Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)

Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)
Kembar??


__ADS_3

Pagi ini Alisa dan Gilang sudah bersiap ingin kerumah sakit. Saat ini mereka sedang berdebat tentang kendaraan yang akan mereka bawa.


Gilang ingin bawa mobil Pajero sport miliknya, sedang Alisa ingin bawa motor tua milik Papa Yoga.


''Mobil aja ya? Biar lebih aman kamu nya. Nggak panas dan nggak kena hujan sayang. Beda sama motor tua milik Papa. Aku takutnya, motor butut itu terbatuk-batuk saat kita dijalan nanti, belum lagi ia terkencing karena bocor?'' ucap Gilang dengan wajah serius nya.


Alisa membulatkan matanya, sedangkan Lana dan Ira tertawa terbahak-bahak. Sampai air mata keluar.


Karena saat ini mereka sedang dalam mobil, tapi belum berangkat. Karena Alisa menolak tidak mau pergi ke rumah sakit jika bukan dengan motor tua milik Papa Yoga.


''Hahaha.. mana ada motor Kakek terbatuk-batuk sih Papi??? Nggak itu! Yang ada itu terkentut-kentut iya. Hahaha...'' kata Lana.


Alisa terkekeh-kekeh. Gilang pun sama. Ia pun ikut tertawa. ''Tuh, dengerin putra kamu tuh. Kan bener yang aku bilang? Kita bawa mobil aja ya?'' pinta Gilang lagi.


Alisa menghela nafasnya. ''Pi.. kita 'kan mau kerumah Ema siang ini. Papa, Mama dan tuan Hamid juga keempat anak kita akan ikut 'kan?'' Gilang mengangguk.


''Maksud aku tuh, kita bawa motor. Setelah pulang dari rumah sakit untuk periksa langsung saja kerumah Ema. Sedangkan yang lainnya menyusul, nanti kita share lock aja sama Kakak. Gitu loh maksud aku? Tega kamu membiarkan kedua orang tua kita termasuk tuan Hamid harus menunggu kita pulang, baru kemudian pergi? Lalu, kita naik mobil sedang Kedua orang tuaku naik motor tua? Apa kata dunia Papi!'' kata Alisa mendrama.


Gilang terkekeh, begitu juga dengan ketiga anaknya. ''Kamu itu mikir nya kok gitu sih? Aku itu.. udah nyiapin mobil satu lagi. Udah aku omongin masalah ini dengan Papa. Papa pun setujui. Paman Hilman akan datang nanti kemari untuk membantu kita. Sekalian seserahan yang akan dibawa. Apa kamu tidak ingin memberikan sesuatu untuk sahabat mu itu sayang?'' kata Gilang dengan lembut, tapi terkesan gemas pada Alisa.


Alisa mencebik kan bibirnya. ''Oke! Kita berangkat sekarang! Mumpung Rayyan lagi di kandang kerbau sama Papa! Ayo!'' ajaknya pada Gilang.


Gilang mengangguk, setelah itu mereka berempat menuju rumah sakit terdekat untuk segera memeriksakan kandungan Alisa.


Tiga puluh menit kemudian, mereka tiba dirumah sakit Cut Nyak Dien. Alisa turun duluan sementara Gilang dan Lana sedang memarkir kan mobilnya.


Tiba di depan ruangan Dokter Indah Kurniawan Sp.OG Alisa meminta nomor antrian.


Cukup menunggu sepuluh menit saja, karena memang antrian pagi itu tidak terlalu banyak.


''Ibu Alisa?''


''Saya Sus!'' sahut Alisa dengan berdiri. Disampingnya ada Ira yang juga ikut berdiri karena nama Alisa dipanggil.


''Mari Bu? Apakah suami ibu tidak ikut?'' tanya suster yang berjaga di depan ruangan dokter Indah.


''Ada tadi lagi-,''

__ADS_1


''Saya disini! Sudah waktunya kah?'' tanya Gilang dengan sedikit terengah-engah karena baru saja berlari berdua dengan Lana.


Suster itu terbengong melihat Gilang. Gilang mendengus, Ira terkikik geli. Sedangkan Lana menyikut tangan Papinya.


''Suster!'' seru Gilang dengan suara naik satu oktaf. Suster itu terjingkat kaget.


Sadar jika suara nya mengejutkan suster jaga itu, Gilang berdehem tapi tidak tersenyum. Lagi, Lana tertawa puas mengejek sang Papi.


Gilang menatap tajam pada putra sambungnya itu. ''Selow Papi! Selow.. ayo kita masuk..'' ajak Lana, dengan segera menarik tangan Gilang dan Alisa untuk segera masuk keruangan dokter obigyn itu.


Tiba disana, mereka disambut hangat oleh dokter Indah. Dokter indah menanyakan tentang jadwal tamu bulanan Alisa yang dijawab Alisa bulan lalu berikut dengan tanggal nya.


Seperti yang dikatakan oleh Gilang kemarin sore. ''Baiklah, sekarang Bu Alisa naik ke bangkar untuk segera di periksa. Sus?'' Suster itu mengangguk setuju.


Gilang mengikuti Alisa dan berdiri di kakinya. Ia sangat penasaran dengan hasil pemeriksaan itu.


Sementara Ira dan Lana, mereka duduk di bangku tunggu tempat Alisa dan Gilang tadi duduk.


''Ehem, oke. Seperti yang terlihat di layar, bahwa kehamilan Ibu sudah memasuki sembilan Minggu dari hari terakhir ibu haid ya? Dan.... masyaallah.. anda lihat Pak Gilang? Lihat kantung janin itu?'' tunjuk dokter Indah pada Gilang


Gilang menatap serius pada gambar buram keabu-abuan itu. Matanya melotot saat melihat dua kantung janin tergantung disana.


''Hiks.. Papi...'' panggil Alisa dengan air mata beruraian.


Gilang masih terpaku pada gambar hitam itu. Sementara Ira dan Lana yang penasaran karena mendengar Alisa terisak, mendekati dokter indah.


''Selamat Pak Gilang, Bu Alisa anda hamil bayi kembar!''


''Apa?!'' pekik Ira dan Lana bersama an.


Dokter indah tertawa melihat kelakuan dua anak itu. ''Yang bener dokter? Mak kami hamil kembar?!'' tanya Ira dan Lana secara bersamaan.


Dokter indah mengangguk dan tertawa. Ira dan Lana berlari menuju Gilang dan menubruk dada bidang yang sering mereka peluk dulunya.


Gilang memeluk kedua anak Alisa yang tersedu di pelukan nya. Ia tersenyum, tapi air mata nya mengalir deras.


''Kamu dengarkan Sayang?? Dua! Yang berarti kembar! Aku yakin! mereka berdua pasti sepasang!'' kata Gilang begitu yakin

__ADS_1


Dokter indah tertawa lagi mendengar ucapan Gilang. ''Untuk jenis kelamin nya, kita tunggu sampai usia kehamilan berkisar 32 Minggu untuk bisa melihatnya. Mari, Bu. Dibantu suster!'' ucap Dokter indah


Ia kembali ke tempat duduknya. Kemudian menuliskan resep serta vitamin yang harus Alisa minum.


''Ini untuk obat mual nya, dan ini vitamin nya diminum satu hari sekali ya Bu? Bulan depan ibu kembali lagi ke sini untuk periksa kembali. Selamat, Pak, Bu atas kehamilan ketiga ini.''


''Bukan dokter! Kehamilan ke empat Mak kami. Kami udah ada tiga. Satu dari Papi. Dan sekarang, tambah dua lagi dari Papi! Aseerkkk..'' seru Lana begitu senang.


Dokter indah tertawa tapi, bingung. ''Oh.. maaf! Saya salah tebak kalau begitu, ya? Ya sudah, jangan lupa di minum obat nya! Selamat untuk kalian sekeluarga.'' imbuhnya.


''Terimakasih Dokter! Kami permisi!''


''Ya,'' sahut dokter indah. Ia menggeleng kan kepalanya saat melihat keluarga itu.


''Kenapa aku seperti pernah melihat pemuda itu ya? Tapi dimana?'' gumam Dokter indah saat melihat punggung Gilang yang sudah berlalu.


Sementara satu keluarga ini pulang dengan hati gembira. Mereka tertawa-tawa dan tersenyum saat menggoda Alisa.


Mereka tiba di rumah saat Paman Hilman sudah berada disana. Mereka bersapa sebentar, setelah itu makan siang.


Sekalian mengabarkan berita jika Alisa hamil bayi kembar. Paman Hilman tertawa-tawa. Usut punya usut, keluarga Papa Yoga memang memiliki gen kembar.


Dan itu diturunkan pada Paman Hilman. Dan sekarang pada Alisa. Betapa beruntungnya Gilang.


Satu kali ngadon, langsung jebol dua! Gilang tertawa terbahak saat melihat wajah cemberut Alisa saat Gilang mengatakan hal itu.


Mama Alina dan Papa Yoga begitu senang. Mereka sangat bersyukur, atas kehamilan Alisa ini.


Suatu kebanggaan bagi keluarga Sebastian karena berhasil mencetak gol dengan dua sekaligus.


Mereka makan siang bersama. Sebelum nanti menuju kerumah Ema untuk melamar gadis itu.


Sementara itu, Gilang sudah menyuruh Andi untuk jalan-jalan dengan Ema menggunakan mobil sewaan nya keliling kota tempat tinggal Alisa.


Mereka harus pulang malam. Begitu kata Gilang. Andi kebingungan. Tapi Ema terkekeh. Ia tau dimana tempat wisata yang betah dan tidak ingin pulang sebelum malam.


Ya, Andi dan Ema tidak akan tau tentang acara lamaran dadakan yang dibuat kan oleh Alisa dan Gilang ini.

__ADS_1


💕💕💕💕💕


Kita tunggu, gimana reaksi Ema dan Andi saat mereka di jodohkan oleh bos mereka sendiri?? 🤣🤣


__ADS_2