunus dan juga Alisa.
''Ya, kita akan pulang. Tapi kamu jangan gini, nggak enak loh diliatin orang. Dikira kita lagi ngapain.'' ucap Raga dengan terus mengelus kepala Ira.
__ADS_1
''Nggak! aku nggak mau! aku nggak mau lepasin Kakak!!'' pekiknya membuat Alisa terkejut, begitu juga dengan pak Yunus.
Annisa mendengar suara Ira menjerit.
Ah..
Itu suara panggilan Annisa untuk Ira. Tapi Ira tidak menggubris nya.
''Ssssttt... tenang dulu.. iya kita pulang! Sekarang kita pulang ya? Kamu bangun, biar kakak gendong belakang aja.'' titah Raga, membuat Ira melepaskan pelukannya di leher Raga.
Ummi Hani dan Abi Hendra begitu terkejut melihat keadaan calon menantunya. ''By! panggil dokter kita! Ada yang tidak beres dengan Ira, By! ummi bisa merasakan nya.'' ucap ummi Hani, dengan terus menatap Ira yang di gendong Raga.
Setelah melihat Raga berdiri dan berjongkok dihadapan Ira, kini Raga mulai menggendong Ira dan keluar dari ruangan guru.
Di ikuti oleh Alisa, ummi Hani, Abi Hendra dan pak Madan. Ia harus memastikan jika anak murid nya ini baik-baik saja.
Karena Ira dan Raga adalah siswa nya saat melakukan camping di air terjun si Piso-piso. Dan masih dalam tanggung jawabnya.
Pak Yunus mematung melihat Raga berlalu dari hadapan nya. Abi Hendra menatap datar pada pak Yunus.
Pak Yunus terkejut kala melihat kepala yayasan ada disana. Ia menelan ludahnya yang terasa getir.
Sampai nya di mobil, Raga mencoba membujuk Ira agar mau duduk bersama Alisa.
Tapi Ira menolak. Ia semakin erat memeluk Raga. Alisa semakin bingung dibuatnya. Selama ini, tak pernah sekalipun putri sulungnya itu berbuat seperti itu.
Pasti terjadi sesuatu, pikirnya. Lelah membujuk Ira, akhirnya Raga pasrah jika harus duduk berdua dan berpelukan seperti itu lagi.
Sama saat mereka tadi duduk di hadapan Pak Yunus. Dengan Ira duduk di pangkuan Raga. Sedang kakinya ia lingkarkan di pinggang Raga.
Ummi Hani mengusap kepala Ira. Ira menoleh pada ummi Hani dan juga Alisa.
Raga masih setia memeluknya. ''Sudah. Tenang ya? Kita kerumah sakit By!'' titah ummi Hani.
Ira terkejut dan menggeleng. Membuat Raga jadi panik. ''Nggak! kita nggak akan ke rumah sakit! Kita pulang ya??'' ucap Raga saat melihat Ira ketakutan.
''Pulang! Kakak mau pulang! Kita pulang kerumah Mak! Kakak ikut! kakak nggak boleh pergi! ak-aku.. aka-aku takut...'' ucapnya masih dengan tubuh bergetar.
''Iya kita pulang! Kita nggak akan kerumah sakit! Kakak nggak akan pergi kalau bukan kamu yang memintanya.'' sahut Raga lagi.
Membuat Ira semakin mengeratkan pelukan nya di tubuh Raga. Saat ini posisi Ira sedang berada di samping Raga.
Disampingnya Ira ada Mak Alisa. Sedangkan didepan ada ummi Hani dan Abi Hendra. Sedangkan pak Madan, ia mengikuti dari belakang dengan motor nya.
Setibanya di kediaman Alisa, Raga kembali menggendong Ira dan membawanya ke kamar gadis itu.
Alisa memandu ke kamar Ira, dengan Raga mengikutinya dari belakang. Saat tiba di depan kamar Ira, Alisa mendorong pintu dan menyuruh Raga masuk.
Setelah melihat Raga masuk, Alisa turun ke bawah duduk bersama dengan ummi Hani. Mereka terdiam tidak tau harus berbicara apa.
Karena belum tau apa yang sebenarnya terjadi. Setengah jam lamanya, Raga mencoba membujuk Ira agar tenang dan tidur.
Beruntung nya Raga, Ira begitu patuh. Tapi dengan syarat, jika Raga harus memeluknya sambil berbaring lagi.
Sama saat dengan mereka ketika tersesat di hutan di gubuk tua. Raga hanya bisa pasrah melihat keadaan Ira saat ini.
Lama ia merenung dan memikirkan Ira. Setelah keputusan nya bulat, Raga keluar untuk menemui Alisa dan juga kedua orang tuanya.
Tiba disana, Raga langsung saja duduk dihadapan Alisa dengan posisi duduk seperti sungkeman.
__ADS_1
Ia menatap Alisa yang juga sedang menatapnya. ''Mak... izinkan Raga untuk menikahi Ira malam ini juga. Hanya ini jalan satu-satunya untuk bisa membuat Ira lebih tenang.. izinkan Raga bisa menikahi Ira sejak dini, Mak ..'' pintanya dengan harap.
Alisa membatu mendengar ucapan Raga. Ummi Hani dan Abi Hendra saling pandang. ''Mak...''
''Apa yang sudah terjadi??'' tanya Alisa masih dengan menatap Raga.
Raga menghela nafasnya. Setelah nya ia mulai bercerita dari awal mula Ira tersesat, dirinya juga hingga Ira tercebur ke air terjun berakhir dengan mati suri.
Dan juga saat di gubuk tua Raga ceritakan semuanya tanpa di tutupi sama sekali dari Alisa.
Membuat Alisa begitu shock mendengar penjelasan Raga. ''Sebentar! Mak telpon Ayah Emil dulu agar bisa datang kemari.''
Alisa mendial nomor Emil, baru dua kali Tut Tut, suara Emil sudah menyapa.
''Kerumah Bang! Sekarang! Kakak dalam bahaya!'' ucap Alisa membuat Emil memekik karena terkejut.
''...''
''Ya! sekarang!!!'' pekik Alisa pula.
Membuat Raga terkejut mendengar pekikan Mak Alisa. Mereka menunggu beberapa saat, hingga ayah Emil tiba disana.
Abi Hendra sudah menelpon seorang ustad yang juga menjabat sebagai penghulu. Dan berapa orang saksi.
Kemudian mereka mulai melakukan ijab Qobul yang dilakukan oleh Ayah Emil secara langsung. Ummi Hani merekam acara sakral itu dengan ponsel Alisa.
Sebagai bukti, suatu saat jika ada yang mencoba meragukan pernikahan anak-anak nya.
Selesai ijab Qobul, Raga memilih masuk ke kamar untuk melihat Ira. Dan benar seperti dugaannya, jika Ira kembali kambuh lagi.
Mendengar Ira yang begitu histeris, Alisa dan ummi Hani beserta dokter berlari ke kamar Ira.
Tiba disana, mereka begitu terkejut melihat kelakuan Ira. Dengan Raga masih saja mencoba untuk membujuknya.
Ira mengamuk. Ia takut melihat apapun yang berwarna merah. Raga mencoba untuk membujuknya secara perlahan.
Tapi gadis itu menolaknya. Hingga akhirnya Raga memilih untuk memeluk Ira dengan cara menggulingkan tubuh Ira di sisinya.
Mereka berguling diatas ranjang, dengan Raga memeluk Ira dengan erat.
Ia peluk tubuh itu dengan erat. Ira yang merasa mencium aroma tubuh Raga, seketika menjadi tenang kembali.
Ayah Emil jatuh terduduk melihat keadaan putri sulungnya. Sedangkan Alisa sudah menangis di pelukan ummi Hani.
''Ayo dokter! selesaikan tugas Anda!'' titah Abi Hendra pada dokter keluarga mereka.
Masih dalam pelukan Raga, Ira diperiksa. Walau sangat sulit, namun tetap berhasil atas bujukan Raga.
Selesai dengan tugasnya, dokter berbicara pada para orang tua. Dokter mengatakan jika Ira mengalami trauma yang begitu parah.
Semuanya yang mendengarnya begitu terkejut terlebih Raga. Ia tak menyangka, kepergian mereka ke air terjun si Piso-piso membuahkan hasil yang begitu menyakitkan.
💕
Ke sebelah aja ya? Biar lebih dapat ceritanya.
Setelah ini, otw konflik lagi... hiiii... 😦😦
Like dan komen!
__ADS_1
TBC