Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)

Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)
Mengantar Rani


__ADS_3

Setelah selesai bedengan makanan yang diberikan oleh istrinya Alisa, kini bibir Gilang tidak henti-hentinya mengulas senyum.


Andi yang melihatnya jadi bingung sendiri. ''Ck! tadi marah-marah nggak jelas, sekarang tersenyum-senyum sendiri! Ya elah Bos! Nggak garing apa tuh mulut, sedari tadi senyum Mulu kerjaan nya! Mentang-mentang udah dapat jatah dari istri, kini bibir itu terus saja mengulas senyum. Apa segitunya ya bahagia memiliki istri. Di bos dapat jatah dari kedua istrinya. Yang satu jatah bawah perut. Yang satu lagi perut! Ck! Ck!''


Gilang yang mendengar gumaman Andi terkekeh.


Benar kata orang, jika jatah kedua perut sudah di dapatkan maka seutas senyum tidak akan pernah kering dari bibir seorang lelaki.


Karena dua jatah ini saja yang dia perlukan. Gilang masih saja tersenyum, hingga mereka pulang dari kantor.


Mama Dewi yang melihatnya sumringah. Ia pikir jika Gilang pasti akan lebih dekat lagi dengan Vita.


Padahal mah bukan. Sedari tadi Gilang belum melihat Vita. Entah dimana keberadaannya, Gilang pun tak tau dan tak mau tau.


Setiba nya di kamar, Gilang mandi dan sholat Maghrib. Seusai sholat Gilang berdiri di jendela kamar nya.


Matanya memicing ketika melihat sesuatu yang sedang berjalan mengendap-endap. Lama Gilang melihat seseorang itu, setelah ia tau..


''Kak Rani?? Sedang apa disana?? Di bawah pohon jambu madu dan dekat dengan mobil ku?? Ku temui ah!'' gumamnya sembari turun ke bawah menuju dibawa Rani berada.


Tiba disana, Gilang melihat jika Rani sedang celingukan. Gilang menepuk bahunya agar gadis itu berbalik ke arahnya.


Puk, puk.


Rani terkejut. Tubuhnya menegang. Keringat dingin mengucur di seluruh tubuhnya. Ingin berbalik tapi takut.


Puk, puk.


Lagi Gilang menepuk bahu Rani. Kini terasa begitu kuat. Hingga Rani meringis kesakitan.


Tak tahan dengan kelakuan Rani, Gilang menegur nya. ''Kak.. ngapain malam-malam dirumah ku??'' tanya orang itu.


Rani semakin gemetar, karena ia tau siapa sebenarnya itu. ''Gi-Gilang.. Ka-kakak.. mau pergi dari rumah itu, bisa nggak kamu membantu kakak??'' sahut nya dengan sedikit menunduk dan berbisik.


Gilang mengernyitkan dahinya. Sekilas ia melihat seorang satpam berjalan di sana membuat Rani sembunyi dibalik mobil punya Gilang.


''Kak Rani mau apa??''


''Kakak mau kabur!!'' sahut Rani membuat Gilang terkejut.


''Apa?! Tapi kenapa?! Dan juga-'' ucapan Gilang berhenti saat Rani membekap mulutnya.


''Ssssttt.. pelan Gilang! Kakak mau kabur ke tempat dimana tak ada seorang pun yang tau dimana keberadaan Kakak! Kamu tau dan di mana ada tempat seperti itu??'' tanya Rani dengan berbisik.


Gilang terdiam. Ia mengingat seseorang yang sedari dulu menerima nya dengan lapang dada saat ia kabur dari rumah.


Gilang tersenyum dalam bekapan tangan Rani. Dan Gilang mengangguk, membuat Rani melepaskan bekapan tangan nya.


''Dimana??'' tanya Rani begitu senang.


''Sebentar! Gilang ambil kunci motor dulu!'' sahutnya dengan segera berlalu dari hadapan Rani.


''Motor?? Eh? Gilang!!'' panggil Rani dengan berbisik.


Gilang menoleh, karena jarak mereka belum terlalu jauh. ''Kenapa??'' sahut Gilang sedikit pelan.


''Jangan motor, tapi mobil aja ya? Kakak nggak mau kalau satpam dirumah melihat Kakak kabur bersama mu, nanti jadi ribet urusannya!'' cegah Rani


Gilang terdiam dan berpikir. ''Oke! sebentar!'' sahutnya, kemudian ia pergi dari Rani dan masuk kedalam.


Tak lama setelahnya, Gilang keluar dan masuk kedalam mobil yang berdiri di sebelah Rani.


Rani terdiam. ''Ayo kak! masuk!'' ajak Gilang.


Rani mengangguk, ia membuka pintu bagian depan dan masuk duduk di sebelah kemudi. Setelah nya Gilang mulai melajukan mobilnya hingga keluar gerbang.


Saat melewati rumah nya, Rani menunduk. Pura-pura mengambil sesuatu, padahal tidak sama sekali.


Gilang terkekeh. ''Kak Rani! Nggak gitu juga kali... kaca jendela mobil ini gelap loh.. nggak akan terlihat dari luar! Jika dari dalam seperti jelas sekali kan?''

__ADS_1


Rani mengangguk dan nyengir. ''Hehehe.. maklum Dek! seumur-umur Kakak baru ini naik mobil mewah! itu pun mobil keluarga mu!'' sahut Rani.


Gilang tertawa. ''Ini mobil Gilang, Kak.. Gilang beli dengan keringat Gilang sendiri.. Mama dan Papa taunya mobil ini hadiah dari mendiang Oma untuk Gilang. Padahal mah bukan euuuyyy!!'' celutuk Gilang, membuat Rani terkekeh.


''Terus, kamu mau bawa Kakak kemana??'' tanya Rani sedikit penasaran.


''Ke rumah istriku!!'' sahut Gilang dengan tersenyum manis.


''Eh? kamu sudah menikah?? Tapi kamu baru lulus SMA Dek?? Dengan siapa? Apakah kedua orang tua mu tau??'' cecar Rani dengan banyak pertanyaan.


Gilang terkekeh mendengar nya. ''Aku menikah dengan nya saat masih sekolah Kak! Tak ada yang tau. Hanya pak Kosim, supir dirumah ku dan juga... asisten ku!'' sahut Gilang.


Lagi dan lagi membuat Rani terkejut. ''Kok bisa?!'' pekik Rani.


Gilang tertawa. ''Nanti kakak akan tau, tanya aja padanya. Syarat kakak tinggal disana hanya satu!''


''Hah? Syarat?? Apa itu??''


''Katakan yang sejujurnya kepada istriku, kakak datang dengan siapa dan untuk apa tujuan kakak datang kerumah nya. Jujur! itu syaratnya.'' sahut Gilang lagi


Membuat Rani mematung. Jujur?? Apakah ia harus jujur dengan istri Gilang ini?? Pikirnya.


''Kalau Kakak mau? Kalau nggak juga tak masalah! Gilang akan mengantar Kakak balik ke rumah itu!'' ancam Gilang membuat Rani membulatkan matanya.


''Oke. Oke! Kakak setuju! Daripada harus kembali ke rumah itu. Ogaah!!'' sahut Rani cepat.


Membuat Gilang tertawa terbahak. Ia berhasil menggertak Rani. Padahal istrinya itu tidak seperti itu.


Ia pasti menerima siapa pun itu dengan senang hati. Apalagi jika menyangkut dengan Gilang.


Setelah berkendara melalui kemacetan yang lumayan hingga satu jam lamanya, kini Rani dan Gilang sudah tiba di tempat Alisa bekerja.


Ya, baru seminggu ini istri Gilang itu sedang membuka usaha membuat kue. Gilang tersenyum melihat istrinya begitu sibuk melayani pelanggan.


Begitu juga dengan putri sulung Alisa. Gilang melihat putranya sedang bermain dengan putri bungsu nya.


''Turun Kak.. itu dia disana!'' tunjuk Gilang pada Alisa yang sedang melayani para pembeli.


Rani terkejut. Ia tak sadar jika sudah sampai di tujuan. Rani melihat ke depan, dimana seorang wanita dewasa sedang melayani pembeli.


Rani mematung melihat wanita dewasa yang sangat cantik itu. Senyum nya itu sangat meneduhkan.


Rani menatap Gilang yang sedang menatap istrinya itu dengan tersenyum lebar namun terselip sendu di dalamnya.


Ingin bertanya, tapi takut tersinggung nantinya. Sudah di antar saja, itu sudah sangat cukup untuk nya.


''Kakak bilang aja, jika Gilang yang menyuruh Kakak kemari. Jika ia tak percaya, telpon aja nomor Gilang melalui ponsel nya, Kak. Kakak nggak akan kecewa bertemu dengan istriku! Dia sangat baik dan murah hati terhadap sesama. Hanya saja... takdir tidak berpihak padanya..'' lirih Gilang begitu pelan.


Rani dapat mendengar, jika Gilang mengucapkan itu dengan leher tercekat. ''Gilang..Kakak nggak tau ada masalah apa antara kamu dan istrimu. Tapi Kakak sangat berterima kasih pada mu, karena telah bersedia mengantar Kakak sampai kesini. Terimakasih Gilang..'' ucap Rani begitu tulus dari hatinya.


Gilang tersenyum. ''Sama-sama Kak.. aku sengaja membawa Kak Rani kemari, agar istriku punya teman untuk bicara. Kayaknya Kakak cocok deh dengan nya? Aku melihat ada persamaan diantara kalian berdua.'' Sahut Gilang, kemudian terkekeh geli.


Rani tertawa. ''Kamu bisa saja Gilang! Udah ah! Kakak mau masuk! mau kenalan sama istri kamu! Siapa tau bisa jadi sohib nanti??'' seloroh Rani membuat Gilang tertawa.


Setelah nya mereka terdiam sembari melihat Alisa begitu kewalahan melayani para pembeli.


''Andai aku bisa bersama nya...'' lirih Gilang


Rani menoleh. ''Sabar! jika memang sudah waktunya pasti kamu akan bersatu dengan nya. Kakak tak ingin tau ataupun bertanya pada mu! Tapi melihat dari cara kamu melihatnya, Kakak sudah paham. Sabar Gilang.. semua itu butuh waktu. Cukup ubah diri kamu menjadi lebih baik dan pantas bersanding dengan nya. Saat itu terjadi, Kakak orang pertama yang akan memberi mu selamat!'' ujar Rani membuat Gilang tersenyum, namun sendu.


''Terimakasih Kak! Tentu! Aku akan menunggu waktu itu tiba. Kak.. titip pesan untuk istri ku ya? Katakan padanya, jika aku sangat merindukan nya.. tunggu aku lima tahun lagi. Dan selama itu, aku mohon jangan berubah ..'' sahut Gilang, ia sengaja menitip pesan untuk istrinya itu.


''Kalau boleh Kakak tau, siapa nama istrimu itu?? Kan nggak enak manggil Mbak doang?'' seloroh Rani.


Membuat Gilang tertawa. ''Alisa. Alisa Febriyanti.'' Sahut Gilang dengan tersenyum manis mengingat wajah Alisa.


Rani terkekeh kecil melihat tingkah Gilang. ''Ya sudah Kakak turun ya? Terimakasih Gilang.. semoga kamu sukses nantinya dan kita akan bertemu lagi saat kamu memang benar-benar sudah bisa dan pantas untuk bersama Mbak Alisa. Kakak pamit! Assalamualaikum Dek..'' ucap Rani dengan segera membuka pintu mobil dan berlalu meninggalkan Gilang yang masih menatap Alisa dari kejauhan.


''Waalaikum salam Kak.. semoga kehadiran mu bisa merubah sedikit suasana hatinya.. Aku sangat mencintai nya.. apapun akan kulakukan agar ia bisa bahagia..'' lirih Gilang.

__ADS_1


Rani memasuki toko Alisa. ''Alisa Bakery??'' ucap Rani saat melihat nama logo toko kue Alisa.


Setelah nya ia masuk dan bertemu dengan seorang anak kecil yang sedang di jahili oleh Abang nya.


Melihat itu Rani terkekeh geli. ''Assalamualaikum Mbak Alisa...'' ucap Rani sembari mendekati stand penjualan kue Alisa.


Alisa menoleh dan tersenyum. ''Waalaikum salam.. mau makan disini atau dibungkus??'' tanya Alisa dengan senyum teduhnya.


Membuat Rani tertegun. Ia seperti melihat sosok Ibu Saras dalam diri Alisa. ''Mbak... hallo... mau pesan kue yang mana??'' tanya Alisa lagi.


Rani terkejut dan tersenyum kikuk. Karena ketahuan sedang menatap Alisa begitu dalam.


''Saya ingin bicara dengan Mbak sebentar, saya di utus oleh suami Mbak untuk kesini. Katanya, jika Mbak sedang butuh pelayan di toko Mbak ini.'' Ucap Rani membuat Alisa terkejut.


''Suami??''


''Ya, suami Mbak! Gilang! Gilang Bhaskara!''


Deg.


Deg.


''Papiiii!!!'' pekik Lana saat melihat mobil yang begitu ia kenal, jika itu adalah mobil Gilang.


Rani terkejut. Lana terus berlari ke jalan raya. Membuat Alisa juga ikut berlari.


''Papiiiii... tunggu Abang...'' pekik Lana lagi.


Ira yang melihat itu, langsung saja mengangkat Annisa dan menggendong nya. Ia berdiri di sebelah Rani.


''Abang.. udah Nak.. itu bukan Papi sayang..'' teriak Alisa sambil terus mengejar Lana.


Rani mematung melihat Alisa yang sedang berlari mengejar putra nya. Karena ia tau, jika itu mobil Gilang.


Sedangkan Gilang, menangis sesegukan melihat putra tersayang nya itu berlarian mengejar mobilnya.


''Maafkan Papi, Nak.. belum saat nya kita bertemu..'' lirih Gilang dengan terus menangis.


Air mata jatuh bercucuran di pipi tirus nya. ''Maaf Nak.. maafkan Papi.. hiks.. sakit sekali dadaku.. rasanya seperti di hantam paluh Godam hingga aku tak bisa berdiri lagi.. Lana.. Papi sayang kamu Nak.. sangat menyayangi mu.. melebihi diri Papi sendiri..'' lirih Gilang, dengan sedikit menekan pedal gas pada mobil nya dan melaju kencang meninggalkan Lana yang menangis dan meraung memanggil namanya.


Seseorang memanggil putri Alisa untuk membayar kue yang tadi sudah diberikan oleh Alisa.


''Dek! ini uang nya?'' kata orang itu.


Putri Alisa menoleh dan tersenyum. Ia melihat Rani yang juga sedang melihatnya. ''Buk.. boleh bantu saya nggak??'' tanya nya.


Rani mengangguk. ''Tentu! Mari Mbak..'' ajaknya pada orang tadi yang membeli kue Alisa.


Selesai dengan pembayaran kuenya, kini Alisa juga sudah kembali. ''Mak .. Abang mau Papi Gilang...''


''Papi tidak bisa bersama kita, Nak..''


''Kenapa Mak?? Kenapa?? Abang mau Papi... Apakah karena istri muda Papi??''


Deg!


💕


Ada yang tau siapa Rani??


Cus kepoin di sebelah ya!


Nanti klean pada tau siapa itu Rani.


Wooaaahhh.. panjang amat deng!


Spektakuler!! 🤣🤣🤣


TBC

__ADS_1


__ADS_2