
Warning!!!
Masih Area 21+
Othor peringatkan lagi, yang bocil jauh-jauh! Atau di skip aja yah? hihihi..
πΈπΈπΈπΈ
Kedua pasangan baru itu terlelap pukul empat pagi. Satu jam lagi masuk waktu subuh. Alisa yang sudah kelelahan, sudah terlelap duluan.
Sementara Gilang, ia masih menatap sang istri dengan senyum terus terukir di bibir nya. ''Terimakasih sudah menjaganya untukku selama ini. Aku sangat bahagia bisa memilikimu seutuhnya. Inilah impianku sejak dulu. Pertama kali aku melihatmu, aku sudah terpikat padamu. Sungguh sayang, daya tarik mu begitu kuat. Hingga aku tidak bisa jauh-jauh darimu. Aku mencintaimu sayangku. Sangat mencinta mu.'' lirih Gilang di telinga Alisa.
''Hem, tidur By! Sebentar... aja! Capek aku! Itu kayu laut kok bisa Segede gaban gitu yah? Masa iya milikku yang sudah longgar bisa nggak muat sama barang kamu? Ishh.. sia-sia deh melakukan perawatan selama enam tahun ini. Akhirnya kendor lagi! hadeuuuhhh...'' gumam Alisa tanpa sadar.
Gilang yang mendengarnya melotot. Setelah itu ia tertawa terbahak-bahak.
Buahaha...
''Astaghfirullah! Sayang! kamu kenapa By?! Sadar ih! Ya Allah.. suamiku ini kenapa?! Kesurupan kah?! Ih.. sadar Hubby! Sadar ih?! Apa harus pakai air comberan lagi kayak dulu?! Atau disembur aja? Kan kasian Papi, kalau disembur air comberan?! Haishhh.. kenapa pula harus jam segini sih?!'' Gerutu Alisa tanpa sadar.
Ia sudah duduk dihadapan Gilang. Dengan segera memeluk suaminya itu. Gilang masih saja tertawa.
''Haduhh.. sakit perut ku ih! Kamu kok ngomong lucu sih di pagi-pagi begini?! hahaha.. kayu laut?? Hahaha...'' Gilang masih saja tertawa.
Sadar jika Gilang tidak apa-apa, Alisa mendorong Gilang hingga membentur kepala ranjangnya.
''Aduhh.. sakit sayang! Loh? Kamu mau ngapain?'' tanya Gilang.
Ia terkejut melihat Alisa sudah bersiap dihadapan nya dengan nafas memburu. ''Hufftt.. kamu ngerjain aku ya By! Aku pikir kamu itu kenapa tadi?! Hisshh... ganggu tidur aku saja! Heh! Rasain! Biar tak gelitikkin ini pinggang sampai terkencing-kencing!''
Gilang tertawa karena merasa geli dengan perlakuan Alisa. ''Hahaha.. stop Sayang! Stop! geli ih! Awas kamu! Itu kayu laut kesukaan mu sudah berdiri lagi! Tanggung jawab! Hayoo!''
Alisa berhenti dari menggelitik Gilang. Ia merasakan sesuatu dibalik bok*Ng nya mengeras. Alisa memicingkan matanya.
''Kamu ya? Sengaja kan??''
''Ih, mana ada aku sengaja! Kamu tuh yang nemplok kayak cicak sama aku! Mana nggak pakai apa-apa lagi! Sssttt.. mau lagi? Boleh?'' goda Gilang sembari menaikkan turunkan alisnya.
Alisa mendelik. ''Isshh.. enak di kamu tak enak di aku Hubby! Curang ih! Bersentuhan seperti itu saja sudah kayak kayu laut lagi! Ck! '' decak Alisa ingin segera beranjak dari tubuh Gilang.
Tubuh putih kuning Langsat itu seketika membeku di tempat saat merasakan jari halus Gilang sedang memainkan sesuatu yang membuat tubuhnya berdesir lagi.
''Boleh ya? Sebelum subuh kita udahan. Ya? ya?''
__ADS_1
Alisa menatap Gilang dengan datar. Ia menatap setiap inci dari sudut wajah sang suami yang begitu tampan ketika baru bangun tidur.
Eh? Tidak tidur sih. Namun mengganggu nya. Alisa mencebik kan bibir nya. Gilang terkekeh. ''Sama-sama enak sayang!''
''Serahmu lah Papi! Kapan aku bisa menolak mu?''
''Ada? Saat kita belum sah!''
''Ye.. itukan belum sah? Lah ini?? Ughhh..'' ucapan Alisa berganti dengan lenguhan lagi.
Gilang sudah mulai bekerja untuk memproduksi bibit unggulnya kembali. Ladang yang kering selama lima tahun ini harus di siram terus menerus agar bisa subur dan membuahkan hasil.
Semakin lama semakin nikmat. Puncak nirwana sudah melambai-lambai meminta untuk disentuh kembali.
Ah...
Satu desahaaan lolos lagi dari bibir tipisnya. Gilang semakin semangat mencumbui tubuh sang istri.
Senjata Laras panjang miliknya sudah siap tempur. Namun posisi tidak berubah. Tetap seperti saat Alisa menggelitik pinggang nya tadi.
''Dari sini saja, ya? Kita ganti posisi. Sekarang pegang kendali. Aku yang menunggu. Cup!'' kecupan lembut itu mulai merambat lagi pada daging tak bertulang milik sang istri.
Tangan itu berusaha untuk mensejajarkan senjata Laras panjang yang sudah siap tempur.
Ah..
Lenguhan itu bersamaan keluar ketika penyatuan sudah terjadi. Kali ini sang istri yang mengambil alih kemudi.
Dengan semangat ia mengayuh hingga seluruh tubuh dibanjiri oleh keringat lagi. Tapi tidak berhenti.
Bersama mencapai puncak nirwana untuk menyatukan cinta mereka berdua. Semakin lama semakin nikmat.
Lenguhan dan desahaaan sahut menyahut di dalam kamar utama milik mereka berdua. Subuh sudah terlewat namun aktivitas bercocok tanam itu belum juga selesai.
Hingga suara kicauan burung diluar barulah pekerjaan menggarap ladang itu selesai. Dengan tubuh mereka berdua jatuh ambruk ke ranjang dengan nafas tak beraturan.
Peluh membanjiri seluruh tubuh mereka. Gilang terkekeh. ''Gimana? Masih mau? Tadi kata nya mau lagi? hem?'' ucap Gilang masih dengan nafas memburu.
Alisa tersenyum lemah. ''Istirahat dulu. Kamu benar-benar ya? Sekali buka puasa, aku langsung tepar tak berdaya. Ayo, kita harus sholat subuh. Udah kesiangan loh.. katanya sebelum subuh?''
''Hehehe.. habisnya kamu nikmat! Bikin nagih nggak mau berhenti! Nanti lagi ya?''
Plak!!
__ADS_1
''Allahu Akbar! sakit sayang, ih! Kejam amat sih jadi istri? Ini kekerasan benda tumpul namanya!''
''Eh? benda tumpul? hahaha.. kekerasan dalam rumah tangga sayang! Mana ada benda tumpul!''
''Ada! itu kayu laut? Kan benda tumpul?'' sahut Gilang dengan segera mengangkat tubuh Alisa untuk menuju kamar mandi.
Mereka berdua berjalan dalam satu selimut yang sama. Sekilas, Gilang melihat ada bercak merah disana. Ia tertegun namun setelah itu tersenyum.
''Kamu walaupun sudah pernah melahirkan, tapi masih tetap ketat. Tuh buktinya? Tanda merah di seprei! Berarti gadis dong? Bukan janda?'' Alisa tertawa.
''Janda tapi perawan ya? hahaha.. mana ada itu sayang. Itu akibat tidak di sentuh selama lima tahun. Terakhir dia menyentuhku saat hamil adek. Setelah itu mana ada lagi. Kan aku dicerai saat adek berumur empat puluh hari?''
Gilang tersenyum namun sendu. Saat ini mereka sedang berada di bawah shower sedang mandi bersama.
Sambil mandi, menggosok sabun dan keramas, Alisa masih saja bercakap-cakap. ''Hem.. pantas saja begitu rapat. Sulit untuk di tembus. Sama seperti Mama nya Rayyan dulu. Eh? Aku udah cerita belum sama kamu, kalau aku sama Mama Rayyan itu dijebak sama Mama melalui obat!''
''Hah? Serius?''
''Serius sayang! Rencananya malam itu aku ingin tempatmu. Setelah pulang dari kantor. Namun tanpa di duga, Mama menunggu ku dan memberikan aku susu. Tanpa curiga sedikitpun aku minum susu itu. Susu jahe dengan campuran madu yang dulu sering kamu buatkan saat aku nginap disini.''
''Oh ya?''
''Iya sayang. Bahkan aku pikir, jika Mama Rayyan itu kamu. Sempat pula aku meracau. Ck! Masa lalu kelam!''
''Hahaha.. itu bukan masa lalu sayang. Itu takdirmu dan takdirku. Apa tadi katamu? Meracau? Meracau seperti apa?'' selidik Alisa.
Saat ini mereka sudah siap mandi dan Gilang sedang mengeringkan rambut Alisa dengan hair dryer.
''Kamu yakin? Kamu nggak akan marah nih? Ini Masa lalu aku loh..''
''Nggak akan! Sekarang kamu masa depanku! Ayo cerita kan! Penasaran Aku!''
Gilang tertawaa. ''Iya sayang, iya. Kita sholat dulu yuk. Sambil makan nanti aku ceritain! ayo!'' ajak Gilang.
Dengan segera mereka melaksanakan sholat subuh yang tertunda karena aktivitas halal mereka.
ππππ
Hot hot pop! makin gaya makin ngepop! πππ
Masih ingat nggak dengan kisah Papi Gilang saat Membobol Mama Vita untuk pertama kali? hehe..
Kalau lupa, boleh di baca ulang! Othor mah tak payah dibaca lagi. Sudah hafal euuuyyy!! π€£π€£π€£
__ADS_1