
Melihat Gilang dan Lana yang sudah tak bergerak, Vita berlari ke seberang jalan. Diikuti oleh Pak Kosim di belakangnya.
Sesampainya disana, terlihat dua anak manusia yang sedang berpelukan begitu erat. Vita termangu melihat pemandangan itu.
Dari hidung dan kepala Gilang sudah mengeluarkan darah segar. Sedangkan Lana masih sama.
Seluruh tubuhnya penuh dengan darah. Tubuh Lana dan Gilang seperti tak mau dilepaskan.
Pak Kosim yang melihat itu semakin menangis. Sambil menangis, ia meminta kepada siapa saja yang bermurah hati untuk menolong majikan nya ini.
Beruntung salah satu pengendara mobil itu mengenali Gilang. Jadi dia siap membantu Gilang.
Orang itu mencoba melepas pelukan mereka berdua, tapi sulit. Bukannya terlepas, tapi malah semakin erat.
''Hah! kayaknya sulit untuk dilepas Pak! Kita harus cari mobil yang bak terbuka dibelakang nya. Jika menunggu ambulan itu tidak mungkin. Mereka akan dalam bahaya. Lihatlah bahkan anak kecil ini pun semakin erat memeluk tubuh Gilang.'' ucap nya pada pak Kosim.
Pak Kosim mengangguk, sedangkan Vita masih saja menatap dua orang yang terluka parah tapi masih saling berpelukan.
''Ayo Pak! mobilnya sudah ada!'' ucap pak Tirta.
Ya, orang yang di setop oleh Pak Kosim adalah Pak Tirta. Rekan kerja Gilang di ALISA STORE. Pemilik saham lima belas persen di usaha Gilang itu.
Seminggu yang lalu, Gilang sengaja bertemu dengan beliau untuk membeli saham miliknya.
Awalnya pak Tirta tidak mau. Tapi karena mendengar penjelasan Gilang, jika ia akan menyerahkan usaha nya itu pada istri nya, sebagi bukti tanda cintanya untuk sang istri, Pak Tirta akhirnya setuju.
Dan tak disangka, hari ini Pak Tirta melihat Gilang dalam keadaan terluka parah. Dengan seorang anak kecil dalam pelukannya.
Pak Tirta menebak, jika itu adalah putra Gilang.
Dua orang yang masih berpelukan itu, dinaikkan ke mobil pick up untuk segera dibawa kerumah sakit.
Dengan pak Kosim dan Vita ikut dengan mobil pick up itu. Vita tak henti-hentinya menatap Gilang yang masih memeluk erat seorang anak kecil yang ia lihat tadi saat acara pernikahan nya.
Setibanya dirumah sakit, Gilang dan Lana langsung dibawa keruang UGD untuk segera ditangani.
Tiba di dalam UGD, para dokter dan suster mencoba untuk melepaskan kedua orang yang sedang berpelukan itu.
Nihil, mereka bahkan tak bisa di lepaskan sama sekali. Dokter yang melihatnya kebingungan.
Hingga beruang kali mereka mencobanya, tetap saja. Tak bisa di lepas. Tak lama seorang dokter senior masuk.
Melihat para suster dan dokter yang lain kepayahan melepas kedua pasiennya, dokter paruh baya itu tercenung.
__ADS_1
Lama ia menatap pada dua orang yang berpelukan itu. Setelah nya ia mencoba mendekati mereka berdua.
Dokter itu berbisik di telinga kedua pasiennya bergantian.
Saya ingin minta izin untuk mengobati tubuh kalian berdua, bolehkah saya melakukan nya?? Saya tidak akan memisahkan kalian berdua.
Kalian tetap dalam satu ruangan tak terpisahkan. Saya yang akan menjadi penanggung jawab kalian berdua. Saya berjanji!
Bisiknya pada kedua orang yang sedang berpelukan itu. Dan ya! pelukan itu terlepas saat dokter itu mencoba melepaskan pelukan mereka.
Semua dokter dan perawat terbengong. ''Ayo! ambilkan bangkar itu dan bawa kemari! mereka tidak mau dipisahkan! cepat! terlambat sedikit saja, nyawa mereka dalam bahaya!'' serunya pada semua asisten nya.
''Ba-baik dokter!'' sahut mereka.
Setelah nya mereka mulai menggeser Lana dari tubuh Gilang. Dengan satu bangkar lagi tepat berada di sebelah kiri Gilang
Anehnya, walau pelukan mereka terlepas, tapi tautan jari kedua tangan mereka masih saling berpegangan.
Seakan mereka berdua tidak mau dipisahkan. Dokter paruh baya itu menangis. Puluhan tahun mengurusi pasien, tapi baru kali ini melihat pasien yang tidak mau lepas sama sekali.
Sambil terus menangis, dokter itu mencoba menyelamatkan kedua orang itu. Gilang masih belum sadarkan diri.
Sedangkan Lana dalam keadaan kritis. Tubuhnya begitu banyak mengeluarkan darah.
Dokter yang melihatnya kebingungan. Seakan tau, dokter paruh baya itu mencoba mengambil darah Gilang.
Walau itu sangat berbahaya, apa salahnya di coba?? Pikirnya.
''Dok! itu sangat berbahaya bagi pasien yang satunya. Nanti kita akan disalahkan Dok! kita paksa aja ya darah lain? Aneh! baru kali ini aku melihat ada pasien yang menolak darah dari tubuh pasien lain.'' ucapnya sambil tangannya terus dengan cekatan mencoba kembali memasang jarum infus ke tangan Lana.
Nihil.
Seakan tau, Lana menolak darah orang lain masuk ke tubuhnya. Dokter paruh baya itu tercenung lagi.
Lama berpikir, akhirnya ia mencoba yang belum pernah ia lakukan selama ini. Mendonorkan darah tanpa melihat golongan darah mereka sama atau tidak.
Dokter paruh baya itu, mengambil darah Gilang dan mencoba mentransfusi darah itu ke tubuh Lana secara langsung.
Aneh sih, tapi inilah yang sedang ia lakukan. Semua mata perawat dan dokter lain terbengong melihat nya.
''Baik, jika memang ini yang kalian inginkan! Maka akan saya lakukan. Saya mempertaruhkan karir saya disini, jika ini tidak berhasil maka saya akan mundur.'' ucapnya sembari memasangkan jarum infus ke tubuh Lana.
Setelah jarum infus itu terpasang di tubuh Gilang dan Lana, kini dokter paruh baya itu hanya bisa menunggu.
__ADS_1
Dan baru saja ia ingin berbicara, terlihat bahwa darah Gilang mengalir deras ke tubuh Lana.
Semua yang ada di sana mematung melihat keajaiban itu. Mata dokter paruh baya itu berkaca-kaca.
''Subhanallah... maha suci Allah dengan segala kebesaran nya! sungguh! baru kali ini aku melihat kejadian diluar nalar seperti ini. Ya Allah.. begitu besar kuasa Mu...'' ucap dokter paruh baya yang bernama Arminanti Harahap.
''Ya Allah.. seumur hidupku, inilah kejadian paling langka yang pernah aku temui.. maha besar Allah..'' ucap suster yang sedang menatap kedua pasien yang tergolek di bangkar itu.
Sedangkan diluar sana, Pak Kosim dan Vita masih dalam keadaan shock. Tak tau harus berbuat apa.
Sejenak mereka berdua terdiam, hingga akhirnya Pak Kosim merogoh ponsel dan membukanya.
Terlihat disana puluhan panggilan tak terjawab dari Alisa dan juga Papa Angga. Pak Kosim tercenung melihat nya.
Ia sadar berita ini harus di sampaikan kepada dua orang yang menelponnya ini. Dengan berat, Pak Kosim menelpon Pak Angga dan memberitahukan jika Gilang mengalami kecelakaan.
Sedangkan Alisa, ia memilih berbicara diluar rumah sakit. Karena takut Vita akan curiga padanya dan akan banyak bertanya.
Terlebih dahulu ia mohon diri ingin menelpon orang dirumah. Begitu alasan nya. Dan Vita mengangguk setuju.
Pak Kosim menelpon Alisa.
Alisa yang sedang mondar mandir tak tentu arah, dikejutkan dengan deringan ponsel di saku gamisnya.
''Astaghfirullah!!'' kejutnya saat mendengar suara deringan ponsel.
Alisa melihat jika itu panggilan dari Pak Kosim. Dengan cepat ia mengangkatnya.
''Assalamualaikum Pak! Ada apa?? Dimana Lana dan Gilang?! Apakah mereka bersama Bapak sekarang?! Apa yang terjadi?!'' Alisa memberondong Pak Kosim dengan banyak pertanyaan.
Pak Kosim tersentak kaget. ''Da-darimana Neng Alisa tau??'' tanya nya dengan bibir memucat.
Padahal Alisa sedang tidak ada disana.
''Tadi pak Madan, wali kelas Lana menelpon saya, dia mengatakan jika Gilang sedang mengejar Lana yang berlarian entah kemana! Ada apa ini Pak! Mengapa aku merasa terjadi sesuatu dengan mereka?'' terka Alisa.
Membuat Pak Kosim bertambah terkejut. ''Neng... Den Gilang dan Lana... mereka berdua mengalami kecelakaan!''
Brrruuukkkk
💕
Tunggu satu lagi, tapi kayak biasa ya! 😁😁
__ADS_1