Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)

Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)
Kesepakatan


__ADS_3

Lelah rasanya menunggu. Hingga satu jam, Mama Dewi belum juga sadar. Membuat Gilang bosan menunggu.


''Gilang ke atas dulu! sedari Gilang tunggu belum sadar juga. Gilang mandi sebentar, nanti balik lagi.''


''Ya.'' Sahut Papa Angga, ia melihat putra nya yang berlalu meninggalkan mereka berdua disana.


Tak lama setelah Gilang pergi, Mama Dewi pun sadar. Ia menatap Papa Angga yang juga menatapnya.


''Pa?? Gilang mana??''


''Gilang lagi mandi. Kita tunggu saja.'' Imbuhnya sembari memeluk Mama Dewi.


''Bagaimana ini, Pa??''


''Sudah! Mama tenang saja. Papa sudah memikirkan nya. Sebaiknya Mama minum dulu agar lebih tenang.'' Imbuhnya lagi, sembari memberikan segelas air kepada Mama Dewi dan di tenggak habis oleh nya.


Papa Angga terkekeh melihatnya. Mama Dewi mendelik. Sedang asyik-asyiknya mereka berdua, turunlah Gilang dari atas.


Ia menatap putra nya itu dengan tatapan yang sulit di artikan.


''Mama sudah sadar??''


''Ya. ayo keruangan kerja Papa! kita bahas Masalah ini disana.'' ucap Papa Angga seraya berlalu bersama Mama Dewi di ikuti oleh Gilang di belakang mereka.


Sesampainya disana, Gilang berdiri sedang Mama Dewi sudah duduk di sofa ruang kerja Papa Angga.


''Silahkan duduk.'' Titah Papa Angga.


Gilang mengangguk.


''Baik, ini kertas sudah ada materai nya. Kertas ini akan Papa tuliskan kesepakatan kita berdua. Kau ingin, Papa tidak mengganggu istri siri mu bukan??'' tanya Papa Angga dengan senyum remeh di bibirnya.


''Istri siri, namun sah di mata agama! Sebentar, sebentar lagi aku akan mendaftarkan pernikahan kami di KUA. Jika bukan karena permintaan Alisa, maka dari kemarin aku sudah mendaftar kan pernikahan kami.'' sahut Gilang penuh penekanan.


Mama Dewi mengepalkan tangannya.


Jangan harap kau akan mendaftarkan pernikahan siri mu dengan janda itu! karena sebelum itu terjadi, Mama yang akan mendaftar pernikahan mu dengan Vita terlebih dahulu.


Agar semua orang tau, jika istri sah Gilang Bhaskara adalah Vita Rosmala Setiawan! Bukan janda murahan itu. Bisiknya ketus di dalam hati.


Papa Angga menghela nafasnya. Ia melihat Gilang, sama seperti dirinya yang begitu keras kepala dalam hal pasangan.


Hingga dengan berani ia menolak permintaan Oma Diana karena ingin menikahi Mama Dewi.


Kisah lama terulang kembali...


''Baik, kita buat kesepakatan! Yang mana kesepakatan ini akan berlaku hingga kau selesai dengan kuliah mu nantinya. Sampai saat itu tiba, maka kau harus mengikuti kesepakatan tertulis dan tidak tertulis ini!'' tegas papa Angga.


''Ya. aku akan mengikutinya apapun isi kesepakatan itu.'' Sahutnya.


Asalkan Alisa tidak di ganggu oleh Mama dan Papa saat aku kuliah nantinya di Amerika.


Sampai saat itu tiba, aku harus sabar menunggu. Demi cintaku. Alisa.


''Isi kesepakatan ini adalah..''




Selama kau tinggal disini, kau tidak boleh bertemu dengannya tanpa sepengetahuan kami.

__ADS_1




Sebelum kelulusan mu tiba, kau harus bekerja di kantor bersama Papa.




Kau harus menikahi Vita setelah surat kelulusan mu keluar.




''Apa???'' Gilang terkejut dengan kesepakatan ke tiga ini.


''Mau menikah? Atau janda kesayangan mu itu oh maaf! istri mu itu yang akan menanggung akibatnya??'' tanya Papa Angga penuh penekanan.


Gilang gelisah, tapi tak disadari oleh Papa Angga. Karena Gilang sangat lihai dalam menutup rasa yang sedang melanda hatinya.


''Bagaimana?? Kita lanjut??'' tanya Papa Angga lagi.


Lama Gilang terdiam, akhirnya ia mengangguk.


Semua ini demi kamu sayang.. apapun akan ku lakukan. Walau harus menikahi gadis lain..


''Oke.''




Gilang mengerjab. Namun tetap dengan wajah datar. Papa Angga tersenyum tipis.



Setelah kau menikahi Vita, kau boleh memilih. Ingin memutuskan atau melanjutkan, itu semua urusan mu. Yang penting, janji kami sudah terlaksana.



Cih! kalian korban aku demi ambisi kalian berdua!


Lihat saja, kalian pasti akan menyesal jika memilih Vita sebagai menantu kalian berdua.


''Dan yang terakhir..''



Hari ini adalah hari terakhir dimana kau bisa bertemu dengan istri sirimu itu. Karena mulai hari ini, perjanjian tertulis ini akan dilakukan. Terima tidak terima inilah keputusan akhir dari kesepakatan ini.



''Bagaimana?? kKmu siap??''


Gilang menghela nafasnya.


Tenang Gilang.. kau kan masih punya ponsel?? Ponsel kan tidak di sebutkan dalam kesepakatan ini?? Ah masih selamat.. paling tidak, aku bisa mendengar suara mereka itu sudah cukup untuk mengobati rasa rinduku..


Bismillahirrahmanirrahim.. aku siap!

__ADS_1


''Ya. Aku siap. Apapun yang tertulis disana akan aku lakukan. Tapi ingat dengan janji kalian! Jika Sampai nanti di belakang ku, kalian berbuat sesuatu pada Alisa, maka jangan salahkan aku, jika aku yang akan membatalkan kesepakatan kita ini.'' Tegas Gilang, membuat Papa Angga tersenyum.


''Tidak akan! kamu taukan? Seperti apa Papa??''


''Mama??'' panggil Gilang, membuat Mama Dewi tersentak.


''Ya. Mama tidak akan melakukan apapun di belakang mu. Sesuai dengan kesepakatan kita,'' tegas Mama Dewi.


''Oke. Tanda tangani disini!'' Gilang menurut, dan membubuhkan tanda tangannya diatas kertas putih yang sudah ada materai nya itu.


''Baiklah, sekarang aku harus pergi ke rumah sakit. Aku akan pulang sampai malam. Ini hari terakhir ku bertemu dengan nya. Apakah kalian keberatan??'' tanya Gilang sembari menatap Papa Angga dan Mama Dewi.


Papa Angga menggeleng. ''Pergilah! tapi kau juga harus ingat tentang janji mu! karena setelah ini janji mu akan segera dilaksanakan,'' ucap Papa Angga lagi.


''Ya. Aku tau. Aku pergi!'' sahut Gilang sembari berjalan keluar, tapi belum sampai di pintu Mama Dewi memanggilnya.


''Tunggu, Nak.. pergilah dengan Pak Kosim, beliau yang akan mengantar mu. Mulai hari ini, Pak Kosim yang akan menjadi supir pribadi mu! Sedang Papa, ada mang Udin! pergilah!'' titah Mama Dewi.


Gilang mengangguk. ''Assalamualaikum..''


''Waalaikum salam.'' Sahut keduanya.


Setelah Gilang menghilang di balik pintu, Mama Dewi menatap Papa Angga.


''Kita harus mengabarkan Alan dan Chyntia, jika mereka akan menikah dua Minggu dari sekarang!'' tegas Mama Dewi.


Papa Angga mengangguk. ''Ya. Segera kabari mereka,'' sahutnya dengan segera menyimpan rekaman suara Gilang, sebagai bukti janji Lisan dari Gilang. dan juga kertas yang sudah di bubuhi tanda tangan Gilang disana.


Di perjalanan.


''Den...'' Pak Kosim melihat jika Gilang yang duduk melamun sambil melihat keluar jendela.


''Ya, Pak.'' Sahutnya dengan sedikit menoleh pada Pak Kosim.


''Jika Aden berat melakukan nya? Mengapa Aden berani mengambil resiko sebesar itu??'' tanya Pak Kosim.


Gilang menoleh dan tersenyum. Rupanya Pak Kosim tau tentang perdebatan antara dirinya dan kedua orang tua nya.


''Gilang terpaksa, Pak! jika bukan karena Alisa, Gilang tidak ingin melakukan ini. Sangat berat rasanya harus melepas Alisa begitu saja. Karena yang Gilang mau hanya Alisa, Pak! bukan yang lain.. tapi jika Mama tetap memaksa Gilang menikah dengan gadis itu, maka semua ini Gilang lakukan karena Alisa yang memintanya,'' sahut Gilang.


Pak Kosim mengernyitkan dahinya bingung. Gilang terkekeh melihat pak Kosim bingung.


''Maksud Aden..??''


Gilang tersenyum. ''Untuk mendapatkan sesuatu yang berharga, mengalah sedikit kan tidak apa-apa?? Jika memang ini adalah jalannya, akan Gilang ikuti. Karena dulu Alisa pernah bilang, jika dia tidak mau menikah dengan Gilang, karena Gilang masih perjaka. Tapi jika duda?? Ia diam, Pak. Pertanda ia setuju. Setiap apapun yang Gilang putuskan sudah Gilang pertimbangkan masak-masak. Semua ini Gilang lakukan untuk Alisa. Untuk melindunginya. Demi melindunginya, sampai-sampai Gilang harus berbohong!'' jelas Gilang panjang lebar.


''Berbohong??''


''Ya. Berbohong dengan mengatakan jika Gilang sudah menikahi Alisa sebulan yang lalu. Kami menikah siri saat di rumahnya!'' sahut Gilang lagi


Membuat pak Kosim mengerem mendadak.


''A-apa?! Me-menikah??''


💕


Hayoo.. Abang Gilang ngeprank pak Kosim nih.. 🤣🤣🤣


Di tunggu ye..


TBC

__ADS_1


__ADS_2