Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)

Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)
Bukan Emil!


__ADS_3

Gilang dan Papa Yoga terus berjalan menyusuri jalan setapak untuk menuju ke sawah.


Mereka berjalan beriringan sambil sesekali tertawa kecil mendengar guyonan Andi. Tiba di ujung jalan sana ada seseorang yang mematung melihat Gilang.


Ia menatap Gilang tak berkedip. Mulutnya menganga. Ia mengucek matanya berulang kali.


Kucek. Lihat lagi. Kucek. Lihat lagi. Hingga yang ketiga kali nya ia berhenti. Karena berasa perih pada kelopak matanya akibat gosokan yang terlalu kuat.


Ia begitu terkejut begitu melihat sosok itu ada disini lagi setelah lima tahun yang lalu. ''Apa aku tidak salah lihat? Bang Emil? Kamu pulang lagi ke sini? Ini Siapa?'' cegat Kak Ros saat sudah tiba di depan mereka.


Pak Yoga menatap datar pada kak Ros. Bukan ia tak tau, jika selama ini kak Ros selalu menceritakan yang tidak baik tentang Alisa.


Gilang menatap datar pada Kak Ros. Begitu juga dengan Andi. Ia mengernyitkan dahinya melihat wanita yang sebaya dengan Emil ini.


''Kamu Emil kan?'' tanya Kak Ros lagi dengan sengaja ia berdiri dihadapan Gilang.


Gilang mengernyitkan dahinya. ''Kamu Siapa?'' tanya Gilang datar.


''Loh??'' Kak Ros terkejut mendengar ucapan Gilang.


''Kamu Emil kan? Milham Syahputra? Mantan suami Alisa? Apa kabar kamu?'' tanya nya dengan senang.


Gilang menatap datar pada wanita yang sebaya dengan Emil ini. ''Maaf! Anda salah paham! Saya bukan bang Emil. Saya Gilang!'' sahut Gilang dengan sedikit mundur ke belakang.


Ia tidak mau bersentuhan dengan wanita ini. Wanita sebaya Emil ini begitu agresif. Begitu yang terlihat dari pandangan Gilang.

__ADS_1


''Nggak! Aku nggak percaya! Kamu pasti Emil kan? Ini pasti kamu! Tapi kenapa kulit mu begitu putih ya?'' tanya Kak Ros.


Dengan cepat tangan itu ingin menyentuh kulit Gilang. Tapi tertahan karena ucapan Papa Yoga.


''Kau tidak pernah berubah Ros! Dari dulu hingga sekarang, kau selalu mengganggu menantuku! Pergi! Aku tak ingin tangan halus mu itu menyentuh menantu ku yang hina ini! kau orang berada, sedang menantuku orang tak punya. Pergilah! Cari pemuda yang sama mirip dengan Gilang, menantuku! Ayo, Nak kita Pergi!'' Ucap Papa Yoga.


Gilang mengangguk begitu juga dengan Andi. Sementara Kak Ros ia berdiri mematung melihat Gilang pergi meninggalkan nya disana seorang diri.


''Kamu berubah Bang.. apakah sampai saat ini kau tidak mau melihat ku lagi? Tapi.. kenapa nama mu berubah menjadi Gilang. Wajahnya pun begitu muda tidak seperti wajah mu. Kulit nya itu juga. Seperti baru habis mandi susu? Ishh... kenapa sih? Lelaki yang aku sukai selalu lebih memilih Alisa? Apa kurang nya aku? Ck! Dasar katarak!'' gerutu Kak Ros.


Ia bersungut-sungut sendiri dengan terus berjalan. Sedangkan Gilang, Andi dan Papa Yoga terkekeh melihat kelakuan wanita itu.


''Gilang akan tanya nanti malam sama Papa! Siapa sebenarnya ulat keket itu!''


Papa Yoga tertawa. ''Kamu ada-ada saja Gilang. Namanya Ros, Nak! Doa yang selalu mencari Masalah selama ini dengan Papa dan Mama.''


Papa Yoga tersenyum. ''Katanya nanti malam kamu mu tanya sama Papa? Sekarang kok berubah sih?''


Gilang tersenyum malu. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Andi terkekeh di samping Gilang.


''Hehehe.. penasaran aja Pa.. jika menyangkut Alisa, Gilang pasti ingin tau semuanya. Termasuk tentang tabungan Alisa tadi. Kayaknya ada hubungan nya deh. Lana pernah cerita sih sama Gilang soal tabungan itu. Tapi belum jelas duduk permasalahannya.''


''Ya sudah, jangan di pikirkan. Nanti malam saja. Ayo bantu Papa dulu mengaktifkan karung itu dengan troli besi itu. Ayo!'' ajak Papa Yoga dan dingguki oleh Gilang.


Saat ini mereka bertoga sudah Samapi disawah milik Papa Yoga. Gilang memandang lurus ke depan.

__ADS_1


Seutas senyum terbit di bibirnya. ''Kayaknya aku punya ide, Andi! Papa!'' panggil Gilang.


''Ya,'' sahut Papa Yoga.


''Jika nanti ada yang menjual sawahnya dengan harga sesuai, Papa hubungi Gilang ya? Kayaknya Gilang akan betah jika sesekali pulang kesini nanti!''


Papa Yoga tersenyum. ''Tentu, akan Papa kabarkan.'' sahutnya.


Dengan segera ia meletakkan karung padi itu diatas troli besi dan segera di dorong oleh Gilang.


''Wuuuaaahh.. saya berasa pulang kampung, Pak!''


''Iyakah?? Di mana kampung mu?'' tanya Papa Yoga dengan tangan nya terus bergerak memindahkan karung padi itu ke troli milik Andi.


''Kampung saya di Mandailing Natal, Pak! Saya dan Mak udah lama tinggal di Medan. Karena ikut bapak yang seorang kuli bangunan. Pulang kampung hanya untuk silaturahim saja! Dan itu pun ketika lebaran saja, Pak! Hihihi ..'' Andi terkikik geli setelah mengatakan hal itu pada Papa Yoga.


Papa Yoga pun sama. Ia ikut tertawa dengan tingkah Andi. Sementara Gilang, ia masih bergulat dengan karung goni yang ia angkat menuju mobil pick up sewaan Papa Yoga.


Mama Alina sudah menuju dimana mereka sedang mengumpulkan semua karung padi itu.


''Minum dulu, Nak.. Papa!''


Gilang tersenyum begitu juga dengan Andi. ''Belum haus, Ma. Nanti saja ya? Entahlah Andi, Gilang tak tau. Tanya aja tuh sama orangnya! Andi!''


''Eh? Iya Bos! Ada apa? Perlu sesuatu? Kenapa? Apa kulit bos gatal-gatal kayak saya ini? Hadeuhhh.. dasar kulit orang kaya! lima tahun tinggal di Jakarta jadi berubah saya! Ck! Biasanya kolam kerbau pun saya masuk!'' sungut Andi.

__ADS_1


Papa Yoga dan Mama Alina tertawa mendengar ucapan Andi. Bagi mereka, Andi dan Gilang sekarang adalah sesuatu yang tiba-tiba muncul disaat mereka sedang memikirkan putri mereka nan jauh di rantau orang.


TBC


__ADS_2