Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)

Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)
Bertemu calon mertua


__ADS_3

Saat ini Gilang, Andi dan pka Kosim sedang perjalanan. Andi menoleh pada pak Kosim dan memberi kode untuk berbicara kepada Gilang.


Gilang menghela nafasnya. ''Katakan saja. Apa yang ingin kalian katakan?''


''Hehehe.. maaf Bos.. saya mah hanya ingin tanya, apakah Bos sudah tau alamat rumah Mbak Alisa yang tinggal di Aceh?'' tanah Andi menoleh ke belakang sedikit.


Gilang tersenyum, ''Tunggu sebentar, aku sedang berbicara dengan istriku, Andi!''


Andi mengangguk, ''Oke.'' Sahutnya.


Gilang tersenyum melihat WhatsApp Alisa online. Pertanda dia masih berselancar di dunia Maya tentang bisnisnya.


''Sayang...'' pesan itu terkirim ke ponsel Alisa.


Ting!


''Papi? Hihihi.. Abang kerjain ah!'' Lana membuka pesan itu dan membacanya. Lana terkikik geli.


''Apa, Pi?'' balas Lana pada Gilang, ia terkikik sambil menulis tugas sekolahnya yang dikirim kan melalui grup sekolahnya.


Ting!


Gilang tersenyum saat membaca pesan dari Alisa. Ia mengetik lagi balasan untuk Lana.


''Kamu lagi ngapain? Kok jam segini udah main ponsel? Kerjakah?'' balas Gilang lagi.


Ting!


''Aku nggak kerja Papi.. tapi lagi isi PR!'' Lana terkikik geli setelah menulis balasan untuk Gilang.


Ting!


''PR? Maksudnya?'' Gilang kebingungan mendapat pesan balik dari Alisa. Setelah sadar jika itu Lana. Gilang terkekeh, ''Abang! Dasar kamu ya! Ngerjain Papi, kamu! Papi kira Mak tadi.'' Balas Gilang lagi.


Ting!


Lana terkikik geli membaca pesan Gilang. ''Ada apa, Pi?''


Ting!


''Sharelock tempat tinggal Mak yang di Aceh, sekarang!''


Ting!


''Loh? Papi ke Aceh? Ishh.. kok nggak ajak Abang sih?!''


Ting!


Gilang tertawa. ''Papi kesana karena ada misi penting, Nak.. ayo ah! Di kirim! jangan manyun! cepetan kirim! Papi udah di Berastagi ini!''


Ting!


''Weleh? Cepat banget Pi? Udah kebelet ya?'' Lana terkikik lagi setelah menulis balasan untuk Gilang.


Ting!


Gilang melotot saat membaca balasan Lana. Ia tertawa membuat Andi dan Pak Kosim saling pandang.

__ADS_1


''Iya! Takut Mak kalian di gondol orang! Udah ah! Cepetan kirimkan lokasi tempat tinggal kakak Yoga. Tapi ingat? Jangan beritahu Mak ya? Ini rahasia kita! Bisa kan?''


Ting!


''Hahaha.. Papi bisa aja! Tunggu bentar ya? Abang harus minta sharelock sama nenek Irma. Tunggu ya? Ten minutes!''


Ting!


Gilang tersenyum, ''Oke!''


Setelah itu tidak ada balasan lagi dari Lana. Ponselnya tetap online. Berarti Lana sedang berbicara dengan seseorang disana.


Gilang mencoba memejamkan matanya sejenak. Tak lama pesan dari Lana masuk lagi.


Ting!


Gilang membuka kedua matanya. Ia melihat angka yang ada di ponsel mahal miliknya. Ternyata memang sudah sepuluh menit.


Rupanya Gilang tertidur saat tadi setelah berbalas pesan dengan Lana. Ia tersenyum melihat Sherlock dari Lana.


Dengan segera ia kirimkan ke nomor satu lagi. Khusus untuk nomor kantor yang di pegang langsung oleh Andi.


Ponsel yang dulu ia beli di sini saat ingin berangkat ke Amerika.


Ting!


Andi terkejut mendengar pesan masuk ke dalam ponsel satunya milik Gilang. Andi membuat dan tersenyum melihat pesan itu.


Dengan segera ia mengatur aplikasi Google map untuk penunjuk arah mereka. Saat ini mereka masih di bukit Berastagi.


Untuk mengusir bosan ia membuka ponsel nya dan melihat sesuatu di IG dan juga Facebook Alisa.


Ia tersenyum saat melihat foto Alisa yang di blur oleh Ira. Karena ia marahi saat Ira memposting wajah Alisa.


Lama ia berselancar di dunia Maya. Merasakan kantuk di matanya, ia mematikan ponsel nya dan mulai memejamkan matanya.


Beberapa saat kemudian mereka sudah tiba di daerah sidikalang. Daerah kawasan perbatasan antara Medan dan Aceh Singkil.


Tiba disana, Gilang di bangunkan oleh Pak Kosim dan Andi. Posisi mereka sudah berganti.


Karena tadi Andi melihat pak Kosim begitu lelah ketika masih di Berastagi saat mereka singgah untuk sholat Maghrib.


Mereka bertiga masuk ke rumah makan di perbatasan itu. Terlihat banyak sekali bus travel serta mobil pribadi seperti miliknya.


Satu jam mereka beristirahat disana. Gilang sempat melakukan sholat isya dan sholat malam disana.


Setelah selesai, mereka melanjutkan lagi perjalanan mereka dengan Andi sebagai supir.


''Kamu sanggup Ndi?'' tanya Gilang.


''Sanggup Bos! Jika nanti aku lelah, aku akan segera memberitahukan nya pada Bos! Ayo kita berangkat! Ini yang aku sukai. Jika pulang kampung dengan mobil sendiri. Bisa bebas berhenti dimana saja. Lah kalau travel? Mana bisa! Yang ada kita ketinggalan nantinya. Ya.. walaupun mereka menunggu kita sih.''


Pak Kosim tertawa. Sedang Gilang terkekeh kecil. ''Karena itu, aku sengaja membeli mobil ini. Karena setelah ini aku akan sering pulang ke Aceh nanti nya. Karena permintaan Prince Maulana Akbar. Aku jadi kangen dengan putraku itu. Besok sajalah ku hubungi setelah kita tiba di rumah Alisa.'' Imbuh Gilang dengan tersenyum manis.


Andi dan Pak kosim tersenyum. Mereka kembali melanjutkan perjalanan mereka yang tersisa separuh perjalanan lagi.


Butuh waktu sekitar empat belas jam untuk sampai di kota kelahiran Alisa ini.

__ADS_1


Keesokan paginya.


Saat ini mereka sudah tiba di daerah tapak tuan. Daerah yang terkenal dengan tapak tuannya yang ada di tepi laut di daerah itu.


Tempat kelahiran Mak othor ini! 😄


Saat ini mereka sedang berada di perempatan jalan kota tapak tuan. Yang sering disebut dengan kota naga.



Sebagai supir, Gilang sedari subuh tadi sudah lumayan fresh. Sekarang gantian Andi yang terlelap di kursi belakang mobil itu.


Gilang melihat dengan seksama sedang berada dimana mereka sekarang. Gilang tersenyum membayangkan suatu saat mereka akan kembali lagi ke kota ini.


Untuk sekarang ia akan melewati saja. Kota yang dikenal tapak sakti sang pertapa.



Gambar : Sumber Google.


Banyak tempat wisata lainnya di kota ini. Tapi entah mengapa Gilang sangat tertarik dengan tapak sang pertapa yang katanya begitu mistis di daerah itu.


Butuh waktu setengah hari lagi untuk sampai ke kediaman Alisa dari kota tapak tuan ini. Dengan semangat empat lima, Gilang memacu mobil Pajero sport miliknya lumayan kencang. Karena suasana masih sunyi.


Karena sudah melewati gunung yang berkelok-kelok. Sekarang gilirannya untuk tancap gas.


Tapi masih dalam posisi aman untuk pengendara lain. Pukul satu siang, mereka sudah masuk dalam kawasan rumah Alisa.


Gilang celingukan mencari titik yang di tunjuk oleh Google map. Saat titik itu mengarah pada satu rumah yang begitu sederhana daripada rumah yang lain, Gilang tersenyum.


''Papa..'' gumamnya saat melihat Papa Yoga sedang duduk di depan sana dengan koran ditangannya.


Papa Yoga mengernyitkan dahinya saat melihat sebuah mobil berhenti di depan rumahnya.


''Assalamualaikum, Papa..''


Deg.


''Emil!!!''


Eh?


💕💕💕


Kok Emil sih?


TBC


Othor promo lagi nih ye! Mampir yuk di cerita temannya ku sayang satu ini!


Karya nya : Alya Aziz



Like dan komen klean selalu di tunggu! 😘😘


Luvyu all..

__ADS_1


__ADS_2