
''A-apa?! Me-menikah???'' tanya pak Kosim , ia begitu terkejut.
Gilang terkekeh. ''Jalan dulu, Pak! tuh udah pada klakson! mau bapak kita di tilang??'' Imbuh nya lagi masih dengan terkekeh memandangi wajah Pak Kosim yang terkesiap.
''Ba-baik Den!''
''Hanya bohong, Pak! bukan yang sebenarnya! Jika tidak seperti itu, maka Mama juga akan menyakiti Alisa nantinya di belakang Gilang. Belum lagi dokter di rumah sakit itu. Matanya begitu jelalatan memandangi Alisa tak berkedip. Rasanya ingin ku colok itu mata! biar tidak menatap wanita ku lagi! huh!'' ucapnya ketus setelah mengingat seorang dokter di rumah sakit itu.
Pak Kosim terkekeh. ''Aden cemburu??''
''Ya, iyalah aku cemburu Pak! Itu Alisa! jika perempuan lain aku mah bodo amat! Asal jangan wanita ku saja. Sampai kapan pun aku tidak akan membiarkan siapa pun mendekati Alisa,'' tegasnya penuh penekanan.
Pak Kosim tersenyum melihat tingkah Gilang. Setelah nya Gilang mengingat sesuatu dan menatap pak Kosim dengan serius.
''Pak.. bisa Bapak berjanji pada Gilang??'' tanya nya sembari memutar tubuhnya menghadap pak Kosim.
''Apa itu Den?? Kalau bisa pasti akan bapak lakukan!'' sahut pak Kosim.
''Selama dua Minggu ke depan, Gilang tidak bisa menemui Alisa hingga Gilang berangkat ke Amerika nantinya. Maukah Bapak selalu memantau Alisa?? Baik itu dekat maupun jauh? Segala sesuatu nya baik itu tentang dirinya ataupun tentang anak-anak nya. Maukah bapak bekerja untuk Gilang? Mengawasi Alisa sampai nantinya Gilang selesai dari kuliah di Amerika??'' tanya Gilang membuat Pak Kosim tertegun.
Begitu cinta kah Gilang kepada janda beranak tiga itu hingga ia rela membayar orang lain untuk mengawasi segala sesuatu apa yang terjadi pada wanita itu?? tanya Pak Kosim dalam hati.
''Pak..''
''Kenapa??'' bukan nya malah menjawab malah balik bertanya.
''Karena hanya Pak Kosim yang Gilang percaya. Selama ini yang tau tentang Gilang hanya Bapak! Dan juga usaha Gilang, hanya bapak dan Alisa yang tau. Jadi.. ketika Gilang pergi, Bapak lah sebagai penanggung jawab untuk Masalah toko serta Alisa. Gilang menyerahkan ini kepada bapak. Bapak tetap akan bekerja di rumah. Tapi sesekali bapak tetap harus memantau toko dan juga Alisa. Bagaimana? Bapak mau kan??'' tanya Gilang, ia sangat berharap pak Kosim menerima tawaran nya.
Pak Kosim menghela nafas panjang. Sullit baginya menolak keinginan Gilang.
''Baiklah, Bapak akan berusaha sebaik mungkin. Namun, jika ada sesuatu hal yang bapak tidak tau, tolong jangan marah sama Bapak ya?? Bapak masih ingin kerja Den..'' lirih pak Kosim.
Gilang tersenyum. ''Nggak akan! jika terjadi sesuatu diluar kendali kita, berarti itu adalah takdir. Sekarang Bapak harus menemani Alisa di mana pun ia berada. Nanti akan Gilang katakan padanya, jika dalam dua minggu ini Gilang tidak bisa menemui nya. Dan.. untuk masalah pernikahan Gilang dengan Vita, tidak perlu memberitahunya. Karena itu akan membuat ke empat orang itu terluka....'' lirih Gilang dengan wajah sendu.
Pak Kosim hanya bisa terdiam mendengar ucapan Gilang. Ia pun tidak bisa membantu apapun dalam hal itu.
Satu jam kemudian, mereka tiba dirumah sakit Adam Malik Medan. Ia berjalan dengan gontai. Karena hari ini ia adalah hari terakhir nya dengan Alisa dan putri kecilnya itu.
Sesampainya disana, Gilang melihat seseorang sedang memarahi Alisa habis-habisan.
Bahkan satpam pun tidak bisa melerainya. Wanita itu mengamuk bagaikan orang gila. Gilang berlari mendekati Alisa yang terdiam sambil menundukkan kepalanya.
Sesampainya disana, Gilang menghentikan langkah kaki nya. Ia ingin tau, apa yang akan dikatakan wanita yang sedang mengamuk itu.
''Dasar janda sialan! Karena keteledoran mu! rumah ku terbakar! habis semuanya tak bersisa! Sekarang aku ingin, kau bayar seluruh kerugian rumah ku yang terbakar itu?! Aku tak mau tau, dalam kurun waktu dua puluh empat jam! kau harus sudah membayarnya!! Rugi saya karena membiarkan mu tinggal di sana!'' pekiknya lantang.
Wanita tua itu begitu marah mendapati rumah kontrakan nya habis terbakar. Padahal kejadian itu bukan salah Alisa.
Kejadian naas itu begitu cepat hingga tidak sempat menyelamatkan apapun. Hanya berkas-berkas penting, satu buah boks kecil dan juga ponsel.
Itu saja! Itu pun Ira yang nekad mengambil nya. Beruntung nya Alisa, perhiasan emas nya masih utuh.
Jika sempat terbakar, maka habislah ia. Dengan cara apa ia akan menghidupi ketiga anaknya?
Kejadian itu sudah di periksa oleh pihak PLN. Mereka mengatakan jika kebakaran itu terjadi karena korsleting listrik.
Bukan karena Alisa. Bahkan karena kejadian itu, Alisa begitu dirugikan. Bagaimana tidak, Annisa sampai dinyatakan meninggal dunia karena kehabisan nafas saat menghirup asap tebal.
Gilang mengepalkan tangannya. Setelah mengeluarkan uneg-unegnya pada Alisa, wanita itu berlalu.
Demikian juga dengan Gilang, ia melangkah duluan dan menunggu wanita itu diparkiran.
__ADS_1
Sedangkan Alisa berdiri mematung disana. Ia tak tau harus berbuat apa. Dengan cara apa ia harus membayarnya.
Di parkiran.
Saat melihat wanita itu berjalan tergesa menghampiri motor Nmax nya, Gilang mendekati wanita itu.
Wanita itu masih saja bersungut-sungut tentang rumah yang terbakar. Saat ia ingin mendorong motor itu keluar dari parkiran, ia terkejut melihat Gilang sudah berdiri tepat di depannya.
''Astaghfirullah! ya elah tong! terkejut saya! kau mau saya mati karena jantungan?! hah?! ishh.. minggir! saya mau lewat!'' ketusnya pada Gilang.
Gilang bergeming. ''Berapa uang yang anda butuhkan untuk mengganti rumah anda yang terbakar itu?!''
Wanita itu menoleh, ia tersenyum mengejek pada Gilang. ''Berani berapa kau membayarku? heh?! bocah ingusan seperti mu! tidak akan mampu membayar rumah ku itu!'' ketusnya lagi.
''Aden...'' panggil Pak Kosim.
Gilang mengangguk. ''Tunggu sebentar Pak!''
''Sebutkan! Berapa jumlahnya? Saya akan transfer kan segera!'' imbuh Gilang lagi.
Wanita tua itu terkekeh. ''Hai bocah! kau itu tidak akan mampu membayarnya! mau tau berapa?? heh?!'' ketusnya lagi.
Gilang bergeming. ''Berapa? Jangankan hanya sekedar membayar kerugian rumah itu, bahkan membeli pun aku mampu! Sebutkan saja berapa??'' desak Gilang lagi. Ia sudah bosan berlama-lama dengan wanita tua itu.
''50 juta! kau sanggup?? heh?!''
''Kalau kau menjual nya, berapa yang harus aku bayar??'' tanya Gilang lagi.
Lagi dan lagi wanita tua itu terkekeh. Ia mengejek Gilang dengan kekehan nya itu.
''Sebutkan!!'' titah Gilang begitu dingin, membuat wanita tua itu terdiam.
''250 juta!!''
''Saya Den..''
''Ikuti wanita tua ini, bawa ia ketempat ustad Dhanu, minta sama kakak, KTP Alisa. Serahkan padanya, agar akta tanah itu tertulis atas nama Alisa,'' imbuh Gilang masih dengan menatap wanita tua itu.
''Baik, Den! segera saya laksanakan!'' sahut pak Kosim.
''Berapa nomor rekening mu??'' tanya Gilang, tangannya sudah sigap memegang ponsel ingin mengetikkan jumlah nominal yang disebut kan oleh wanita tua itu.
''26777543200911''
Ting!
Masuk notifikasi ke ponsel wanita tua itu. Ia membuka dan melihatnya. Matanya melotot dengan mulut menganga.
Bagaimana tidak, jika Gilang sudah mengirim kan uang pada rekening nya melebihi harga jual rumah beserta tanah itu.
Padahal mah, harga tanah itu tidak semahal itu. Gilang tau. Hanya saja ia geram dengan kelakuan wanita tua yang dengan sengaja meremehkan diri nya.
''Sudah! clear kan? Pak Kosim! ikuti wanita ini, urus secepat nya! Sebelum Maghrib surat itu sudah ada di tangan ku!'' imbuh Gilang seraya berlalu meninggalkan wanita tua dan juga Pak Kosim.
''Baik Den! Mari Bu.. saya ikuti ibu dari belakang ya? Saya bawa mobil majikan saya!''
''Hoh? ah? eh? iya! Hemm.. palingan nih bocah! minta duit sama Papanya?? Kalau tidak dari mana ia punya uang sebanyak ini?!'' ketusnya lagi.
Tapi masih terdengar oleh Pak Kosim. Pak Kosim menggeleng kepalanya. Dasar wanita keras kepala, pikir nya.
Biar tak balas kau wanita tua! gumam Pak Kosim.
__ADS_1
''Mari Bu.. majikan saya bisa mengamuk loh kalau suratnya belum siap sebelum maghrib??'' goda Pak Kosim.
Wanita tua itu mencibir. ''Halah! gaya anak orang kaya! padahal mah minta sama orang tua! cih!''
''Ibu tau ALISA STORE??'' tanya Pak Kosim.
Wanita tua itu mengangguk. ''Ya taulah! itu kan tempat belanja paling nyaman? kualitas bagus tapi harga terjangkau! Siapa yang tidak tau dengan ALISA STORE itu! semua orang pun tau,'' imbuh nya menggebu-gebu.
Pak Kosim mengangguk-angguk kan kepalanya tanda mengerti.
''Ya sudah mari kita berangkat! saya harus mengambil berkas ALISA dulu dirumah ustad Dhanu,'' imbuh pak Kosim dengan menekan kan sedikit nama Alisa.
Wanita itu terkejut. ''A Li sa ???'' gumamnya. Lama ia termenung memikirkan nama Alisa.
Pak Kosim berdecak. ''Jadi nggak nih.. saya harus cepat kembali kesini karena majikan saya GILANG BHASKARA sedang menunggu bersama istrinya di dalam sana! Ayo..'' ajaknya lagi.
''Alisa? Gilang Bhaskara?? haaahhh???? Ja-ja-jadi..... i-i-i-tu-tu...'' ucapnya ternyata setelah mengingat nama Alisa dan Gilang Bhaskara.
Bukan ia tidak tau, tapi hanya saja ia tak percaya pengusaha muda itu adalah Gilang Bhaskara pemilik usaha perhotelan, property serta sebuah mall adalah milik Bhaskara group.
Semua orang mengenalnya. Apalagi Papa Angga. Pengusaha muda yang sudah sukses saat ia masih muda.
Pak Kosim mengangguk. Membuat wanita itu bertambah terkejut. Ia terhenyak dan terduduk diaspal parkir rumah sakit.
Pak Kosim yang melihatnya terkekeh.
''Sudah kenal??''
Wanita tua itu mengangguk polos. Membuat lagi dan lagi Pak Kosim terkekeh.
''Kalau begitu.. tunggu apa lagi?? Kau ingin majikan ku itu mengamuk?? Karena telah menghina istrinya tadi di depan umum??''
Deg.
''I-i-is-is-triiiii....????''
''Alisa adalah istri majikan saya, Gilang Bhaskara! Alisa Bhaskara! kau salah berurusan dengannya wanita tua!'' ucap Pak Kosim, akhir nya mencetuskan juga panggilan itu.
Setelah nya ia terkekeh. Wanita itu terkesiap. Wajahnya begitu pias.
''Ayo! saya tunggu kau dirumah ustad Dhanu! terlambat sedikit saja?? Maka.. kau akan berurusan dengan hukum!''
Wanita tua itu tersentak. Setelah mengatakan hal itu kepada nya, Pak Kosim berlalu ke parkiran mobil.
Setelah keluar dari parkiran mobil, Pak Kosim sengaja meng klakson wanita tua itu hingga terjingkat kaget.
Pak Kosim terkekeh lagi melihat nya. Setelah nya ia berlalu menuju kerumah Alisa.
Sedangkan wanita tua itu, lututnya bergetar hebat. Seluruh tubuhnya mengeluarkan keringat dingin.
''Mati aku!!! kenapa tadi mulut ini tidak bisa di rem sih?! Alisa?? haduuhh.. Mana ku tau kalau dia istri dari Gilang?? Aku tidak tau.. aduh! Aku harus cepat-cepat kesana! kalau Tidak.. maka kepala ku yang akan di penggalnya! Aduuhhh.. ini kaki kok goyang gini sih?! Aduh! mati aku! mati aku! mati aku!'' gumam nya dengan terus berusaha berjalan mengendari motor Nmax nya.
Walau kakinya lemas bagai tak bertulang.
Gilang yang melihat wanita tua itu Tremor pada kakinya tergelak. Sampai-sampai Alisa menoleh padanya.
''Ada apa, Pi??''
💕
Berbohong demi kebaikan, tidak salah kan??
__ADS_1
🤣🤣🤣🤣 Habis dah tuh wanita tua!!
TBC