
Setelah satu harian mereka bersenang-senang di taman safari pancur batu. Sore harinya mereka bergegas pulang, karena besok harus sekolah.
Tapi tidak untuk Gilang, besok sampai seminggu ke depan adalah masa-masa tenang sebelum ia ujian akhir.
Mereka tiba di Medan pukul dua dini hari. Seluruh komplek sudah sunyi saat mereka tiba kediaman Alisa. Andi yang merasa lelah, memutuskan untuk menginap dirumah Alisa.
Alisa menyetujui hal itu. Karena ia tau, jika Gilang dan Andi sama. Mereka akan ujian Minggu depan.
Sedangkan untuk Ira dan Lana, mereka besok akan sekolah seperti biasa. Seperti biasa setelah sholat tahajud, mereka baru akan tidur tapi tidak dengan Alisa.
Ia sibuk di dapur menyiapkan sarapan untuk keluarga nya termasuk Gilang dan Andi. Gilang yang melihat Alisa sibuk di dapur dini hari mendatangi nya.
''Sayang..''
Alisa menoleh. ''Loh? kok nggak tidur??''
''Gimana mau tidur jika kamu aja nggak tidur??'' sahut Gilang.
''Aku harus masak, Pi. Mumpung adek tidur jadi aku bisa mengurus sarapan kalian nantinya.'' sahut nyamasih dengan tangan sibuk memegang wajan dan mangkuk berisi sayur.
Gilang menghela nafas panjang.
''Sini dulu! Duduk sini!'' titahnya pada Alisa. Sedangkan Alisa menurut.
Gilang membawa Alisa duduk di tepian kompor sedang Gilang mengurungnya dengan dua tangan bertumpu pada pembatas kompor.
Alisa jadi gugup. Gilang tersenyum tipis. Ia tau jika Alisa tidak nyaman di perlakukan seperti itu.
''Lis.. ini tuh udah malam! Apakah besok, kamu nggak bisa mengerjakannya?? Masih dini hari sayang untuk kamu memasak. Istirahat dulu ya.. nanti pagi aku bantu kamu masak!'' ucapnya sambil menatap Alisa dalam.
Alisa gugup ditatap sedalam itu. Ia menjadi salah tingkah.
''Bu-bukan begitu Pi .. hanya saja aku tidak mengantuk lagi. Kamu kan tau sendiri jika aku tadi tertidur saat kamu yang jadi supir?? Dan juga, kenapa kamu nggak tidur?? Nggak capek seharian udah jadi supir??'' sahutnya dengan sesekali menatap Gilang.
''Sayang.. kamu tuh butuh istirahat loh.. nggak capek apa, udah leleh seharian bepergian sekarang mau masak pula di tengah jam jam Kunti begini! Ada waktu besok sayang.. istirahat ya.. haahh.. capek sih iya! Tapi gimana mau tidur jika kamu saja belum tidur?? Aku tidak akan tenang sayang.. jadi kita istirahat ya..'' imbuhnya lagibdengan suara yang begitu lembut.
__ADS_1
Alisa termangu. Belum pernah ia merasakan kata-kata selembut ucapan Gilang. Bahkan dengan ayah anak-anak saja tidak pernah.
Matanya berkaca-kaca melihat Gilang. Gilang tau itu.
''Menangislah. Jika dengan menangis membuat hatimu lega. Nggak semua harus dipendam! Tapi juga harus dikeluarkan sayang.. supaya hatimu merasa lega..'' lirih Gilang sembari menangkup kedua pipi Alisa.
Alisa terisak. Gilang memeluknya dengan sayang. Gilang terus saja mengusap bahu Alisa yang tertutup hijab berwarna hitam.
''Sudah! ayo.. kamu istirahat ya.. ayo..'' ajaknya membawa Alisa ke kamar.
Alisa merebahkan dirinya di sebelah Annisa. Bayi kecil itu sangat damai dalam tidurnya. Setelah Alisa merebahkan dirinya, Gilang pun beranjak pergi.
Namun, langkah nya tertahan saat tangan Alisa mencekal tangan nya. Ia menatap Gilang dengan tatapan sendu.
Gilang tau, jika sekarang Alisa membutuhkan dirinya. Ia duduk di tepi Alisa tapi Alisa masih saja menatapnya dalam.
Sakit rasanya melihat Alisa seperti itu. Seperti di perintah, Gilang pun berbaring di belakang Alisa. Ia berbaring dengan menghadap Alisa.
Sedangkan Alisa tidur telentang. Air mata itu mengalir lagi, Gilang tau itu. Ia tetap saja diam. Tak berani menyentuh ataupun menyeka air mata yang mengalir itu.
Setelah puas Alisa menangis, Alisa tertidur dengan membelakangi Gilang. Gilang yang tau jika Alisa sudah terlelap, ia ingin bangkit dan pindah tidur diluar.
Bahkan Alisa mengambil lengan Gilang untuk menjadi bantal nya. Gilang terkejut, namun ia mendengar sekilas gumaman Alisa.
''Jangan pergi.. tetaplah disini.. aku membutuhkan mu GI..'' gumamnya di dalam tidur.
Mata yang masih sembab itu terlihat sangat menyedihkan. Gilang memandang Alisa tak berkedip.
Jauh di dalam hati nya ia tidak munafik ingin memeluk Alisa. Ia sadar akan ini adalah salah.
Tapi apa yang ia perbuat jika Alisa sendiri yang memeluknya lebih erat? Lagi, Alisa mengigau, membuat Gilang memeluk Alisa dengan erat.
''Tudurlah! aku disini bersama mu.. aku tak akan kemana-mana..'' lirih Gilang di telinga Alisa.
Tanpa sadar buliran bening mengalir di sudut matanya. Sakit melihat orang tercinta begitu menderita seperti ini. Tapi apa yang harus ia perbuat? Jika luka itu masih baru dan basah.
__ADS_1
''Andai umurku cukup. Pastilah aku akan menikahimu segera sayang .. tapi ini belum waktunya.. aku harus bersabar untuk menunggu hari itu tiba.. dimana hari aku akan mempersunting dirimu menjadi istriku.. aku akan menunggu dengan sabar sayang.. untuk itu bersabarlah.. Sampai dimana waktu itu tiba.. aku akan menjadi obat untuk luka mu.. aku akan menjadi pelindung mu.. Aku Tak akan membiarkan mu terluka karena ku nantinya.. hanya kaulah yang bisa membuat Aku seperti ini sayang.. aku harap luka yang kau rasakan bisa berkurang dengan hadirnya diriku disamping mu.. aku menyayangimu Lis.. sangat menyayangimu.. sangat..'' lirihnya sembari mengecup kening Alisa begitu lama hingga tanpa sadar ia terlelap dengan memeluk Alisa erat.
Hangat dan nyaman itulah yang dirasakan oleh Alisa saat tidur di pelukan Gilang. Rasa hangat dan nyaman ini sama seperti ia memeluk Papa nya.
Benar kata orang, cinta pertama seorang putri adalah Papa nya. Rasa aman dan nyaman itu akan terus hadir dalam kehidupan nya.
Sampai dimana ia bertemu dengan sosok yang sama seperti Papanya. Bukankah seorang putri itu akan mencari sosok suami yang sama seperti Papa nya??
Gilang bangun saat suara adzan berkumandang. Sudah memasuki waktu subuh.
Seluruh anggota keluarga masih terlelap. Termasuk Ira, Lana, dan Annisa. Mereka masih damai dalam tidurnya. Sedangkan Andi, jangan ditanya lagi.
Saat ia baru saja bertemu bantal, Andi tidak sadarkan diri lagi. Gilang terkekeh melihatnya.
Gilang menatap Alisa yang masih saja memeluknya begitu erat. Padahal baru sebentar ia terlelap, namun suara panggilan suluruh alam sudah berkumandang jadi ia tetap harus bangun.
Walaupun mata itu masih terasa berat. Gilang menoleh bidadari hatinya. Ia masih larut dalam mimpi. Karena takut akan kesiangan waktu subuh, Gilang membangunkan Alisa.
''Sayang.. bangun ayo.. sholat subuh dulu.. setelah nya jika kamu mau tidur lagi nggak pa-pa.. sayang.. bangun..'' lirih Gilang di telinga Alisa.
Alisa menggeliat kan tubuhnya. Masih dengan mata terpejam ia menjawab ucapan Gilang.
''Sebentar lagi Papi.. aku masih ngantuk..'' sahutnya dengan suara serak.
Gilang terkekeh mendengar sahutan Alisa. Setelah nya ia berbisik lagi di telinga Alisa lagi.
''Bangun sayang.. kamu mau bangun atau aku tidurin disini??'' bisiknya
''Tidurin!''
Eh?
💕
Waduh! belum halal oey!
__ADS_1
Udah hari Senin ini.. vote nya yak?? 😁😁
TBC