
Lana menghela nafas berulang kali. Seakan sesak dada yang ia rasakan saat ini. Luka masa lalu yang sengaja ia kubur, kini harus terbuka kembali.
Ia mulai menceritakan kejadian naas itu.
''Saat itu Abang sedang tiduran bersama kakak di dalam kamar. Kami berdua sedang berdiskusi tentang PR matematika yang lumayan rumit. Tiba-tiba saja dari luar kami mendengar jika Ayah berteriak memanggil Mak. Kami keluar dengan segera, tiba disana kami melihat jika Mak ditampar berulang kali oleh Ayah hingga terhuyung ke belakang dengan kepala membentur dinding begitu keras akibat Ayah mendorongnya setelah ia menampar nya!''
Deg!
''Ditampar?!''
Lana mengangguk, ''Ya, setelah itu Ayah mendorong Mak hingga membentur pintu kamar. Saat itu juga Abang menjerit dan memeluk Mak. Tak Abang sangka, Ayah Emil menarik paksa tangan Abang. Ayah menarik dan mengangkat Abang dengan kedua tangan nya di leher Abang. Abang dicekik hingga kehabisan nafas hiks.. hiks..''
''Apa?! Di cekik?'' pekik Gilang.
Lana mengangguk dengan air mata terus bercucuran. ''Ayah sengaja ingin melenyapkan Abang, karena menurutnya Abang ingin membela Mak. Padahal Abang hanya ingin menolong Mak yang terjatuh..''
''Astaghfirullah... ya Allah..'' ucap Gilang, ia meraup wajahnya kasar dengan tangan mengepal erat.
''Abang saat itu antara hidup dan mati, Pi. Yang Abang pikirkan saat itu adalah.. jika Abang diberikan kesempatan hidup, Abang ingin meminta.. suatu saat jika Abang di pertemukan dengan seseorang, maka Abang ingin membuatnya menjadi Ayah Abang. Sebagai pengganti Ayah Emil..''
Deg!
''Permintaan??''
''Ya, permintaan agar Abang bisa di pertemukan dengan sosok yang Abang rindukan selama ini. Yaitu Papi! Papi Gilang!'' imbuh Lana sembari menatap lekat pada Gilang.
Gilang terharu. Dengan segera ia memeluk Lana dan melabuhkan ciuman sayang di dahi Lana.
Lana menangis sesegukan di pelukan Gilang. ''Terus, apa lagi yang Ayah lakukan saat itu?'' tanya nya lagi.
Lana mengurai pelukannya dari Gilang, ''Merasa Abang ditarik paksa, Mak sadar. Abang tak tau apa yang terjadi dengan Mak, sekilas Abang mendengar jika Mak memekik kuat. Kakak bilang, saat itu mata Mak melotot melihat Ayah Emil mencekik leher Abang. Wajah Abang merah padam.''
''Abang terbatuk-batuk dengan wajah memerah. Sedang Ayah Emil semakin kuat mencekik Abang. Melihat itu Mak bangkit dan mengambil gagang sapu dan memukul ayah berulang kali. Abang tidak merasa kan apa pun lagi. Nafas Abang seperti habis, Abang hanya mendengar jika Mak memekik kuat.''
__ADS_1
''Hentikan!!!! kau bisa membunuhnya! pekik Mak.''
''Lepaskan putraku! Kau ingin membunuhnya hah?! Baik! aku juga akan membunuh mu!!!
Pekik Mak lagi saat itu.''
''Sekilas Abang mendengar jika Mak memukul Ayah entah dengan apa. Abang tidak bisa berbuat apapun, selain kedua tangan Abang berusaha untuk memegang tangan Ayah Emil dengan lemah.''
''Abang menangis saat itu. Abang merasakan jika ini adalah akhir dari kehidupan Abang. Abang tidak mendengar apapun lagi karena rasa sakit leher di cekik begitu juga nafas Abang seperti di cabut paksa oleh Ayah.. hiks..''
''Ya Allah.. Nak.. tega sekali Ayah mu..'' lirih Gilang dengan bibir bergetar.
Sedari tadi Lana bercerita ia sudah menangis. Dadanya begitu sesak sekarang. Ia menghela nafas berulang kali.
''Tangan Abang semakin lemah, pergerakan tangan Abang semakin mengendur dari tangan ayah Emil.. Abang tidak ingat apapun lagi, Pi.. hiks.. hiks.. aaaa... huhu...'' Lanjut nya, Lana menangis dengan kuat membuat Gilang dengan segera memeluk putra sambung nya itu.
Masih dalam dekapan Gilang, Lana berusaha berbicara lagi. ''Abang sadar ketika mendengar kakak memanggil Abang dengan kuat. Katanya Abang harus bangun. Sampai hati Abang meninggalkan mereka bertiga.. hiks..''
''Bangun Dek! Kakak janji, jika kamu bangun, maka hari ini ini juga kita pergi dari rumah ini! Kita tinggalkan neraka ini! Kakak mohon.. bangun Dek! Jika bukan untukku maka lakukan untuk Mak dan adek Annisa. Tidakkah kamu dengar jika mereka berdua menangisi mu?! Bangun Lana! Bangun Maulana Akbar!!!! pekik Kakak begitu kuat hingga Abang terbatuk-batuk.''
Lana menggeleng, ''Tidak Papi. Papi harus dengar semua cerita nya agar Papi tidak marah lagi sama Abang, karena Abang menyembunyikan sesuatu di masa lalu dari Papi.'' Lirihnya lagi.
Gilang semakin erat memeluk tubuh kurus Lana. ''Abang merasakan jika dada Abang terus menerus di tekan juga mulut Abang seperti ada udaranya. Abang menghirup sedikit demi sedikit udara itu dengan suara Kakak terus berdengung di telinga Abang.''
''Bangun Dek! Ini perintah dari kakak untukmu! Setelah ini, kita akan pergi dari sini! tunggu sampai kondisi mu baik dan pulih! Bangun Maulana Akbar!! seru Kakak membuat Abang semakin terbatuk-batuk hingga menyemburkan air ludah. Dengan sigap Kakak memeluk Abang. Kakak menangis begitu juga dengan Mak. Adek Annisa apalagi. Suara Adek hampir habis karena terus saja menangis.''
''Udah Nak.. Papi nggak sanggup lagi dengar nya..'' lirih Gilang masih dengan menangis memeluk Lana.
''Abang haus saat itu, dengan segera Kakak memberikan minum. Sekilas Abang melihat jika Ayah Emil masih duduk disana dengan wajah datarnya. Abang tidak sanggup lagi melihat nya. Abang mengajak Kakak untuk membawa Abang ke kamar. Sebelum keluar, Abang berpesan sama Kakak agar menjaga Mak. Jangan sampai Ayah melukai Mak kita. Cukup Abang saja. Pergilah! Selalu kawal Mak jika Mak sedang berbicara dengan Ayah, kata Abang. Kakak mengangguk. Setelah itu Abang mendengar jika Kakak mengusir Ayah. Setelah ayah pergi, kami bertiga menangis. Menangisi nasib kami berada di sana.'' Imbuh Lana dengan terus menangis.
''Astaghfirullah.. Ya Allah.. maafkan Papi Nak.. Papi terlambat untuk datang menemui kalian semua.. maaf..''
''Papi nggak salah, memang inilah takdir yang harus kami jalani. Sebelum Papi datang, sudah ada orang lain yang menjaga kami.'' Gilang mengurai pelukannya dari tubuh Lana.
__ADS_1
''Orang lain? Siapa?'' tanya Gilang penasaran.
Lana tersenyum, ''Nanti Papi akan tau. Sore ini ia akan datang kesini. Karena tadi Abang menghubungi nya untuk menjenguk Mak.'' Sahut nya dengan bibir terus melengkung kan senyum.
''Laki-laki?'' entah kenapa Gilang merasakan jika yang menjaga Alisa itu adalah laki-laki.
''Ya, laki-laki. Dan Papi pasti sudah mengetahui nya!''
''Papi? Tau dia? Darimana?'' Gilang terkekeh dengan ucapannya sendiri.
''Ya, Papi tau! Tunggu saja!'' senyum Lana masih saja terukir.
Gilang semakin penasaran, siapa kira-kira pemuda itu. Apakah sebaya dengan nya? Oh tidak! Bisa bahaya ini! Pikir Gilang.
Lana tersenyum jahil melihat tingkah Gilang yang kepanasan karena ulahnya. ''Papi tenang saja.. ia tidak menyukai Mak.. tapi dia adalah putra nya Mak!''
Deg!
''Putra Alisa?''
TBC
Yuhuuu.. semakin seru kan..
Ah ya! Promo lagi nih othor.. hihihi..
Mampir yuk ! Di cerita nya teman othor yang satu ini.
Karya : Sun_flower95
Judul : Serpihan hati yang disia-siakan
__ADS_1
Like dan komen klean selalu di tunggu! 😘