Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)

Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)
Resepsi pernikahan Gilang & Alisa


__ADS_3

Tiba di kamar hotel, dengan segera petugas MUA membuka seluruh pernak pernik yang ada di tubuh Alisa.


Begitu juga dengan Gilang. Mereka berdua di dandani dengan memakai baju adat khas Aceh yang dibawakan langsung dari Aceh oleh Tante Irma dan Mama Alina.


Gilang diurus oleh petugas MUA yang lain untuk memakai setelan baju adat khas Aceh itu. Semua itu sudah mereka pelajari dari Tante Irma.


Begitu juga dengan baju Alisa saat ini. Yang paling sulit adalah baju Alisa. Karena pernak pernik untuk mengurus Alisa itu butuh waktu satu jam lamanya.


Gilang menggelengkan kepalanya saat melihat Alisa yang sudah di Belitung dengan selendang berwarna kuning emas di kepala yang sudah dipasangi sanggul oleh petugas MUA.


Ia terkekeh geli saat melihat wajah Alisa yang pucat bagai mayat saat ini. Karena masih bedak dasar saja.


Mama Dewi masuk untuk mengajak Gilang keluar, karena akan ada prosesi adat Aceh tentang penyambutan untuk mempelai pria nya.


Satu jam lamanya, barulah Alisa selesai di rias dan akan bersiap di bawa ke tempat resepsi.


Seikat bunga mawar merah petugas MUA berikan pada Alisa untuk menambah kesan kecantikan nya.


Salah satu MUA ingin memotret Alisa sebagai kenang-kenangan untuk mereka nanti nya. Alisa tersenyum dan setuju. Walaupun agak malu sih.



Seperti ini kira-kira pakaian adat Aceh yang Alisa gunakan. Jangan fokus pada wajah si pemakai bajunya ya. 😁 Setiap orang kan berbeda imajinasinya. Seperti othor! 😄


Fokus pada pakaiannya saja ye! Susah cari yang tepat! 😁


Alisa di tuntun untuk dibawa keruang resepsi. Tiba disana lagi, Alisa tertegun. Ia melihat seluruh ruangan ballroom itu begitu cantik dengan buang mawar putih dan merah jambu kesukaan Alisa.


Ia dibawa duduk di paminan yang sudah di persiapkan untuknya. Khusus pelaminan Aceh.



Di dalam ballroom yang begitu luas itu memilki dua dekorasi pernikahan untuk Gilang dan Alisa.


Yang pertama dekorasi pernikahan adat Aceh dicampur dengan adat Jawa. Karena Gilang berasal dari suku Jawa. Ikut Oma Dewi.


Alisa duduk di kursi pelaminan itu. Matanya mengembun melihat dekorasi ruangan itu yang begitu mewah.


Ada satu sudut yang sangat menyita perhatian Alisa. Yaitu di samping tempat ia duduk saat ini, ada satu tempat yang sengaja di tutup oleh tirai gelap lampu.

__ADS_1


Gelap sekali. Mata Alisa fokus pada tempat itu. Ia tersadar saat para MUA menyentuh tangannya saat suara alunan tari Ranup lampuan yang sedang menyambut Gilang dan keluarga besar nya di depan pintu ruangan itu.


Lagi, Alsa dibuat terkesima dengan sang pujaan hati. Yang sangat tampan memakai pakaian khas adat Aceh.


''Tampan!'' celutuk yang tanpa sadar.


Para MUA terkikik geli melihat wajah Alisa yang begitu terpesona pada sang suami yang sedang berdiri di depan pintu ruangan itu.



Beginilah kira-kira ya? Othor ambil gambarnya dari seorang artis Aceh yang terkenal itu menikah dengan seorang pemuda Tiong hoa.


Gilang disambut dengan tarian Ranup Lampung yang di didik oleh Tante Irma secara langsung selama dua tahun lalu.



Tari Ranup lampuan ini adalah salah satu adat Aceh untuk penyambutan bagi seorang pengantin pria ketika datang ke tempat si wanita saat acara resepsi.


Tidak hanya penyambutan pengantin saja Ranup lampuan ini di gunakan. Tapi juga acara-acara penting lainnya. Seperti penyebutan pejabat ataupun gubernur di Aceh.


Gilang masih menunggu sampai tarian itu habis. Dan pada saat salah satu penari meminta Gilang mengambilnya sirih yang ada pada tangannya, Gilang mengambil dan menukar nya dengan sebuah amplop berukuran tebal.


Dan saat tiba disana, Gilang diserahkan kepada Tante Irma untuk di pertemukan dengan Alisa.


Kipas dari wajah Alisa di pindahkan dan terlihat jika Alisa sedang tersenyum begitu cantik melihat Gilang saat ini.


Gilang pun ikut tersenyum. Dua tangan mempelai itu Tante Irma satukan dan dibawa duduk di pelaminan.


Dan diikuti oleh acara adat lainnya yaitu pesijuk. Dengan kata lain memberikan berkat dan doa untuk kedua mempelai pengantin baru itu.


Satu persatu mereka berurutan untuk melakukan ritual adat itu. Hingga yang terkahir adalah Mama dan Papa Yoga untuk merestui kedua pasangan itu.


Alisa menangis tersedu saat Papa Yoga memberikan restu untuk pernikahan keduanya bersama Gilang.


Begitu juga dengan Mama Alina. Ia memberikan sesuatu kepada Gilang, sesuai dengan wasiat dari Nenek Alisa dulunya.


Sebuah liontin yang dhadiahkn oleh Kakek Alisa untuk Oma Gilang. Oma Diana. ''Mama mengembalikan ini padamu. Sesuai dengan keinginan kakek kalin dulunya. Liontin itu ada nama inisial kalian berdua yang kami tidak ketahui. Mama saja baru tau tadi, dari Mama kamu Gilang. Ternyata Ibu Diana juga meninggalkan liontin yang sama untuk Alisa. Ayo, besan! Berikan liontin itu kepada putrimu.'' imbuh Mama Alina dengan sedikit bergeser ke kiri. Di sebelah Gilang.


''Tentu, Bu Besan! Sayang, ini titipan Oma untukmu. Mama pikir, ini cuma liontin biasa. Ternyata.. di dalam liontin berwarna merah delima ini juga ada nama kalian berdua. Betulkan Nak?'' Tanya Mama Dewi pada Gilang.

__ADS_1


Gilang mengangguk dan tersenyum. Alisa menoleh pada Gilang. ''Apa? Jangan menatap ku seperti itu, hem?'' goda Gilang sambil menarik turunkan Alis matanya.


Alisa menghela nafasnya. ''Berarti mahar pernikahan ini pun kamu sengaja mengubah ya menjadi batu merah delima semua? Karena Liontin Oma ini? Hem.. Ck! Curang kalian!'' decak Alisa merengut sebal.


Para keluarga yang berada disana tertawa melihat tingkah Alisa. Selesai dengan prosesi adat, kini waktunya mereka berfoto ria untuk dijadikan kenangan kelak buat anak-anak mereka.


Mengingat anak-anak, Alisa menoleh kesana kemari mencari keberadaan keempat orang anaknya.


Gilang tau, namun cuma tersenyum tipis saja. Ia pura-pura diam akan hal itu. Para tamu undangan semakin membludak sekarang ini.


Seiring bertambahnya jam, bertambah pula atamu yang Mama Dewi undang. ''By?'' panggil Alisa tanpa menoleh.


''Hem,''


''Ke empat anak kita kok nggak ada disini ya? Ini acara kan hampir selesai? Kemana mereka?''


Gilang terkekeh, ia mendekati wajahnya pada Alisa dan tepat. Saat itu Alisa pun menoleh juga. Jadilah pose yang begitu romantis terlihat oleh fotografer.


Ia tersenyum. Klik!


Alisa terkejut saat cepritan cahaya putih membuyarkan lamunannya tentang Gilang. Gilang terkekeh lagi.


''Apa yang sedang kamu pikirkan? Kita sedang di acara pernikahan kita loh.. lupakan dulu tentang ke empat bocah rusuh itu. Sekarang waktunya kita untuk menikmati hari ini. Sebelum pesta kedua kita berlangsung.''


''Hah? Lagi?''


Gilang mengangguk. ''Hadeeeuuhh... capek deh...'' keluh Alisa dengan wajah pasrah nya.


Gilang tertawa. Sang fotografer tak menyia-nyiakan kesempatan bagus itu. Semua pose romantis Alisa dan Gilang ia abadikan.


Sesuai dengan perintah Gilang dulunya. Karena ia tau, jika Alisa pasti tidak mau di ajak berpose romantis di depan orang ramai.


Inilah cara Gilang untuk mengabadikan kenang-kenangan mereka berdua. Semua ini akan mereka turunkan ke anak cucu mereka nantinya.


💕💕💕💕


Masuk sesi ke 2 ya!


Ayo Monggo! Bagi yang mau nyumbang, othor tunggu nih. Jika ini masih acara Gilang dan keluarga besar nya.

__ADS_1


Pesta kedua ini adalah acara untuk masyarakat umum. Seperti klean! Othor tunggu amplopnya ya? 😁😁


__ADS_2