
Lagi, Alisa tertegun.
Tertegun melihat putra semata wayangnya dari pernikahan pertama nya sedang duduk di kursi dan memegang sebuah mikrofon dengan mata lurus menatap Alisa.
Lana dan kawan-kawan grup nasyid yang dulu pernah menghadiri pernikahan Gilang, kini hadir kembali atas permintaan Gilang.
''Untuk Papi Abang. Abang ucapkan terimakasih karena sudah mau menerima kami yang hanya biang perusuh ini. Pertama kali Abang melihat Papi, entah kenapa Abang langsung saja menyukai Papi. Seperti ada ikatan diantara kita berdua. Abang beruntung memikiki Ayah seperti Papi Gilang. Terimakasih Papi. I love you so much ! mmuuaaccchhh..''
Gilang membelalakkan matanya. Lana tertawa di atas panggung sana. ''Selow Papi! Selow Man! Abang sayang dan cinta Papi sebatas anak! Nggak lebih ya?'' ucap Lana dengan sengaja menggoda Gilang.
Gilang terkekeh. Sementara Alisa masih menatap putranya yang begitu tampan saat ini. ''Kenapa aku melihat jika Lana sangat mirip dengan mu, By?'' tanya Alisa tanpa menoleh pada sang suami. Matanya fokus ke depan.
Gilang tersenyum, ''Karena saat kamu hamil Abang, pasti kamu sering nyebutin aku di alam sadar atau dibawah alam sadar mu.'' bisik Gilang di telinga Alisa.
Merasakan nafas hangat Gilang menerpa telinganya, Alisa menoleh dan..
Cup!
Cekrek!
Satu pose yang begitu membuat semua para undangan memekik haru. Alisa melototkan matanya.
Ia menoleh ke depan namun menunduk. Wajahnya merah merona. Gilang terkekeh lagi.
Cekrek!
Jepitan kamera terus menerus membayangi kedua pengantin baru itu. Sementara Lana berdecak sebal.
''Ck! Papi! Mak! Abang disini loh.. masa' iya anaknya lagi perform malah dicuekin sih?! Nggak asik ah! Kalian sibuk bermesraan berdua!'' ketus Lana melalui mikrofon nya.
Wajah pemuda kecil yang mirip Gilang itu merengut sebal. Gilang tertawa. Alisa menunduk malu.
Ia mencubit pinggang Gilang, hingga sang empu mengaduh. Gilang mengusap-usap pinggang nya yang terasa panas.
''Sakit sayang!''
''Biarin!!'' ketus Alisa.
Semua para undangan yang melihat mereka tertawa.
''Maula ya sholli wa Salim daimaaann 'abada. 'Alal Habibi karena kahoiri kholqi kulli hibi..''
Alisa mendongak melihat wajah Lana yang sekarang ini sudah berada di hadapan nya. Begitu juga dengan Gilang.
Matanya berkaca-kaca. Gilang tersenyum haru. Ia mendekati Lana dan membawanya pada Alisa.
''Maula ya sholli wa Salim daimaaann'abada. 'Alal Habibi ka Khoiri kholqi kulli hibi...'' kini gantian Gilang yang menyenandungkan sholawat itu untuk Alisa.
Alisa benar-benar terharu melihat dua pria pujaan hatinya begitu kompak membuatnya menangis terharu.
Seseorang disudut ruangan menitikkan air matanya mengingat sholawat ini. Sholawat yang pernah ia senandung bisnis di satu pernikahan nya dengan Gilang.
Tak disangka, senandung Lana ini ia dengar lagi. Pemuda kecil itu, yang dulunya menangis terisak saat pernikahan nya terjadi bersama Gilang.
''Hiks, hiks .. maafkan aku yang pernah hadir di dalam kehidupan kalian. Bukan maksudku dulunya merebut Gilang dari kalian. Tapi aku terpaksa mengikuti kemauan kedua orang tua kami. Yang pada saat itu sudah berjanji.'' lirih Vita yang duduk di samping Kevin. Sahabat Gilang.
Kevin memeluk Vita dengan sayang. Hingga lima tahun pernikahan mereka belum juga di karuniai seorang putra.
Namun Kevin tetap menerima nya dengan setulus hati. Tak terbesit di hatinya untuk menikahi wanita lain untuk mendapatkan keturunan.
Seluruh keluarga besarnya sudah sangat menginginkan cucu. Tapi apalah daya, jika tuhan belum berkehendak.
__ADS_1
Senandung sholawat Lana menggema di seluruh ruangan ballroom itu. Semua yang ada disana ikut terhanyut akan sholawat itu.
Alisa sudah menangis tersedu hingga jatuh terduduk. Gilang memapah nya dengan lembut untuk dibawa ke pelaminan kembali.
Sementara Lana dan rekannya masih saja terus menyandung kan sholawat itu. Hingga selesai.
Kini giliran Gilang yang akan tampil di depan sana. Di temani Lana disamping nya. Ia duduk disebuah kursi dan memegang sebuah gitar yang akan ia petik untuk menyandungkan sebuah lagu untuk sang Ratu di hatinya.
''Ehem, baiklah. Sekarang gantian Papi Gilang yang harus nyanyi. Jika tadi pagi kami semua mendengar suara merdu Papi saat membaca surah Ar Rahman, sekarang gantian. Papi harus nyanyi. Nyanyikan sebuah lagu yang menunjukkan rasa di hati Papi saat ini dari pertama bertemu sampai akhir nya menikah!'' celutuk Lana.
Mbuatnya Alisa menoleh pada Lana yang berdiri di atas panggung sana. Ia mengedip-ngedip lucu melihat Gilang sedang memegang gitar.
Bibir tipis berwarna merah jambu itu terus saja melengkungkan senyum manis yang di tujukan untuknya.
''Terimakasih sayang Papi! Baiklah, tak perlu banyak kata-kata. Tapi cukup dengan sebuah lagu untuk aku bisa menyampaikan perasaan ini untukmu. My Queen Alisa Febriyanti! For you!''
Prok, prok, prok.
Semua tamu undangan bertepuk tangan mendengar ucapan Gilang. Ia mulai metik senar gitar itu dengan mulut siap bernyanyi.
Dengarlah bintang hatiku
Aku akan menjagamu
Dalam hidup dan mati ku
Hanyalah kau lah yang ku tuju
Alisa menatap Gilang tak berkedip.
Dan teringat.. janjiku padamu
Suatu hari pasti akan ku tepati
Aku akan menjagamu
Semampu dan sebisaku
Walau ku tau Raga mu tak utuh
Ku trima Kekurangan mu
Dan ku tak akan mengeluh
Karena bagiku engkaulah nyawaku
Mata Alisa berkaca-kaca. Ia menatap Gilang yang juga sedang menatapnya saat ini. Gilang bangkit dari kursi dan menuju ke pelaminan. Sebelum nya ia berikan gitar itu pada Lana.
Gantian Lana yang memainkan gitar itu. Lagi, Alisa terharu. Putranya sudah pintar bermain gitar.
Dengar lah bintang hatiku
Gilang menjulurkan tangannya pada Alisa
Aku akan menjaga mu
Alisa memberikan tangannya
Dalam hidup dan mati ku
Gilang tuntun Alisa untuk berada di tengah-tengah ballroom.
__ADS_1
Hanya kaulah yang ku tuju
Teringat.. janjiku pada mu
Gilang menatap Alisa yang juga sedang menatapnya dengan air mata yang sudah bercucuran.
Suatu hari pasti akan ku tepati.
🌸
Aku akan menjagamu
Semampu dan sebisaku
Walau ku tau Ragamu tak utuh...
Gilang memeluk tubuh Alisa yang sudah bergetar karena menangis.
Ku terima kekurangan mu
Dan ku tak akan mengeluh
Karena bagiku engkaulah Nyawaku
Gilang semakin erat memeluk tubuh Alisa. Sementara Alisa semakin tersedu di pelukannya.
Gilang terus bernyanyi dengan memeluk tubuh Alisa. Semua tamu disana ikut terharu.
Mama Dewi dan Mama Alina sampai berpelukan saking bahagianya melihat anak-anak mereka.
Kuterima kekurangan mu
Dan ku tak akan mengeluh
Karena bagiku engkaulah nyawaku. huhu..
Sambung Lana dipanggung sana. Alisa tertawa. Ia tak pernah tau Jika Lana juga tau lagi kesukaan Gilang ini.
Karena bagiku.. engkaulah.. nyawaku...
Gilang menyanyikan bait terakhir lagu itu. Gilang mengarahkan mikrofon ke bibir Alisa agar ikut membalas nyanyian nya tadi.
''Karena bagiku.. engkaulah... nyawaku..'' ucap Alisa begitu merasuk ke hati Gilang. Suara merdu Alisa menghipnotis semua orang termasuk anak-anak Alisa. Mereka semua terpaku saat sang Mami yang bernyanyi begitu merdu walau di akhir lagu itu.
''Karena bagiku.. engkaulah.. Nyawaku... foryou My husband Gilang Bhaskara!'' seru Alisa dengan suara lembutnya.
Prok, prok, prok!
Suara gemuruh tepuk tangan memenuhi ballroom acara resepsi pernikahan mereka.
Gilang masih tertegun dengan suara merdu Alisa. Ia menatap sang istri dengan tatapan kagum.
Alisa terkekeh, air mata yang tadi mengalir Sirna sudah. Kini ia sedang tertawa melihat Gilang yang tidak berkedip melihatnya.
''Mau duet?''
''Hah?''
''Iya Hubby! Duet! Mau duet bersama ku?'' tanya Alisa lagi.
Gilang tersenyum dan mengangguk-angguk cepat. Hani tertawa paling keras diantara sahabatnya yang lain. Di ikuti oleh Hendra.
__ADS_1
Karena dia tau, jika Alisa sudah mulai bernyanyi maka semua akan terhanyut akan pembawaan dari lagu itu.
Hehe .. nanti lagi ye!