Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)

Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)
Menggoda pengantin baru


__ADS_3

Gilang masuk ke kamar saat mendengar suara Alisa yang sedang berdebat entah karena apa bersama Mak Ijah.


''Ngaku aja Napa sih?!'' Mak Ijah terkekeh saat mengatakan itu.


''Nggak Mak ijaaahhh.. aku beneran jatuh dari ranjang loohh bukan karena begituan! Emang Mak lihat aku nggak pakai baju?! Ishhh...'' ucap Alisa bersungut-sungut.


Gilang yang baru masuk terkekeh kecil. Ia mendekati Alisa dan duduk di kepala ranjang. Ia duduk tepat di kepala Alisa yang sedang tengkurap.


''Lihat, Gilang! Istri kamu malu-malu kucing! Padahal dia kan yang paling lincah saat kalian bertempur?'' goda Mak Ijah lagi dengan terus tertawa.


Gilang hanya terkekeh saja. ''Kami beneran jatuh dari ranjang, Mak! Bukan jatuh karena begituan.'' bantah Gilang lagi.


''Kompak bener kalian ya?'' godanya lagi.


Alisa dan Gilang semakin malu saja. ''Buka baju kamu, Lis! Gimana Mak mau lihat pinggang kamu kalau pakai baju?''


''Oke. Biar aku yang buka bajumu sayang. Pakai sarung aja ya? Biar mudah untuk di pijat?'' ucap Gilang pada Alisa.


Alisa mengangguk. ''Ya, sarung kamu aja, yang itu!'' tunjuk Alisa pada sarung milik Gilang.


Gilang mengangguk, dengan segera ia mengambil sarung itu dan membantu Alisa untuk membuka bajunya.


Mak Ijah yang sedang meracik minyak pijat pun tersenyum. Selesai dengan obat nya, Mak Ijah duduk di tepi ranjang Alisa yang masih dihias dengan kain putih.


''Kita mulai ya? Apa kamu juga mau di pijat Gilang?'' goda Mak Ijah pada Gilang.


''Nggak usah, Mak! Saya bisa ke gym aja nanti. Didalam kamar Abang udah ada alatnya kok.'' sahut Gilang masih dengan tersenyum.


Hingga mata sipit itu semakin sipit saja. Mak Ijah terkekeh. ''Bismillahirrahmanirrahim, waduh! Ini beneran parah Lis!'' Mak Ijah terkejut saat meraba pinggang Alisa.


Ia menekan nya sedikit. ''Allahu! Sakit, Mak!'' pekik Alisa.


Gilang yang berada di dekatnya meringis ngilu. ''Pelan-pelan, Mak!'' ucap Gilang yang tidak tahan saat melihat Alisa meringis ngilu.


''Hadeeeuuhh.. ini mah bisa bengkok kalau tidak di lurusin! Kamu sih Gilang! Masa' tempurnya nggak kira-kira sih?! Ini parah banget terkilir nya! Harus puasa seminggu ini!'' celutuk Mak Ijah menggoda Gilang.


Gilang membulatkan matanya. ''Apa?! Pu-puasa seminggu?! Ah, Mak ngacok ini! Masa' iya baru buka puasa uadah puasa lagi??? Ishh.. nggak asik ah! Bisa berkarat dong kayu laut ku!'' seru Gilang begitu terkejut.


Ia tak sadar dengan perkataan nya itu membuat Mak Ijah tertawa terbahak. Sementara Alisa, memukul lengan Gilang berpapasan kali.

__ADS_1


Bugh.


Bugh.


Bugh.


''Allahu Akbar! Sakit sayang! Kan yang aku bilang beneran? Bisa pusing kepala ku jika tak dapat jatah!'' ucap Gilang lagi.


Mak Ijah semakin tidak tahan dengan kelakuan pasangan pengantin baru itu. ''Hahaha... hahaha..'' suara tertawa Mak Ijah terdengar ke seluruh kamar mereka berdua.


''Ishh.. kok gitu sih ngomongnya?! Diem ah! Malu Hubby!!'' seru Alisa semakin menenggelamkan wajahnya ke dalam bantal.


Sementara ma Ijah, semakin tertawa. Puas sekali hari ini menggoda mereka.


Mak Ijah memang tau, jika Gilang dan Alisa cuma terikat secara hukum belum sah secara agama. Itu dulu.


Dan sekarang, Mak Ijah baru tau jika mereka baru saja menikah. Dan kebetulan sekali, ia juga ingin memesan kue di toko Alisa.


Butuh waktu setengah jam untuk memijat pinggang Alisa yang terkilir gara-gara jatuh tadi.


''Nah, udah selesai! Ingat Gilang! Jangan di gempur dulu Alisa nya! Seminggu! Kamu harus puasa seminggu! Tak ada bantahan!'' goda Mak Ijah


Wajah Gilang yang semulanya sumringah kini berubah jadi suram. Alisa yang tidak tahan melihat wajah sang suami suram, tergelak keras.


Mak Ijah pun ikut tertawa melihat wajah Gilang menjadi masam. ''Hahaha .. kena kamu By! Jangan sentuh aku selama seminggu! Ingat itu!'' goda Alisa pula.


''Nggak bisa! Satu detik saja tidak tahan, mau seminggu pula! Mau lah mati aku gara-gara sakit kepala!'' sahut Gilang begitu kesal.


Lagi, tawa dua orang itu semakin menggelegar. ''Hahaha .. tak akan sampai seminggu By.. palingan lusa udah bisa kok. Iya kan Mak?''


''Jiaaahhh.. kagak tahan ternyata dia puasa seminggu? Malah dia sendiri yang menyerahkan diri! Hahaha ..'' goda Mak Ijah lagi.


Alisa tertunduk malu. Gilang pun jadi tersenyum setelah mendengar ucapan Alisa tadi.


''Haha.. baiklah. Mak mau pesan kue untuk besok. Ada acara di rumah Mak. Mau arisan keluarga. Mak pesan bolu kukus seratus picsis, bolu pisang lima loyang, bolu pandan dua loyang. Sama puding lumutnya delapan loyang.'' ucap Mak Ijah pada Alisa.


Alisa dengan segera mencatat pesanan Mak Ijah di ponselnya. ''Risolesnya tidakkah?''


''Hooh, lupa Mak, Lis! Risoles nya lima ratus picsis. Hehehe.. banyak ya Neng? Maaf.. jika mengganggu masa libur kamu.''

__ADS_1


''Tak apa Mak. Mak kan pelanggan tetap di toko kue ku? Sama seperti bude Yuli! Sebentar Mak, aku ngomong sama karyawan ku dulu ya? Ya, hallo assalamualaikum, Fitri. Saya punya tugas untuk kamu. Buatkan bolu kukus seratus picsis, bolu pisang lima loyang, bolu pandan dua loyang, puding lumut delapan loyang, sama risolesnya lima ratus picsis. Besok. Untuk besok. Pesankan pada toko kue cabang kita jika di toko utama tidak ada. Antar kan kerumah saya saja besok pagi, jam?'' Alisa bertanya pada Mak Ijah melalui kode matanya.


''Jam sepuluh pagi.''


''Jam sepuluh pagi. Hah, iya terimakasih! Jaga baik-baik toko nya. Lusa saya udah masuk seperti biasa. Oke, Ya. Assalamualaikum.'' ucapan Alisa dengan segera ia menutup sambungan ponselnya dengan toko utama miliknya.


''Udah, Mak! Besok, jam sepuluh pagi Mak kesini untuk ambil kue nya ya? Aku tidak bisa mengantar, Mak kan tau pinggang ku masih sakit?''


''Haha.. iya Lis. Tenang.. Mak akan datang besok. Istirahat ya? Mak pulang dulu. Kalian istirahat saja! Lah, loh? Ini apa??'' tanya Mak Ijah pada Gilang.


Ia terkejut saat Gilang menyodorkan satu buah amplop tebal di tangannya. ''Untuk Mak, tambahan biaya arisan besok! Di terima! Jangan di tolak! Saya tidak terima penolakan!'' tegas Gilang.


Mak Ijah jadi tak enak hati. Ia tersenyum, ''Baiklah, Mak terima. Terimakasih nak. Semoga keluarga kalian berdua selalu bahagia , hidup menua bersama sampai ajal menjemput kalian berdua!''


''Amiinn.. terimakasih Mak doanya.'' sahut Gilang dan Alisa bersamaan.


Mak Ijah terkekeh. ''Kompak bener ya Lis? Ingat Gilang, jangan sentuh Alisa dulu! Bisa bahaya nanti untuk pinggang nya! Puasa dulu! Seminggu!'' goda Mak Ijah sambil berlalu.


Gilang berdecak sebal. ''Ck! Nggak mau saya Mak! Bisa kaku ini kayu laut jika nggak dibasahi sama ladang Alisa!'' jawab nya kesal.


Mak Ijah tertawa. ''Pokoknya puasa! Tidak ada bantahan!''


''Nggak mau!''


''Harus!''


''Nggak mau, Mak! Gimana sih?!'' gerutu Gilang semakin kesal.


Alisa hanya bisa tertawa saja melihat tingkah Gilang dan Mak Ijah yang saling menggoda tentang begituan.


''Puasa seminggu!''


''Nggak mau!!'' sahut Gilang lagi.


Mak Ijah tertawa saja. Ia berlalu setelah Gilang membuka pintu gerbang rumah mereka.


''Ingat Gilang! Puasa seminggu!''


''Nggak mau! Dan tidak mau dengar!'' ketus Gilang. Dengan segera ia berlalu meninggalkan Mak Ijah yang terus tertawa karena telah berhasil menggodanya.

__ADS_1


''Ishh.. mana bisa aku puasa selama seminggu? Satu detik saja tidak menyentuhnya kepala bawahku berdenyut-denyut. Ishh...'' gerutu Gilang dengan segera masuk kerumah nya dan menutup pintu rumah mereka.


Menuju ke atas dimana Alisa berada untuk memapah sang istri, untuk melakukan sholat ashar yang tertinggal karena Alisa di pijat Mak Ijah tadi.


__ADS_2