
''Kami sebagai kedua orang tua kalian, sepakat akan melanjutkan perjodohan yang dulu pernah kami janjikan di saat kami masih kuliah dulu. Kami akan menikahkan kalian berdua setelah kalian tamat SMA. Karena itu adalah janji kami! Dan sekarang, kami akan memenuhi janji kami itu. Bagaimana Gilang? Kamu masih ingatkan??''
Deg!
Gilang terkejut. Jantung nya berdegup kencang. Bertalu-talu rasanya jantung itu memompa darahnya. Rasanya seakan berhenti disana.
Gilang menatap datar pada Papanya. Demikian juga dengan Vita. Ia melihat reaksi Gilang yang hanya diam saja. Ia jadi berfikir, apakah Gilang akan menolak perjodohan ini setelah tau apa yang pernah ia perbuat dulu?
Mama Dewi yang melihat putra nya hanya diam, ia jadi gelisah. Ia tau jika Gilang tidak akan mau dijodohkan. Karena dulu, pernah sekali ia membahas hal ini tapi Gilang menolaknya.
Berbeda dengan kedua orang tua Vita. Mereka merasa jika Gilang berubah menjadi aneh, semenjak kedatangan mereka.
Biasanya jika mereka datang, Gilang sangat antusias. Berbeda dengan sekarang, wajahnya itu datar tanpa ekspresi. Sulit untuk menebak apa yang ada dipikiran pemuda itu.
''Kenapa kamu diam? Apakah kamu sudah melupakan perjodohan ini?? Kenapa semenjak kedatangan keluarga Vita kesini, kamunya seperti menghindar. Dan tadi, mengapa kamu membiarkan Vita menangis disana seorang diri??'' cecar papa Angga.
Gilang hanya diam saja, ia tetap tak menjawab pertanyaan dari papa nya. Melihat Vita saja dia tidak sanggup, bagaimana jika mereka menikah nantinya. Mau dibawa kemana rumah tangga mereka.
''Jawab Gilang!'' sentak papa Angga.
Vita terjingkat kaget. Sedangkan Gilang hanya menatap papanya tanpa ekspresi. Membuat papa Angga naik darah. Ingin sekali ia menghajar putranya itu. Seperti tidak pernah diajarkan sopan santun pikirnya.
''Sudah, sudah! jangan dipaksa, jika Gilang tidak mau menjawabnya. Biarkan ia tenang sebentar! ingat umur bro! kita udah tua! salah salah nanti malah urat kita yang ketarik jadi encok! elu mau??'' tanya papa Alan pada papa Angga.
Papa Angga menghela nafasnya sejenak. Mama Dewi yang melihat situasi semakin dingin, sedingin tatapan Gilang pada mama dan papa nya, Mama Dewi maju untuk berbicara.
''Nak... bisakah kamu menjawab omongan Papa? Papa bertanya padamu? jawablah! sebelum semuanya semakin runyam. Jawab sesuai dengan keinginan hatimu!'' ujar mama Dewi, membuat papa Angga menoleh.
''Ma...''
''Udah Pa.. biar Gilang yang memutuskan!'' imbuh mama Dewi.
''Ayo Nak.. dijawab?''
Gilang menatap datar pada keempat orang tua yang duduk disana.
__ADS_1
''Saya menolak perjodohan ini!'' tegasnya.
Papa Alan tersentak. Begitu juga dengan yang lain. Sedang kan Vita, ia sudah menebak jika Gilang akan menolak perjodohan ini.
''Apa?! mengapa kau menolaknya?'' pekik papa Angga.
Gilang diam. Ia tau jika berbicara, yang ada akan memperkeruh suasana.
Mama Chyntia terlihat shock. Ia sangat terkejut dengan penolakan Gilang. Papa Alan hanya mampu untuk berdehem untuk menetralisir rasa amarah yang ada di dadanya.
Setelah sekian lama terdiam, papa Alan akhirnya bicara.
''Boleh kamu jelaskan? Mengapa kamu menolak perjodohan ini? Apa alasannya? Perjodohan ini sudah terikat Nak.. tidak mungkin bisa diputuskan begitu saja. Ini adalah janji kami sebagai orang tua, agar hubungan kami tidak terputus. Kian tahun kami menunggu saat ini tiba, tapi mengapa kamu menolaknya saat kami akan menikahkan Kalian berdua? Ada apa sebenarnya??'' tanya papa Alan.
Ia masih berusaha tenang, walau dalam hatinya ia gelisah, pasti telah terjadi sesuatu antara putrinya dan juga putra sahabat nya ini.
''Tanyakan pada Vita! alasannya ada pada Vita! apakah Vita tidak menjelaskan kepada kalian? jika saya sudah menolak perjodohan ini empat tahun yang lalu??'' tanya Gilang.
Ddduaarr..
''Apa?!'' kaget mama Vita.
''Ya Allah...'' Papa Angga meraup wajahnya kasar.
Sedangkan mama Dewi terdiam. Mereka semua masih shock dengan penolakan Gilang. Ditanya alasan, malah katanya karena Vita.
'Rupanya benar! sudah terjadi sesuatu antara Gilang dan juga Vita!' gumam papa Alan.
Ia mencoba lagi untuk berbicara pada Gilang.
''Nak .. mengapa dengan Vita? Apakah terjadi sesuatu diantara kalian? hingga memutuskan perjodohan ini secara sepihak?? Mengapa alasannya pada Vita! coba kamu jelaskan!'' seru papa Alan.
Vita gemetar ketakutan. Wajahnya pucat pasi. Jika sampai papa nya tau, maka tamatlah riwayatnya.
Vita mencoba untuk tenang, walau hati dan jantungnya bergemuruh hebat.
__ADS_1
''Jelaskan sekarang! saya ingin tau, ada apa dengan kalian berdua!'' tegas papa Angga.
Gilang menoleh pada Vita, Vita menunduk tak berani menatap kedua orang tua nya. Gilang tersenyum miring mendapati tangan Vita gemetar.
''Jika memang elu nggak sanggup mengakui hal itu, mengapa elu dengan berani menerima perjodohan ini? Elu Taukan resikonya buat elu Apa? Nah, sekarang elu jelaskan kepada kedua orang tua kita.. Apa dan bagaimana kejadian dulu hingga membuat gue memutuskan perjodohan ini secara sepihak!''
''Ingat Vita! segala tindak tanduk elu dimasa lalu kini harus elu pertanggung jawabkan! silahkan! ini tugas elu Vita untuk menjelaskannya!'' seru Gilang.
Kedua orang tua mereka semakin heran, ada apa sebenarnya dengan mereka berdua. Vita mencoba mendongak, ia melihat papanya terlebih dahulu.
Deg!
Sorot mata yang begitu tajam, Vita gemetar. Di dahinya keluar keringat dingin. Mama Chyntia yang tau putrinya itu sedang tertekan, meminta waktu sejenak untuk membahas hal ini dengan Vita secara tertutup.
Mereka mengijinkan. Sangat lama untuk menunggu mereka kembali. Mama Dewi yang semakin penasaran mendatangi kamar mereka. Saat akan mengetuk pintu, tiba-tiba mama Dewi terkejut karena mendengar suara tamparan yang begitu nyaring.
Saking terkejutnya, mama Dewi membuka paksa pintu tersebut.
Gedubrakkk
Papa Alan terkejut, begitu juga dengan mama Chyntia. Belum usai dengan keterkejutan nya tentang cerita Vita. Sekarang malah dikagetkan oleh sahabat mereka yang membuka pintu secara tiba-tiba.
''Ada apa ini?? kenapa kalian menampar Vita hah?! semua nya bisa dibicarakan baik-baik. Tidak perlu memakai kekerasan segala!'' kesal mama Dewi.
Ia kaget melihat Vita yang bersimpuh dikaki papa nya, dengan pipi yang memerah.
Papa Alan meraup wajahnya kasar. ''Tanyakan saja pada anak yang tidak tau diri ini! bisa-bisanya ia memberikan tubuhnya untuk dinikmati pria lain demi menunjukkan kesetiaan nya pada Gilang. Dasar anak bodoh! tidak tau diri! menyesal aku memiliki putri seperti mu!!'' umpat papa Alan.
Membuat Vita menggeleng. ''Ampuni Vita Pa.. Vita nggak bermaksud mengecewakan kalian berdua, waktu itu Vita hanya mencoba membuktikan apa yang dikatakan Kevin itu adalah benar! ternyata aku salah! aku salah Pa.. hiks..''
''A-apa?!'' Mulut Mama Dewi menganga lebar. Ia sangat terkejut dengan penuturan Alan sahabat nya.
Ya Allah...
💕
__ADS_1
TBC