
Setelah semua barang mereka diangkut oleh Andi dari rumah sewa mereka yang berjarak hanya lima menit saja, kini Alisa dan Lana sudah pindah kerumah baru.
Sekarang mereka sedang berkumpul di dapur karena Alisa sedang memasak. Alisa sedang memasak makanan kesukaan Gilang.
Yaitu semur ayam. Ditunggui oleh Lana dan juga Andi yang sedang bermain dengan Annisa, Alisa terlihat begitu sibuk.
Hingga Andi menatap nya secara insten. Lama ia menatap Alisa. Setelah sadar, ia mengerjabkan matanya.
Benar kata bos Gilang jika mbak Alisa ini sangat cantik kalau sedang serius seperti itu. Lihat aja, bahkan sudah berkeringat saja mbak Alisa masih terlihat cantik.
Pantas saja bos Gilang sangat menyukai nya. Aku melihat mereka begitu memiliki persamaan.
Jika mbak Alisa menyukai warna hitam, bos Gilang juga menyukainya. Begitu juga dengan warna putih.
Semua di dalam lemari bos Gilang, baju berwarna putih dan hitam. Mbak Alisa juga. Sekarang aja pakai hijab hitam.
Segitu luka nya kah hati dua pasang anak manusia ini, hingga mereka lebih menyukai warna hitam dan putih?
Semoga setelah ini, tidak ada kendala lagi untuk mereka berdua. Amiiin..
Andi terkekeh saat mengingat Gilang, jika tau dirinya begitu lama melihat istrinya ini.
Maaf Bos! kali ini aja ya??
Alisa yang baru saja siap masak, mengambil sebuah rantang. Dan mengisikan sebagian makanan yang ia masak untuk diberikan kepada Gilang.
Eh?
Bukankah tadi Gilang ke tempatnya? Semoga makanan ini bisa mengobati kerinduan Gilang terhadap nya.
Alisa tersenyum saat mengingat itu. Tangan nya dengan cekatan terus memasukkan semua makanan yang ia masukkan ke dalam rantang, agar Andi bisa membawanya untuk Gilang.
Andi yang melihatnya terkekeh kecil. Setelah semuanya siap, Alisa menyerahkan rantang itu kepada Andi.
''Andi! berikan makanan ini pada Gilang. Sebelum pulang, kamu makan dulu ya? Saya mau sholat dulu karena sudah masuk waktu Maghrib.'' imbuhnya dengan segera berlalu meninggalkan Andi yang terus menatap nya.
''Hem, bang Andi! jangan terlalu lama mandangin Mak Abang! nanti di potong gaji loh.. sama Papi! mau??'' celutuk Lana membuat Andi tersadar dan terkekeh.
''Hehehe... maaf Bang! kalau Abang boleh meminta, Abang juga mau yang seperti Mbak Alisa untuk menjadi istri Abang! Apakah bisa bang??'' tanya Andi begitu berharap.
__ADS_1
Lana menghela nafasnya. ''Mengapa Abang sangat ingin mendapatkan istri sama seperti Mak Abang??''
Andi menatap Lana. ''Karena Mbak Alisa wanita istimewa di mata para lelaki seperti kami yang haus akan kasih sayang Abang.. kami membutuhkan sosok seperti Mbak Alisa untuk bisa menjadi panutan untuk membawa kami ke jalan yang benar seperti Bos Gilang. Lihatlah sekarang perubahan yang terjadi pada bos Gilang. Ia yang dulu begitu cuek dan tidak mau tau tentang agama dan juga kedua orang tuanya, kini sangat jauh berbeda. Kamu tau itu karena siapa??''
''Apakah karena Mak, Abang ya??''
''Ya. Maka dari itu Mbak Alisa sangat lah istimewa di mata para lelaki seperti kami yang butuh kasih sayang. Semoga Abang juga bisa mendapatkan sosok yang baik dan tulus seperti Mbak Alisa nantinya untuk menjadi istrinya Abang.''
''Amiinn...'' sahut Lana.
Andi tersenyum. ''Ayo kita sholat! nanti keburu habis Maghrib nya!''
''Oke! let's go!'' sahut Lana membuat Andi tersenyum dan mengacak rambut Lana.
Setelah nya mereka berlalu untuk sholat Maghrib di mushola di dalam rumah baru Alisa.
Selesai sholat Andi berpamitan pada Alisa untuk segera mengantarkan makanan itu. Karena saat ini, Gilang sedang berada di restoran nya bersama klien.
Tadi, sebelum keluar dari rumah Alisa, Andi sempat menyaksikan keberadaan Gilang. Dan Gilang mengatakan jika ia sedang berada di restoran nya.
Di Alisa resto.
Andi langsung saja menuju ke Alisa store untuk mengantarkan pesanan Alisa. Setibanya disana, Gilang masih sibuk berbicara dengan kliennya.
Membuat gadis yang ada di depannya terpesona.
''Permisi, Bos!''
Gilang menoleh. ''Hem,'' sahutnya
''Ini kiriman makanan dari istri Bos!'' celutuk Andi membuat seorang gadis terkejut.
Ia yang tadinya terpesona karena melihat Gilang tersenyum, kini malah terkejut. Gilang tidak memperdulikan hal itu.
Yang penting masakan istrinya. ''Terimakasih Andi! Ini yang sangat saya tunggu sedari tadi! Masakan istri.'' ucapnya, gadis yang ada di depannya itu lagi dan lagi terkejut.
''Sama-sama Bos!'' sahut Andi, sembari memberikan rantang itu kepada Gilang.
Gilang yang memang sudah lapar, langsung saja membuka rantang itu dihadapan kliennya. Seorang bapak-bapak sebagai klien Gilang, tersenyum.
__ADS_1
''Jika kita jauh, makanan istri lah yang paling kita rindukan! benar tidak Pak Gilang??'' tanya bapak itu.
Gilang mengangguk kan kepalanya. ''Rasa lelah dan letih saat bekerja, tergantikan dengan masakan istri yang sangat enak!'' sahutnya dengan mulut penuh makanan.
Pak Tirta terkekeh melihat tingkah Gilang. Ya, yang sedang bersama Gilang ini adalah Pak Tirta.
Pemilik lima belas persen saham di Alisa store. Dan juga putrinya sedang ikut bersama beliau karena punya misi ingin menaklukkan hati Gilang.
Saat sedang makan Gilang tertusuk tulang daging ayam, hingga tangan itu mengeluarkan darah begitu deras.
Membuat Andi terkejut melihatnya. Andi dengan cekatan membawa kotak P3K untuk mengobati luka di tangan Gilang.
Gilang terdiam, hatinya merasa gelisah. Gelisah yang entah karena apa. Tidak tau aja, entah kenapa pikirannya terus mengingat Ira.
Putri sulungnya. ''Kakak... apa yang terjadi dengan mu? Kenapa Papi merasa jika kamu sedang dalam masalah?? Ada apa ini ya Allah... mohon selamatkan putriku dimana pun ia berada...'' lirih Gilang masih terdengar oleh dua orang yang sedang duduk di depan Gilang.
Sedangkan dirumah Alisa, tiba-tiba saja tangannya menyenggol gelas hingga jatuh kelantai dan pecah.
Pyaaaarrrr..
''Astaghfirullah! Kakak!'' pekiknya tertahan, saat sekelabat bayangan melintas di pikiran nya.
Yaitu Ira dan Raga. ''Ya Allah.. ada apa dengan putri dan menantu ku?? Ada apa dengan mereka?? Kenapa perasaan ku jadi tidak enak begini??'' ucap Alisa dengan segera membersihkan pecahan gelas yang berserakan di lantai.
Alisa dengan pelan membersihkan pecahan kaca itu. Lana datang ke dapur saat mendengar suara pecahan kaca.
''Kenapa, Mak??''
''Hah? Ah, tidak. Tadi tangan Mak ke senggol gelas, jatuh ke lantai dan pecah. Mak lagi ingat Kakak mu yang sedang melakukan camping di air terjun si Piso-piso. Entah kenapa, Mak gelisah mengingat nya dan juga Raga..'' jelas Alisa, membuat Lana menghela nafasnya.
''Mungkin perasaan Mak aja kali.. usah di pikirkan! Banyak berdoa, supaya Kakak sehat dan selamat saat kembali nantinya.'' ucap Lana menenangkan Alisa.
Alisa menghela nafasnya. ''Semoga saja..''
💕
Hanya sekilas saja othor ceritakan cerita Ira disini. Mau yang lebih banyak, di sebelah aja ya?? 😁😁
Ikutin terus kelanjutannya!
__ADS_1
Like dan komen ye!
TBC