Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)

Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)
Terluka dan kecewa


__ADS_3

''Mak... kita keluar dari kamar ini!!!'' seru Lana dengan sedikit keras, walau akhirnya Lana meringis.


Alisa dan Gilang saling pandang. ''Tapi Nak.. kamu baru aja sadar loh..''


''Kita keluar dari sini! tak baik lama-lama dengan suami orang!''


Deg.


Deg.


Seketika senyum yang merekah kini berubah datar. Alisa terkejut mendengar ucapan Lana. Ia menatap Gilang, yang juga sedang menatapnya.


''Bang??''


''Kita keluar Mak! begitu juga dengan rumah itu! itu bukanlah rumah kita! itu rumah Om Gilang dan istrinya!''


Ddddduuuaaarrrr...


Bagai disambar petir ditengah gelapnya malam. Gilang terkejut begitu juga dengan Alisa.


''Apa maksud mu Lana?'' tanya Alisa dengan sedikit meninggikan suaranya.


''Mak tau, apa yang ku maksud!'' sahutnya dengan wajah datar.


Hatinya begitu terluka, ketika mengetahui jika Gilang telah menikah dengan orang lain sebelum ia kecelakaan.


''Abang!!'' sentak Alisa.


Lana tersenyum kecut. ''Bahkan, untuk membela pemuda yang bukan siapa-siapa Mak, Mak rela membentak ku! padahal selama ini Mak sama sekali tak pernah mengeraskan suaranya padaku! hari ini? bahkan hanya karena membela suami orang, Mak rela mengeraskan suara Mak padaku!!''


Deg.


Deg.


''Lana...''


''Abang...''


Panggil Alisa dan Gilang secara bersamaan. Begitu sakit hati Gilang saat mendengar ucapan Lana.


''Dengarkan Papi Bang! Papi memang menikah dengan nya tapi itu untuk menunaikan janji Papi kepada kedua orang tua Papi! Papi tak menganggap nya sebagai istri Papi! Ingat Maulana Akbar! Istri sah papi secara hukum adalah Mak mu! Alisa Febriyanti binti Yoga Sebastian!'' seru Gilang dengan sedikit meninggikan suaranya.

__ADS_1


Walau setelah itu ia meringis. Lana tersenyum ironi. ''Istri sah secara hukum, tapi tidak sah secara agama! Dengarkan Lana, Mak! sebaiknya kita segera keluar dari ruangan ini, kembalikan semua fasilitas yang diberikan oleh suami secara hukum Mak! Lana tidak butuh uang dari suami orang lain! sudah menikah tapi tak mengakui, jika nanti punya anak apa juga tidak di akui??''


''Maulana!!!'' sentak Alisa.


Lana menatap Alisa dengan datar, namun mata itu mengeluarkan cairan bening yang terus mengalir.


Alisa tersentak melihatnya. Karena sedari tadi Lana menolehkan wajahnya ke arah lain tidak melihat Alisa dan Gilang.


''Sekarang Lana tanya sama Mak, Mak mau pilih suami hukum Mak itu yang sudah punya istri? Atau Mak memilih Lana yang putra kandung Mak bukan darah daging nya! jika Mak memilih Lana, Mak tak akan tersakiti! tapi jika Mak memilih suami hukum yang telah punya istri itu, Mak akan di anggap sebagai PE LA KOR!!''


Ddddduuuaaarrrr...


Lagi, Alisa dan Gilang tersentak mendengar ucapan Lana yang begitu menusuk hati. Gilang menatap datar pada Lana.


Sedangkan Alisa, tak tau harus bicara apa. Wajahnya begitu pias saat ini. Ucapan putra semata wayang nya itu, benar-benar tepat menghujam ulu hatinya.


Inilah yang dinamakan luka tak berdarah. Bagi Lana, bagi Alisa dan juga Gilang.


''Tentukan pilihan Mak, jika sudah? Kita keluar dari ruangan ini! Lana nggak mau hidup dengan bayang-bayang jika Mak akan selalu di hina menjadi seorang perebut laki orang! lebih baik Mak janda tapi terhormat! daripada menikah, tapi merebut suami orang! Lana bisa kok menghidupi Mak? Tanpa bantuan dari siapapun! Mak bawa dompet??''


Alisa termangu dengan ucapan Lana. Sungguh, seperti belati tajam yang menggores hatinya ribuan kali.


Tepat langsung di hadapan nya.


Aku harus apa??


''Diam Mak, Lana sudah tau jawabannya! baik! saya yang akan pergi dari kehidupan kalian! selamat menikmati kehidupan kalian yang baru sebagai pasangan kumpul ke bo! Sah secara hukum, tapi tidak sah secara agama!!'' serunya lagi, membuat kedua orang itu semakin terkejut dengan ucapan sarkas Lana.


Secepat mungkin Lana turun dari bangkar nya, walau kepalanya masih pusing tak ia peduli kan.


Baginya sekarang, keluar dari ruangan itu dengan segera. Sedangkan dua orang lelaki disana mematung mendengar ucapan Lana yang baru saja.


''Kakek! Abi! bantu Abang! Abang mau keluar dari ruangan ini! Abang nggak mau dilabarak sama nyonya Gilang nanti. Ayo Bi!''


Abi Hendra terdiam. Begitu juga dengan Pak Kosim. Mereka berdua masih shock dengan perkataan Lana barusan.


''Oke!! saya pergi sendiri!'' serunya lagi, karena melihat dua orang di depan pintu masih terdiam.


Lana beringsut turun dari bangkar menuju pintu dimana dua orang itu sedang menatap Alisa dan Gilang dengan wajah terkejut nya.


''Awas!'' serunya pada kedua orang itu.

__ADS_1


Mereka berdua beringsut mundur. Lana tersenyum ironi melihat itu semua. Ia berjalan tertatih, dengan menahan rasa sakit yang begitu terasa di dada dan kepala bagian belakang nya.


Darah menetes dari hidung Lana ketika ia keluar dari pintu ruangan dimana ada Gilang dan Alisa.


Setibanya diluar, Lana terjatuh begitu keras. Karena tidak sanggup menahan rasa sakit yang terus mendera kepala nya.


''Astaghfirullah!! Abang!!!'' pekik Raga.


Lana meringis menahan sakit. ''Kita pulang Bang.. Lana ngga kuat...'' bisiknya di pelukan Raga.


Raga tercenung sesaat. ''Tapi dek.. tubuh mu masih lemah.. dirawat lagi ya? biar Abang pesan kamar satu lagi ya?'' bujuk Raga.


Lana terisak. Darah terus mengucur deras dari hidung nya. ''Astaghfirullah! hidung mu Bang! darah!!'' pekik Raga lagi.


Setelah itu ia membawa Lana ke kamar lain agar segera dirawat kembali. Setelah melihat Lana di tangani dokter, kini Raga berjalan tergesa ke kamar Gilang.


Ya, tadi setelah Raga mengantarkan ummi Hani dan Ira, Raga langsung kembali lagi kerumah sakit.


Tak disangka, ia melihat Lana jatuh terkapar dengan darah mengucur dari hidungnya. Sekilas ia melihat ruangan itu.


Disana ada Alisa juga Abi Hendra. Satu lagi Raga tidak tau siapa itu dan juga yang di dalam nya.


Sampai nya disana,


''Jika kalian sudah selesai dengan nostalgia kalian, lebih baik pulang! buat apa hanya berdiri mematung jika tidak tau seorang anak kecil jatuh terkapar dengan darah keluar dari hidung nya!'' seru Raga begitu dingin.


Dan itu sukses membuat mereka semua terkejut, begitu juga dengan Alisa. Ia berjalan cepat kearah pintu, tapi ditahan oleh Raga.


''Selesaikan urusan kalian dulu, baru setelah nya lihat Lana. Anak kecil itu begitu terluka oleh kelakuan kalian orang dewasa. Jika kalian tidak bisa membuatnya lebih baik, setidaknya kalian bisa melihat sedikit saja apa yang dia inginkan! Abi! bayar semua biaya pengobatan Lana selama dirumah sakit, pakai uang Raga. Dan Mak Alisa, selesaikan urusan kalian berdua. Karena Lana sangat kecewa dengan kelakuan kalian berdua! bahkan ketika ia sakit pun Mak lebih memilih orang lain dibanding putra kandung Mak sendiri! Saya permisi!''


Deg.


💕


Tahan nafas ya?


Ada satu lagi nanti!


Ikuti terus kelanjutannya!


TBC

__ADS_1


__ADS_2