Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)

Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)
Cucuku!!


__ADS_3

''Kamu kenapa Bang?'' tanya Alisa, saat melihat Lana yang sedang terkekeh geli sendirian.


''Eh? Nggak Mak! Sore ini kami harus ke rumah Papi! Oma Dewi menyuruh kami berempat untuk menginap disana selama seminggu. Mak tak apakan jika kami tinggal sendiri?'' tanya Lana dengan tersenyum manis.


Alisa mengernyitkan dahinya. ''Kenapa?''


''Entah! Kata Papi , Oma hanya ingin berkumpul dengan kami. Bukankah Minggu depan Papi akan datang kesini?'' jawab Lana pura-pura tidak tahu.


''Entah! maka tak tau!'' ketusnya.


Membuat Lana mengulum senyum. ''Ya sudah, bersiaplah! Maka akan bangunkan Rayyan dan Annisa. Pergilah!'' usir Alisa.


Lana semakin mengulum senyumnya. Ia melipat bibirnya kedalam. Ia keluar dari kamar itu dengan segera.


Sementara Alisa ngedumel sendiri. ''Mau niakh katanya? Cih! Mau nikah aja kasi tau aku! Dulunya dia kali yang ingin sama aku? Ck! Dasar lelaki! semua sama!'' gerutu Alisa sambil menyusun pakaian Rayyan ke dalam sebuah tas. Entah kenapa mendadak hatinya panas saat mendengar Gilang ingin menikah.


Setelah selesai ia membangunkan Rayyan yang masih mengantuk saat ia menggendong nya dan dibawa keluar.


Karena ia sudah mendengar suara Mbak Sus dan Lana dibawah bersama Annisa yang sedang berdebat.


Alisa turun ke bawah dengan menggendong Rayyan. Mata pemuda kecil pangeran Bhaskara itu masih sangat berat untuk terbuka.


Biasanya ia akan bangun ketika sudah Maghrib. Itupun dipaksa oleh Alisa untuk bangun.


Tiba di bawah, ia melihat dua anaknya sedang tertawa bersama karena menonton film kartun Upin Ipin di ruang tivi.


Melihat itu Alisa tersenyum. ''Sudah siap?'' tanya nya.


''Sudah, Mak! Mak tak ikut?'' tanya Annisa


Alisa mengusap pipi halus putri bungsunya itu. ''Mak tak ikut. Kakak, Abang, sama Adek aja ya yang kesana. Besok kan Mak harus ke toko?'' sahut Alisa dengan tersenyum lembut pada putri bungsunya.


''Hoo.. kirain Mak akan ikut kita ya kan Bang?''


''Mak tak ikut Dek! Lusa, Papi akan pulang kesini. Kita aja yang kesana nya! Kakak udah Abang bilangin tadi. Dan sekarang sedang menuju ke rumah Oma Dewi.'' jelas Lana pada Alisa.


Alisa tersenyum. Namun senyum itu begitu kecut. Hingga Mbak Sus geli melihat nya. Ia melipat bibirnya ke dalam agar tak keceplosan menertawakan calon istri majikannya ini.


''Ya sudah tunggu saja. Sebentar lagi mereka tiba. Mak mau ke dapur sebentar, buat susu untuk Rayyan. Sayang? Adek sama Mbak Sus dulu ya? Mami mau buat susu.'' imbuh nya pada putra kecilnya itu.


Rayyan mengangguk patuh. Dengan segera ia berpindah pada Gendongan Mbak Sus yang sudah berdiri di hadapan Alisa saat ini.


Setelah itu, Alisa berlalu menuju dapur untuk membuat susu Rayyan. Setengah jam kemudian, terdengar deru mesin di luar rumah mereka.


Mendengar itu, mereka semua menuju ke depan dan dengan segera ingin masuk ke mobil.

__ADS_1


Namun semua pergerakan tangan ank Alisa terhenti saat melihat ada tiga orang gadis yang memakai baju salin terkenal di kota Medan menyambangi kediaman nya.


''Assalamualaikum, Bu Bos!'' sapa Andi.


Pak Kosim terkekeh, ''Sehat Neng?''


''Waalaikum salam, Alhamdulillah sehat Pak! ini..'' tunjuk Alisa pada tiga orang gadis yang tersenyum padanya.


''Mereka bertugas ingin memoles Bu Bos! Ayo kalian masuk! Kami akan segera berangkat! Naik Bang!'' titah Andi pada kedua anak itu.


Lana dan Annisa mengangguk. Dengan segera mereka masuk ke mobil di duduk dengan Mbak Sus yang membawa Rayyan dalam gendongan nya.


Pangeran Bhaskara itu tidak sadar, jika ia meninggalkan Mami nya sendirian dirumah. Bocah itu pasti akan mengamuk saat nanti ia bangun.


''Kami pergi, Bu Bos! Assalamualaikum!''


''Waalaikum salam.'' jawab Alisa. Ia bingung sendiri melihat tingkah Andi dan pak Kosim. Namun tak ambil pusing.


Dengan segera ia mengajak ketiga gadis itu untuk masuk kerumahnya. Sementara Tiga orang di dalam mobil Alphard milik Gilang, terkekeh-kekeh melihat raut kebingungan di wajah Alisa tadi.


Satu jam kemudian.


Mobil Alphard berwarna hitam milik Gilang masuk ke dalam pekarangan rumah keluarga Bhaskara.


Dari kejauhan sudah terlihat ada dua orang paruh baya sedang berdiri menatap mobil mereka.


''Hah? Nenek! Kakek!'' pekik Lana dengan suara melengking kaget.


Begitu juga dengan Ira yang baru tiba. Ia terpaku di tempat. Tepat di belakang mobil yang di naiki oleh Lana.


''Nenek! Kakek! Ini beneran?!!'' pekik Ira dengan terus berjalan mendekat.


Kedua paruh baya itu mengangguk. Wajah mereka berdua basah dengan air mata.


Lana dan Ira berlari mendekati sepasang paruh baya itu.


Grep!!


''Aaa.. cucuku!!!'' pekik Mama Alina dan Papa Yoga bersamaan. Ira memeluk Papa Yoga. Sedangkan Lana memeluk Mama Alina.


''Hiks.. curang! Kenapa nggak bilang dulu kalau mau kesini?!'' sungut Lana masih dalam pelukan Mama Alina.


Mama Alina tertawa, namun air mata terus saja mengalir membasahi pipinya. ''Hiks.. Jika diberitahu, bukan kejutan dong namanya?''


Lana semakin erat memeluk tubuh Mama Alina. Begitu juga dengan Ira. Sedangkan Annisa terbengong sendiri.

__ADS_1


Ia berjalan mendekati kedua saudara nya. ''Kakak? Abang??''


''Eh? adek! Astagfirullah! Lupa kita!'' jawab Ira. Dengan segera ia mengurai pelukan nya dari Papa Yoga dan membawa Annisa ke depan Papa Yoga dan Mama Alina.


''Ini... Gilang??''


''Hah? Kenapa jadi Papi Gilang, Nenek!''


''Hahaha.. maksud Nenek, wajah Annisa begitu mirip dengan Papi kalian. Papi Gilang. Dan itu?'' tunjuk Mama Alina pada Rayyan yang sudah membuka matanya.


''Itu Rayyan, Nek! Putra papi Gilang dengan Tante Vita!'' sahut Lana dan Ira mengangguk.


Rayyan masih belum konek, Karena baru bangun tidur. Sesaat ia melihat kesana kemari. Mata sipit seperti Gilang itu menoleh kesana kemari mencari sesuatu.


''Mami??'' carinya sembari melihat Mbak Sus.


''Mami nggak ikut sayang. Kita lagi dirumah Oma Dewi sekarang ini. Coba lihat dulu. Tuh Oma datang!'' tunjuk Mbak Sus.


''Cucuku!!'' pekik Oma Dewi. Dengan segera ia memeluk Rayyan dan menciumi pipi bulat nan penuh itu.


Rayyan meronta-ronta. ''Ndaaakkk... adek Ndak mau Omaaaa... Adek mau Mamiiii... Papiiii... Mamiiii... huaaaa...'' pekik Rayyan di pelukan Oma Dewi.


''Lah, loh? Kok cari Mami sih? Adek lagi di rumah Oma loh..'' bujuk Oma Dewi pada Rayyan.


Tapi putra Gilang itu semakin histeris saja. Gilang yang sedang berbicara dengan Papa Angga, terkejut mendengar suara Rayyan menangis histeris seperti itu.


Secepat kilat ia berlari dan menemui putra nya itu. ''Ndaaaakkk... Papiiii... Mamiiii.. adek msu pulaaaangg... aaaaaa.. Mamiiii...'' pekik Rayyan dengan terus meronta-ronta.


Gilang terkejut melihatnya. Dengan segera ia memeluk tubuh Rayyan dan menimangnya. ''Cup, cup, Kok nangis? Adek lagi dirumah Oma loh.. ada papi juga. Tuh lihat, Kakak sama Abang juga ada.'' bujuk Gilang.


Tapi bocah itu tetap tidak mau. ''Ndaaaakkk... adek mau Mamiiii... pulaaaangg.. adek mau pulaaaangg... Mamiiii...'' pekik Rayyan.


''Uhukk.. uhuuukkk.. uhuuukkk.. uhuuukkk..'' Alisa terbatuk-batuk hingga wajahnya memerah.


''Kayakanya ada yang sedang menyebut anda, Bu Alisa?'' tegur salah satu pegawai salon itu.


''Ehm, kayaknya iya. Apa mungkin putraku? Tadi kan ia pergi dalam keadaan tidur. Pastilah sekarang dai mengamuk!'' imbuh Aisa dengan panik. Ia ingin bangun dan berdiri tapi ditahan oleh pegawai salon suruhan Gilang.


''Bu, Bu, tenang dulu! Lihat dulu tubuh ibu sedang kami Balur dengan lulur loh .. biarkan saja putra ibu. Disana kan ada Papi dan juga kedua abangnya tadi!''


Alisa terdiam. Ia menghela nafasnya. ''Ya sudah, lanjutkan. Saya sangat mengantuk. Tak apakan Jika saya tinggal tidur sebentar saja sambil kalian pijat?''


''Tentu. Silahkan!'' sahut pegawai salon. Mereka saling melempar tatapan dan tersenyum.


Akhirnya Alisa bisa diam juga sedari tadi. Para pegawai salon menghela nafas panjang, kemudian terkikik geli melihat Alisa yang sudah tertidur dengan mendengkur.

__ADS_1


💕💕💕💕💕


Othor ngebut! Biar cepat tamat! Bulan depan udah rilis cerita baru lagi! 🤣🤣🤣


__ADS_2