
Seminggu sudah Gilang tidak memberi kabar apapun kepada keluarga kecil Alisa. Lana sudah mulai resah.
Ia jadi khawatir, mengapa seminggu ini Papi nya itu tidak ada kabar sama sekali. Alisa yang melihat lana gelisah, hanya bisa menghela nafasnya.
Sungguh, jika ia bisa memilih. Alisa juga ingin tetap bersama pemuda itu. Pemuda yang diam-diam telah mencuri hatinya beberapa saat yang lalu.
Namun, ia bisa apa? Jika pemuda itu punya kehidupan sendiri diluar sana. Ingin bertahan, tapi kadang goyah.
Ada saja bisikan-bisikan tidak jelas yang menghampiri dirinya. Alisa bingung sendiri dengan perasaannya.
Ingin menghubungi duluan, tapi malu. Berulang kali ia memegang ponsel pemberian Gilang.
Ingin mengetik, namun tak berani. Sudah di ketik, tapi dihapus lagi. Begitulah selama seminggu ini.
Alisa hanya membuka status WhatsApp Gilang. Tidak ada apapun disana. Hanya ada layar hitam saja yang di update oleh Gilang.
Alisa menghela nafasnya.
''Kamu kemana GI.. sudah seminggu tidak ada kabar sama sekali..'' lirih Alisa sambil menatap ponsel mahal pemberian Gilang Tiga Minggu yang lalu.
Sedangkan Lana sedari tadi keluar masuk tak tentu arah. Sesekali melihat keluar, berharap sosok yang di tunggu akan datang menemui mereka.
Hingga ia merasa lelah untuk menunggu akhirnya Lana tidur. Merebahkan pikirannya yang sedang kacau.
Hatinya gelisah mengingat seseorang disana.
''Mak.. Papi kemana ya?? Kok nggak datang kemari?? Kan udah seminggu ujiannya?? Masa' belum datang juga sih??'' gerutu Lana
Ira menghela nafasnya. ''Mungkin Papi sibuk bang.. kan siapa tau? Lihat aja dulu ketika kita datang kerumahnya, Mak sama ayahnya Papi aja nggak ada di rumah. Belum lagi Papi, pastilah sibuk sedang membantu Papa nya di kantor. Kamu tenang aja Bang.. Papi pasti datang, kok.'' imbuh Ira dengan mata berbinar. Walau terselip sendu di dalamnya.
''Ya.. barangkali benar apa yang dikatakan oleh Kakak, Bang! kamu kan tau sendiri jika Papi itu bukan orang sembarangan.. lihat aja rumahnya begitu megah. Iyakan??'' ucap Alisa sembari mengelus puncak kepala Lana.
''Hem.. Abang kangen Papi, Mak.. sepi nggak ada Papi.. andai Abang bisa ke tempat nya.. Abang mau bilang, kalau Abang sangat merindukan Papi.. seminggu terasa sebulan Mak..'' ucap nya mendrama.
''Halah! Lebay... udah ah! Sebaiknya kita tidur, mana tau besok kita bisa ketemu Papi, iyakan??''
''Hem.. iya deh..'' sahut Lana pasrah.
__ADS_1
Sedangkan Alisa hanya tersenyum melihat kedua anaknya begitu merindukan Gilang. Walau dalam hati nya juga sama, ia sangat merindukan berondong nya itu.
Aku merindukan mu GI.. apa kabar mu disana??
Alisa menghela nafas panjang.
Sedangkan seseorang disana sedang sibuk mengerjakan tugas dari Papa nya. Sepulang sekolah Gilang tidak sempat memegang ponsel sama sekali.
Setiap pulang sekolah, pasti ada seorang supir yang menjemput untuk dibawa ke kantor Papa Angga.
Tak ada waktu untuk Gilang bisa berleha-leha. Sekarang waktu nya ia harus mengerjakan semua tugas dari Papa Angga.
Pergi pagi pulang larut malam. Tak ada waktu walau sekedar menyentuh ponsel nya. Walaupun ada, baru sebentar sudah terlepas karena ia ketiduran.
Jadilah status WhatsApp nya jadi hitam gelap tanpa ada gambar apapun. Gilang jadi kesal sendiri kepada Papa nya.
''Apakah Papa sengaja melakukan semua ini?? Agar aku tidak bisa memegang ponsel sama sekali?? Tapi kenapa?? Sudah seminggu aku masih terus lembur seperti ini Aku lelah.. Aku mau pulang kerumah Alisa.. aku kangen kamu sayang.. hahhh...'' Gilang mende sah pasrah.
Berhari-hari Gilang masih saja sibuk di kantor. Minggu kemarin ia bertolak ke Padang untuk melihat proyek pembangunan PAM air yang dijalankan oleh Papa Angga.
Dirinya seolah-olah terkunci rapat disana. Lama kelamaan Gilang menjadi kesal. Bahkan hanya untuk sekedar istirahat saja ia tidak bisa.
Semua di tuntut agar bisa terselesaikan sebelum Gilang berangkat keluar negeri. Untuk memulai kuliah bisnis manajemen nya.
Tiga Minggu sudah Gilang tidak bertandang ke rumah pujaan hatinya. Ia begitu rindu, tapi tidak punya kesempatan.
Ada satu waktu luang ia ingin kabur, tetap saja ia ketahuan oleh Mama nya. Lagi, Gilang kesal.
''Aku harus apa ya Allah.. aku begitu merindukan nya.. lebih baik aku sholat, dari pada harus menggerutu seperti ini.'' Imbuhnya seraya berlalu ke kamar mandi dan sholat.
Setelah sholat, hatinya begitu tenang sekarang. Ia berfikir, apa yang bisa ia lakukan besok.
Karena besok waktu nya libur sehari yang sengaja di berikan oleh Papa nya. Gilang tersenyum senang saat mengenang tentang tiga bocah rusuh bin kocak itu
''Bagaimana kabar mereka sekarang ya.. sebaiknya aku kesana besok pagi-pagi sekali. Sehabis subuh, Mama dan Papa kan belum bangun? Ck! nggak sabar ketemu Alisa dan juga ketiga orang rusuh bin kocak itu. Papi sangat merindukan kalian anak-anak.. besok! tunggu besok pagi! Papi akan datang menemui kalian berdua.'' ucapnya pada diri sendiri.
Ia tersenyum sangat manis. Semanis gula yang selalu di kejar semut. Berharap besok akan ada keajaiban yang datang kepadanya.
__ADS_1
Mata yang sudah sayu itu lama kelamaan tertutup rapat. Ia hanyut dalam mimpi yang mempertemukan mereka disana.
Gilang tersenyum dalam tidur nya.
Keesokan paginya.
Setelah sholat subuh Gilang keluar dengan mengendarai kuda besinya menuju rumah Alisa.
Sepanjang jalan ia tersenyum mengingat tentang keluarga kecil itu. Dari kejauhan ia sudah melihat asap yang begitu hitam mengepul dari komplek perumahan yang Alisa tinggali.
''Kebakaran??'' gumamnya.
Walaupun penasaran, Gilang masih terus memacu kuda besinya menuju rumah Alisa. Saat Sampai disana, Gilang melotot.
Mulutnya menganga lebar.
''Sayang...''
''Alisa...''
''Kakak..''
''Abang...''
''Adek..''
''Tidaaaaaakkkkk....''
Deg!
💕
Hayo.. ada apa itu??
Like dan komennya ya.. 😁😁
TBC
__ADS_1