Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)

Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)
Papi ku


__ADS_3

Setelah selesai dari pelatihannya, Lana beranjak ke kamar mandi karena tidak tahan ingin buang air kecil. Sedari latihan tadi ia menahannya.


Ia berlari ngacir saat kantung kemihnya terasa penuh. Setelah ia selesai, Lana berjalan perlahan.


Dari kejauhan terlihat Gilang sedang celingukan mencari dirinya. Ia tersenyum, ternyata Gilang mau juga menjemputnya.


Ia berjalan agak tergesa-gesa. Hampir saja tersungkur jika tidak seorang guru menahan lengannya.


''Allahu Akbar!'' seru Lana saat ingin tersungkur.


''Hati-hati Lana!'' seru pak Kamil.


''Hehehe.. saya buru-buru pak! soalnya Papi saya sudah menjemput! tuh, disana!'' tunjuknya.


Pak Kamil melihat kemana arah telunjuk Lana. Ia terpaku melihat seseorang berdiri disana.


'Bukannya itu putranya Pak Angga, ya?? Kenapa Lana mengatakan jika itu adalah Papi nya?? Apakah putra pak Angga sudah menikah dengan ibu Lana?? Ada apa ini?? Bukankah pemuda itu masih sangat muda? Masih SMA??' gumam hati pak Kamil.


''Ya sudah, Pak! saya pamit pulang dulu! Assalamualaikum..'' ucap Lana.


Pak Kamil terkejut. ''Eh iya, Lana! Wa'alaikum salam...'' sahut pak Kamil.


Lana berlari sekencang mungkin untuk mencapai Gilang disana. Saat ingin berlari lebih kencing lagi, kakinya tiba-tiba berhenti.


Ia melihat seorang gadis muda menghampiri Gilang. Jalannya begitu menggoda kaum Adam. Kulit yang putih, tubuh yang semampai dan cantik tentunya.


''Hai!'' sapanya.


Gilang menoleh. Dirinya yang tadinya sedang celingukan terkejut mendengar suara seorang gadis. Gilang yang sedang khawatir mencari Lana, secepat kilat merubah raut wajahnya menjadi datar.


Gilang hanya menatap nya sekilas. Ia sibuk celingukan mencari Lana. Karena yang dicari tidak kunjung kelihatan, akhirnya Gilang memilih duduk diatas motornya.


Matanya memandang kedepan sambil mencari keberadaan Lana. Tiba-tiba saja gadis itu berada di hadapan Gilang. Dengan senyum khas dari gadis itu.


Gilang yang melihat gadis itu sudah berada di hadapannya, menoleh kesamping. Bagaimana tidak, baju dalam wanita itu sungguh ketat hingga menunjukkan buah sintal yang terbungkus rapat di dalamnya.


''Hai! kamu ngapain kesini?'' tanya nya basa basi.


Gilang tetap diam. Wajahnya datar tanpa ekspresi. Gadis itu semakin tertantang melihat pemuda itu cuek terhadapnya.


''Kenalin! nama ku Rania! Aku tinggal di dekat sini! Kalau boleh tau, kamu sedang apa dilapangan ini??'' tanya nya lagi.


Lagi, Gilang tetap tidak menghiraukan nya. Membuat gadis itu semakin nekad. Ia berjalan selangakah mendekati Gilang. Gilang yang sadar gadis itu mendekati dirinya, beranjak turun dari motornya dari arah sebelah kanan.

__ADS_1


''Kok lari sih? aku kan cuma mau kenalan doang??'' tanya lagi.


Gilang tetap diam, ia tidak menggubris ucapan gadis itu. Matanya celingukan mencari Lana. Tapi yang dicari malah tidak kelihatan.


Tak patah arang, gadis itu semakin gencar menggoda Gilang. Ia mencoba mendekati Gilang dari arah belakang, berharap bisa memeluknya.


Belum sempat ia memeluk nya, terdengar suara seorang anak kecil memanggil nya dengan sebutan Papi.


''Papiiii...'' panggil Lana.


Gilang menoleh dan tersenyum. Gadis itu mematung melihat senyum Gilang.


Dari kejauhan Lana melihat Gilang sedang di dekati oleh cewek. Tangannya terkepal erat. Pertanda ia sedang menahan amarahnya agar tidak berteriak.


Ia berlari sekencang mungkin, hampir saja terjatuh, saking kencangnya ia berlari. Gilang yang melihat Lana hampir terjatuh secepat kilat berlari dan..


Hap! Dug!


''Aduhhh... sakit euyyy.. ishh... bisa-bisanya jatuh! Ishh dasar ceroboh kau Lana! Jika Mak, tau kau terjatuh seperti ini, pastilah beliau akan mengomel panjang kali lebar! siang malam kaset rusak itu terus saja berputar! Puyeng kepala gue!!!'' gumamnya pada diri sendiri.


Dan masih terdengar oleh Gilang. Gilang tergelak mendengar gerutuan Lana. Lagi, gadis itu mematung. Ia terpesona dengan pandangan yang ada didepannya.


Tanpa sadar, kaki nya melankah mendekati Gilang yang sedang tergelak.


''Boleh gabung nggak??'' tanya nya.


''Elu siapa??'' tanya Lana.


Gilang menoleh ke Lana. Terlihat Lana sedang merubah raut wajahnya menjadi datar, sama seperti Gilang.


Gilang yang melihatnya mengulum senyum.


'Titisan gue!' gumamnya dalam hati


''Hah?? Adik ini siapa ya?? Kok bisa kenal dengan kakak tampan ini ??'' tanya lagi.


Lana berdecak. ''Ck! ditanya malah balik tanya! Emangnya tadi elu nggak denger apa?! gue manggil nya siapa nih orang?!''


Gadis itu membulatkan matanya. Bisa-bisanya ada seorang bocah berani berkata demikian kepada gadis cantik seperti nya.


Gadis itu kesal. ''Emangnya kamu siapa sih?! Bisa-bisanya kamu ngaku, jika kamu itu anaknya Kakak ini! Mana mungkin pemuda tampan seperti nya memiliki putra yang sudah besar kayak kamu?? heh! itu nggak mungkin!'' bantah gadis itu. Ia tersenyum sinis ke Lana. Membuat Lana memutar bola matanya malas.


''Ayo Pi! kita pulang! Papi mau, Abang adukan hal ini sama Ma mi???'' tanya Lana pada Gilang dengan tatapan tajamnya.

__ADS_1


Hampir saja tawa Gilang menyembur jika tidak ingat jika Lana sedang sandiwara.


''Oke! ayo kita Pulang!'' sahut Gilang.


Mereka beranjak meninggalkan gadis itu yang masih kebingungan. Saat ingin mencoba memegang lengan Gilang, Lana menepis tangan gadis itu.


''Jangan coba-coba menyentuh Papi ku!! jika kau tidak ingin berurusan denganku!! apakah telinga kau itu tuli?? Hingga kau tidak mendengar apa yang aku katakan ? Hah?!'' tanya Lana dengan raut wajah yang begitu dingin.


Gadis itu tersentak mendengar ucapan Lana. Sungguh berani bocah ini pikirnya. Tak takut dengan ucapan Lana, ia masih ingin mendekati Gilang.


''Hei! jangan diam aja dong.. Masa anak kecil seperti nya bisa memanggil mu Papi?? Aku tau jika kamu itu masih SMA seperti ku! Kapan nikahnya? jika kamu itu belum tamat sekolah??'' tukas gadis itu. Ia sangat kesal dengan bocah itu karena terus melarang nya mendekati pemuda yang ditaksir nya.


''Ayo Bang..'' ajak Gilang.


''Tunggu, Pi! gadis seperti ini harus diberi pelajaran! Mami pernah ngomong sama Abang! Jika ingin dihormati dan dihargai oleh lelaki, maka berlakulah sopan santun! Dengan cara menundukkan pandangan dan juga memakai pakaian yang sopan tentunya! Tidak seperti ini! Ingin berkenalan dengan baju kurang bahan! Apakah di rumah mu tidak ada baju yang lebih layak dari pada ini?? Kau tau tidak kodrat wanita itu seperti apa?? heh?! Jika kau tidak tau, tidak usah berlagak sok tau di depan ku! Kau tau apa tentang berpakaian?? Sedangkan pakaian kau saja seperti kekurangan bahan! Jangan berlagak sok tau di depanku! jika kau tidak tau apapun tentang sopan santun? Apakah kau pernah sholat??'' tanya Lana


Gadis itu menggeleng, ''jika tidak tau, jangan berceramah padaku tentang siapa aku dan siapa pemuda yang di samping ku ini! Cukup kau tau dan tak perlu tanya jika pemuda yang kau taksir ini adalah PAPI KU!! sarkas Lana.


Gadis itu terpaku.


''Ayo, Pi! kita pulang!''


''Oke.''


Setelah nya mereka beranjak meninggalkan gadis yang masih mematung disana seorang diri.


Para teman-teman Lana tercengang melihat keberanian Lana, yang berani berbicara seperti itu kepada putri si pemilik sekolahnya.


Lana masih saja diam sedari di tempat sekolah, hingga sampai ke toko swalayan milik Gilang.


''Ayo turun!'' titah Gilang.


''Hah??''


Lana melongo melihat toko yang ada di depannya. Bagaiman tidak, jika mereka sedang berdiri di depan toko swalayan yang tinggi menjulang.


Terlihat logo swalayan yang terpampang begitu jelas disana dengan nama...


...'ALISA STORE'...


''Alisa store??''


💕

__ADS_1


Masih mau lanjut??


TBC


__ADS_2