Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)

Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)
Sekretaris baru


__ADS_3

Seminggu sejak Alisa ke kantor, hari ini Alisa tidak bisa hadir karena toko kue miliknya kedatangan tamu, yaitu sahabat Alisa yang bernama Shinta dan suami nya Kristian Panjaitan. ( kalau nggak tau tentang mereka, baca aja karya pertama othor, disana mereka nongol. 😁 )


Mendengar kabar kedatangan Shinta dan Tian ke toko kue miliknya dari Fitri. Alisa tidak jadi untuk menemani Gilang.


Gilang ngotot tidak ingin datang ke kantor karena Alisa tidak ada. Takutnya ia muntah lagi disana, sementara Alisa tidak ada.


''Aku nggak usah ke kantor ya? Aku sama kamu aja. Eneg sama bay mereka yang ada disana. Kalau ada kamu, aku tidak akan mu dan muntah. Please.. Hunny.. aku ikut kamu aja ya??'' pinta dengan memelas.


Alisa menghela nafasnya. ''Sayang... aku itu lagi ada tamu loh.. sahabat aku yang bernama Shinta dan bang Tian sudah menungguku di toko. Kamu ingatkan dengan mereka?'' Gilang mengangguk, namun wajah pucat itu begitu terlihat.


''Tapi...''


''By.. kamu itu sedang ada acara pergantian sekretaris baru loh.. sekretaris itu yang di tugaskan langsung untuk membantu mu menangani semua pekerjaan mu. Bukankah ia di kirim langsung dari kantor cabang. Karena Mbak Dinda risain??''


Gilang memeluk tubuh Alisa dengan erat. Entah kenapa, ia merasa kan firasat buruk tentang sekretaris barunya ini.


''Apa sebaiknya usah ku terima saja ya sekretaris dari cabang ini?'' tanya Gilang masih dalam pelukan Alisa.


''Loh? Kenapa??''


''Entahlah. Ada sesuatu yang tidak enak dihatiku tentang gadis ini. Aku tau, jika dia sangat kompeten dalam menjalani tugasnya sebagai sekretaris Pak Hendro selama di Jakarta. Tapi.. firasatku tidak enak tentang ini.'' ia semakin mengeratkan pelukannya di tubuh chubby Alisa.


''Itu cuma pikiran kamu saja sayang.. berfikir lah positif, maka hasilnya pun akan positif? Ayo, bersiap. Kamu belum mandi besar loh.. masa' habis subuh aku di gempur lagi?!'' sungut Alisa kesal.


Gilang cengengesan. ''Hehehe.. habisnya kamu enak sayang. Bikin nagih! Candu aku sama tubuh kamu! Cup.'' Alisa melotot kan matanya saat Gilang mulai menyesal lagi putik merah jambu miliknya.


''Udah ih! Kapan kamu ke kantor nya ini? Ishh.. asik di gempur akunya! Jalan aja udah ngempar masih juga pingin lagi!'' gerutu Alisa semakin kesal.


''Sehabis subuh sangat cocok untuk olahraga sayangku! Aku heran deh. Tubuh kamu kakak makin berisi ya! Ini lagi. Melon yang kok makin besar??'' tanya Gilang sambil memainkan melon milik Alisa.


Plaakk..


''Allahu Akbar! Sakit sayang! Aduhhh..''


Alisa memutar bola matanya. ''Makanya jangan lagi aku di makan Hubby! Nggak cukup apa udah dua kali kamu kasi aku serangan fajar?''


Gilang tertawa mendengar ucapan Alisa. ''Aku nggak pernah puas jika itu menyangkut kamu, sayang! Ayo, aku bantu ke kamar mandi! Tubuh kamu memang bikin nagih! Sudah menjadi candu untukku. Sekali saja tidak disentuh, kepala atas dan kepala bawah bisa pusing!'' kata Gilang sambil menggendong Alisa menuju kamar mandi.


Alisa tertawa mendengar ucapan Gilang. Mereka mandi besar setalah aktifitas olahraga menyenangkan mereka selesai.


Pukul delapan pagi, Gilang dan Alisa sama-sama pergi ke tempat masing-masing. Alisa diantarkan langsung oleh Gilang.


Untuk beberapa waktu, Gilang tidak ingin menjadi supir. Karena kepalanya sering kali tiba-tiba pusing dan mual jika melihat jalanan.


Terpaksa Gilang mencari seorang supir. Sedangkan supir yang dulunya sering membawa mereka berdua adalah supir Mama Dewi.

__ADS_1


Anak dari Pak Kosim yang sudah pensiun. Sekarang Gilang di supir oleh paman Andi yang bernama Pak Abdul Majid. Sering di panggil dengan Pak Dul oleh Gilang.


Tiba di kantor Bhaskara Group, Gilang sudah disambut seperti biasa. Tapi ada yang berbeda.


Seorang gadis berhijab memakai blazer berwarna Dongker, dan celana bahan berwarna senada sedang tersenyum melihat kedatangan Gilang.


Gilang mengernyitkan dahinya. Ia menatap Andi dan bertanya, 'Siapa? Apakah itu sekretaris baru dari kantor cabang?' tanya Gilang melalui sorot mata tajamnya.


Andi mengangguk. Gilang dengan segera berlalu. Wanita itu pun ikut mengikuti Andi dan Gilang.


Andi berjalan sejajar dengan Gilang. Sedangkan sekretaris baru Gilang itu berjalan di depan mereka.


Senyuman gadis itu tidak pernah putus sedari pertama melihat Gilang.


Ya Allah.. tampan banget.. moga aja dia belum menikah? Ya Allah.. Semoga Tuan Gilang ini adalah doa ku selama ini.. Amiiin..


Wanita itu bergumam didalam hati. Tiba di ruangan Presdir, Andi menyuruh wanita itu untuk masuk.


Namun harus berjarak tiga meter darinya. Sementara Andi berdiri tepat di depan meja kerja Gilang.


Andi menatap wanita itu dengan tajam. Mana kala wanita itu tidak berhenti untuk menatap Gilang.


''Ehem, Bos? Gimana kalau istri anda tau jika sekretaris barunya ini menyukai Bos di tempat dia bekerja? Kira-kira Mbak Alisa marah nggak ya?'' Pancing Andi namun berwajah datar.


Wanita itu mengernyit kan dahinya sat mendengar kata 'istri' dan 'Alisa'. Nama yang begitu familiar dan sangat ia rindukan selama Belasan tahun.


''Kenapa?'' tanya Gilang pada Andi. Namun matanya menatap pada wanita itu. Wanita itu menunduk.


Tidak berani menatap Gilang terlalu lama. Karena debaran jantung nya semakin berpacu dengan cepat.


''Potong gaji Bos!'' seru Andi, masih menatap wanita yang akan menjadi sekretaris baru Gilang itu.


Gilang tidak menghiraukan ucaoan Andi. ''Siapa nama kamu? Kenapa kamu mau di oper ke kantor pusat, sementara kamu masih di butuhkan di kantor cabang?'' tanya hingga masih dengan berwajah datar.


Gadis itu menoleh.


Deg, deg, deg.


Debaran jantung nya tidak menentu. ''Nama saya Ema Sulastri Andini, saya menerima tawaran ini karena punya alasan. Yang pertama, tempat tinggal saya lebih dekat dari Jakarta. Dan kedua, sahabat saya juga tinggal disini. Sudah belasan tahun kami tidak bertemu. Barangkali kalau saya lama bekerja disini, saya bisa bertemu dengan nya.'' sahutnya tegas tanpa ada keraguan dan ketakutan di dalam mata itu.


Gilang masih menatapnya dengan datar dan dingin. ''Baik, saya terima kamu bekerja disini. Tapi ingat batasan mu. Tugasmu hanya mengatur schedule yang diberikan Andi kepadamu. Selebihnya, Andi yang akan mengerjakannya! Andi!''


''Saya Bos!''


''Kamu Taukan, Apa yang harus kamu lakukan? Jangan ada kesalahan sedikitpun!'' tegas Gilang.

__ADS_1


''Tentu, Bos!'' sahut Andi mantap.


''Silahkan keluar! Hari ini kamu sudah mulai Bekerja! Tunjukkan dimana ruangan nya!'' kata Gilang lagi.


Andi mengangguk, dengan segera ia memberi kode pada sekretaris baru Gilang itu dan menuju ruangan nya.


Ruangan bersebelahan dengan Gilang, namun terbuka di bagian depan untuk posisi sekretaris baru itu.


''Silahkan duduk disana. Mulai sekarang, kamu yang akan menjadi bawahan saya! Tugas kamu, hanya perlu mengingatkan dan mengatur schedule tentang pertemuan, meeting dan juga keperluan lainnya. Jaga batasan mu segala kamu bekerja disini! jangan menatapnya seperti tadi, jika kamu tidak ingin potong gaji! Paham?!'' sentak Andi dengan suara beratnya.


Ema terkejut dan mengangguk cepat. Ia menunduk dan tidak berani melihat wajah Andi yang begitu garang menurutnya.


Dasar asisten galak! pekiknya dalam hati.


Setelah itu, Ema mulai duduk di bangku dan memulai pekerjaan nya hari ini juga.


Sementara Alisa sedang bertemu dengan Shinta dan Tian. Betapa senang nya Alisa, jika doa yang dulu ia panjatkan, sekarang terbukti juga.


Dua belas tahun yang lalu, Alisa sempat bertemu dengan Tian. Pemuda tampan berdarah Batak itu sempat menyukai Alisa.


Namun Alisa dengan tegas menolaknya. Karena pertemuan nya Dengan Alisa, ia pun memutuskan untuk pindah agama.


Mulai hari itu, ia berniat dalam hati. Jika suatu saat bertemu dengan Alisa kembali, ia ingin mengucapkan terimakasih karena telah menyuruhnya untuk mencari Shinta.


Dan ya, setahun setelah pertemuan itu, Tian akhirnya bertemu Shinta. Tanpa ada pacaran atau apapun, Tian langsung saja melamar Shinta kepada kedua orang tua nya yang ternyata juga sudah pindah tugas ke kota Medan.


''Akhirnya pertemuan dua sahabat ini pun bisa terlaksana! Kamu tambah berisi ya Lis semenjak pertemuan terakhir dua belas tahun yang lalu?''


''Hehehe... kamu bisa aja sih Tian? Wuihhh.. gercep juga nih suami kamu Shin, udah tiga aja anggota kamu?'' goda Alisa pada Shinta.


Shinta tertawa. ''Kamu yang lebih gercep lagi. Pisah dengan bang Emil, malah dapat ganti duda anak satu, tampan dan kaya raya!'' goda Shinta balik.


''Hahaha... kamu bisa saja Shin! Itu semua sudah goresan takdir! You know takdir Nyonya Shinta?''


''Ya, ya, ya! Terserah apa kata anda lah Nyonya Alisa Bhaskara!'' celutuk Shinta


Yang membuat Tian dan ketiga anaknya ikut tertawa.


💕💕💕💕💕


Ada yang tau siapa Ema ini??


Ikutin terus kelanjutannya!


Ada kejutan baru untuk Gilang dan Alisa disini nanti!

__ADS_1


Klean pada kemana nih? Jalan-jalan kah? 😁😁


__ADS_2