Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)

Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)
Marah sama siapa?


__ADS_3

Setelah pergulatan dirinya dan Vita tadi subuh, membuat Gilang termenung di ruangan kerja nya.


Ia pergi tanpa berpamitan pada Vita dan juga Mama nya. Entah seperti apa keadaan Vita sekarang ini, Gilang pun tak tau.


''Apakah ini karena doa ku dulu? Apakah ini yang akan menyatukan kami berdua? Tapi bagaimana dengan Vita? Apakah ia rela darah daging nya di serahkan kepada Alisa nantinya untuk dirawat? Dan lagi, apakah Mama akan menerima Alisa sebagai menantu nya? Sedangkan aku Sabtu ini akan berangkat ke Amerika. Apa yang harus aku lakukan sekarang??'' gumam Gilang


Andi yang baru saja masuk terkejut dengan gumaman Gilang.


''Apa Bos? Bos udah belah duren??'' tanya Andi dengan wajah terkejut plus wajah meledek nya.


Gilang yang masih menunduk di meja kerja nya, kini mendongak menatap Andi. Gilang berdehem dan itu sukses membuat Andi tertawa.


''Hahaha... gimana Bos?? Enakkan??'' goda Andi, membuat Gilang mendengus sebal.


''Gue terpaksa Ndi! Gue pikir itu Alisa, nggak taunya Vita! Kayak nya Mama sengaja deh jebak gue buat nidurin Vita? Mana efek nya masih terasa lagi!'' gerutu GIlang.


Andi semakin tertawa terbahak. Kesal dengan kelakuan Andi, Gilang melempar satu buah buku yang lumayan tebal ke wajah Andi.


Plaakk


Buku itu mendarat manis di wajah tampan Andi. ''Aaww.. Bos! sakit ah! Lu kenape sih ah! Sakit nih muka gue! ditimpuk buku setebal gajah! Ishh..'' gerutu Andi, dan itu membuat Gilang tertawa.


''Ayo! Waktunya makan siang!'' ajak Gilang, Andi masih mengusap hidung mancung nya yang sakit gara-gara dicium buku tebal tadi.


''Iye, iye! Bos duluan!'' titahnya pada Gilang.


Gilang tertawa. Setelah itu mereka berdua keluar untuk mencari makan siang. Tau kemana tujuan Gilang?


Kemana lagi kalau bukan restoran yang dekat dengan toko kue Alisa yang baru saja dibuka. Tiba disana mata Gilang memicing melihat seorang pemuda sebaya dirinya sedang memeluk erat Alisa.


Rahang Gilang mengeras melihat itu. Andi yang melihat kembali arah tatapan Gilang pun terkejut.


Dengan cepat ia berlari keluar dari restoran itu dan menghampiri Alisa yang sedang berdua dengan pemuda sebaya Gilang itu.


****


''Assalamualaikum... Mak??'' sapa seseorang dari luar stand toko kue Alisa.


Alisa menoleh, ''Tama!!!'' pekik Alisa, dengan cepat ia berlari dan memeluk putra angkat nya itu.


Cup!


Alisa mengecup dahi putra angkatnya itu dengan sayang, Tama semakin erat memeluk Alisa dan menangis.


Hiks, hiks, hiks.


''Loh, loh? Kok nangis sih ketemu Mak?? Mama mana??'' tanya Alisa, sembari celingukan mencari Linda.


''Mama dirumah sakit, Mak! Makanya Abang kemari untuk jemput Mak! Mama sangat ingin berjumpa dengan Mak.. hiks..'' sahut Tama.


''Rumah sakit?? Sakit apa?? Kenapa baru sekarang kamu kesini?? hah?!'' sentak Alisa, membuat seseorang berdiri mematung karena mendengar sentakan Alisa.


''Hiks, Abang udah nyariin kemana-mana dimana tempat tinggal Mak. Sampai Abang pun ke Aceh untuk mencari Mak, tapi Mak tetap tak ada!'' seru Tama dengan semakin erat memeluk Alisa.

__ADS_1


''Ke Aceh??''


''Ya, Abang ke Aceh ! Kerumah nenek dan kakek! Tapi Abang tidak juga menemukan Mak! Mak??'' panggil Tama, saat melihat Alisa berdiri mematung karena di kejauhan sana ia melihat sang suami sedang menatapnya dengan dingin.


''Papi...'' matanya terus menatap di kejauhan sana. Tak berkedip. Tama heran melihat Alisa seperti itu, begitu juga dengan panggilan nya tadi.


''Papi??'' ulang Tama.


Andi mendekati Alisa. ''Mbak?? Bos Gilang ada disana, boleh saya tau siapa pemuda ini??'' tanya Andi hati-hati karena melihat Tama tidak menyukai nya.


''Kamu siapa??'' tanya Tama dengan dingin.


Andi tersenyum. ''Saya asisten dari suami Mbak Alisa. Gilang! Gilang Bhaskara!''


Deg.


''Gilang?? Gilang Bhaskara?? Bhaskara Group??'' tanya Tama terkejut dengan penuturan Andi.


''Ya.'' tegas Andi masih dengan melihat Alisa.


''Tapi kapan Mak menikah dengan Gilang ? Sedangkan Gilang saja, eh maksud saya tuan Gilang, baru tamat SMA kan?? Lalu, kapan nikahnya sama Mak Alisa?? Ini ada apa Mak?? Bisa di jelaskan??'' tanya Tama pada Alisa.


Sedangkan Alisa masih menatap keluar sana dimana Gilang juga sedang menatapnya dengan dingin.


''Mak??''


''Papi!! Tunggu!!'' pekik Alisa, kemudian ia berlari mengejar Gilang yang sudah keluar dari restoran itu.


Andi terkejut melihat Alisa berlari, ia mengikuti Alisa dari belakang begitu juga dengan Tama.


''Mak!!'' panggil Tama.


Ia memegangi tangan Alisa, yang sudah jatuh terduduk di aspal jalan. Andi pun sama, ia terkejut melihat Gilang yang pergi begitu saja tanpa konfirmasi sama sekali kepada nya.


''Ayo, Mak! Ini dijalan loh .. ayo!'' ajak Tama, Alisa berdiri dan berjalan sempoyongan. Ia berjalan linglung tak tentu arah karena melihat Gilang begitu marah pada nya karena memeluk Tama tadi.


Sesampainya di toko kue Alisa, Tama masuk kedalam dan mengambil air minum dari kulkas yang tersedia disana.


''Minum dulu Mak! Sekarang ceritakan! Ada apa antara Mak sama Gilang Bhaskara!'' titah Tama masih dengan menatap Alisa.


Alisa menoleh dengan wajah sendu nya. Lehernya tercekat untuk berbicara pada Tama.


Andi yang tau angkat bicara. ''Mbak Alisa ini istri dari majikan saya Gilang Bhaskara, mereka sudah menikah empat bulan yang lalu. Karena suatu hal yang tidak bisa saya jelaskan, maka mereka berdua berpisah untuk sementara waktu sampai dimana mereka akan dipersatukan kembali.'' Jelas Andi, membuat Tama mengernyitkan dahinya bingung.


''Saya belum paham Bang! Bingung saya! Mak?? jangan buat Tama pusing loh.. bisa nggak Mak kerumah sakit dulu? Mama sangat ingin bertemu Mak disana..'' lirih Tama dengan wajah sendu nya.


Alisa menoleh pada Andi. ''Kamu tau kan apa yang harus kamu lakukan Andi??'' tanya Alisa dengan wajah datarnya.


Andi tersentak melihat perubahan Alisa.


Sangat mirip! Bahkan ketika ia marah pun sama seperti Bos Gilang. Datar tanpa ekspresi. Bisik hati Andi sembari terus menatap Alisa.


Tama berdehem, Andi memutar bola mata malas. ''Tapi jelas kan dulu siapa pemuda ini??'' tegas Andi.

__ADS_1


Alisa menoleh. ''Dia putra angkat ku! Jauh sebelum aku bertemu dengan Gilang! Adrian Pratama adalah putra dari Fabian Pratama dari istri yang bernama Linda Sumarni. Jelaskan itu pada Gilang. Nanti dia akan tau sendiri. jika ingin mengulik masa lalu ku, maka carilah dokter Alvian yang bertugas di rumah sakit Pirngadi Medan. Ataupun istrinya Maya Dinata juga bertugas disana. Sekarang mereka juga tinggal di komplek perumahan indah permai blok E.'' Jelas Alisa, membuat Tama melototkan matanya.


''Dokter Alvian?? Mak mengenal nya??''


''Ya,'' sahut Alisa masih sama datar.


Andi mengangguk patuh. ''Baiklah saya permisi! Assalamualaikum Mbak..'' pamit Andi, tapi dicegah oleh Alisa.


''Tunggu! bawa rantang ini untuk Gilang. Aku tau ia belum makan siang.'' katanya sembari menyodorkan rantang kepada Andi.


Andi mengangguk dan berlalu pergi. ''Ayo Tama! kita kerumah sakit! Bantu Mak untuk menutup toko ini dulu. Mak mau bangunin adek kamu di dalam ayunan.'' ucap Alisa, membuat Tama terkejut lagi.


''Adek?? Jadi Mak cerai dari Ayah Emil ketika adek udah lahir??'' tanya Tama masih terkejut dengan ucapan Alisa.


''Ya. Ayo cepat! Kapan-kapan Mak ceritakan padamu! Ngomong-ngomong, kamu tau darimana disini Mak punya toko??''


Tama menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia tersenyum kikuk melihat Alisa. Alisa menatap nya tajam.


''Adrian Pratama!'' seru Alisa.


''Dari Anak Bude Yuli, Mak.. Abang kan berteman dengan anak nya?? Waktu itu Abang datang kerumahnya saat bude Yuli baru pulang dari toko kue Mak. Abang makan secuil itu kue. Abang tau jika hanya ada satu orang yang bisa membuat risoles enak kayak gitu. Abang tanya aja sama Bude Yuli. Bude Yuli bilang kalau risol ini buatan Mak Alisa yang tinggal di rumah paling besar diantara rumah yang lain. Awalnya Abang ragu, tapi saat tadi Abang bertemu Lana Abang baru percaya jika itu adalah rumah Mak.. Abang nyariin Mak sampai kemana-mana bahkan keluarga Ayah pun Abang datangi, tapi mereka nggak ada yang tau tentang keberadaan Mak. Mereka semua seolah enggan untuk membicarakan Mak, apalagi sekarang Ayah sudah menikah lagi dengan orang lain...'' lirih Tama dengan bibir bergetar.


Alisa terenyuh mendengar cerita putra angkatnya itu. ''Tak apa Nak.. memang seperti ini jalan takdir yang Mak jalani. Ayo! kita sudah selesai.'' Imbuhnya sembari mengunci pintu dan mengajak Tama keluar dari toko kue nya itu.


Sedangkan dilain tempat, Gilang sedang mengamuk kepada bawahan nya yang tidak beres mengerjakan tugas darinya.


Gilang meluapkan rasa amarah yang ada di dadanya. Entah marah pada siapa, Gilang pun tak tau.


Yang jelas pikiran nya saat ini terbelah dua. Satu sisi ada Vita. Di satu sisi ada Alisa. Andi yang baru saja datang, terkejut melihat Gilang mengamuk seperti itu.


Terlambat sedikit saja, pastilah bawahan Papa Angga itu akan kena imbas dari amukan Gilang.


''Bos! Sabar! Ayo kita ke atas!'' titah Andi dan Gilang menurut.


Wajahnya sangat dingin saat ini. Andi yang melihatnya sampai bergidik ngeri. Semua yang berpapasan dengan Gilang, tiada berani menegur walau hanya sekedar menyapa.


Sesampainya diruangan Gilang, Andi menyerahkan rantang itu pada Gilang. Dan disambut dengan cepat oleh Gilang.


Gilang membuka rantang itu dan tersenyum melihat isinya. Ada udang balado, telur balado sama tumis kangkung.


Gilang makan dengan lahap makanan buatan istrinya itu. Andi yang melihatnya menggeleng kan kepala.


''Bos, Bos! Anda itu marah sama siapa sih sebenarnya?? Bingung saya? Marah sama Mbak Alisa? Makanan nya kok di makan!''


''Apa sama istri muda si Bos? Atau sama Mama nya si Bos?? Karena menjebak nya untuk tidur sama istri muda nya demi mendapatkan cucu??''


Gumam Andi tidak terdengar oleh Gilang. Sedangkan Gilang masih lahap dengan makanan yang di titipkan oleh Alisa tadi.


Ck! Cemburu bilang Bos!


💕


Lapar atau cemburu Bos??

__ADS_1


🤣🤣🤣🤣


TBC


__ADS_2