Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)

Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)
Aku kangen Papa!


__ADS_3

Tes!


Tes!


Air mata itu mengalir dengan deras di pipi tirus Alisa. Gilang yang melihatnya merasakan sakit yang tidak terhingga. Sulit untuk dijabarkan.


''Maaf... aku nggak bermaksud-''


Alisa menoleh, ''tak apa Gi.. memang inilah takdir yang harus aku jalani.. sebisa ku dan sebisa mungkin aku harus kuat! biarkan masa lalu itu tetap disana, toh dengan mengungkitnya tidak merubah masa depan kan??''


Gilang mengangguk, ''tapi gara-gara aku.. kamu bersedih Mbak.. maaf.. maafkan aku..'' ucap Gilang tulus.


Sebutir bening mengalir dari mata sipitnya. Alisa terkejut, lalu mengusap air mata itu dengan tangan kanannya.


''Sudah! jangan menangis! laki-laki kok, cengeng! tuh, lihat Abang! dia aja kuat? Masa' kamu yang jadi Papi nya menangis??''


Andi menatap mereka dari spion yang menggantung di depan wajahnya.


Kenapa... aku merasa.. jika bos Gilang dan Mbak Alisa mirip ya?? Bukankah jika pasangan yang terlihat mirip itu jodoh?? Atau ini hanya halusinasi ku saja?? Tapi.. beneran loh! mereka berdua memang mirip! nggak salah lagi! Mereka berdua pasti berjodoh! gumam Andi sesekali memandangi Gilang dan Alisa di belakang.


Setelah ucapan terakhir Alisa tadi, semuanya terasa sunyi. Hanya menyisakan suara deru mesin dan alunan musik yang syahdu dari Demeises, bintang hatiku.


Menambah syahdu di dalam mobil yang sedang di kendarai oleh Andi menuju pancur batu.


Gilang yang mendengar lagu itu, ujung bibirnya tertarik sedikit hingga menimbulkan senyum manis. Semua itu tak luput dari tatapan Alisa dan Andi.


Alisa heran, mengapa Gilang sangat menyukai lagu itu. Ingin bertanya tapi tak berani. Gilang yang merasa sedang di tatap menoleh,


''Ada apa??''


''Hah??''


Gilang terkekeh. Lucu menurutnya.


''Kamu kenapa sayang?? kok liatin aku begitu banget?? Ada yang salahkah??''


''Nggak ada.. hanya saja.. kamu tampan jika sedang tersenyum! ups!''


Alisa menutup mulutnya dengan tangan dan menunduk. Gilang terkekeh.


''Benarkah??''


Alisa diam dan memilih menunduk.


''Sayang! lihat aku!''


Alisa mendongak, dan menatap Gilang.


''Beneran aku tampan?? Setampan aktor Lin Yi ??''


Alisa mengangguk malu-malu. Gilang terkekeh lagi.


''Kamu juga cantik sayang! Tak ada bandingannya di dunia ini. Kamu adalah bidadari surga yang dikirim ke bumi untuk diriku? Aku sayang banget sama kamu Lis.. percayalah.. sampai mati pun hanya kau lah.. yang ku.. tuju..''


Gilang menyanyikan bait ujung lirik lagu Demeises membuat pipi Alisa merona.


Blushhh...


''Hehehe...''


Jangan hiraukan seseorang disana yang menatapnya dengan cengo.


Lagi?? Telepati batin?? Wooaaahhh.. si bos mah hebat, euuuyyy! berguru nanti ah..


Gumam Andi dalam hati, dengan menatap Gilang melalui spion mobil.


Deg!

__ADS_1


''Hehehe.. bos!''


''Ape lu??''


''Mau ikutan, boleh nggak??''


''Enggak!''


''Yah.. si bos... boleh dong..''


''Potong gaji?!''


''Ishh... iye, iye! dasar pelit lu ah! ups!''


Gilang melotot kan matanya. Sedangkan Andi, nyengir kuda.


''Sorry bos! I am just kidding!''


Gumam Andi, sambil menunjukkan angka v pada dua jarinya. Gilang menghela nafasnya. Seseorang disana bingung menyaksikan mereka.


Apakah hal yang sama terulang lagi?? pikirnya. Ira menatap Andi yang selalu menunjukkan reaksi aneh dari spion.


Sesekali mukanya merengut, sesekali mukanya nyengir. Membuat Ira menduga, jika Andi sedang kerasukan setan gunung Berastagi.


Ira menggeleng kan kepalanya. Ada-ada saja pemikiran nya itu. Mana mungkin Andi kerasukan setan gunung berastagi?? Secara Andi kan lagi nyetir?? ishh...


Saat ini mereka telah sampai di daerah pancur batu. Setelah beberapa jam berkendaraan. Sedikit lagi mereka akan tiba di kawasan desa Sugau, kecamatan pancur batu.


''Bos! kita hampir tiba! setengah jam lagi menurut Maps, jalur ini sudah benar.'' Ucapnya sambil melihat Gilang yang sedang membetulkan letak posisi kepala Alisa dan Annisa.


"Ya, lanjutkan saja! Nanti biar saya yang bangunkan mereka satu persatu saat sudah tiba di lokasi. Konsen saja Andi, dalam menyetir!" ujar Gilang.


"Siap Bos!" sahutnya. Setelah itu tidak ada percakapan apapun lagi disana.


Ira melongok kan kepalanya kepada Gilang.


"Pi..."


"Hehehe.. Mak bobok ya??" tanya nya.


Gilang mengangguk, "hooh! biarkan saja Kak! tadi pagi Papi lihat Mak bangun pagi-pagi sekali untuk menyiapkan bekal serta sarapan kita! jadi biarkan ia istirahat sejenak. Okey??'' bisik Gilang lagi.


''Oke,'' sahut Ira dengan menunjukkan jari jempolnya pada Gilang.


Sedangkan seseorang yang bersandar di bahu Gilang, terasa nyaman dalam tidurnya. Belum pernah selama ini, ia merasakan kenyamanan yang seperti ini. Terkecuali satu orang.


Papa...


Jantungnya bergemuruh hebat, saat sesuatu yang basah menyentuh keningnya. Tak di pungkiri, bahu tempat ia bersandar sekarang adalah bahu ternyaman setelah Papa nya.


Papa... maafkan Alisa Pa.. Alisa kangen Papa.. hiks..


Bulir bening menetes di pelupuk matanya. Gilang yang menyadari mengusap nya dengan lembut.


Sesakit apakah derita yang kau tanggung sayang ?? Hingga di dalam tidur pun kau menangis ?? bisik hati Gilang.


Ia masih saja terus menatap Alisa yang terus terisak di dalam tidurnya. Membuat yang disana kaget dan serentak terbangun.


Bertepatan dengan lokasi tempat wisata telah tiba. Andi menghentikan mobilnya, karena melihat Alisa yang terus saja terisak.


Andi yang paham, mengajak Lana untuk membeli tiket masuk. Ternyata, di lokasi sudah penuh dengan para wisatawan yang berlibur.


Dari yang hanya berdua saja, sampai pada satu kelurga berlibur disana. Andi membeli karcis untuk enam orang dengan harga 40 ribu perorang.


Dan juga sebuah pondok untuk mereka berteduh. Andi memilih lokasi yang cukup romantis.


Andi berpikir, tiada salahnya kan jika memilih tempat seperti itu? Tempat yang dipilih Andi berdekatan dengan taman bunga dan juga sebuah pohon rindang yang tumbuh dengan lebat disana.

__ADS_1


Di sebelah pondok itu terdapat satu kursi panjang dengan ukiran yang unik disediakan disana.


Kursi itu adalah media spot foto untuk para pengunjung yang suka dengan foto Selfi. Andi tersenyum saat melihat taman disebelah nya.


Setelah mendapat kan tempat dan kembali ke mobil, Andi membuka pintu dan memberi kode kepada Gilang bahwa tempat yang dituju sudah tersedia.


Gilang mengangguk kan kepalanya. Sedangkan Ira bingung, harus turun darimana.


Andi yang paham langsung saja membuka bagasi mobil dan Ira menyelip dari kursi belakang ke bagasi. Membuat Andi terkejut.


''Astaghfirullah! Ira! kenapa pula kau dari situ?!''


''Hehehe.. maaf Abang.. Kakak nggak mau gangguin Papi!'' ujarnya sembari mengulurkan tangannya ke Andi, agar di bantu untuk keluar dari lokasi yang sempit itu.


''Astaghfirullah Dek! kau ini ada-ada saja pula! kan bisa keluar dari samping ?? Bisa-bisanya kau keluar dari belakang ? Jika Abang tak ada gimana kau mau keluar tadi ?! Hah?!'' kesal Andi, karena Ira lumayan berat menurutnya saat di keluarkan dari sana.


Lana yang melihatnya tertawa. Ira nyengir kuda.


''Maaf Bang Andi yang tampan...'' ucapnya dengan senyum manis.


''Hadeeeuuhh... begini nih yang Abang nggak suka?! Pada luluh hati Abang dek! ish..'' goda Andi.


Membuat Ira tertawa. Setelah nya ia berlalu ke pintu sebelah kiri Gilang agar bisa membawa Annisa yang sudah bangun dan ingin keluar ketika melihat Ira berdiri di depannya.


''Pi! Kakak sama Abang duluan ya kesana? Papi ntar aja! kalau Mak udah bangun!'' imbuhnya, dengan segera mengangkat Annisa dan berlalu meninggalkan Gilang berdua dan Alisa di dalam mobil tertutup.


Agar tidak panas, sengaja Gilang menyuruh Andi untuk menghidupkan mobil itu agar AC nya tidak mati.


''Sayang... bangun! Anak-anak udah pada keluar loh? Bangun ya??'' bisik Gilang di telinga Alisa.


Alisa yang tersadar tersentak saat melihat mereka berdua hanya dengan Gilang saja. Namun itu hanya sebentar, setelahnya...


Grep!


''Jangan tinggalin aku Gi... aku nggak sanggup.. hiks.. hiks.. Pa..pa.. aku ka.. ngen Pa..pa... aaaaa...'' Alisa menangis dalam pelukan Gilang.


Gilang yang mendengar pun ikut menangis.


''Menangislah! jika menangis membuat hati mu lega! Aku akan selalu ada disamping mu! walau apapun yang terjadi, aku akan tetap bersama mu! Jangan takut! Aku ada disini.'' Bisik Gilang di telinga Alisa.


Alisa semakin mengeratkan pelukannya pada Gilang. Membuat Gilang membalasnya dengan erat.


''Aku.. ka..ngen.. Pa..pa .. Gi.. aku.. mau minta.. ma..af.. hiks.. Papa.. Alisa kangen Papa... maafkan... Alisa ... Pa... Alisa salah... Papa benar... hiks.. Alisa.. minta.. maaf...hiks...'' Alisa menangis sesegukan dalam pelukan Gilang.


Gilang terus saja mengusap bahunya dengan lembut. ''Ikhlaskan sayang.. ikhlas kan segalanya.. biarkan semua itu berlalu.. tenangkan hatimu.. Papa pasti memaafkan mu... untuk itu, kamu jangan dulu menemuinya sebelum aku yang menemui beliau. Bersabarlah! tidak akan lama lagi..'' bisiknya, membuat Alisa mendongak, menatap Gilang.


''Be-beneran??''


''Ya. Untukmu apapun akan ku lakukan! Tapi kamu harus bersabar! Biarkan aku menjadi seseorang yang layak untukmu dimasa depan! Agar aku bisa menjadi pendamping mu kelak yang akan membawa mu ke Surga Nya.. kamu paham kan sayang..??''


Alisa mengangguk, kemudian memeluk Gilang lagi. Gilang tersenyum. Ternyata Alisa yang ada di alam nyata, sama dengan di alam mimpi.


Gilang tersenyum dan terkekeh, membuat Alisa menoleh padanya.


''Ada apa?? Kenapa Papi tertawa seperti itu?? Aku jelek ya kalau sedang nangis??'' tanya nya.


Gilang tersenyum, ''nggak... kamu nggak jelek kok! hanya saja kamu yang ada disini dan di alam mimpi, dua-duanya sama. Sangat polos dan apa adanya. Oleh karenanya.. aku sangat mencintaimu Alisa Febriyanti! Aku sangat, sangat, sangaaaatt mencintai mu Alisa Febriyanti binti Yoga Sebastian!''


Deg!


💕


Panjang amat euuuyyy..


Hehehe...


Nah, loh.. kok bisa tuh Papi berondong tau nama calon mertua ya?? 🤔🤔

__ADS_1


Nantikan kelanjutannya!


TBC


__ADS_2