Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)

Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)
Pengaruh buruk?


__ADS_3

Setelah kenyang sarapan dikantin dan juga sarapan cubitan dari Alisa hadiah karena ke usilan nya, kini Gilang meringis menahan sakit.


Lengan dan paha nya begitu perih akibat cubitan dan tepukan Alisa. Namun itulah yang di inginkan nya.


Kebersamaan dengan keluarga kecil Alisa. Lana dan Ira yang menginap dirumah ustad Dhanu dibuat bingung oleh Gilang.


Katanya Gilang udah nikah membuat anak-anak itu terkejut. Tapi setelah mereka tau jika Gilang hanya ngeprank saja, membuat dua anak manusia itu histeris.


Dan itu menimbulkan reaksi bingung dari ustad Dhanu. Namun setelah ia tau, jika pemuda yang pernah belajar mengaji padanya kini sedang bersama ibu mereka ia bernafas lega.


Dan juga kabar Annisa yang sudah membaik. Ustad Dhanu mengucap syukur di dalam hatinya.


Untuk sementara kedua anak itu akan tinggal dirumah ustad Dhanu. Sebelum mendapatkan keputusan dari Alisa dimana mereka akan tinggal nantinya.


Di rumah sakit.


Alisa dan Gilang sedang duduk bersama setelah sarapan di kantin, terdengar suara ponsel Gilang berdering.


Gilang mengambilnya dan melihat siapa yang menelpon nya. Saat di lihat ternyata..


''Papa??'' gumamnya, masih terdengar oleh Alisa.


''Kenapa??'' tanya Alisa sambil menatap nya.


''Hah? oh ini Papa nelpon! bentar ya aku angkat dulu!'' sahutnya dan Alisa mengangguk.


''Ehm.. iya Pa..''


''Kamu dimana? Cepat pulang! Ada yang ingin Papa bicarakan!" ucap Papa Angga terkesan dingin.


Gilang mengernyitkan dahinya. Ia menoleh pada ponselnya.


"Benar ini Papa. tapi kenapa ketus begini ya??" ujarnya pada diri sendiri.

__ADS_1


Alisa tetap diam, ia tak menyahuti apa yang di ucapkan oleh Gilang.


"Ada apa? Bentar lagi Gilang balik! sabar ya! ini mau jalan!" Imbuh nya seraya mengangguk mendengar perkataan Papa Angga dari seberang sana.


Setelah sambungan telpon itu terputus. Gilang melihat Alisa yang juga sedang menatapnya.


''Sayang! aku harus pulang. Papa udah nelpon tadi. Katanya ada yang harus dibicarakan, ini urusan kantor. Aku balik ya?? nanti aku balik lagi, setelah pekerjaan ku selesai! jangan khawatir kan masalah biaya. Udah aku selesai kan semua nya. Aku balik dulu!'' imbuhnya, Alisa mengangguk.


Cup.


Gilang mengecup kening Alisa sekilas sebelum pergi meninggalkan Alisa yang mematung sendiri disana.


Terlihat di ujung ruangan sana, seseorang menatapnya dengan tatapan yang entah. Ia berdiri mematung disana.


Saat melihat Gilang mendekati dirinya, orang itu masuk kembali ke dalam ruangan nya. Gilang tersenyum tipis.


Bukan nya ia tak tau siapa orang itu. Makanya tadi Gilang nekad mengecup kening Alisa. Agar drama mereka benar-benar seperti nyata.


Padahal mah Gilang berharapnya lebih dari nyata.


Sesampainya Gilang dirumah besar keluarga Bhaskara, ia melihat Papa dan Mama nya sudah menunggu dan duduk disana dengan wajah datar.


Gilang tau, pasti akan ada sesuatu yang akan disampaikan oleh kedua orang tuanya itu. Karena Gilang tau seperti apa mereka berdua.


''Assalamualaikum...''


''Waalaikum salam.'' Sahut mereka berdua.


''Dari mana kamu?!'' ketus Mama Dewi.


''Dari rumah sakit.'' Sahutnya singkat.


''Siapa perempuan itu?! Apakah perempuan yang kau sebut Alisa itu?! Mengapa kau mengaku itu anak mu?!'' tanya Papa Angga.

__ADS_1


Gilang menatap datar pada Papanya. Gilang terkekeh setelah tau jika Papa nya sengaja menguntitnya hingga kerumah sakit.


''Ya karena memang itu anakku. Dimana salah nya??'' tanya Gilang sembari menatap dua paruh baya yang raut wajahnya kini telah berubah.


''Apakah kau lupa dengan apa yang kami katakan Gilang?? Jika setelah lulus, kau akan kami nikahkan dengan pilihan kami! Setuju tidak setuju kalian berdua harus menikah!'' tegas Papa Angga.


Gilang terkekeh. ''Papa yakin ingin menikahkan aku dengan perempuan yang dengan berani menyuguhkan tubuhnya untuk pria lain?? Perempuan seperti itukah yang kalian inginkan menjadi menantu kalian?? Menantu keluarga Bhaskara??''


Mama Dewi melotot. ''Daripada dengan janda?!'' ketusnya lagi.


''Lebih baik janda tapi terhormat! dari pada gadis tapi mu Ra han!'' tukas Gilang.


''Gilang!!!'' sentak papa Angga


''Apa?? Benarkan yang Gilang katakan?? Kenapa kalian harus marah jika apa yang Gilang katakan ini benar adanya!'' tukas Gilang lagi.


''Cukup Gilang! selama kau bertemu dengan janda itu, kau berubah! kau berubah menjadi melawan orang tua! dasar! janda sialan! kehadiran nya hanya membawa pengaruh buruk untuk mu! lihatlah-''


''Jangan menghina seseorang yang belum pernah Mama temui sama sekali! Pernah kah Mama tau? jika karena Alisa aku bisa berubah seperti ini! Apa yang Mama tau tentang Alisa? Karena dialah aku tau arti dari menghormati orangtua walau kadang orang tua itu sering bertindak sesuka nya! Apa yang Mama tau tentang Alisa? Jika bukan karena dia, aku bahkan tidak mengenal siapa Tuhan ku! Jika bukan karena Alisa, aku tidak tau artinya kesederhanaan! Karena dialah, Mama bisa melihat Gilang yang dulu kini telah berubah! Sekarang Mama ingin bilang, jika Alisa membawa pengaruh buruk buat Gilang?? Gilang mau tanya, bagian mana yang membuat Gilang terpengaruh karena Alisa??'' tukas Gilang dengan dingin.


Ia sengaja merendahkan suaranya, karena ia tau didepan nya ini adalah kedua orang tuanya. Bukan musuhnya. Walaupun hatinya terasa panas mendengar tuduhan demi tuduhan dilayangkan untuk Alisa.


Papa Angga dan Mama Dewi tertegun mendengar serentetan Kalimat dari Gilang. Gilang menatap mereka dengan dingin.


''Sampai kapan pun! Mama tidak akan pernah merestui hubungan mu dengan janda itu?! Apapun yang terjadi, kau tetap harus menikah dengan Vita setelah acara kelulusan mu selesai.'' Imbuh Mama Dewi dengan menatap tajam pada Gilang.


Gilang tersenyum getir. ''Inilah yang membuatku tidak pernah betah tinggal dirumah ini. Berbeda dengan rumah Alisa. Walaupun aku seorang tamu, tapi ia tak pernah sekalipun memaksakan kehendak nya seperti Mama dan Papa. Setiap kali aku bercerita padanya, pasti Alisa punya solusinya. Apa Mama tau, karena Alisa lah aku bisa kembali lagi kerumah ini! Jika bukan karena nya, aku tidak pernah Sudi ingin kembali lagi kerumah ini!'' ujar Gilang, membuat papa Angga meradang.


''Oo.. jadi kau ingin pergi dari rumah ini begitu?! Oke! Silahkan! Tapi tinggalkan semua fasilitas yang Papa berikan padamu! mulai dari motor, ATM, semua yang bersangkutan dengan rumah ini kembali kan! Papa ingin lihat, kamu bisa hidup tidak tanpa tunjangan dari Papa!'' imbuh Papa Angga


Gilang terkekeh pelan. ''Baik! jika itu yang menjadi keinginan Papa! jangan salahkan Gilang, jika Gilang akan pergi dari rumah ini untuk selamanya! Tanpa tunjangan dari papa pun, Gilang bisa hidup! Pernahkan Papa lihat, jika aku pernah memakai kartu ATM yang papa berikan?? Pernah! itu dulu! Saat Gilang masih SMP! Apakah selama ini ada notif dari Bank pemberitahuan tentang tagihan Gilang??'' tanya Gilang, membuat Papa Angga lagi dan lagi tertegun.


💕

__ADS_1


Holaaa.. othor balik lagi... semoga klean masih nunggu ye.. 😘😘😘


TBC


__ADS_2