
''Adek nangis terus dari kemarin kek.. berulang kali kakak hubungi nomor papi. Tersambung, namu tidak diangkat. Kasian Mak, kek.. baru hari ini dan kemarin beliau mendapat pesanan kue. Karena adek menangis jadilah di tunda sampai besok. Maka dari itu kami berdua sampai nekat kemari untuk bertemu Papi.. dan jika papi tidak bisa menemui kami, biarlah sepucuk surat saja yang akan kakak tuliskan. Mau kan kakek memberikan nya pada Papi??'' tanya Ira begitu berharap.
Pak Kosim menganggukkan kepalanya. ''Tentu. pasti akan kakak sampaikan! Iman! minta buku sama pulpen! Sama satu buah amplop agar nanti tidak ada yang tau tentang surat itu.'' imbuh Pak Kosim sembari mengajak Ira dan Lana duduk di bangku satpam.
Bik Inah yang membawa nampan makanan serta minum datang dengan tergesa.
''Tadi den Gilang ke dapur, dia nanya, ada apa diluar karena tadi nyonya Dewi bilang ada dua orang anak tersesat. Den Gilang bilang, berikan makan dan minum setelahnya antarkan mereka ke tujuan serta ini!'' tunjuk bik Inah.
Terlihat Lima lembar uang berwarna merah disana, begitu juga dengan pak Kosim. Ia menyerahkan uang itu pada Ira dan Lana.
''Ini kak! ambilah! Dari Papi dan Oma kalian! jangan di tolak! anggap itu rejeki kalian berdua ya?'' imbuhnya membuat Ira mengangguk pasrah.
''Mana kek! Kakak nggak bisa lama-lama disini, waktu kakak hanya tersisa satu jam lagi. Biar kakak segera tulis suratnya untuk Papi.'' lirih Ira dan dingguki oleh Lana.
Semenjak Lana mendengar suara Mama Dewi, mulut Lana jadi terkunci rapat tidak mengeluarkan sepatah katapun untuk berbicara.
Hanya geleng dan anggukan saja yang di berikan nya. Sedangkan Ira, sibuk menulis sepucuk surat untuk Gilang di meja satpam.
Ditemani bik Inah dan pak Kosim, ia menulis surat itu dengan raut wajah sendu.
~Untuk Papi Gilang Bhaskara ❤️~
Assalamualaikum Pi..
Jangan kaget ya baca surat dari kakak? Saat menulis ini, kami berdua sedang berada di rumah Papi. Tepatnya di pos satpam ditemani kakek dan juga nenek Inah.
Maaf jika kakak nekad datang kesini.. kakak nggak punya pilihan lain..
Adek ngamuk terus dua hari ini. Nggak tau karena apa? Tiap kali di tanya pasti nangis. Giliran di bilang Papi datang, ia tertawa.
Kayaknya adek rindu Papi deh.. itu sih.. tebakan kakak aja.
Kakak tau, semakin mendekati hari H, Papi semakin sibuk dan tidak bisa di ganggu. Mak sering kali bilang, jika terjadi apa-apa jangan bilang Papi! nanti Papi terganggu..
Tapi kali ini, kakak nggak bisa diam aja Pi.. adek sakit. Butuh Papi..
Berulang kali kakak mencoba menghubungi nomor Papi, tidak di angkat. Pesan pun mungkin ada puluhan!
Kakak mohon Pi.. jika papi tidak bisa pergi untuk menemui adek, paling tidak suara Papi aja sudah cukup! Hanya itu yang adek mau ..
__ADS_1
Jika adek mau dengan ayah Emil, pastilah kakak akan datang pada ayah. Tapi ini adek ingin Papi..
Kakak mohon Pi.. voice note pun jadi Pi. Jika muka tidak nampak, paling tidak saudara bisa kan Pi??
Buka ponsel nya Pi! kakak tunggu voice note Papi. Ponsel ini akan terus disini, selagi Papi belum mengirimkan nya, maka selama itu pula kakak akan mengganggu Papi!
Ingat Itu!
Sudah dulu ya Pi.. kakak pamit, semoga dengan surat ini, Papi bisa tau apa yang sebenarnya terjadi pada kami.
Setelah ini, kakak tidak akan berharap apapun lagi. Ini yang terakhir kalinya kakak menginjak kan kaki di rumah Papi!
Jika Tuhan berkehendak, maka kakak pasti akan kembali lagi kesini. Buka ponsel nya Pi! kakak tidak berbohong!
Maaf jika kakak menganggu Papi! Sekali lagi kakak mohon maaf!!
Kakak dan Abang sayaaaaangg sekali sama Papi. Sampai kapan pun, Papi tetaplah Papi kami.
Wassalamu'alaikum wr.wb.
~Sun sayang dari orang tersayang, Kakak dan Abang. ❤️❤️~
''Tolong berikan ini pada Papi ya kek, nek! kami tidak bisa lama-lama. Terimakasih minum nya. Maaf jika kakak mengganggu kalian disini, tapi ini terpaksa kakak lakukan..'' lirih Ira sembari menunduk.
Pak Kosim mengangguk. ''Ya, akan kakek sampaikan! Ayo kakek Carikan taksi untuk kalian kembali. Kakek akan tunggu kalian sampai kalian masuk kedalam taksi. Ayo!'' ajak pak Kosim dan di angguki oleh Ira dan Lana.
Setelah nya mereka diantar hingga ke gerbang perumahan. Pak Kosim mengantar mereka hingga mereka menaiki taksi dan menghilang di keramaian jalan.
Setelah itu, ia kembali dan memberikan surat itu pada bik Inah dengan sembunyi-sembunyi. Takut, jika tau Mama Dewi, surat itu akan di lenyapkan.
Tepat pukul 4 sore, bik Inah masuk ke kamar Gilang dengan membawa nampan berisi cemilan serta sepucuk surat dari Ira.
Melihat bik inah datang, Gilang tersenyum dan mengambil nampan itu. Gilang mengambil makanan itu dan memakan nya.
Saat ia ingin mengambil susu coklat hangat, ia menyentuh sesuatu seperti sebuah kertas, Gilang menoleh dan melihatnya.
''Untuk Papi Gilang Bhaskara.'' gumamnya sambil melihat amplop itu.
Gilang membuka dan membacanya. Ia membaca surat itu dengan tangan bergetar dan juga mata yang memerah menahan tangis.
__ADS_1
Jantungnya bertalu-talu saat membaca isi surat Ira. Sungguh, ia tidak tau sama sekali dengan keadaan mereka disana.
Ia pikir, jika sudah ditinggalkan dalam keadaan sehat, maka tidak akan ada lagi masalah apapun.
''Kakak...'' lirih Gilang saat membaca akhir dari surat itu.
Gilang berlari ke lemari buku tempat di mana ia menyimpan ponsel nya selama dua Minggu ini. Saat Gilang membuka ponsel itu, pesan masuk bertubi-tubi.
Begitu juga dengan panggilan tak terjawab. Gilang yang melihat nya menangis. Berarti benar apa yang dikatakan oleh Ira.
Bukan puluhan, tapi ratusan pesan yang masuk dari ponsel Alisa untuk nya. Gilang terisak. Apalagi saat mendengar rekaman suara dari ponsel itu.
Ia menangis sesegukan, tangan nya bergetar memegang ponsel itu saat mendengar rekaman suara dari ponsel Alisa.
''Maafkan Papi, nak.. maafkan Papi... Papi nggak tau..'' lirih Gilang masih dengan terisak.
''Maafkan Papi... baik! Papi akan rekam suara Papi! Dan akan Papi kirimkan segera! Bukan hanya satu! namun akan banyak pesan suara yang Papi kirimkan untuk kalian semua...'' lirih Gilang masih dengan sesegukan.
Dengan suara bergetar, Gilang merekam suaranya dengan sesekali sesegukan. Ia berusaha sampai rekaman itu jadi dan mengirimkan ke ponsel Alisa.
Baru satu, dan masih banyak lagi. Tiap satu jam, satu buah voice note Gilang kirimkan untuk Alisa.
Ira yang menerima pesan itu tersenyum dalam tangis. Ia sesegukan mendengar curahan hati Gilang disana.
Suara itu ia perdengarkan pada Annisa, Alisa pun ikut mendengarkan. Ia pun ikut menangis. Tapi tidak dengan Annisa.
Bayi kecil itu tertawa senang. Ira yang tau pun mengirim balasan pada Gilang. Gilang yang mendengar nya lagi dan lagi menangis.
Sebagai balasan terakhir, Gilang mengirimkan sebuah pesan berbentuk gambar seperti Video call ke ponsel Alisa.
Gilang merekam semua kegiatan nya pada saat itu. Mulai dari sholat, mengaji hingga ia tidur.
Membuat Annisa tertawa senang. Alisa tersenyum melihatnya. Namun, di dalam tersenyum ada tangis yang tersembunyi.
...Mulut tertawa hati menangis......
💕
Masih mau lanjut??
__ADS_1
TBC