
''Abang! dicariin malah kamu udah kemari aja!'' ucap Alisa dengan sedikit kesal.
Pemuda kecil itu masih saja menatap nanar pada mobil yang baru saja pergi meninggalkan komplek perumahan indah permai.
Lana sangat tau jika itu adalah Gilang. Papinya.
''Abang lihat Papi, Mak!'' ucap Lana pada Alisa.
Membuat Alisa terkejut. ''Hah??''
Lana menoleh dengan tersenyum manis. ''Papi, Mak ! Papi Gilang ! Abang lihat tadi, Papi keluar dari rumah baru kita! Papi keluar dengan tergesa di ikuti oleh kakek Kosim di belakangnya sambil berlari ! Abang tau, Papi pasti kesana untuk nemuin Mak kan?? Apakah tadi Papi ketemu sama Mak ? Atau bicara sesuatu gitu sama Mak ??''
Deg.
Alisa terkejut dengan perkataan Lana. Sesaat Alisa termenung. Ia mengingat tadi memang ia seperti berbicara dengan Gilang.
Ah mana mungkin! Pikir Alisa. Tapi... Alisa membulatkan matanya.
''Nggak mungkin! Itu nggak mungkin kamu Pi! Nggak! Nggak mungkin!'' elak Alisa saat tau jika yang berbicara padanya tadi adalah Gilang.
Dan bukan halusinasi nya!
''Papi....'' lirih Alisa dengan terisak.
Lana yang melihat Mak nya menangis terkejut. ''Mak?? Mak kenapa?? Apa iya tadi Papi ketemu sama Mak??''
Alisa menggelengkan kepalanya. ''Papi...'' isaknya lagi.
Begitu sakit hatinya saat Gilang datang ke rumah baru mereka, tapi tidak ingin bertemu dengannya.
''Kenapa Pi.. kenapa??'' isaknya lagi.
Suara tangis itu semakin menjadi. Lana yang melihat jadi khawatir. ''Mak.. jangan menangis.. Abang nggak bisa lihat Mak nangis...'' ucap Lana dengan mata yang sudah mengembun.
''Papi... hiks.. tega kamu sama kita.. tega kamu, datang tapi tidak bertemu dengan ku..'' lirih Alisa dengan bibir bergetar.
Sekuat tenaga untuk menahan sesuatu yang ingin meledak di hatinya. ''Kamu tega Pi..'' lirihnya lagi.
Lana yang melihat nya pun ikut menangis. ''Mak... jangan nangis.. Abang pun sama terkejutnya dengan Mak. Abang juga kaget, kenapa Papi datang tapi tidak bertemu dengan kita?? Apakah Papi memang tidak ingin melihat kita lagi?? Makanya tadi Papi berlari menjauh dari kita??''
''Nggak! Bos Gilang tidak seperti itu! Percaya lah, dia pun sama sakitnya dengan kalian karena tidak bisa bertemu. Bisa melihat tapi hanya dari kejauhan..'' ucap Andi membantah tuduhan Lana untuk Gilang.
''Andi...''
__ADS_1
''Ayo, Mbak! Ini kunci rumahnya, tadi Bos Gilang datang kemari untuk mengantar kan kunci rumah ini serta sertifikat tanah kepemilikan atas nama Mbak Alisa. Juga ini...'' Andi menyerahkan sesuatu yang membuat Alisa terhenyak.
''Ja-jadi... a-aku be-beneran i-istri nya??'' ucap Alisa dengan tergagap.
Seakan tau bayi kecil yang Alisa gendong, tertawa ketika Alisa mengatakan jika ia istri Gilang.
Ah... pekik Annisa. Ia begitu senang saat mengetahui jika Gilang adalah Papi nya. Alisa terkejut melihat tingkah Annisa.
''Ini apa Mak??'' tanya Lana.
''I-ini..''
''Ini buku nikah Mbak Alisa dan Bos Gilang pangeran kecil!'' sahut Andi dengan sedikit senyum jahil di bibirnya.
''Buku nikah??''
''Ya! buku nikah! sebuah buku yang mengatakan jika Mbak Alisa adalah istri dari bos Gilang secara hukum!'' sahut Andi lagi dengan sedikit terkekeh melihat Lana yang kebingungan.
''Mak?? Mak udah nikah sama Papi?? Kok Abang nggak tau??'' tanya nya pada Alisa.
Alisa pun masih bingung harus jawab apa. ''I-it-itu...''
''Memang benar jika Mbak Alisa sudah menikah dengan Bos Gilang, tapi secara hukum. Belum secara agama. Yang artinya, jika mbak Alisa ini adalah istri bos Gilang sah dimata hukum tapi belum dimata agama karena belum ijab Qabul dengan Kakek Abang!'' ujar Andi menjelaskan.
''Pintar!'' sahut Andi sembari mengacak-acak rambut Lana.
Lana tersenyum begitu lebar. ''Yes! artinya, Papi Gilang memang sudah menjadi Papi Abang!'' celutuk nya begitu senang.
Andi tertawa. ''Kamu benar Bang! Ayo kita pindah ke rumah baru kalian! Bos Gilang sudah menyuruh kalian untuk pindah hari ini. Karena rumah yang ia renovasi sudah siap huni.'' jelas Andi.
Membuat Alisa melihat di mana rumah yang dibangun Gilang, berdiri kokoh dan begitu megah.
Alisa menghela nafasnya. ''Baiklah, ayo kita masuk. Nanti seluruh pakaian Ira dan Lana menyusul.'' imbuhnya, sembari berlalu masuk kedalam pekarangan rumah baru yang dibangun oleh suami nya.
Suami sah secara hukum maksudnya.
Tiba disana, Lana langsung saja berlari keatas. Karena ia tau jika kamarnya pasti diatas berdampingan dengan kamar Ira dan juga kamar utama.
Yaitu kamar Gilang dan Alisa. Lana lari ngacir untuk melihat isi kamarnya. Setiba nya disana, Lana berdecak kagum.
''Wuaahh.. Papi beneran buat seperti yang Abang minta!'' celutuk nya dengan tertawa lebar.
Kamar Lana berbeda dari kamar Ira yang terkesan feminin. Kamar Lana memang betul-betul mirip dengan kamar yang ada di rumah Gilang.
__ADS_1
Lana tersenyum puas saat melihat diatas ranjangnya, terpampang foto mereka berlima. Foto di mana saat mereka sedang berada ditaman safari.
Dengan Ira yang sedang tertawa lepas begitu juga dengan dirinya. Gilang duduk disamping Alisa dengan menatap pujaan hatinya itu tersenyum sangat manis.
Mereka berdua saling pandang. Andi yang pada saat itu berada tak jauh dari mereka, mengabadikan momen tersebut.
Begitu juga dengan foto yang ada di kamar utama dan didepan ruang tamu. Semua itu atas perintah dari Gilang.
Lana begitu senang saat melihat kamar nya itu. Letak lemari dan juga meja belajarnya sama persis seperti kamar Gilang di kediaman keluarga Bhaskara.
''Terimakasih Papi!!! Abang senaaaaannggg bangettt!! Abang sayang Papi!!!!'' pekiknya, membuat seseorang nan jauh disana tertawa lebar.
Pak Kosim yang melihatnya pun ikut tertawa. Begitu juga dengan Andi. Tadi saat masuk, Andi sengaja mengikuti Lana ke kamar nya.
Dan tepat seperti dugaannya. Jika Lana pasti akan histeris memanggil Gilang sebagai Papinya.
Alisa tersenyum melihat tingkah Lana.
Ya, hari ini mereka bertiga sudah mulai pindah kerumah baru yang di bangun Gilang untuk mereka.
Awalnya, Gilang meminta Alisa untuk merenovasi rumah itu. Namun setelah mengingat sesuatu, Gilang berubah pikiran.
Rumah yang dulunya terbakar separuh bagian belakangnya, kini dibongkar dan dibangun rumah baru dalam waktu hanya kurang dari dua Minggu.
Gilang betul-betul merubah rumah itu seperti keinginan Alisa. Bahkan ia turun tangan langsung ke lokasi untuk menentukan dimana letak kamar mandi dan juga balkon di setiap kamar mereka.
''Terimakasih Pi.. kamu telah membuat rumah ini sesuai dengan keinginan ku.. tapi rasanya.. aku tidak pantas untuk tinggal dirumah ini, karena aku hanya seorang wanita biasa. Seorang janda dengan tiga orang anak. Tidak pantas aku bersanding dengan mu, Pi .. Aku hanya manusia biasa, tidak memiliki pangkat apapun seperti gadis lain..''
''Kadang aku berfikir, jika aku ini seperti benalu. Di mana pun aku hidup selalu menghinggapi rumah orang. Andai aku bisa memilih, aku juga tidak mau di takdir kan dengan keadaan di mana kaulah takdir ku Gilang..''
''Aku dan kamu, ibarat langit dan bumi. Sangat kentara terlihat perbedaan nya. Semoga nantinya, kamu tidak menyesal memilihku sebagai pendamping hidup mu Gilang..''
''Aku sangat menyayangi mu Gilang Bhaskara...''
💕
Othor sampai lembur loh ngetik bab satu ini.
Hehehe.. maklum, hari ini othor ikut arisan keluarga.
Jadi telat deh update nya!
Like dan komen ye!
__ADS_1
TBC